
Sang penasihat raja bersenandung sumbang sendiri seraya menatap lembaran-lembaran rontal berdebu yang menumpuk di meja kamarnya. Dia mengenakan jubah kusam berwarna coklat gelap, beraroma kembang dan campuran minyak gaharu. Begitu melihat Ruswara duduk di sebuah kursi di dekat pintu kayu kamarnya, dia berhenti, dan memandang Ruswara dengan raut sedih.
“Mahamantri Ruswara,” dia berkata dan membungkuk.
“Maaf apabila kedatanganku mengganggu pagi anda Mpu Moro.”
Mpu Moro menggeleng pelan, menyungging senyum tipis seolah duka di wajahnya sulit padam, “Senang sekali melihat anda berkunjung di kamar yang sederhana ini.”
“Justru lebih baik ketimbang kemewahan yang tidak semestinya.”
Kediaman ruangan sang penasihat raja memang sempit, ruangan itu tidak memiliki jendela yang menghadap keluar istana. Terdengar sangat pengap, tetapi kesejukan kamar itu terasa ringan. Di sudut ruangan kamar berdiri sebuah lemari berisi tumpukan rontal dan kitab-kitab kuno tentang sejarah Tarlingga.
Mpu Moro menuangkan minuman jamu berwarna hitam pekat ke cangkirnya, dia menengguk pelan, mukanya berubah kerut menahan pahit. “Sejujurnya hamba lebih menyukai kesederhanaan, meskipun sang raja sering kali menawariku ruangan yang megah.” Mpu Moro lalu menutup pintu dan memalangnya, “Hamba yakin kedatangan Mahamantri bukan untuk mampir menikmati kamar milik orang tua sederhana ini.”
Ruswara senang mendengarnya, setidaknya dia tidak perlu berbasa-basi lebih lama.
“Ada yang ingin aku tanyakan.”
Sambil mengecap-ngecap mulutnya, Mpu Moro menyeka bibir, meninggalkan bekas noda hitam pada kain tenunnya. “Silakan Mahamantri.”
“Beberapa minggu ini, aku jadi sering bertanya dan mengkaji ulang tentang kitab-kitab negeri kita. Menurutmu apakah negeri ini benar-benar dikutuk?”
Denyut kencang menghampiri Mpu Moro, dia berusaha menutupi keterkejutannya. Dalam keremangan cahaya lilin kamar, dia menatap Ruswara secara diam-diam di balik alis putihnya yang menggembung. Putra itu sudah dewasa, bukan seorang anak kecil yang diingatnya selalu merengek meminta dongeng-dongeng tentang kuda bersayap.
Mpu Moro mendesah, kelopak matanya mengendur, “Sebelum mengarah pada kutukan, apa anda percaya keberadaan mahluk lain, Mahamantri Ruswara?”
“Maksudmu makhluk lain?”
“Makhluk lain, siluman, dan iblis,” kata Mpu Moro lirih. “Pernahkah anda berpikir atau membayangkan, bagaimana rupa benua ini sebelum para cindaku melindungi kaum manusia dari makhluk-makhluk itu?”
Ruswara tahu cerita itu, tetapi penggalan itu tidak pernah jadi cerita kesukaannya, karena apa yang dilihatnya saat ini sangat berkebalikan. Sering kali dia menyimpulkan cerita itu hanya dongeng belaka yang dikisahkan untuk menakuti anak-anak kecil.
“Apakah ini dongeng?”
Mpu Moro menolak menjawab, jarinya nampak bergetar kecil. Mpu Moro dengan teliti mencari tumpukan-tumpukan kitab, sampai dia mendapati sebuah kitab yang sangat tua sekali, seolah itu adalah sebuah kitab yang tidak ingin dibaca oleh siapa pun. Pelan-pelan dia membuka halaman rontal dan jemarinya terhenti pada sebuah halaman yang sudah sangat usang. Dengan pandangan serius dia membacakan inti dari torehan huruf pallawa dengan pelan.
“Ratusan tahun yang lalu, di Timur hiduplah iblis bernama Banaspati, dia hidup dari kedalaman pegunungan Kakahan. Lahir dari sungai lahar dan magma yang sangat panas. Banaspati hidup dari memakan kehidupan, kesejukan dan kenikmatan. Semakin lama gunung Kakahan tidak mampu menyediakan makanan untuknya, lantas ia turun ke daratan, membinasakan ladang dan rumah seperti lahar yang menyapu kerikil jalanan. Semakin ia rakus semakin pula ia lapar sampai akhirnya daerah Timur menjadi tempat yang tandus, seakan kehidupan enggan menepi di tanah ini.”
Mpu Moro menjeda, tenggorokannya menjadi kering, lalu dia menenggak lagi jamu pasak bumi miliknya sebelum melanjutkan.
“Sesosok dewi bernama Sri Sandhana khawatir keberadaan Banaspati akan mengancam kehidupan benua, dia turun dari kahyangan di Madewa untuk mengusir Banaspati. Dia adalah dewi yang sangat cantik, rambutnya berwarna hijau dengan mata sewarna perak cair. Ia memiliki tombak pusaka bermata dua bernama Mustika Tarlingga. Sang iblis, Banaspati murka menantang sang dewi untuk mengalahkannya di puncak Gunung Kakahan. Nahas, dengan senjata pusaka itu, Sri Sandhana menusuk Banaspati hingga ia terdorong tenggelam ke dalam bumi yang gelap bersama tombak mustika, konon tombak pusaka itu masih menancap di tubuh banaspati dan membuatnya tertidur hingga sekarang”, Mpu Moro bertutur selagi dia menyentuh lembut rontal yang sudah berkeriput.
“Kemenangan itu tidak membuatnya bersuka cita, tanah tandus tetap lah tandus, yang mati tetap lah mati. Dengan kesedihan yang amat mendalam Sri Sandhana menangis, air matanya menetes membasahi lereng-lereng Kakahan merubah daerah pegunungan tandus itu menjadi sebuah gunung yang subur, hijau dan sejuk. Air matanya yang sejernih kaca meluruhkan kerak-kerak kering di setiap celah-celah penggunungan, membanjiri tanah-tanah pertanian, menggemburkan tanah, bahkan pohon-pohon kembali tumbuh rimbun berbuah sepanjang bulan. Para bangsa pertama mulai memuja dewi itu, berdoa dan membangun candi pemujaan, serta mengagungkan-agungkan namanya berharap suka cita akan terus tumbuh seiring kesuburan yang diberikan sang dewi.”
Mpu Moro lalu membalikkan lagi halaman kitab itu dengan hati-hati, sayangnya lembaran yang sudah lapuk mulai robek karena menempel, Mpu Moro berpasrah sedih.
“Dalam kesuburan itu, tercipta Negeri Tarlingga, sebuah nama yang diangkat dari tongkat pusaka sang Dewi. Sampai pada waktu Negeri Tarlingga tumbuh pada masa kejayaannya, manusia mulai melupakan sang dewi.”
Mpu Moro terhenti sejenak seakan ia enggan melanjutkan kisahnya. Suaranya kini sangat pelan nyaris berbisik, Ruswara mendapati dirinya maju untuk mendengarkan.
“Para leluhur Tarlingga melanggar janji sang dewi, mengkhianati sang Dewi Sandhana, hingga membuatnya murka. Sang dewi sangat mengecam adanya pertumpahan darah di atas Negeri Tarlingga. Peringatan itu tidak diindahkan, para penguasa membagi lahan-lahan mereka layaknya sekelompok anjing yang berebut tulang. Masing-masing mengklaim tahktanya dan keserakahan mulai muncul, sampai akhirnya peperangan pecah, darah tertumpah membanjiri rumput hijau. Dalam polemik itu, Sri Sandhana kecewa, dia terbang pulang menuju kahyangan, meninggalkan para manusia-mansuia serakah dalam perang saudara. Tidak butuh waktu lama, rumput hijau di Tarlingga kembali mengering, pohon-pohon berguguran meranggas, dan angin sejuk berubah menjadi angin panas.”
Dari sudut matanya, Ruwara melihat titik air mata keluar dari kelopak mata Mpu Moro yang keriput. “Bagaimana dengan Banaspati?”
“Hidup, Bersembunyi, ataupun tidur. Sebagian dalam syair-syair masa lampau mengatakan bahwa Banaspati kehilangan kekuatannya, tapi tombak mustika pun kehilangan maknanya ketika sang dewi tidak berada di bumi ini. Adapun dalam kisah lain tertutur bahwa Banaspati menunggu untuk balas dendam. Tidak pernah ada yang mengetahui pastinya, wahai pangeran yang baik hati.”
Meskipun Ruswara sudah menjadi seorang pemuda, cerita itu tetaplah membuatnya bergidik.
“Maka ketika udara tandus dan kematian memenuhi Tarlingga, Raja Manjaya bertekad untuk menyatukan kembali persatuan di Tarlingga, dengan harapan Dewi Sri Sandhana akan mengampuni dosa-dosa pengkhianatan para leluhur. Apalah daya, kekeringan sebagian daerah melanda begitu parah, para penguasa mati di atas tanah kemenangan mereka sendiri, terjerumus oleh ketamakannya. Pada saat itu Raja Manjaya menjadi sangat rapuh dan hidup dalam penuh penyesalan, sekalipun dia begitu mencintai rakyatnya, penyesalan itu bagai penyakit yang sulit disembuhkan.”
Mpu Moro menutup buku kitabnya, dengan napas engap dia berdiri, mengusap ukiran tombak yang menjadi simbol panji Tarlingga di tembok kamarnya.
“Sewaktu Raja Mahardhika berdiri mengklaim sebagai raja penguasa di Zamrud. Raja Manjaya rela berlutut, dalam harga diri terendahnya dia membiarkan dirinya menjilati kaki para bangsawan Nusantara demi keselamatan rakyat Tarlingga.”
Sekali lagi pandangannya terpaku pada ukiran di dindingnya, “Simbol ini telah kehilangan maknanya, wahai Mahamantri,” dia berusaha menyeka air matanya dengan sapu tangan. “Pada akhirnya, di usiaku yang sudah sangat tua, aku gagal menjadi seorang penasihat sebagaimana dulu, sewaktu aku masih duduk di sebelah dampar kencana kakek anda, maupun dampar kencana ayah anda.”
Ruswara turut bersedih, “Masih belum terlambat, aku bisa menyelamatkan negeri ini sekali lagi.”
“Dahulu harapan itu ada, menurun dari para pengharap di luar sana, tetapi sekarang mereka telah tiada Tuan, keinginan mereka telah sirna seiring tubuhnya yang sudah terkubur di dalam tanah tandus tak bertuan.”
“Apa ada cara untuk mencabut kutukan itu?”
“Hamba rasa tidak,” Mpu Moro menggeleng. “Saat kakek anda berangkat dalam pencariannya mencari keberadaan Dewi Sri Sandhana, dia mendapati Pegunungan Kakahan hanyalah gunung penuh kematian. Tidak ada yang bisa anda temukan selain sekumpulan pohon kering, bangkai hewan dan tulang belulang.”
Pintu terketuk kencang, diikuti derap-derap suara lainnya yang mengikuti sang pengetuk. “Mpu! Mpu! Anda di dalam? Sang raja mpu, sang raja!”
__ADS_1
Mpu Moro bergerak panik, sambil berjalan tergopoh membungkuk, dia membuka palang pintunya. Sang prajurit pengurus istana membungkuk waktu mendapati Ruswara dalam kamar sang penasihat.
“Ada apa? Sampaikan,” kata Mpu Moro napasnya terasa berat.
“Sang raja terjatuh dan mengeluarkan batuk darah, para tabib Khawatir beliau akan wafat.”
Sementara satu jam sebelumnya di luar istana. Fajar merekah tanpa kabut, hawa pengap dan gersang tiba menyabut pagi. Mahendra beserta empat pengawal setia sang raja melesat memasuki rumah-rumah gubuk di sepanjang sisi desa. Dengan kemurkaan liar, dia menyeret pemilik-pemilik rumah yang menolak membayar upeti pada sore itu. Beberapa penduduk yang geram tidak mampu menyembunyikan raut kebencian dari wajahnya. Tatkala sedikit kebencian penduduk terlihat dari mata Mahendra, pangeran bodoh itu mengamuk-ngamuk.
“Gerak-gerik mereka sangat mencurigakan, tangkap dan masukan penjara!”
“Jangan Tuan! Hamba mohon!” isak sang istri sewaktu melihat suaminya diseret paksa.
Mahendra mengamati rakyatnya yang compang-camping, “Seharusnya mereka miskin dan kurus, tapi lihatlah, beberapa nampak sehat dan bersih, bisa jadi dia mata-mata.”
“Hamba sama sekali tidak mengetahui apa-apa sungguh!” pinta lelaki itu mengangguk-angguk.
“Sejak kapan tikus mengaku dirinya melubangi lumbung-lumbung padi?” katanya lalu menendang lelaki itu.
Pedati yang dibawanya telah penuh memuat banyak hasil upeti rampasan. Sampai sang kuda meringkik lelah menarik pedati berbahan kayu jati itu. “Telusuri rumah lainnya, mata-mata itu pasti masih ada di desa ini!”
Para penduduk mengintai dari jendela-jendela kecil rumahnya. Sakit, perih dan duka menyelimuti wajah-wajah mereka. Seakan kemarau panjang hanya sebagian kecil siksa yang ditumpahkan bagi kehidupan di atas negeri gersang ini.
“Pedati-pedati kita tidak muat lagi mengangkut mereka, wahai Mahamantri Mahendra,” kata prajurit setelah mengikat penduduk itu dan menaikkannya pada pedati kedua.
Mahendra berjalan kikuk, dia lalu menghitung, “Tujuh orang, apa diantara mereka termasuk mata-mata?”
“Belum dapat dipastikan,” prajurit terkekeh.
Melihat kerumunan penduduk yang semakin riuh di sekitarnya, Mahendra dengan angkuh memandang orang-orang itu. walaupun banyak diantara mereka menangis dan meringis, dia tidak peduli, Mahendra lalu berkata dengan lantang.
“Siapa pun diantara kalian, suami atau istri, ataupun saudara, aku mendengar kabar tentang adanya tikus yang bersembunyi di atas tanah negeri ini. Sekarang pengampunan itu ada, keluar dan tunjukkan dirimu, maka aku akan membebaskan para pecundang ini.”
Mereka diam tak bergeming, hanya serak-serak tangisan yang terdengar dan itu cukup membuat Mahendra muak.
“Aku akan memberi waktu sampai fajar esok. Demi nama sang raja jika tidak ada satu pun diantara kalian yang mengaku, mereka akan menetap dalam penjara gelap istana sampai menyesali hidupnya, dan tubuhnya akan mati mengering. “
Sekali lagi dalam beberapa menit Mahendra diam mengamati. Namun, tingkahnya itu hanya membuatnya merasa seperti orang dungu yang menjadi tontonan menyedihkan. “Membuat mereka keluar dari sarang hanya akan membuang waktu, bawa mereka!”
Para pengawal menaiki kuda penarik pedati-pedati itu dan melecutkan sang kuda menuju arah istana. Mereka menyusuri jalan desa yang tandus, langkah kuda berderap menggema pada gang-gang sempit yang kumuh. Para penduduk menyingkir memberinya jalan sambil menyebunyikan seringai sinis.
Setelah mereka tiba di gerbang gapura istana, para prajurit bergegas menurunkan hasil-hasil rampasan upeti yang terkumpul. Welino berderap keluar dari dalam istana, berlari-lari kecil melihat keganjilan yang nampak dari dalam aula.
“Kemungkinan aku menangkap bulan purnama,” jawabnya sambil mencoba tertawa.
“Demi darahku, ini sangatlah berlebihan Tuan, atas dasar apa anda menilai pandangan itu pada mereka?”
Welino menaiki pedati itu, dipandanginya para lelaki-lelaki terbaring dalam ikatan tali tambang. Wajah mereka nampak lesu, kerak-kerak air mata mengering di pipi.
“Mereka hanya seorang suami yang berjuang menafkahi keluarganya, bebaskan mereka,” Welino berkata dalam lirih.
“Aku yang berhak menilainya, dengan menggunakan caraku sendiri.”
“Tapi tidak dengan teror,” Welino menarik kerisnya, hendak memutus tambang yang mengikat tubuh para lelaki itu.
“Hentikan! Jangan sekali-sekali kau lakukan itu Welino sang tombak usang.”
Welino mengangkat kedua tangannya, dia menuruni pedati itu dan menyarungkan lagi kerisnya. Ekspresinya menjadi sulit terbaca, “Ketika anda menutup tirai langit negeri ini dengan kebencian, suatu saat bayangan akan datang memburumu di tengah-tengah kegelapan pekat, Tuan Mahendra.”
Welino berbalik dan berjalan pergi. Dia menyadari tatapan mereka di punggungnya selagi dia menaiki undakan menuju dalam istana. Gelak tawa terdengar dari belakang, tetapi Welino tidak menoleh.
Seketika dalam aula bergemuruh, dayang-dayang berlarian bersama tabib-tabib istana. Mengumumkan sesuatu sambil menjerit-jerit, “Sang raja, sang raja kritis!”
Wangi-wangian tumbuhan obat memenuhi ruangan dengan hawa yang berat. Udara panas dalam kamar itu terasa menyesakkan. Raja Sanjaya terbaring di tempat tidur berkanopi. Di samping tempat tidur duduk Ratu Dyah Wuri, rambutnya kusut seolah baru bangun tidur, memandangnya dengan isak tangis yang kesekian kalinya. Sementara Ruswara mondar-mandir di sekitar jendela ruangan raja yang terbuka lebar. Para dayang berkeliaran, membawa gulungan kain, air hangat dan daun-daun obat kering. Sedangkan di dekat pintu kamar sang raja, Mahendra tiba dengan membelah kerumunan prajurit di depan pintu.
Sang raja nampak menyedihkan, wajahnya sepucat susu, dengan kelopak mata yang sudah membiru berkerut kendur. Dari sudut bibitnya, noda-noda berwarna cokelat kemerahan membekas menempel pada bibir kelabu sang raja, membuat ruangan itu berbau darah dan kematian.
“Putraku,” sang raja memanggil dalam serak, serangan batuk kembali menyerang memercikkan darah kental. “Mendekatlah.”
Ruswara dan Mahendra bergerak mendekat. Ruswara menopang tubuhnya di tiang kanopi kasur sang raja, sementara Mahendra beringsut menyelinap, menggeser tubuh Ruswara menjauh.
“Apa yang membuat ayahku nampak seperti ini wahai tabib?” Mahendra masih tidak percaya menatap Raja Sanjaya terbaring sambil megap-megap.
“Tubuhnya sudah tidak tahan Tuan, kebiasaan mabuk sang raja, menghancurkan organ tubuhnya,” kata tabib menggeleng menunduk.
“Arak, dan kebodohan,” sang raja berbisik parau. “Semua salahku.”
__ADS_1
Mereka sudah berusaha sebaik mungkin untuk meredakan batuk sang raja. Tabib-tabib sudah menyuapinya dengan jamu berbahan gilingan kunyit kering, tetesan limau, kencur dan jintan. Tapi sama sekali tidak cukup. Perban-perban di atas meja sang raja sudah menghitam karena darah beku. Bau darahnya sangat anyir dan memualkan.
“Busuk, nak,” bisik Raja Sanjaya. “Tubuhku sudah membusuk. Pada akhirnya aku pun akan mengikuti jejak leluhurku menuju siksa kayangan bersama para iblis-iblis terkutuk.” Senyum tipis sang raja mengerikan, giginya merah gelap, lidahnya ungu dan menghitam, bau busuk tercium dari desah napasnya.
“Baginda, anda tidak boleh berbicara lagi, dengan kondisi tubuh anda, berbicara akan semakin menyiksa diri anda,” tabib-tabib memperingati dengan halus.
“Diam,” cetus Raja Sanjaya, membuat batuknya kembali datang, kali ini ingus bercampur darah keluar melalui kedua lubang hidungnya. “Tinggalkan aku bersama kedua putraku.”
“Baginda,” kini Mpu Moro enggan.
“Keluar,” hardik Raja Sanjaya dengan sisa tenaganya yang semakin menghilang. “Apa aku perlu menghantui kalian dengan bangkaiku sampai kalian mengerti apa perintah terakhirku?”
Mpu Moro mengangkat tubuh, dengan langkah tertatih-tatih dia bergerak memimpin ke pintu sang raja. Ratu Dyah bersama para dayang dan tabib mengikuti Mpu Moro, memandang cemas ke arah suaminya untuk terakhir kali.
“Keparat, tiba saatnya aku harus menyerahkan taktha busuk ini pada salah satu dari kalian,” Sang Raja terbatuk-batuk lagi. “Putra tertua yang sama bodohnya denganku, dan satu lagi putra bungsuku yang keras kepala dan buruk rupa.”
Ruswara mencoba menyeka darah yang keluar dari hidung sang raja. Sementara Mahendra menggenggam jemari sang raja, berharap sang raja meneruskan kata-katanya.
“Kita hidup di atas tanah terkutuk, sampai kapan pun akan selalu seperti itu. Ayahku atau pun aku sama-sama tidak berguna, ada masa dikala aku bermimpi kembali ke masa kecilku, di mana aku melihat para manusia harimau hidup menjaga negeri ini,” kata Raja Sanjaya menggumam.”
“Cindaku telah punah ayahanda mereka telah dihabisi oleh Mahardhika,” sahut Mahendra.
“Tidak!” Raja Sanjaya terbatuk, suaranya terdengar menyakitkan. “Suatu saat mereka akan kembali, menyelamatkan Zamrud, dikala cindaku bangkit entah dimana, kumohon para anakku, temukan tongkat Mustika Tarlingga, negeri ini harus berdiri mendukung mereka untuk membinasakan Mahardhika.”
Untuk pertama kalinya Ruswara menangis, di saat-saat terakhir tak sanggup menatap wajah penuh penyesalan sang raja. Kenapa manusia selalu menyadari kesalahan dan penyesalannya ketika maut akan menjemputnya, katanya lirih dalam benak.
Raja Sanjaya menengok letih ke arah Ruswara, “Seharusnya aku mendengarkan ibumu, arak-arak itu memang akan mengirimku ke neraka. Ada alasan mengapa aku membencimu anakku yang buruk rupa. Sifatmu mengingatkanku pada ayah, pada kakekku, pada raja-raja terdahulu, aku tidak bisa menjadi seperti mereka, tapi kau bisa.”
Raja sanjaya mengangkat tangan, dia menunjuk Ruswara dengan gerakan yang lemah dan lambat.
“Wasiat ini aku katakan pertama dan terakhir, setelah kematianku, ukirkan dalam lembar-lembar lontar. Dengan ini aku menunjuk Ruswara untuk bertindak sebagai pemangku dan penerus takthaku sebagaimana kewajiban sang raja dalam mewariskan takthanya pada masa bangsa pertama.. setelah kematianku.. menggantikanku..”
“Ayahanda, itu tidak mungkin,” denyut kemarahan mengalir dalam mulut Mahendra. “Itu mengingkari tradisi Tarlingga, aku adalah putra pertama!”
“Janganlah merungsing di dekat kematianku bocah. Kau sedungu diriku, bahkan lebih bodoh dariku, tak akan pantas dampar kencanaku diduduki oleh orang dengan sikap sepertiku untuk kedua kalinya.”
Mahendra meraih tangan sang raja, jemarinya meremas kuat, Ruswara dapat melihat urat tangan Mahendra menonjol. “Ayahanda katakan itu hanyalah lelucon, katakan kau sedang bergurau menyambut kematianmu!”
“Aku memang raja yang buruk, bahkan dewa tahu kematian yang pantas untukku, tapi aku tidak pernah bergurau atas perintahku sekalipun itu adalah perintah yang akan membunuh rakyatku sendiri,” dengan suara serak penuh duka Raja Sanjaya bertutur. Desah napas Raja Sanjaya semakin melambat seiring dengan senyum lemah bersalut darah. “Ruswara aku percayakan kerajaan ini padamu, kau takkan mengecewakanku, kau akan berhasil... karena darah ayahku dan pemimpin sejati Tarlingga mengalir dalam dirimu..”
Mahendra mencengkeram lebih kuat jemari sang raja, dan mengguncangnya dengan hentakan cukup kencang, “Ini tidak mungkin ayahanda!”
Tatapan sang raja mulai kosong, jemarinya telah mati rasa, “Semoga dewa mengampuniku..”
Dia mulai memejamkan mata, tampak relaks dan tenang. Dalam detik-detik berikutnya, desah napas sang raja terhenti. Dia mangkat di atas ranjang ruangannya, di dalam ruangan para raja-raja Tarlingga yang berdiri memandang kejayaan negerinya dari jendela besar pada masa-masa lampau.
Para dayang bergegas kembali, di susul oleh tabib-tabib. Mereka buru-buru menyeka darah yang mengalir hangat dari hidung sang raja, menyeka dahi sang raja, bahkan memejamkan mulut dan matanya.
“Ada wasiat terakhir dari sang raja...” Ruswara berkata pada Mpu Moro yang datang paling terakhir, orang tua itu kesulitan untuk membaur dalam ruangan.
“Benar!” sela Mahendra bersungut-sungut, sampai suaranya menggema di ruangan sang raja. “Perintahkan para pengukir kitab, sang raja telah memutuskan bahwa takhta ini akan diwariskan padaku! Aku Mahendra, sebagai raja Tarlingga mengantikan ayahku. Siapkan pemakaman untuk sang raja,” dia tidak memberi jeda.
“Tunggu kakahanda!”
“Pengawal, keluarkan Ruswara dari ruangan ini!” dengan ketus dia menunjuk beberapa pengawal termasuk Welino. “Kau pikir aku tidak muak dengan sikapmu? Si bungsu ini memaksa-maksa ayahanda untuk menjadikannya sebagai raja, sungguh aku kecewa padamu adikku yang buruk rupa, di saat kematian ayah, kau bertindak layaknya seekor anjing yang lapar.”
“Keparat kau Mahendra!”
“Keluarkan, tidak penjarakan! Siang ini adikku sudah membuktikannya, dan aku melihat dengan kepalaku sendiri!”
Para pengawal bergerak gugup seolah kebingungan dengan peristiwa yang terjadi begitu cepat. Namun, perintah tetaplah perintah, kesetian mereka mengacu pada pemegang ahli waris, bahkan sosok Mahendra yang tidak lain adalah putra sulung sang raja menjadi bukti yang memperkuat perkataannya.
Ruswara meronta-tonta dalam dekapan prajurit. Sekuat apa pun tubuhnya, dia tidak mampu melepas kuncian empat orang pengawal Mahendra, dengan napas tersengal-sengal, dia berkata parau, “Kau memang bajingan Mahendra, suatu saat kebohonganmu akan mencabut lidahmu sendiri.”
“Simpan perkataanmu itu untukmu pembangkang.”
Keempat pengawal langsung menyeret Ruswara keluar kamar, membiarkannya meronta-ronta. Mahendra berhasil menyunggingkan senyum tajam, tatkala dia menunduk berpura-pura menangisi jasad sang raja.
“Terkutuklah adikku, semoga dewa mengampunimu ayahanda.”
“Demi dewa pelindung, sungguh hal itu tidak sepantasnya dilakukan di hadapan jasad mendiang sang raja, wahai mahantri,” cetus Welino, suaranya seolah hanyut dalam kedukaan ruangan itu.
“Panggil aku Baginda, bukan lagi mahamantri,” Mahendra mengoreksi. “Aku melakukan hal sepantasnya aku lakukan. Seorang raja harus mengambil sikap terhadap pembangkangan.”
Kata-kata itu berpilin dalam ruangan yang disesaki orang-orang. Sang ratu tidak mampu berkata-kata hanya memandang jasad sang raja membeku, benaknya dipenuhi kenangan-kenangan masa lalu sewaktu sang raja masih menjadi raja yang waras.
__ADS_1
Dalam dinding negeri gurun pasir, seorang raja telah mangkat. Di atas tanah tandus itu juga, satu jiwa penuh penyesalan lepas menuju kahyangan, menyambut siksa atau cita? Hanya dewa yang memutuskan. Namun, jauh dari dalam tanah, jauh sangat jauh, sosok itu terbaring, terpejam dalam tidurnya, menunggu sang dendam untuk membangunkan tidurnya yang panjang.
***