
Benak Nirmala berputar kencang sewaktu ia bergegas menyusuri jalan desa. Dia mengacuhkan pandangan orang-orang yang tertuju padanya. Nirmala berlari secepat mungkin, menolak berhenti bahkan ketika napasnya sudah terengah-engah. Langkahnya terhenti pada sebuah tepi sungai di pinggir desa. Kakinya berderap di tanah yang dingin, dia bersandar pada batu besar, dipandanginya aliran sungai yang mengalir deras.
Daging...
Lapar...
sepercik suara menyelinap dalam kepalanya, berat dan mengancam. Seketika perutnya mual, Nirmala terlonjak dan terjatuh. Dia mengamati sekeliling, tetapi hanya pepohonan yang berdiri diam bagai patung yang mengawasi.
“Suara siapa gerangan itu!” sahut Nirmala.
Teriakan Nirmala hanyut oleh derasnya gemercik sungai. Dia merasa lelah, bahkan menganggap dirinya sudah sinting. Dia duduk meringkuk dan membenamkan wajahnya. Menangis sejadi-jadinya, membiarkan kesedihan itu mengalir seperti sungai indah di depannya.
“Tuan Putri menangis,” kata suara di atas batu besar.
Dengan sigap Nirmala menoleh dan hampir melempari sebuah kerikil yang diam-diam diambilnya. Suara itu adalah Arka.
“Kenapa ada di sini?”
“Bermain petak umpet.” kata Arka. “Tuan Putri kenapa menangis?”
“Bukan apa-apa Arka, aku mengantuk,” Nirmala mengelak, dia mengusap matanya dengan punggung tangan, seketika pupil perunggunya nampak berkilau.
“Bohong! Putri bohong, putri cengeng,” kata Arka, dia melompat turun sambil berlari berputar mengelilingi Nirmala sambil cengengesan.
“Sungguh!”
Arka menjulurkan lidah, “putri cengeng.”
Kebisingan itu menarik perhatian Damar, dia muncul dari semak-semak yang cukup jauh. “Arka terlalu berisik!”
Dia berderap mendekati putri, di peluknya Arka yang berlari-larian. “Kena kau.”
“Kakak lihat tidak? Putri menangis.”
Damar mengamati wajah putri, wajahnya berubah warna menjadi merah.
“Memangnya kenapa kalau putri menangis? Kau juga sering menangis.”
“Tuan Putri sudah besar, aku masih kecil!”
“Sama saja, tangisanmu jauh lebih berisik,” Damar terkekeh.
Candaan itu mngundang rasa sebal Arka, dia mengejar-ngejar kembali sang kakak.
“Apa kalian mendengar suara?” tanya Nirmala memecah kegembiraan anak-anak itu.
Mereka terdiam, memandangi Nirmala dengan heran. Mereka lalu menggeleng dan lanjut berlarian. Nirmala mencoba melupakan kejadian tadi, dia mengganggap suara itu sebagai wujud dari kesedihannya.
“Dimana Naya? Tidak ikut bermain?” tukas Nirmala, seketika dia ingin tersenyum melihat tingkah anak-anak itu.
“Mungkin masih bersembunyi,” kata Damar. Dia lalu berteriak memanggil nama si bungsu, tapi Naya tidak juga keluar.
“Mungkin dia bersembunyi di kebun jagung,” Arka berkata santai.
Kedua anak itu berlari ke arah Utara menyusuri sungai sampai mereka tiba di perkebunan jagung besar di pinggir desa. Tanpa sadar Nirmala mengikutinya, ada perasaan berat dalam tubuhnya yang muncul merasuk dalam sendi tulang.
Manusia...
Aku ingin daging manusia...
Perut Nirmala kembali terasa mual. Suara itu masuk ke dalam benaknya seketika seperti badai es. Napasnya menjadi berat, dia lalu membelah tanaman-tanaman jagung, mengikuti dua anak itu yang terus berteriak memanggil nama si bungsu.
“Naya keluar, kita pulang, aku lapar!” teriak Arka.
“Biasanya Naya selalu muncul setiap kita memintanya pulang,” Damar berkata, wajahnya mulai cemas.
“Mungkin dia sudah pulang duluan,” kata Arka, lalu menerebos kembali ilalang jagung menuju ke arah desa.
Peluh menetes dari dahi Nirmala, langkahnya terhuyung-huyung. Tak sadar langkahnya membawa Nirmala ke luar kebun jagung, dia terjatuh menghadap tanah di jalan setapak yang menuju jalan desa. Ada sejumlah petani yang memandangnya iba, tapi pandangan Nirmala kabur, dia mencoba mencari tempat sandaran.
Gadis kecil...
Daging manusia...
Dengan tangan gemetar, Nirmala menyentuh pipi dan mendapati pipinya basah dan hangat. Naya... dalam bahaya, pikirnya sambil terhuyung.
Sebuah tangan terjulur menghentikan langkah Nirmala.
“Tuan Putri, anda terlihat pucat,” Wyat bertanya, bersama kedua pengawal gua.
“Naya... dalam bahaya, Wyat aku mendengarnya, suara itu,” katanya terengah-engah. “Naya... dia....”
Wyat tidak banyak bertanya, sekejab dia tau apa yang terjadi, dia lalu menoleh pada dua pengawalnya, “Cepat kabari Tuan Wikrama, ini pasti ulah siluman!”
“Siluman apa sebenarnya yang mengancam desa ini Wyat,” tanya Nirmala masih megap-megap mencari udara, bersandar pada pagar kayu.
Sorot tajam Wyat memudar, dia mengerutkan dahi, ikat kepalanya seakan mengkerut, “Ahool Tuan Putri, begitulah kami menyebut nama siluman terkutuk itu.”
“Ahool?”
“Siluman itu terbang, kala dia berada di sekitar kami, dia akan mengeluarkan suara nyaring dengan bunyi ‘Ahool’. Sejak saat itu kami memanggil namanya sesuai dengan pekikan mengerikannya.”
Nirmala mencoba bangkit, rambut perunggunya berkibar tertiup angin bebas, “Aku mendengarnya berbicara di benakku.”
__ADS_1
“Demi keselamatan, anda sungguh mampu mendengarnya?”
“Ya, mengerikan,” kata Nirmala tidak sanggup mengingat lagi suara parau di dalam benaknya.
Kabar tersebar secepat angin, Seketika warga desa berhamburan memehuni jalanan-jalanan desa sambil berteriak memanggil nama sang gadis kecil. Mencari di sela-sela selokan, gentong kayu, gerobak, kandang ternak sampai perkebunan. Namun, gadis kecil itu tidak menyahut.
Sewaktu Wikrama mengumpulkan para pendekar di lapangan, Nirmala dan Wyat bergabung. Nirmala dapat merasakan ketegangan memenuhi udara di sekitar sekumpulan pendekar. Wajah Wikrama berubah serius. Wikrama memerintahkan pengawal untuk membuat obor dan bersiap memasuki hutan.
“Izinkan aku membantu kalian,” sahut Nirmala.
“Aku tidak mengizinkan, Tuan Putri belum siap untuk ini,” jawab Wikrama hendak mengacuhkan Nirmala, kegagahannya teralihkan rasa khawatir pada sang gadis cilik.
“Kalian tidak bisa menemukannya, tidak dengan aku sebagai petunjuknya,” kata Nirmala lugas. “Aku bisa mendengar suara siluman itu di benakku.”
“Lantas apa yang akan kau lakukan Nirmala putri Mahardhika?” cetus Mahda, mengintimidasi.
“Aku akan memancingnya keluar, menukar Naya dengan diriku,” sahut Nirmala.
“Bah! Omong kosong, Tuan Putri ini seakan punya nyali,” dengus Mahda.
“Aku tidak setuju rencana itu Tuan Putri,” ujar Wikrama usai menyadari raut Nirmala yang seolah membeku. “Anda menjadikan diri anda sendiri sebagai umpan.”
“Benar! Bagaimana jika ternyata kau menggiring siluman itu pada kami?” Mahda tak dapat menahan diri.
Nirmala memalingkan wajah, air matanya keluar lagi. “Jadi ini cara para pendekar bulan purnama menyelesaikan masalah? Sungguh kalian laki-laki menyedihkan.”
Mereka merasakan ketajaman suara Nirmala. Wikrama merasa malu, diusapnya bahu Mahda agar dia menyadari perkataannya telah melecehkan nama baik para pendekar.
“Aku mohon maaf atas kelancangan Mahda, aku mempercayai Tuan Putri dengan nyawa, dengan seluruh beban kami,” Wikrama lalu menggenggam tangan Nirmala sambil setengah berlutut. “Bimbing kami untuk menjebak Ahool, malam ini dia harus binasa, buat kami mengembalikan jiwanya kedasar bumi yang gelap.”
“Apa rencana kita Tuan muda?” Wyat berkata di sebelahnya.
“Pancing Ahool keluar ke area terbuka ini, gunakan ternak. Sementara itu para pemanah akan bersembunyi di balik bebatuan dan semak belukar. Pastikan Putri Nirmala sudah mengetahui di mana Ahool menyembunyikan Naya setelah mengajaknya bicara, setelah itu bunuh siluman itu,” Wikrama menjeda, dia menatap Nirmala yang dibalas dengan anggukan kecil. “Kita akan mempertaruhkan putri Nirmala sebagai kunci rencana ini.”
Nirmala lalu membisiki Wikrama dengan suara lembut yang sulit di dengar para pendekar termasuk Wyat.
“Kau yakin dengan rencana itu Putri Nirmala?” tanya Wikrama, memandang Nirmala dengan gelisah. “Aku setuju kali ini tentang rencana itu, tapi aku tetap akan berada di dekatmu untuk memastikan keselamatanmu Tuan Putri meskipun harus...”
“Tidak masalah,” jawab Nirmala sigap, wajahnya nampak pucat, tangannya sedikit gemetar. “Bagaimana caraku berkomunikasi dengan siluman itu?”
“Itu tergantung pada anda. Sebelumnya, benak Ahool memasuki kepala anda tanpa ia sadari, sekarang giliran anda untuk memasuki benaknya, jangkau benak Ahool ketika dia muncul, hanya anda yang bisa merasakan dan melakukannya Tuan Putri.”
Para pendekar menghambur menuju sudut-sudut areal lapangan terbuka, busur mereka menggantung siaga di punggung. Kebisuan menjadi penghalang antara Mahda dan Nirmala. Dia membutuhkan waktu untuk bisa menerima kepercayaan itu. Mahda lalu berbalik arah dan mencari posisi di alang-alang setinggi pinggang.
Nirmala tersenyum sekalipun dia mulai merasa takut, seketika wajah Wikrama memerah memandang keanggunan Nirmala. Sewaktu dia hendak memalingkan wajah sejenak dari tatapan Nirmala, Damar dan Arka berlari menuju ke arah mereka dari arah desa, di belakangnya nampak dua pendekar yang mengejar kedua bocah itu.
“Tuan Putri kumohon selamatkan Naya,” kata Damar sesegukan, air mata dan ingus membasahi wajah dan dagu mungilnya, begitupun Arka.
“Aku mohon Tuan Putri,” Arka kini memeluk kaki Nirmala yang terbalut kain sutera lusuh. Dengan raut memelas sambil cegukan, Arka menyesal, “dewa tidak jahat, siluman yang jahat.”
Nirmala lalu duduk bersimpu, dia merobek selendang dengan simbol matahari yang berkibar di pinggangnya. Dengan lembut dia mengusap kedua wajah anak itu, Nirmala lalu tersenyum memandang wajah kedua bocah, “Aku berjanji, tapi aku tidak bisa menepati janji kalau nyawa kalian dalam bahaya, kalian harus tunggu dan berdoa. Nanti kalau Naya sudah kembali, ajak aku main petak umpet, kalian janji?”
Pupil dan rambut perunggunya seolah memantulkan pendar cahaya temaram langit. Ada ketenangan merayap memasuki anak-anak itu, mereka pun berseri-seri.
“Aku Janji,” lidah Damar terjulur keluar dari gigi ompongmya. Tanpa mengambil waktu lama, para pendekar menggendong mereka menuju ke arah desa. Senyum mereka memudar seiring jarak semakin menjauh dan raungan tangisan keduanya pecah lagi, menggema dari kejauhan.
“Anak-anak itu akan jadi anak yang tangguh,” kata Wikrama tanpa daya. “Mereka adalah penerus tekad dan harapan kami.”
Wikrama memerintahkan sisa pendekar untuk membawa seekor ekor domba. Domba itu ditambatkan pada sebuah patok kayu yang ditancapkan oleh salah seorang pendekar. Setelah semua persiapan selesai, Wikrama mendekati salah satu domba itu. Dia lalu mencabut keris di pinggangnya, dengan bisikan sedih dia berkata pada sang domba, “Maafkan aku harus menimpakan ini padamu. Darah yang tertumpah malam ini, akan menjadi penghormatanmu, semoga para dewa mengantarkan jiwamu pada kebahagiaan.”
Wikrama menyembelih satu domba tersebut dan membiarkan darah sang domba mengalir membasahi rumput. Sang domba terbaring dengan suara mengembik yang tercekik, darah mengalir dengan denyut pelan hingga napasnya berhenti. Wikrama bangkit setelah memastikan sang domba telah beristirahat tenang.
Angin mulai berhembus tak tentu arah, wangi darah bercampur aroma rumput basah tercium pekat. Senja semakin melewati batas horison, menyisakan cahaya jingga suram. Sudah setengah jam berlalu, tetapi tidak ada tanda-tanda sang siluman. Wikrama hampir putus asa, mungkin hari ini akan menjadi hari yang akan diingatnya. Mereka kehilangan gadis kecil itu, juga kehilangan kesempatan untuk membinasakan sang siluman.
Suara sang siluman mendengung dalam kepala Nirmala, dalam dan jelas.
Darah...
Aku mencium bau darah...
Kata itu berat dan mengancam, seakan mengiris benak. Nirmala menyentuh keningnya, masih merasa tidak nyaman dengan sensasi aneh yang dirasakannya. Dia membuka pikirannya, menggapai benak sang siluman.
Ahool, dengar aku ahool, kata Nirmala mencoba menggapai.
Suara ini?Manusia...
Perut Nirmala terasa melilit saat suara itu menggaung, hawa dingin menggelitik lehernya.
Dimana kau membawa gadis kecil itu? Izinkan aku mengetahuinya...
Gadis manusia? Kata Ahool mencerna, kemudian suaranya menjadi nada yang lebih keras. Ah... gadis yang menangis-nangis, aku akan menyantapnya malam ini, sebagai hidangan istimewa.
Bawa gadis itu ke hadapanku maka kau akan mendapatkan hadiah lebih besar.
Ahool tertawa, hingga membuat gigi Nirmala terasa ngilu, Ahool berkata sombong, Seorang manusia berani berbicara seolah dia adalah penguasa.
Bagaimana jika aku bukanlah manusia biasa? Darah dewa mengalir dalam nadiku. Apakah engkau tidak ingin merasakan makanan dari daging dan darah dewa?
Ahool terdiam seakan dia mendengarkan dan belajar. Dia lalu menggumamkan makian sombong, gertakan! Tapi aku... ingin...
Aku bersungguh-sungguh, temui aku, bawa gadis itu dan aku mau menukar gadis itu dengan diriku.
Manusia memang gegabah, dan bodoh, kata Ahool. Kedengarannya makhluk itu geli melihat usaha Nirmala. Aku bisa saja menipumu dan memakan daging kalian berdua sekaligus.
__ADS_1
Maka kau akan mengotori namamu sendiri Ahool, sungguh aku akan menceritakan kisah tentang siluman pengecut yang hidup di dalam Hutan Mustika Raja.
Ahool tertawa semakin keras, ia benci direndahkan oleh manusia.
Aku akan membawa gadis itu, dimana aku dapat menemuimu perempuan keturunan dewa? Nada suaranya terdengar mengejek.
Ikuti bau darah itu maka kau akan menemuiku.
Mudah! Kata-katanya menggelegar di benak Nirmala. Seketika Nirmala terjatuh, peluh menetes dari dahinya.
“Putri Nirmala!”
“Dia akan segera datang Wikrama, aku berhasil membujuknya untuk membawa Naya.”
Decitan terdengar memecah kesunyian malam, menyentakkan para pendekar dari tempat pesembunyiannya. Seekor makhluk memekak terbang di langit-langit kejauhan, sosok itu terlihat suram, membawa siluet bayangan si kecil Naya dalam kedua kakinya yang seperti kail. Dia mendarat di tengah-tengah lapangan, menjatuhkan gadis itu di sebelah mayat domba.
Makanan pembuka...
Ahool tidak lebih panjang dari seekor banteng, tetapi nampak lebar dan mengerikan. Tubuhnya berbulu lebat seperti mamalia pengerat, warna bulunya hitam kemerahan. Makhluk itu mengepakkan sayap-sayap yang membuat tubuhnya tampak aneh. Sayapnya memiliki panjang dua kali lipat dari tubuhnya, selaput membran merah tipis di sayapnya membentang sampai ke tangan kecil dengan cakar tajam.
Kedua taring kuning Ahool tampak mencuat melebihi dagu lancipnya, cakar-cakarnya juga bewarna kuning gading. Matanya yang keras berwarna merah darah. Uap-uap hangat keluar dari lubang hidung pesek seperti babi, napasnya seolah terengah-tengah, berat dan panjang.
Kemarilah tunjukan dirimu, aku sudah membawa gadis itu.
Setelah bayangan tubuh Ahool menjadi semakin jelas. Nirmala dapat melihat Naya. Para pendekar bergidik, Ahool bisa dengan mudah membelah tubuh gadis itu.
“Bidik kaki dan kepalanya, jangan sampai mengenai Naya sampai putri Nirmala memastikan Naya dalam pelukannya,” bisik Wikrama pada pendekar yang bersembunyi.
Para pendekar itu bersiaga, menarik tali busurnya.
“Aku akan menemuinya,” kata Nirmala, dia segera bangkit dan mendekati siluman itu.
“Tuan Putri sesungguhnya aku tidak suka dengan rencana ini.”
“Kumohon lakukan saja Wikrama, jika memang kekuatan dewa mengalir dalam tubuhku, kau tidak boleh sedikit pun ragu dengan keteguhanmu,” dia menatap wajah Wikrama, sorot perunggu matanya seolah menusuk, Wikrama mengangguk terdiam.
Manusia istimewa, kau menepati janjimu, suara Ahool berdenging. Nirmala dapat merasakan hasrat membunuh yang besar dari siluman itu.
Izinkan aku membawa gadis itu menjauh dari lapangan ini dan kau bisa membawaku, kata Nirmala berpura-pura tangguh.
Ahool mendesah serak, ia menengadah ke arah langit dan memekak keras.
Ahool! Ahool! Ahool!
Suara itu bergema hebat, seakan rumput-rumput disekitarnya bergetar.
Mudah! Mudah sekali manusia! Cetusnya, kemudian Nirmala mendengar suara tawa yang mengerikan, membuat tangannya berkeringat dingin.
Sewaktu Nirmala berlutut punggung tangannya mengusap dahi sang gadis, wajahnya sedikit lebam dan lecet. Namun, Nirmala dapat merasakan napas Naya teratur, terima kasih telah membuatnya masih hidup.
“Menunduk Tuan Putri! Lindungi Naya!” Seruan Wikrama meledakkan ketegangan.
Teriakan-teriakan kasar membelah udara saat puluhan anak panah bertebangan melesat bagai bintang jatuh ke arah Ahool. Anak panah itu menancap di sekujur tubuh Ahool, kebanyakan bersarang di daerah punggung dan kaki Ahool.
Ahool melolong kesakitan, ia memekik lagi dengan suara nyaring. Ahool! Ahool! Ahool!
Hujaman panah itu kembali berterbangan, namun Ahool sudah mengantisipasi. Dia mengepakkan sayapnya berusaha terbang untuk menghindari hujaman anak panah. Namun, usahanya harus di bayar mahal dengan membran sayapnya yang sobek karena terjangan mata anak panah. Dia terbang dengan payah dan pincang.
Tidak lama kemudian lebih banyak pendekar keluar dari balik persembunyiannya, mengacungkan keris dan tombak. Barisan pertama hendak menerjang Ahool dengan meleparinya dengan tombak. Ahool nyaris goyah, darah hitam menetes dari lubang-lubang luka anak panah.
Bajingan! Para manusia terkutuk! Makhluk rendah! Makian Ahool menggema di kepala Nirmala, yang sedang terlungkup melindungi Naya.
Nirmala merasakan desingan anak panah di atas punggungnya, beberapa anak panah menyentuh kulitnya tetapi tidak akan melukai tubuhnya, aku bukanlah umpan untukmu Ahool, tapi aku menjadi umpan untuk senjata para pendekar. Nirmala lalu menangis, melindungi tubuh Naya, maafkan aku Ahool.
Kalian manusia memang makhluk licik!
Ahool menerjang barisan para pendekar, mengoyak beberapa pendekar dengan cakar tajamnya. Namun, dia kehilangan keseimbangan. Ahool terjatuh dengan suara buk yang keras. Para pendekar mengitarinya. Ia terdesak dan berputar memandang para pendekar sambil memekik keras.
Ahool! Ahool! Ahool!
Dia lalu terbang berputar-putar di atas lapangan. Meskipun cara terbangnya sudah aneh dan goyang, para pendekar mengawasi dengan waspada. Ahool turun menerjang ke arah pendekar di sisi Selatan, mengoyak barisan dengan satu kaki kirinya, mengaitkan perut pendekar dan menjatuhkannya di tengah-tengah.
Wyat berusaha mengambil kesempatan, dia membidik mata Ahool. Setelah menarik tali busur dengan kekuatan penuh, dia melesatkan satu anak panah dengan bidikan yakin. Anak panahnya tepat menembus mata kiri Ahol. Ahool meraung-raumg, darah hitam menetes dari langit-langit gelap tanpa cahaya.
“Dia semakin melemah!” teriak Wikrama.
Hujaman anak panah kembali berdesing memenuhi udara. Ahool yang sudah mengalami banyak luka terpaksa harus terbang menjauh. Namun, dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Para pendekar bergegas mengepung. Momen itu menjadi titik balik mengerikan untuk Ahool. Ia kesulitan mencoba terbang. Beragam serangan diluncurkan pada tubuh Ahool. Dengan rahang dan giginya Ahool mencabik tubuh salah satu pendekar, pendekar itu langsung jatuh seketika. Gigi-giginya sama mematikan seperti belati. Sayap lebarnya mengepak kuat ketika para pendekar hendak menerjang punggungnya yang lemah. Mahda lalu melompati tengkuk Ahool, dan menancapkan tombak ke tengkuk kepala Ahool.
Darah hitam menyembur membanjiri tubuh kekar Mahda. Lolongan Ahool berubah merendah seiring dengan derasnya darah hitam panas yang mengalir pelan. Ia pun terjatuh, dan mati. Setelah Wikrama memastikan kematian sang siluman. Para pendekar mulai bersorak kemenangan, mereka bersenandung mengepung mayat tubuh Ahool.
“Hentikan, tidak ada kemenangan yang perlu di rayakan saat ini,” kata Wikrama muram. Sewaktu para pendekar berhenti bersenandung, dia melanjutkan, “Darah saudara bulan purnama tertumpah di tanah ini, tubuh mereka terbaring di tanah ini, tidak sepantasnya kita bersenandung.”
Para pendekar terlihat kecewa. Wikrama mendekati kepala Ahool, dia mencabut kerisnya dan menggorok leher Ahool dengan susah payah hingga Mahda membantunya.
“Malam ini satu siluman tumbang, tapi puluhan siluman masih bersemayam di kedalaman hutan benua ini. Mereka menunggu, menanti saat-saat kita berpaling dari mereka. Ahool adalah bukti kegelapan dari benua ini, ingatlah para saudaraku. Musuh utama kita adalah Mahardhika, tapi bayang-bayang kabut gelap itu sedang mengintai disaat mata kita terlena dengan apa yang ada di depan.”
Wikrama lalu mengangkat kepala Ahool, kepala itu cukup berat seberat kambing dewasa. “Namun, sementara ini ternak kita bebas, ancaman itu hilang, desa kita aman. Bersukacitalah setelah kita berduka atas kepergian saudara kita, dan ingat, tanpa putri Nirmala kita tidak akan pernah bisa mengingat malam kemenangan ini.”
Putri Nirmala, kau tiba dengan darah yang kutumpahkan di istanamu, tapi kebaikanmu melenyapkan satu kegelapan kecil di desa ini. Nirmala putri Mahardhika, aku sungguh semakin bertanya-tanya, takdir apa yang akan kau bawa jika hatimu berhasil kubuka? Apakah kebebasan ataukah kehancuran? Wikrama berkata dalam benak, seketika dia merinding hebat.
__ADS_1
***