Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan

Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan
Satria


__ADS_3

“Kalian harus memberinya nama,” kata Purnapana sambil bersedekap.


Kucing hutan itu terpentang tidur di dekat api unggun kecil. Perutnya membucit karena sedari tadi telah mengabiskan beberapa potong daging lembu kering. Telinga sang kucing bergerak-gerak seakan mendengarkan Purnapana berbicara.


Satria saling melirik ke arah sahabatnya. Satria dan Harsya masih menikmati daging bakar berlemak yang di bakar dengan api unggun. Sudah bertahun-tahun mereka tidak merasakan nikmat dari sebuah makanan. Syam si anak pantai sudah cukup kenyang dengan daging, dia menyantap buah mangga manis.


“Kami tidak berniat memelihara hewan, Tuan Purnapana,” Satria akhirnya menjawab. “Kami adalah budak, kami bahkan kesulitan mengurus diri kami.”


“Kucing adalah hewan yang sangat setia, tetapi mereka tidak mudah menancapkan kesetiaan itu pada manusia. Di utara, kucing dianggap sebagai pelindung, dan pengawas. Mereka terbiasa membasmi musang, tikus dan hama pada lumbung. Bahkan dahulu, seorang raja yang kuhormati di suatu kerajaan di Barat memelihara puluhan kucing di istananya sebagai sebuah kepercayaan terhadap leluhur cindaku sang penjaga benua. Kucing itu menaruh ketertarikan pada kalian, maka sekarang kalian akan menjadi Tuannya.”


“Tapi Tuan, apa dia butuh sebuah nama?”


“Nama memiliki keterikatan yang penting bagi hewan. Nama bisa menjadi sebuah kekuatan bagi hewan, bisa juga harapan,” Purnapana menegaskan.


“Sewaktu aku masih kecil. Ibu pernah menamai seekor lumba-lumba. Tiap awal musim kemarau, Desa Selok dilewati lumba-lumba putih yang cantik. Aku dan ibu sering memandangi mereka dari pelabuhan, Ibu sering memanggil mereka dengan nama nama unik,” kata Syam, matanya berkaca-kaca. “Sayangnya aku tidak mengingat nama itu, karena ibu memanggil nama-nama itu dalam bisik.”


“Kalian bisa memikirkan namanya nanti. Tidak perlu terburu-buru, biar nama itu sendiri yang datang untuk memilih kucing hutan itu,” Purnapa lalu membisu. Api unggun mulai berkedip-kedip nyaris padam di hadapannya. “Aku yakin kedatangan kalian bertiga di sini untuk mendengarkan sebuah kisah yang sangat besar seperti janjiku pada Satria di malam lalu. Kisah ini akan lama dan panjang.”


Satria, Harsya dan Syam mulai tegang. Mereka duduk bersimpu dan merapat. Purnapana membentangkan lengan dengan tangan-tangan ceking yang terjulur keluar bagai cakar dan mulai bercerita.


“Tetesan waktu turun seperti rintik hujan yang tidak dapat dihentikan. Hari, bulan dan tahun berlalu entah kita ingin dan tidaknya menghadapi, semua akan menjadi kenangan pahit dan manis bagaikan samudra yang membentang tanpa batas. Apa yang akan kalian dengar bisa berupa serpihan masa lalu yang ingin aku lupakan bahkan aku ubah. Tapi hargailah, karena sekarang akan kuberi kalian kenangan tersembunyi dalam kabut gelap benua ini.”


Sorot mata tajam mengamati ketiga budak muda di hadapannya. Api unggun membatasi jarak mereka, namun pandangan Purnapana berakhir pada Satria yang berada di tengah.

__ADS_1


“Beratus-ratus tahun yang lalu, para penjaga benua dibentuk, mereka adalah cindaku.  Mereka menjaga dan melindungi benua ini dari kekuatan-kekuatan iblis jahat penghuni gunung, hutan dan gurun di Zamrud, bahkan manusia-manusia jahat sekalipun. Para tetua bangsa pertama terdahulu mengatakan ‘untuk mengalahkan iblis diperlukan kekuatan iblis, tapi tidak berarti hati kita serupa dengan iblis.’ Cindaku adalah manusia sakti berwujud harimau, jika kekuatannya digunakan untuk kebaikan, mereka setara dua puluh prajurit dewasa. Mereka tidak bisa mati kecuali seorang manusia cukup cepat untuk menusuk jantungnya. Di bawah penjagaan cindaku ratusan tahun lalu, kota-kota tumbuh makmur, iblis dan siluman kembali bersembunyi dan manusia mulai mendirikan kerajaan dengan menara-merana serta patung-patung wajah cindaku sebagai wujud terima kasih mereka.”


Purnapana menunduk. Kesedihan menyusup dalam suara yang serak.


“Tradisi itu terus terjaga hingga itu menjadi puncak kejayaan dan keberhasilan para cindaku dalam menjaga perdamaian di Zamrud. Namun, menangislah karena masa itu tidak pernah abadi sampai pada lima puluh tahun lalu seorang dewa langit bernama Ganesha jatuh cinta pada seorang manusia, wanita yang dicintainya adalah putri seorang bangsawan di Majalaya bernama Patma.”


“Beberapa catatan prasasti dan syair-syair masa lalu mengisahkan bahwa pada masa itu kecantikan Patma mengalahkan seluruh kecantikan para putri bangsawan di Zamrud, sehingga Ganesha jatuh cinta padanya. Melalui kahyangan di Madewa, Ganesha tidak pernah berhenti memandang Patma hingga sewaktu Patma memasuki usia dewasa, Cintanya pada Patma semakin tidak terbendung.”


Tangan Purnapana nampak gemetar seraya memandang kobaran api unggun yang semakin meredup menjadi arang-arang yang menyala. Kata-kata selanjutnya terlontar bagai lantunan duka dan kengerian.


“Kerajaan-kerajaan yang makmur tidak pernah merasa puas. Para raja mulai saling mengklaim takhta mereka atas benua Zamrud, terkecuali sang raja bijak, Raja Dotulong dari kerajaan Temaram. Dotulong menghormati jerih payah para cindaku dalam menjaga perdamaian zamrud beratus-ratus tahun lamanya. Namun, pertentangan Dotulong tidak ada artinya, peperangan antar manusia pecah di wilayah-wilayah kecil hingga kota-kota besar.”


“Para cindaku adalah penjaga dan pelindung, mereka tidak ingin berdiri di atas kemelut politik dan keserakahan. Sayangnya perang terus berkecambuk seperti kobaran api, Ganesa merasa semakin khawatir dengan Patma, ia lalu turun dari kayangan menjelma sebagai manusia untuk menyelamatkan Patma dan membawanya menuju Hutan Mustika Raja.”


“Sewaktu Mahardhika berumur sepuluh tahun, Ganesa dituntut untuk kembali ke Madewa. Aibnya telah tersebar sebagai dewa pembangkang karena telah memiliki seorang anak manusia. Jika Ganesa tidak kembali ke Madewa, maka sang dewa kebijaksaan Amertha akan menghukum Ganesha dengan membawa Patma dan Mahardhika menuju Madewa untuk menjalani siksa kahyangan selama seumur hidup. Ganesha memohon pengampunan. Melalui kebijakannya, Amertha mengampuni Ganesa dengan satu syarat bahwa Ganesa harus memerintahkan Patma untuk membunuh putranya sebagai bentuk penyesalan dan hukuman karena mencoreng aib para dewa.”


“Suatu malam, dalam tangisnya, Patma hendak menusuk jantung Mahardhika dengan sebilah belati tulang. Namun, semua bagai khalayan semu, pisau itu tidak melukai Mahardhika sama sekali. Sang ibu sadar bahwa Mahardhika mewarisi kekuatan dan karunia para dewa. Nahas, Mahardhika terlanjur kecewa, ia murka dan justru membunuh sang ibu. Kematian Patma melukai hati Ganesha. Dia dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan karena telah mencintai Patma. Pada akhirnya ia memerintahkan hewan penunggang sucinya yang bernama Lembushawana untuk membunuh dirinya.”


“Setelah kematian kedua orang tuanya, Mahardhika hidup sebatang kara dan mengembara untuk bertahan hidup. Sampai usianya menginjak enam belas tahun, dia jatuh cinta dengan putri kaya bernama Ken Dara. Ketampanan dan kemilau perunggu rambut Mahardhika begitu istimewa membuat Ken Dara terpesona padanya. Ken Dara dengan senang hati menerima cinta Mahardhika semudah membalik telapak tangan. Di hadapan Ken Dara, dia menjelaskan jati dirinya bahwa sang ayah adalah seorang dewa.”


Purnapana berhenti, ia merasa sangat haus. Setelah Purnapana meneguk air dalam kendi, dia melanjutkan dengan nada yang lebih tenang.


“Selama bertahun-tahun Mahardhika hidup dalam kegelisahan. Dia merasa dirinya sangat istimewa, tapi apa yang dilakukan ibunya dulu tidak pernah hilang dari pikirannya. Lambat laun Mahardhika menjadi sinting, dia mendirikan Kerajaan Nusantara melalui kekayaan-kekayaan Ken Dara. Selama menduduki takhta kecilnya, ia menganggap apa yang dilakukan ayah dan ibunya adalah kesalahan hina, kebanggaan atas keistimewaan dirinya tumbuh menjadi semakin liar. Sampai sebuah ambisi jahat muncul dalam benaknya untuk membuktikan dirinya adalah seorang penakluk, yang bukan dilahirkan dari orang tua pecundang.”

__ADS_1


“Mahardhika lalu mengklaim dirinya sebagai raja dari semua raja di Zamrud. Dia menjadi raja kejam dan bengis. Raja-raja dituntut untuk bertekuk lutut, menyumpah setia atau mati. Tentu pengakuan itu mendapat pertentangan dari para raja, ribuan penentangnya berdiri di hadapannya dan memintanya untuk mencabut kata-kata itu, sayangnya mereka sudah lama mati dan kepalanya di tancapkan pada gerbang Istana Nusantara sebagai peringatan.”


Isi perut Satria seakan teraduk. Kisah-kisah itu menjadi sebuah lantunan mengerikan, tubuhnya pun mendadak mengigil seakan bara api unggun di hadapannya membeku.


“Kesengsaraan dan teror itu membangkitkan nurani Raja Dotulong untuk membebaskan Zamrud dari belenggu kepemimpinan tirani Raja Mahardhika. Dotulong memohon bantuan para cindaku untuk menurunkan ilmu batin itu dalam upaya tertinggi untuk menyetarakan kekuatan dengan sang raja berdarah dewa. Para cindaku yang bersemayam di pedalaman Hutan Mustika Raja keluar dari hutan untuk membantunya dan mengajari ilmu-ilmu batin setelah melihat keteguhan hati dan kejujuran Raja Dotulong. Perang besar antara Dotulong dan Mahardhika akhirnya meletus lima belas tahun lalu. Namun, raja terkutuk terlalu kuat, dia meraih kemenangan dan membantai habis-habisan pasukan Raja Dotulong beserta para cindaku.”


“Saat kematian Dotulong tersebar ke seluruh penjuru Negeri, bayang-bayang ketakutan menyelimuti langit Zamrud. Mahardhika mengangkat dirinya sebagai raja dari segala raja di Zamrud.”


Setelai selesai bercerita, Purnapana enggan menatap ketiga budak muda itu. Dia berpaling menatap sudut-sudut hutan yang gelap, seakan menyembunyikan air matanya yang berkilau.


“Anggaplah kalian budak yang diberkati dewa malam ini. Jangan biarkan prajurit manapun tahu tentang kisah yang kalian dengar malam ini.”


Ketiga budak itu bergumam pelan satu sama lain. Rasa sedih, marah, bimbang, dan takut terpancar dalam benak polos mereka. Dengan cepat perasaan itu meledak menjadi kepingan kekuatan.


“Malam ini, hanya itu yang bisa aku kisahkan pada kalian,” Purnapana terhuyung-huyung menjauh. “Aku akan bertapa, biar aku yang menjaga kucing itu untuk kalian, kembalilah malam-malam selanjutnya, aku akan mengajari kalian sesuatu. Jangan lupa, bawa nama untuk kucing ini, dia akan menjadi keberuntungan untuk kalian suatu hari nanti.”


Satria dapat melihat tetesan-tetesan air menuruni dagu Purnapana, ia berkata, “terima kasih Tuan Purnapana. Kami akan kembali ke kemah, kami akan mengunjungi Tuan pada malam selanjutnya. Hanya Tuan tempat kami mengadu, melepas beban-beban dan siksa.”


Purnapana tidak menjawab, dia tidak ingin memperlihatkan air matanya, “berhati-hatilah budak muda.”


            Kabut kegelapan semakin menyebar seperti wabah, dingin dan menusuk. Apa yang akan dihadapi mereka kelak bisa menjadi pertaruhan. Dalam dunia kelam ini, Tiga cahaya kecil itu tiba dengan senyum suci, kumohon... kumohon... jangan biarkan mereka terbaring tanpa melihat bulan baru, renung Purnapana. Bayang-bayang tubuhnya kian mengilang dalam mulut gua yang gelap.


 

__ADS_1


***


__ADS_2