Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan

Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan
Satria


__ADS_3

Pada malam sepulang mereka dari gua si petapa tua, Satria terjaga dari tidurnya. Dia membayangkan lagi cerita-cerita yang mengalir dari mulut Purnapana dengan hati-hati. Perasaannya tidak nyaman, terbayang wajah Punapana yang begitu sedih, seolah kesedihannya larut bersama kisah itu.


            Dia tidak pernah mendengar apa pun tentang manusia harimau, dan ingin menganggap kisah itu hanya sebatas dongeng hebat dari seorang kakek pengembara, tetapi kisah itu terasa begitu nyata.


Bagaimana rupa cindaku sesungguhnya? Apa dia sosok yang bisa membebaskan kami?


Satria tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Dia menjadi putus asa dan semakin sulit tidur. Keinginan untuk bertemu Purnapana timbul lagi, tetapi dia harus bersabar dan menunggu malam selanjutnya. Sesungguhnya jika cindaku benar-benar ada, aku harap dewa mengirimnya ke Selatan untuk mencabik perut para raja-raja kami yang kejam seperti dia mengusir iblis dan siluman di masa lampau.


Pagi hari datang dengan berkas cahaya yang terang, burung kutilang berkicau di atas kemah-kemah budak. Setidaknya bunyi itu lebih merdu ketimbang dentam kentungan Garung. Seseorang membangunkan Satria dengan kasar, ia merasakan sentakan dengan irama keras berkali-kali menghantam punggungnya. Matanya terbuka dengan perih, dia baru tidur selama sekitar dua jam.


“Budak keparat pemalas!” kata Garung menendang punggung Satria.


Dia terbangun dengan kejam, merintih dan berusaha bangkit.


“Apa aku harus membiarkan kau tidur di tengah hutan supaya para anjing liar lapar membangunkan tidur nyenyak itu sebagai sarapan mereka, budak terkutuk!”


Suara Garung berdenging di telinga Satria, dia ingin marah tapi tubuhnya masih lemas dan terasa kebas. Dari semua prajurit di Mayakarsa, aku berharap manusia harimau akan mengoyak mulutmu lebih dulu, Satria bergumam.


“Maaf Tuan, hamba sulit tidur.”


“Itu bukan masalahku,” Garung lalu memukul kentungan itu dua kali di hadapan Satria. “Kau dengar bunyi apa itu? Kau mengerti?”


Suara itu sangat menganggu Satria yang masih berdiri tertunduk, “Hamba mengerti Tuan.”


Tanpa pikir panjang garung menendang Satria sampai ia terjatuh membentur tanah berpasir. Garung lalu tertawa, perutnya gemuknya bergerak-gerak seperti jeli, “Kalau mengerti maka cepat bangun, budak tuli, keparat kau. Hari ini bersihkan petirtaan, tubuhmu seharum bangkai, menyentuhnya saja sudah membuatku mual.”


Satria bangkit meringis sambil memegang perutnya, tendangannya tidak bertenaga, tetapi cukup membuat perutnya berdenyut. Para budak bertugas secara bergiliran di area candi. Setidaknya daerah pertirtaan adalah tempat yang paling dinanti para budak untuk bekerja.


Satria bergegas mengikuti puluhan iringan budak yang berjalan menuju arah Timur candi. Selama perjalanan dia melihat kebengisan prajurit semakin menggila. Satu orang prajurit menendang-nendang budak yang terjatuh sampai mereka batuk darah. Beberapa prajurit bahkan menyeret mayat-mayat untuk dibuang di tepi jurang.


Dekatnya musim panen tidak menjadikan hari sukacita untuk mereka.  Pekerjaan-pekerjaan itu semakin tidak masuk akal, satu orang budak dewasa diwajibkan membawa ratusan batu-batuan andesit berat sampai kulit-kulit tangannya mengelupas. Budak-budak yang sudah tua di caci maki, dipermainkan seperti hewan terlantar, bahkan banyak dari mereka diludahi karena tidak sanggup menggali, hingga sampai pada akhirnya mereka terjatuh dan mati dalam galiannya sendiri.


Pemandangan itu semakin membuat Satria rajin berdoa setiap siksaan-siksaan terjadi di sekitar matanya. Doanya tertuju pada sang manusia harimau yang dianggapnya sebagai dewa pembebas. Meskipun keberadaannya masih dianggap Satria sebagai dongeng, dia berharap cindaku menjadi gerbang kebebasan untuk para budak-budak di Mayakarsa.


Dia sudah berjalan selama dua puluh menit, pertirtaan Condok berada tidak jauh dari lokasi candi utama, sekitar berjalak lima ratus langkah kaki. Di sekeliling bangunannya ditumbuhi pohon-pohon mahoni yang rimbun, rumput di sekitar tumbuh subur.


Bangunan Petirtaan itu berbentuk persegi dengan susunan batu bata yang rapat. Di ujung sudutnya terdapat jaladwara (pancuran/saluran air). Air berwarna hijau metalik mengucur keluar dari mulut-mulut makara (hewan berbentuk gajah setengah ikan) bersumber dari lereng-lereng mata air dari Pegunungan Andamar.


Satria teringat bagaimana keindahan itu didapatkan melalui derita yang cukup panjang. Para budak dipaksa untuk menggali sumber air sejauh beratus-ratus hasta hingga sumber air ditemukan. Mereka kelaparan, belum lagi terik membakar kulit mereka di atas galian-galian tandus yang panas. Sekarang bangunan itu sudah hampir rampung, budak-budak kini harus menggosok batu bata penghubung bangunan dan mengukir ukiran-ukiran tanda kejayaan Mayakarsa.


Satria menapaki permukaan petirtaan itu, terasa kesat dan dingin. Air jernih membanjiri kaki Satria sampai betis. Dingin, sejuk dan tenang mengalir dalam benaknya. Setelah mengukir beberapa ukiran kuda dengan pahat batu, Satria membasuh wajahnya dengan air petirtaan.


Timbul gejolak lagi dalam dirinya. Dia ingin bebas, seharusnya dia bisa menikmati kesejukan ini tanpa harus terbelenggu perintah-perintah. Puluhan budak di sekitarnya berwajah semakin suram, seolah kesejukan air hanyut dalam kehampaan. Tangan mereka bergerak, mengukir, menggosok, dan mengangkut, tetapi wajah mereka kosong.


Para budak tidak diberi sarapan, mereka diberi makan saat siang hari, itu pun setelah para prajurit pengawas selesai makan. Sewaktu setengah hari berlalu, para prajurit memerintahkan mereka untuk berhenti bekerja. Hari menjelang siang, semburat terik merekah menembus celah-celah daun mahoni, tubuh basah Satria seketika cepat mengering. Satria dan para budak kembali menuju pelataran candi utama.


Di hadapan mereka berdiri puluhan gentong berbahan besi berkarat setinggi pinggang Satria. Gentong itu berisi sisa-sisa makanan dari para prajurit yang tidak habis. Kebanyakan berisi nasi-nasi lembab yang benyek dan berbau asam. Ada juga beberapa potongan-potongan tulang ayam dan burung dara tercampur, tetapi tidak tersisa sedikit pun daging. Satria tidak jarang menemukan sayuran-sayuran rebus yang sudah basi dalam gentong, baunya menyengat dan berlendir.


Dengan malas Satria beranjak mengampil nampan kayunya. Sesungguhnya dia tidak bernapsu sama sekali. Dia hanya mengambil satu suapan makanan itu dengan sendok yang terbuat dari batok kelapa. Satria sudah merasakan makanan nikmat sebelumnya dari bahan makanan yang dicuri dari gudang, kenapa dia harus bernapsu melihat tumpukan sampah dalam gentong itu.


Dia bisa mencuri makanan itu setiap malamnya. Siapa yang peduli pada si Tarmigi, penjaga gudang yang bodoh dan pemalas? Menikmati daging-daging bakar dan buah-buahan segar bersama sahabatnya di gua tempat Purnapana bertapa membuatnya tidak sanggup lagi harus memakan makanan ini.


“Aku mengerti perasaanmu adik kecil.”


Harsya tiba-tiba muncul dan duduk di sebelah Satria. Harsya memaklumi perasaan Satria, wajahnya tidak dapat mengesampingkan perasaan mual itu.


“Nanti malam kita...”


“Jangan keras-keras,” bisik Harsya memperingati, alis tebalnya seolah berkedut.

__ADS_1


Satria hampir lupa bahwa para prajurit masih ada di sekitar mereka mengawasi para budak-budak yang menolak makan. Seringkali cambukan melayang keras untuk para budak yang memuntahkan makanan-makanan.


“Nanti malam kita mencuri lagi.”


“Tentu adik kecil, aku masih ingat rasa daging lembu itu! Bahkan belum sempat aku menghabiskan buah-buahan lainnya, Syam terlalu rakus.”


Satria tertawa mendengar candaan itu.


“Malam ini kita harus membawa banyak buah. Aku ingin Pisang, dan pepaya,” kata Satria sambil mengunyah nasi sisa yang terasa sedikit asam. “Dimana Syam?”


“Dia mendapat bagian pembakaran bata hari ini, tidak bisa kubayangkan, siang ini terasa panas dan selalu panas akhir-akhir ini. Aku benci tempat itu, tidak cocok saat kemarau.”


Satria mengangguk sedih. “Aku ingin bebas.”


“Kita semua ingin bebas adik kecil,” jawab Harsya, mencoba tersenyum. “Kau lupa bagaimana Syam sangat merindukan pantai, seperti aku merindukan danau di desaku. Kita semua tidak layak berada di neraka ini, tapi apa yang bisa kita perbuat?”


            Satria menggeleng, wajahnya nampak hening, tapi sorot matanya bagai kobaran api kecil. “Apa kau percaya kisah yang diceritakan Tuan Purnapana, tentang manusia harimau?”


            “Adik kecil, benua ini sangat luas, ayahku sangat dekat dengan para penyihir. Masih banyak keajaiban-keajaiban tersembunyi di balik kabut, lorong-lorong bukit, hutan, dan dalamnya lautan. Kau lihat sendiri, Tuan Purnapana bercerita seakan sungai mengalir begitu tenang, lalu menjadi deras, kesedihannya bukti bahwa dia seorang yang jujur. Aku mempercayainya, tapi juga takut akan kisahnya,” Harsya menjelaskan sementara dia mencoba menelan nasi lembek berlendir.


            “Apa suatu saat cindaku akan menolong kita?” Satria tertunduk lesu, saat mencoba menghabiskan sisa makanan terakhirnya.


            “Harusnya, tapi aku ragu. Siapa yang akan memperdulikan kita, kita hanyalah pekerja dan pecundang.”


            “Jangan begitu...”


            Bunyi kentungan terdengar lagi, membuat perhatian pada budak teralih. Namun dentam panggilan itu berbeda, bunyinya tidak beraturan seakan orang tolol sedang bermain dengan kentungan itu.


            “Tabib! Dimana tabib!” teriak Garung dengan wajah dungu, berkeliling sambil memukul-mukul kentung bambu itu.


            “Ada apa lagi ini?” tanya Satria.


            Dua orang prajurit sedang menggopoh seorang budak yang dibawa dari daerah pembakaran bata. Kedatangan prajurit itu memantik perhatian pada budak lain. Awalnya Satria tidak mengenalinya, tetapi sewaktu kerumunan budak terpecah, wajah itu semakin jelas, dia adalah Syam. Punggungnya mengalami luka sobek yang mengerikan. Sayatan-sayatan terpampang  jelas seakan kulitnya terbuka berwarna merah muda memperlihatkan daging Syam yang lembek. Darah membanjiri celana katunnya.


Asih muncul dari gapura Selatan. Langkahnya panik, dia mendekati Syam yang terlihat pucat dan lemas.


“Ada apa Tuan, kenapa dengan budak muda ini?”


“Dia mendapatkan pengadilan, kami memergokinya terjatuh saat membawa bata-bata panas itu,” kata seorang prajurit itu menahan tawa. “Kami sudah menghitungnya, dua puluh bata pecah!”


Garung tertawa, diikuti suara gema tawa prajurit-prajurit di sekitarnya.


“Bajingan kau! Kau di sini untuk menebus dosamu, bukan menghancurkan kembali pengampunan dosa itu, apa kau menghina belas kasih dewa?” kata si Garung, kini tawanya lebih liar, tangannya tidak berhenti mendentamkan kentungan. “Kalian mencambukinya berapa kali?”


“Dua puluh,” tukas si prajurit sambil mengerang.


“Kurang!”


“Tuan jangan, hamba mohon,” Serbuan kengerian menyerang dada Asih, dia lalu bersujud, suaranya bergetar. “Dia masih muda, ampuni kesalahannya, hamba mohon.”


Garung mangangguk sombong, “Tabib ini benar, Asih... Asih... kau memang pandai berkata-kata, sayangnya kau sangat berharga di sini, jika tidak cambuk itu sudah mengiris punggungmu sekarang.”


Ucapan Garung membuat gemuruh tawa prajurit semakin menggema. “Bawa dia ke kemah, semakin banyak yang mati semakin lama candi selesai. Aku sedang ingin bersantai, tidak ingin membuat Tuan Dhanu mendengar kabar bodoh ini.”


Kedua prajurit lalu menggopoh Syam ke arah kemah budak terluka. Mereka menaruhnya seakan Syam seonggok bangkai dan meninggalkannya merintih. Syam memandang Asih dengan tatapan muram, napasnya pendek-pendek. “Tidak apa-apa, tidak seberapa.”


“Jangan bicara lagi.”


Air mata Asih menetes lagi, dia bergumam,  “dewa maafkanlah hamba, maafkanlah para manusia-manusia yang berhati gelap itu.”

__ADS_1


Di balurnya bubur sirih yang sudah dikunyah Asih selama dia menangisi luka-luka pemuda itu. Syam lagi-lagi mengeram. Otot punggungnya menegang, luka itu terasa terbakar.


“Ibu! bagaimana Syam,” kata Satria berhasil menyelinap di antara celah kemah.


“Kau selalu seperti itu adik kecil, pelankan suaramu,” kata Harsya yang menyusul di belakangnya.


Asih menggeleng sedih, “Lukanya cukup dalam, berdoa saja sirih akan menjauhkan lukanya dari kebusukan, Nak.”


“Apa yang mereka lakukan padamu?” giliran Harsya bertanya. Melihat Syam dari dekat cukup membuat giginya ngilu.


“Bajingan itu... memaksaku membawa tumpukan bata dua kali jumlahnya,” dia menjawab sambil merintih menahan bubur sirih di lukanya yang semakin terasa panas. “Mereka bertaruh aku sanggup, tapi aku terpeleset, lalu... lalu... mereka, sial!” Syam tidak dapat menahan lagi, ia menangis, tangisannya terdengar sendu, dan panjang.


Harsya mengusap kepala cepak Syam. Ia dapat merasakan peluh hangat Syam merembes dari rambut tipisnya. “Bertahanlah saudaraku, bertahanlah. Seandainya aku tidak terlahir penakut dan pecundang.”


“Aku sudah tidak tahan lagi, kita harus melaporkannya pada Tuan Purnapana,” Satria berkata.


“Apa yang bisa Tuan Purnapana lakukan adik kecil? Dia hanyalah seorang petapa.”


“Juga petarung!” Satria bersikeras.


“Siapa itu Purnapana, Nak?” Asih menoleh, nama asing itu seakan terdengar lebih mengerikan dari nama Dhanu.


 “Aku tidak bisa menceritakannya.”


“Kau tidak bisa merahasiakan hal berbahaya dari ibu, tidak juga di tempat ini, Nak.”


“Percayalah, ibu akan mengetahuinya nanti.”


“Nak,” Asih memandangnya lebih iba, raut wajah keibuan yang tulus terpancar pada sorot matanya. “Jangan buat ibu harus kehilanganmu di tengah penderitaan ini.”


“Bagaimana dengan rahasia dari ibu kandungku yang sebenarnya? Bukankah rahasia itu yang membuatku harus hidup di tengah neraka ini.”


Asih menutupi wajahnya dengan telapak tangan, tangisnya pecah lagi membasahi tanah tandus di sebelah alas jerami tempat Syam berbaring.


“Adik kecil, jangan pernah kau menyakiti hati ibumu.”


“Maafkan aku,” Satria tertunduk menyesal, dia meremas tanah tandus itu. Kukunya terasa ngilu.


Satria menyayangi ibu kandungnya seperti dia menyayangi Asih, tetapi ibu itu telah meninggalkan dirinya sewaktu dia masih berumur tujuh hari, meninggalkannya sendirian di depan rumah sederhana milik seorang tabib lajang. Satria ingat bagaimana Asih akhirnya bercerita sambil berurai air mata pada suatu malam saat dirinya berumur sepuluh tahun. Malam itu Asih memeluknya erat-erat, dia meminta maaf karena tidak dapat mengasuhnya dengan baik dan membesarkannya di tempat yang layak.


Ibunya penyebab Asih harus menanggung fitnah berat dari pejabat Kota Nasai, mereka menganggap Asih melahirkan seorang anak haram dari hasil perbuatan terkutuk bersama pasien-pasien di kota merdeka itu. Para pejabat memutuskan untuk menghukum Asih demi membersihkan nama baiknya. Asih dikirim ke Mayakarsa untuk menjadi tabib budak-budak pendosa bersama Satria, seorang anak yang dianggap sebagai anak haramnya.


Tidak lama setelah pengakuan itu, Asih rela Satria membenci dirinya. Asih menerima kenyataan itu selayaknya wanita pendosa. Namun, Satria tidak pernah membenci takdir ini, Satria tetap menanggil Asih sebagai ibu. Untuk Satria, Asih tetaplah seorang ibu meskipun darah dan daging Asih  tidak tumbuh dan mengalir dalam tubuhnya. Asih lalu berjanji setelah mereka terbebas dari belenggu perbudakan, Asih akan menceritakan siapa ibu Satria yang sebenarnya.


Sewaktu bunyi kentungan terdengar lagi, mereka berdua bergegas meninggalkan kemah budak untuk kembali menuju pelataran candi. Satria pergi dengan sesal luar biasa, dia seharusnya tidak mengikuti emosi-emosi yang menarik lidahnya untuk berkata setajam belati. selama perjalanan Satria mulai termenung.


Selama hidup sebagai budak. Jarak mereka kini dibatasi tanggung jawab dan pengawasan-pengawasan prajurit budak di lingkungan candi, sehingga seiring Satria bertumbuh dewasa, komunikasi keduanya menjadi berkurang. Sesekali dikala prajurit pengawas lengah Satria menyelinap menuju kemah para tabib, menemui Asih untuk menyapa.


Untuk kawasan Candi Contok, Dharma membeli lima orang tabib kota yang tersebar dari seluruh penjuru benua. Namun, mendapatkan budak tabib tidak semudah menyembelih ternak. Tabib kota kebanyakan berkedudukan mulia, mereka dibutuhkan sebagai perawat luka-luka pasukan perang dan bangsawan kerajaan.


Tabib dibekali ilmu pengobatan yang sulit dan jarang, sedangkan budak tabib yang dibeli Raja Dharma berharga sangat mahal setara bahan makanan kerajaan selama tiga bulan. Penyebab itu yang membuat raja-raja tirani kesulitan untuk mendapatkan tabib pendosa yang layak untuk menjadi seorang budak.  Selain itu, kebanyakan dari mereka berusia tua dan selama lima belas tahun ini, tabib-tabib telah lama mati. Tiga diantara hidup dalam rasa tekanan yang tinggi, membuat mereka muak dan mengalami depresi hebat. Dua lainnya sakit karena usia yang sudah terlampau tua. Hanya Asih satu-satunya tabib yang bertahan.


Sementara di tengah kawasan Candi Condok, pelataran dipenuhi budak-budak yang berdiri lesu. Sebagian memandang ke arah arca dewa kemakmuran, meringis dan menunduk. Harsya memecah lamunan Satria dengan berkata, “Tahun ini menjadi yang terburuk adik kecil, tapi bukan berati kita tidak beruntung.”


Satria berdiri tegak menghadap Arca sang dewa. Keberuntungan atau kesialan, terbaik atau terburuk, Satria merasa muak. Saat ini kebebasanlah yang paling sering dia dambakan melebihi apa pun.


Suatu saat nanti, raja-raja itu akan membayarnya, apa yang terjadi pada kami saat ini akan terbayar oleh singgasana mereka yang dibanjiri darah dari nadi mereka sendiri. Bebas... bebas... kumohon dewa penuh dusta, beri kami kesempatan untuk melawan.


 

__ADS_1


***


__ADS_2