
Di sebuah kamar istana nan megah dan kokoh. Seorang kepala dayang menyanggulkan rambut sewarna perunggu mengilap Nirmala dengan penuh sayang. Tidak ada kebanggaan yang bisa terlukis olehnya setiap kali ia membelai rambut sehalus benang sutra itu. Warna perunggu rambut Nirmala adalah warna keramat, hanya dia satu-satunya putri keturunan Raja Mahardhika dari Kerajaan Nusantara yang mewarisi warna rambut ayahnya. Sementara adiknya bernama Sri Sekar, berambut hitam segelap malam seperti ibunya, Ratu Ken Dara. Kisah-kisah tentang silsilah keturunan Mahardhika sudah tersebar luas di penjuru negeri sebagai kerajaan penguasa pemegang Takhta Nusantara di Negeri Zamrud.
“Rambut Tuan Putri selalu indah. Hamba meyakini di musim panen ini, setiap pangeran di penjuru negeri akan rela menumpahkan darah demi menikahi Tuan Putri.”
“Ihsya,” sahut Nirmala menyebut nama sang dayang pemimpin itu. Walaupun dia merasa tidak nyaman, Nirmala tetap tersenyum ramah penuh santun. “Aku sudah mendengar pujian semenjak aku masih setinggi pinggul ibunda. Perlakukan aku layaknya anakmu, bukan anak dari dewa tak bernama.”
Ihsya menunduk menyesal, dia terpukau dengan kerendahan hati Nirmala. Sebagai seorang putri tertua, Nirmala telah tumbuh dewasa dan cantik. Usia Nirmala tujuh belas tahun, tapi sikapnya sudah menunjukan kualitas sebagai putri raja yang terhormat dan bijaksana.
Nirmala tidak ingin menanggapi kekaguman Ihsya. Ihsya sudah merawatnya sejak dia kecil, dia menganggap Ihsya sebagai ibu kedua disaat sang ratu terlalu sibuk mengurusi urusan politik bersama sang ayah. Ihsya yang mengajari Nirmala adab-adab putri raja, bertutur dengan santun, berpakaian dengan terhormat dan menari tarian putri raja. Namun, Nirmala ingin dianggap setara, bukan sebagai putri suci atau putri yang disegani.
Ihsya tersenyum, dia membalur minyak yang diyakini adalah pewangi berbahan rempah-rempah dan campuran melati kering ke pundak dan leher Nirmala. “Acara sudah hampir dimulai, ayahanda dan ibunda pasti sudah menunggu di arena jawara. Lebih baik Tuan Putri tampil secantik dewi kahyangan dan sewangi tujuh taman bunga.”
Arena jawara pikir Nirmala. Dia ingat hari ini penamaannya sebagai pemegang waris sah Takhta Nusantara. Barangkali dia tidak benar-benar menginginkan hari ini. Nirmala akan memaksa tubuhnya duduk di antara tandu naungan bertiang bata merah beralas kain sutra berwarna bersama raja, ratu dan adiknya. Dia belum siap menyaksikan pertumpahan darah antar jawara-jawara dari penjuru negeri hanya untuk merelakan dirinya menjadi alat perjodohan atas nama kerajaan.
Nirmala sudah cukup dewasa untuk tahu bahwa hari penamaan ini tidak lain adalah hadiah imbalan bagi para ksatria dan pendekar terkuat untuk menjadi suaminya kelak.
“Ihsya, tunggulah di luar, aku terlalu gugup untuk acara sepenting ini,” katanya berdusta.
Setelah Ihsya mengangguk dan pergi, Nirmala beranjak menuju jendela dengan muram. Ia memandang pedesaan yang mengelilingi istananya. Rumah-rumah berdiri seperti sebuah kotak coklat muda dengan atap kerucut kecil, asap-asap putih membubung ke langit biru membaur dengan gumpalan awan putih. Menara-menara persegi tersusun berdiri menjulang, terbuat dari batu bata merah. Melalui sudut matanya Nirmala dapat melihat para pengawal penjaga yang sibuk mondar-mandir sambil mengenggam busur.
Sejenak ia tersenyum melihat hiruk-pikuk orang di luar dinding istananya. Riuh dan gaduh mereka saling berbincang. Nirmala bisa mendengar teriakan anak-anak gelandangan yang bermain di luar dinding. Untuk sesaat dia berharap bisa berada di luar dinding istana bersama anak-anak itu, berlarian, berteriak menyanyikan nyanyian desa, menjadi kotor dan bebas.
Sedangkan saat ini, dia berdiri di dalam istana megah nan kokoh dengan ribuan prajurit perkasa sekuat ayahnya. Tubuhnya terbalut kain penuh pernak-pernik permata dan berbahan sutra dengan simbol panji rumit di selendang pinggangnya, harum kulitnya menusuk sewangi ladang bunga, dan ia bisa berjalan layaknya seorang putri bangsawan, tetapi Nirmala tidak merasa bebas, hanya sepi dan ia benci.
__ADS_1
Di jangkauan pandangan yang lebih jauh. Nirmala memandang hamparan deretan perbukitan hijau, dan sungai yang mengalir deras. Awan-awan bergerumun putih di atas daratan tanpa nama. Dia membayangkan dan bertanya pada langit. Bisakah dia pergi ke sana? Berkuda dan menikmati harum bunga mawar asli dari daratan liar, dia sudah bosan dengan harum minyak pewangi di istana.
Ihsya pernah bercerita sewaktu Nirmala masih kecil. Daerah di luar istana kejam. Para raja terdahulu saling menumpahkan darah untuk merebut takhta ratusan tahun lalu. Sebelum akhirnya ayahnya menjadi pemenang dan menutup kemelut itu lima belas tahun silam. Mahardhika membuat mereka harus bertekuk lutut dan menyatakan kesetiaan. Namun, tidak dengan sang pembangkang, raja siluman harimau, Dotulong.
Meskipun kepala Raja Dotulong sudah di pancung oleh ayahnya, keturunan Raja Dotulong dikisahkan masih bersembunyi dan bertapa untuk mengembalikan kemurnian ilmu batin, menunggu untuk balas dendam.
Mengingat cerita itu Nirmala bergidik ngeri. Apa benar di luar sana semenakutkan cerita Ihsya. Apakah manusia harimau benar-benar kisah yang nyata? Nirmala tidak pernah mempercayai kisah tentang legenda cindaku. Sejauh matanya memandang, hanya dataran hijau seindah permata membentang tanpa batas, dan gelombang bukit-bukit menjulang seperti barisan gigi taring.
Terdengar ketukan pelan di pintu.
“Aku siap Ihsya,” sahut Nirmala, beranjak malas dari jendela.
Namun, yang di lihatnya di luar kamar bukanlah Ihsya, melainkan Mpu Lodrok, sang penasihat ayahnya. Mpu Lodrok kecil dan tua. Dia berjanggut putih sedada dengan sorot mata setajam musang. Punggungnya sudah bungkuk di topang dengan tongkat kayu ulin yang berwarna tembaga. Mukanya dipenuhi bercak hitam dan keriput.
Nirmala tidak penah menyukai Mpu Lodrok. Seringkali upaya Nirmala untuk bisa keluar dari istana gagal oleh ketegasan ayahnya karena hasutan dari sang penasihat. Mpu Lodrok bersikeras meyakinkan sang raja untuk menjaga Nirmala tetap berada di dalam istana tanpa pernah bertatap dengan rakyatnya. Karena keselamatan putri terancam, kata-kata Mpu Lodrok terngiang dalam benaknya.
Mpu Londrok mendekati Nirmala dengan langkah setengah hentakan tongkat, di belakangnya diikuti Ihsya yang melangkah menunduk.
“Ini pertama kalinya Putri akan bertemu para jawara,” Mpu Lodrok mengelilingi tubuh nirmala dan berakhir pada wajahnya, dia mengamati setiap detil lipatan selendang Nirmala, ikatan sanggul dan wangi tubuhnya. “Kau sudah berdiri seakan sang dewa siap menjemputmu, senyumanmu menonjolkan lembayung di matamu, para jawara akan rela mati untukmu.”
Rela mati untukku, putri macam apa yang mau menerima penamaan dan perjodohan di atas kematian pria, pikir Nirmala menahan pilu.
“Berjalanlah dengan para dayangmu dan temui para jawara,” kata Mpu Lodrok sambil mundur membelakangi Nirmala, lalu para dayang datang berduyun-duyun. Ihsya menyambut lengan Nirmala, menuntunnya berjalan menuju aula istana.
__ADS_1
Dia berjalan menuruni undakan batu bata yang sudah digosok sehalus batu pualam sampai ke aula. Para prajurit berjejer seperti deretan patung perkasa. Setiap prajurit setengah berlutut sewaktu Nirmala melewati satu pasang prajurit di setiap langkahnya. Menghasilkan bunyi suara yang teratur. Nirmala mendengar suara riuh dari kejauahan. Mereka semua pasti sudah berkumpul di halaman utama istana, pikirnya mulai gugup.
Nirmala sedih, mengapa sang ayahanda hanya mengizinkan para bangsawan dan prajurit kerajaan yang menghadiri area tarung di halaman. Dia ingin rakyatnya ikut memeriahkan, untuk melihat dirinya sebagai putri raja yang utuh. Nirmala ingin tampil dan bertemu rakyatnya yang hidup di balik dinding istana, bukan kaum-kaum bangsawan yang sudah terbiasa menikmati kemewahan yang baginya cukup membosankan.
Nirmala melewati dayang-dayang dan para budak, ia sampai pada halaman istana dengan pilar-pilar batu bata. Halaman itu disesaki hiasan gantung dari tanaman merambat. Lelaki-lelaki berkulit kecoklatan berjalan-jalan di antara dedaunan menuju arena tarung di ujung jalur pilar. Kebanyakan dari mereka bertelanjang dada, bertubuh kekar, otot menonjol menampakan serat kokoh di balik kulit sewarna tembaga para jawara. Kepala mereka kebanyakan gundul dan sebagian di kepang melingkar sampai ke punggung.
Prajurit pengawal keluarga bangsawan mengenakan kawaca dan selendang dengan panjinya masing-masing. Para lelaki tangguh itu jarang melepas pandangannya pada Nirmala, seolah sorot matanya membeku pada keelokan sang putri anggun berambut perunggu, anak sulung dari raja penguasa, Raja Mahardhika.
Nirmala semakin gugup, Mpu Lodrok lalu berbisik di belakangnya, “Tuan Putri terlihat gemetar, bisa aku bayangkan betapa inginnya mereka meniduri sang putri raja, meskipun mungkin banyak di antara mereka akan mati di sini.”
“Setelah penamaan ini selesai, izinkan aku mengurung diri, aku benci darah,” jawab Nirmala. Dia ingin lari bersembunyi, tapi Mpu Lodrok dan para pasukan prajurit mengawasi. Sewaktu Nirmala mulai memasuki arena jawara, ia merasa tidak nyaman.
Di sisi Barat arena, ayahnya duduk dengan sang ibunda. Keluarga raja di naungi atap dengan kain tujuh warna yang di sulam dengan bahan sutra terbaik. Dayang-dayang tidak hentinya berkeliling membawakan banyak hidangan-hidangan beraroma menyengat dan arak berbahan nira.
Adiknya Sri Sekar, duduk di sebelah sang ibunda. Sri Sekar tidak pernah berubah, dia adalah satu-satunya putri yang bertubuh kekar layaknya seorang prajurit, penampilannya seperti lelaki, berdada rata dan berambut pendek.
Nirmala menatap sang ayah dari kejauhan. Wajahnya keras dan bengis, ada perasaan amarah yang dipendam karena keterlambatan Nirmala untuk hadir. Nirmala tahu sang ayah sudah tidak sabar untuk memulai pertumpahan darah antar pria perkasa dari penjuru negeri itu.
Sebenarnya Nirmala ingin menangis. Nirmala berbalik dan melihat Mpu Lodrok sibuk tersenyum dan membungkuk, mendampingi bangsawasan ke tempat duduk mereka. Nirmala menepis air mata yang hampir menetes dari pipinya dengan punggung jarinya.
“Tidak apa-apa Tuan Putri, semua akan baik-baik saja,” Ihsya merasa iba, meskipun dari nada suara Ihsya, Nirmala tahu mereka sama-sama tidak ingin berada di sana.
Nirmala mencoba tersenyum, dan berjalan tegak, menyusuri kerumunan menuju tempat duduknya yang kosong di sebelah sang ayahanda.
__ADS_1
***