Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan

Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan
Nirmala


__ADS_3

Potongan-potongan kenangan mengerikan semalam terus melintas dalam benak Nirmala. Serpihan itu bagai pusaran ombak yang hendak menguasai dirinya.  Nirmala seperti terombang-ambing di atas tumpukan mayat para pendekar, mereka bagai sosok-sosok gelap yang seakan hendak tenggelam bersama dirinya.


            Dari langit-langit yang gelap muncul bayangan Ahool, wajahnya penuh kedengkian, memandang sosok Nirmala dan para mayat dengan dengus sombong.


            Matilah para pecundang, manusia hina...


            Suaranya menggema dan menggaung gaduh, sampai sosok Nirmala termakan arus putaran ombak itu bersama puluhan mayat pendekar yang tidak dia kenali.


            Dia terbangun dengan keringat dingin, denyut nadinya tidak teratur dan dia terengah-engah. Di sampingnya duduk seorang perempuan paruh baya yang menggunakan kemben coklat bercorak kembang. Nirmala memperkirakan usianya sekitar empat puluh lima tahun. Kerut di bawah kelopak matanya tersirat jelas, dia sedang memandangnya iba.


            Ruangan itu bukan lagi gua yang dingin dan gelap. Itu adalah sebuah ruangan di rumah sederhana berlantai pasir lembut berdinding kayu. Wanita paruh baya itu bersedekap, memegang sebuah nampan kayu dengan kain basah dan mangkuk berisi air hangat.


            “Putri Nirmala sudah tertidur selama sehari penuh, saya khawatir sekali, apa putri sering tertidur seperti itu?” kata wanita paruh baya itu.


            “Seperti itu?” tanya Nirmala mencerna. Dia mencoba bangkit dari alas ranjang kapuknya dan mengucek mata. Sewaktu memandang wanita paruh baya itu, Nirmala dapat merasakan kekaguman terpancar di balik sorot penuh rasa khawatir wanita itu.


            “Tuan Putri mengigau,” katanya dalam tutur sopan. “Nama saya Ranggaweni, saya ibu dari anak-anak itu, mau saya bawakan makan atau minum?”


            “Tidak perlu repot terima kasih,” katanya meskipun dia merasa cukup lapar. Tapi tubuhnya masih kaku dan lemas.


            Seorang bunyi derap langkah terdengar dari luar kamar, Damar mengetuk kamar, “Ibu! Tuan Putri sudah bangun?”


            Ranggaweni menjawab sahutan Damar, “Sudah nak, tapi Putri Nirmala baru saja bangun, jangan diganggu dulu. Makanlah singkong dan ubi rebus di meja sudah ibu siapkan.”


            Damar mengeram sebal, tetapi kemudian suara langkahnya mengecil seolah dia pergi menjauhi kamar. Nirmala bertanya pada Ranggaweni, “Apa Naya baik-baik saja?”


            “Sudah tidak apa-apa, anak itu masih trauma, dia ada bersama tabib, tapi jangan dipikirkan dulu. Tuan Wikrama akan menjemput anda, para pendekar ingin berterima kasih pada anda,” katanya memandang wajah Nirmala dengan senyum kecil, tetapi kecemasan itu belum sirna dari mimik wajahnya. “Anda sudah berkorban untuk Naya dan juga desa, tentu saya pun sangat berterima kasih.”


            “Apa yang aku lakukan belum mengobati luka yang ayahanda tanam pada kalian,” Nirmala mencoba berterus terang.


            “Jangan begitu, ambisi seorang ayah belum tentu menurun pada darah dagingnya, nak Nirmala sudah membutikannya.”


            Nirmala tersenyum, kecantikannya seolah terpancar dalam lembayung di wajahnya. Mereka menculikku dari istana ayahku, tetapi entah mengapa aku ingin menyayangi mereka seperti Ihsya menyanyangiku.


            “Terima kasih,” jawabnya singkat.


            “Saya akan menunggu di luar,” Ranggaweni lalu bangkit dan keluar kamar.


            Nirmala melepas gelang-gelang berbahan perunggu yang terpasang di kedua lengannya, sudah beberapa hari ini gelang itu terasa semakin berat. Dia tidak ingin menjadi seorang bangsawan di tengah penduduk sederhana ini. Lagipula dia tidak perlu khawatir tentang dengusan Mpu Lodrok atau celotehan sang ratu yang membuatnya harus mengingat tentang status tinggi dirinya.


            Setelah menaruh semua perhiasan dan selendang berlambang matahari, dia keluar kamar. Menyambut Damar dan Arka yang sedang bersuap makanan sederhana bersama Ranggaweni. Ranggaweni menawari sebuah ubi rebus dan buah pepaya. Sungguh sederhana pikir Nirmala, tetapi terasa menyenangkan. Damar menyantap ubi berwarna coklat bersama sang Arka. Gigi ompongnya terlihat jelas sewaktu dia cengengesan dengan mulut penuh


            Arka di sebelahnya nampak malu-malu. Dia tidak lagi memandang Nirmala dengan sorot tajam. Ada kelegaan dalam diri Nirmala, sepertinya Arka tidak lagi membenci dirinya. Nirmala ikut duduk bersimpu, mencicipi ubi rebus yang tercium harum.


Sebuah pemandangan ini tidak pernah dilihat Nirmala, biasanya dia terbangun dengan puluhan dayang yang menyambutnya untuk bersiap menyambut pagi. Dia berhias, bersanggul dengan mahkota gemerlapan semenawan mungkin untuk sebuah sarapan bersama sang raja, ratu dan adiknya.


Biasanya sarapannya selalu mewah, daging-daging berempah dan sajian buah-buahan manis dari penjuru benua. Sebelum sarapan bahkan suara tembang gamelan akan didendangkan sebagai bentuk syukur pada sang dewa. Namun, itu semua terasa membosankan. Sang ayah jarang menatapnya, ibunya sibuk mengurusi urusan politik rumah tangga istana sedangkan adiknya Sri Sekar jarang berbincang dengannya.


Selagi Nirmala sedang menyantap ubi rebus, seseorang mengetuk pintu rumah Ranggaweni, dengan segera Ranggaweni membuka pintu itu, ditemuinya Wikrama yang berdiri tersenyum menyambut Ranggaweni. “Apa putri Nirmala sudah bangun?”


“Sudah Tuan muda, tapi Tuan Putri sedang sarapan.”


“Tidak apa, saya akan menunggu di luar,” katanya sambil diam-diam memperhatikan Nirmala dari arah pintu.


“Apa Tuan muda ingin masuk dulu? Menunggu di dalam,” kata Ranggaweni mempersilakan.


Sebelum Wikrama menjawab, Nirmala mendahului. “Aku sudah siap, tidak perlu menunggu.”


            Nirmala dapat merasakan kekakuan mengambang di antara keduanya. Wikrama mengangguk tanpa menatap dirinya, “Aku menunggu di luar di dekat kudaku.”


            “Kuda?”


            Wikrama tidak menjawab.


            Nirmala hendak bangkit dan bergegas, tetapi Damar dan Arka beringsut mendekat, “Tuan Putri nanti kita jadi main petak umpet ya?”


            Nirmala tersenyum, kilau mata perunggunya terlihat jernih. Dia memandang wajah kedua anak itu dekat-dekat. “Boleh tapi jangan jauh-jauh.”


            Dua anak laki-laki itu bersenandung riang, wajahnya memerah, “I-iya.”


            Ringkik kuda terdengar sewaktu dia keluar rumah, Nirmala mendekati Wikrama yang sedang mengosok tubuh punggung kuda putih miliknya. Kuda itu anggun, bertubuh besar dan berambut putih seputih salju, matanya hitam dengan bulu mata yang lentik. Pelananya tebuat dari kulit sapi yang diikat dengan tali kendali.


            “Kuda yang cantik,” Kata Nirmala tertegun.


            “Karena dia betina.”


            Dia mendekati kuda itu dan di belainya leher si kuda. Kuda itu meringkik pelan, ia menurunkan kepalanya seolah menerima kedatangan Nirmala. Dia menyukai kuda itu, di istananya kebanyakan pendekar menunggangi kuda hitam kekar yang mengerikan. Belum lagi kenyataan bahwa para penunggang yang dulu membuatnya takjub sewaktu Nirmalam masih kecil ternyata adalah para pembantai berdarah dingin.


            “Menurut catatan syair kuda ini adalah keturunan satu-satunya dari kuda suci sembrani, hanya saja darahnya tidak murni. Leluhurnya kawin silang dengan kuda liar.”


            “Apa kuda sembrani benar-benar ada?” tanyanya sambil tergugah melihat Wikrama yang menaiki kuda putih itu.


            “Jika siluman ada mengapa kuda sembrani tidak ada? Hanya saja mereka sulit dijumpai, menurut para tetua di masa lampau, kuda sembrani hanya bersedia ditunggangi oleh penunggang yang berhati suci. Konon hanya kuda sembrani yang mampu membawa manusia menuju kahyangan di negeri langit Madewa.”

__ADS_1


            Wikrama mengulurkan tangannya. Seketika pipi Nirmala memerah, menyambut tangan Wikrama yang terasa kencang. Biasanya Wikrama kerap tersenyum setiap kali dia menatap wajahnya. Hanya saja saat ini Nirmala merasakan sorot dingin dari Wikrama seolah dia menghindari tatapannya pada Nirmala.


            “Kita mau ke mana?”


            “Hari ini sebagian para pendekar akan berkuda menuju reruntuhan Kerajaan Temaram, kami berencana menabur abu para pendekar yang gugur di prasasti tapak bulan.”


            Udara terasa lebih dingin dalam perjalanan mereka melewati jalan setapak menuju lapangan. Sepanjang perjalanan pandangan penduduk menjadi sesejuk embun pagi. Mereka tersenyum memandangnya. Anak-anak menunduk melempari kuda Wikrama dengan kelopak-kelopak bunga yang harum. Adapun para petani menghentikan perkerjaannya, para penarik gerobak teralihkan, sampai para orang tua mengintip di balik jendela-jendela rumah.


            Mereka berlarian menuju tepi jalan, berbisik riang dan tergugah dengan kehadiran Nirmala. Sebagian berucap terima kasih pada sang putri berdarah dewa itu. Seakan kehadirannya sangat dinanti oleh mereka yang menganggapnya penyelamat desa. Kejadian itu membuat Nirmala tersipu, tetapi dia semakin bingung untuk bersikap. Ada kelegaan terpancar dan juga rasa bahagia. Apakah yang aku lakukan telah membuat mereka merubah pandangannya tentangku?


            Selama dia tinggal di desa ini, Nirmala hampir melupakan bunyi-bunyian gamelan di istananya. Dia juga mengalihkan ingatannya tentang sederet barisan rapi para prajurit-prajurit terbaik milik ayahnya untuk menyambut Nirmala seperti patung-patung pelayan. Wangi minyak-minyak rempah dan mawar kering tubuhnya juga sudah pudar. Semua tergantikan dengan embun sejuk berbau kayu hutan dan kicau-kicau kutilang yang beterbangan bebas. Di sini aku merasa sangat bebas dan aku akan selalu  mengingatnya, Nirmala bersumpah pada dirinya.


Di atas lapangan berumput itu pada pendekar sudah bersiap dengan kudanya. Satu kuda membawa dua pendekar dengan warna kuda yang beragam. Sebagian berdiri di sekitar pagar kayu yang terikat saling mengait, menunggu aba-aba Wikrama.


Wyat berkuda dengan kuda coklat, di sebelahnya Mahda sedang menggenggam kendi berwarna merah tua. Dia lantas memberikannya pada Wyat, “Semoga dewa memberkati perjalanan kalian, menghantarkan para saudara kita menuju kebebasan dan kedamaian.”


Sewaktu kuda Wikrama mendekat, para pendekar menunduk termasuk Mahda, mereka menyerukan kata-kata halus yang seirama.


“Sambut kami untuk Nirmala putri Mahardhika, atas pengorbanan anda menyelamatkan desa kami dari teror Ahool.”


Mahda beringsut mendekati kuda putih Wikrama, dia menyambut tangan Nirmala, diangkatnya telapak tangan mungil itu dan disentuhnya pada dahi keras Mahda.


“Maafkan hamba telah salah menilai anda Tuan Putri, hamba harap kebencian hamba padamu melebur menjadi kesetiaan untuk menjaga dan melindungi anda.”


Nirmala tersenyum, tangis haru hampir pecah, hanya saja dia berusaha menahannya. Dia harus kuat dan tidak boleh terlalu sering memperlihatkan air matanya berkali-kali.


“Tidak apa, kalian para pendekar hidup dari luka yang ayahku berikan, hanya setitik-demi setitik kebaikan yang bisa aku lakukan untuk menebusnya.”


Mahda kembali menunduk sambil merendah setengah bersujud, tubuhnya yang besar setara dengan badan kuda putih Wikrama. “Anda berhati mulia Tuan Putri, usia anda memang masih muda tetapi sikap yang anda tunjukan membuat anda layak menjadi seorang ratu yang bijaksana.”


Pipi Nirmala memerah, dia mengalihkan pandangannya pada puluhan kuda-kuda di balik pagar lapangan.


“Aku menitipkan desa ini sementara padamu Mahda,” kata Wikrama.


“Titipan itu akan hamba jaga dengan nyawa ini,” jawabnya.


Setelah dia merasa membuang waktu banyak, Wikrama membuka pagar lapangan tempat kuda-kuda itu berbaris, mereka meringkik sambil menunggu penunggangnya untuk menarik tali kekang. Dengan satu aba-aba dari Wikrama, mereka keluar menerjang angin sejuk pagi itu menuju ke Barat. Derap langkah kuda menggema di sepanjang jalan desa. Nirmala mendapat kesan baik pada perjalanan kuda pertamanya. Sejak dulu dia ingin berkuda, tetapi kesempatan itu tidak pernah datang.


Wikrama memacu kudanya melewati padang-padang rumput yang hijau. Dia memilih jalan dengan hati-hati, berharap iringan pasukan berkuda miliknya tidak membentur bebatuan yang cadas. Padang rumput itu membentang panjang menuju arah Barat, di sisi kanan mereka berdiri perbukitan kaki gunung Rapani yang berwarna hijau muda, sementara kabut-kabut tipis mebubung di puncaknya menutupi puncak pegunungan Rapani.


Dalam waktu singkat mereka tiba di sebuah wilayah yang asing, pedalaman mulai berubah saat tanah-tanah yang dipijak kuda mereka digantikan dengan tanah yang liar. Wikrama menghindari daerah bawah tebing dan memilih untuk memutar menaiki perbukitan. Dia mempertimbangan musuh-musuh dan siluman yang bersembunyi. Meskipun saat ini mereka memiliki Nirmala, tetapi para penunggu misterius itu tidak pernah memberitahu kapan akan menyerang. Selain itu, Wikrama juga mengkhawatirkan serangan binatang-binatang buas penghuni tebing seperti macan tutul dan macan gunung.


Setelah berkuda hampir satu jam mereka tiba di puncak perbukitan, semakin besar langkah kuda, Hutan Mustika Raja membentang di bawahnya seperti lautan berwarna hijau gelap. Sisi Hutan Mustika Raja dihiasi ngarai-ngarai yang dalam dengan air terjun yang deras.


“Hutan yang mengerikan, tapi juga indah.”


“Kau tidak akan pernah menduga keajaiban apa pun dari sebuah keindahan meskipun terkadang keindahan itu menyimpan banyak rasa sesal, Tuan Putri,” Wikrama merasa tidak enak hati. “Begitupun keajaiban dalam darah anda.”


“Wahai Tuan muda Wikrama, apa kau menyesali rencana itu?”


“Aku tidak ingin membahasnya.”


“Lantas apa aku hanya menerima begitu saja perlakuanmu yang begitu dingin padaku?”


Wikrama tidak menjawab seolah dia tersedak dengan perkataan Nirmala, dia memacu kudanya sangat pelan, hendak menuruni bukit itu. Keheningan itu membuat Nirmala kesal, lantas dia mengacuhkan Wikrama dan kembali memandang Mutan Mustika Raja.


Kuku-kuku kuda berdetak tajam menginjak kerikil dan jalan seketika berubah menjadi jalan setapak sempit. Wikrama benci situasi ini, terpaksa ia harus memperkecil iringan itu menjadi barisan seperti barisan semut. Dia menengadah memandang tebing-tebing dikala memantau, dalam detik yang tidak di inginkan bebatuan itu bisa saja runtuh menimpa para pendekar di belakangnya. Namun, hari ini cuaca tidak berangin, ketakutannya harus dia hanguskan untuk menghantarkan abu saudara bulan purnama ke keabadian.


“Apa itu?” tanya Nirmala sambil menunjuk sebuah gerombolan burung terbang memutar di atas tebing-tebing. Kepakan sang burung menghasilkan bunyi menggema seakan sayapnya membelah angin di langit.


“Burung rangkong,” jawab Wikrama seraya memandang kawanan burung itu, dari kejauhan nampak sebuah tanduk kecil berwarna kuning mencuat pada kepala sang burung. “Besarnya hampir sedada manusia, tahukah anda Tuan Putri tentang burung itu?”


“Aku tidak pernah melihatnya di istana.”


“Mereka adalah sang petani hutan, ia mampu terbang beribu-ribu hasta jauhnya dalam satu hari.”


Nirmala tertegun, masih melihat kawanan rangkong itu melintas di atas kepala mereka, lambat laun burung-burung itu mulai terbang menjauh ke arah hutan.


“Leluhur kami percaya keberadaan burung itu niscaya membuat hutan-hutan tetap tumbuh dengan seimbang. Mungkin para dewa hutan menurunkan karunianya melalui sang rangkong.”


Setelah melewati celah-celah tebing. Mereka tiba di Setu Hejo, sebuah desa di tepi danau yang ramai. Tempat itu sangat memesona, terletak di kaki bukit yang menghadap danau berwarna hijau toska. Para pendekar disambut hangat oleh para penduduk. Anak-anak pun berdatangan dengan nyanyian-nyanyian desa, berharap mendapat oleh-oleh. Para pendekar memperlihatkan rambut-rambut dan kuku Ahool, seketika membuat anak-anak bergidik ngeri dan pergi ketakutan.


 Wikrama memutuskan untuk beristirahat di desa ini, dia memerintahkan para pendekar untuk menambatkan kuda pada pohon-pohon di tepi danau. Setelah memastikan semua kuda beristirahat para pendekar menyebar ke dalam desa, ada yang menikmati hidangan-hidangan ikan danau di kedai makan. Ada yang berenang menikmati jernihnya danau Setu Hejo sedangkan Wyat memutuskan untuk mengasah kerisnya sembari menjaga kuda-kuda.


Nirmala menatap ke arah Wikrama, tetapi Wikrama seolah mengacuhkan dan enggan berbicara kepadanya.


“Aku ikut ke desa,” katanya merasa kesal.


“Aku tidak lama Tuan Putri, hanya ingin mengumpulkan informasi. Anda bisa beristirahat di sini, ada danau yang indah.”


Nirmala mengernyitkan dahi, tidak pernahnya ia merasa sejengkel itu. Sikapnya padanya semakin aneh belakangan ini. Mencoba membuang rasa kesalnya, Nirmala mengacuhkan jawaban Wikrama dan berpaling menuju tepi danau, mendekati Wyat.


“Apa yang terjadi pada Wikrama?”

__ADS_1


“Hamba tidak paham maksud anda Tuan Putri,” jawabnya sambil menggosok sisi keris dengan batu-batu danau. Ikat kepala Wyat cukup tebal hingga hampir menutupi seluruh matanya.


“Kumohon,” Nirmala memiringkan kepalanya mengintip Wyat.


“Kejadian dan kemenangan kita melawan siluman itu bukan perkara mudah untuk Tuan Wikrama,” akhirnya Wyat menjawab. “Menurut hamba, dia terguncang, dan sedang berduka atas gugurnya para saudara-saudara kami, meskipun dia tetap harus menutupi perasaan kelam itu dari semua orang.”


Begitupun denganku.


Kerut-kerut muram muncul di kening Wyat sementara dia mengamati mata keris yang berkilau semakin tajam di bawah terik sinar, menimbang-nimbang hasil asahannya. “Lagipula aku tidak bisa penasaran akan hal itu, banyak hal yang tidak selalu harus aku pahami tentang perasaan Tuan Wikrama, terlebih di masa-masa gelap seperti ini, Tuan Putri.”


“Tapi dia mengabaikanku semenjak malam itu.”


“Maka anda harus mendapatkan jawaban itu sendiri dari Tuan Wikrama,” Wyat kini memandangnya iba. “Hamba undur diri dulu.” Dia menyarungkan kerisnya dan beranjak menuju kuda-kuda.


Nirmala semakin mempertanyakan isi hatinya. Mengapa dia harus sepeduli itu tentang Wikrama, dia hanyalah sandera. Tidak sepantasnya dia merasa diabaikan ataupun diacuhkan. Pemuda itu hanya menjalankan kewajibannya sebagai pemimpin di Desa Wangsa, mempercayakan intuisinya untuk keselamatan saudara pendekar dari makhluk-makhluk jahat penghuni benua, termasuk ayahnya.


Bulu kuduk Nirmala seketika menegas, ada perasaan samar-samar muncul seolah jauh dalam relung hatinya. Hangat, dan misterius. Dia tidak dapat menjelaskannya, hanya saja dia merasa risih dan gelisah. Dia semakin benci keadaan itu.


Akhirnya Nirmala memutuskan untuk berkeliling di daerah tepi danau desa, untuk melupakan pikiran yang menjengkelkan. Dia merasa gembira sewaktu bertemu orang-orang desa yang sedang memancing, sedangkan anak-anak dan para pemuda sedang menyelam mencari kerang. Mereka memandang kagum dan tertegun melihat kilau perunggu rambut Nirmala yang berkibar oleh angin perbukitan.


Nirmala merasa sungkan, padahal sebelumnya dia telah terbiasa menerima pandangan seperti itu. Namun, setiap kali wajah-wajah baru menampakan ketergunannya, rasa tidak enak hati kembali merayap.


“Demi dewa hutan, apakah rambut itu terbuat dari logam mulia,” kata seorang kakek tua yang sedang memancing.


Nirmala menggeleng, beberapa pemuda berkulit coklat terbakar mengamatinya dari tepi dramaga kayu. “Hanya menggunakan bahan-bahan rempah.”


“Pastilah rempah itu sangat mahal, kalian para pelancong memang sangat mengesankan, jika saja aku masih muda aku ingin suatu saat bisa berkeliling benua ini,” si kakek mendesah, kemudian dia menarik jala ikannya dan melanjutkan. “Sayangnya aku berakhir menua di desa ini, tapi tidak ada salahnya karena desa ini sangat indah untuk menikmati sisa-sisa hidup.”


Nirmala tersenyum, sambil mengamati hal-hal menarik lainnya di sekitar dramaga itu. “Apa para pelancong sering datang ke sini?”


“Tidak sering, tapi selalu ada. Mereka kebanyakan berkunjung untuk beristirahat dan memenuhi perbekalan untuk perjalanan kedepan. Lagipula ikan dan kerang kami yang terbaik, karena danau selalu dipenuhi ikan-ikan segar setiap harinya.” Kakek itu kini menggaruk dagunya dengan bimbang, “Tapi ada yang aneh sepekan belakangan.”


“Aneh?”


“Para prajurit-prajurit istana berkuda hitam mengunjungi desa kami, membagikan lembaran-lembaran daun rontal dengan aksara di dalamnya, entah aku tidak terlalu mempedulikannya karena aku buta aksara.”


Prajurit berkuda hitam itu adalah prajurit istanaku.


“Apakah mereka sering mengunjungi desa ini?”


“Aku tidak begitu yakin, mereka memang tidak pernah berkunjung lagi. Nampaknya mereka tidak terlalu menyukai hasil bumi desa kami,” kata kakek itu sambil merapikan kerang-kerang ke dalam keranjang bambu. “Sungguh prajurit yang aneh.”


Setelah Nirmala berpamitan dia bergegas menuju desa. Seharusnya jika memang Wikrama sedang mengumpulkan informasi dia akan segera mengetahui bahwa prajurit ayahnya sudah melakukan pencarian hingga ke desa ini. Namun, langkah Nirmala melambat, dia tiba di hadapan sebuah rumah-rumah desa dengan gubuk jerami dan kepulan suara riang, Nirmala merasa bimbang.


Kepada siapa dirinya berpihak sekarang? Bukankah dia bisa segera kembali pulang ke istana apabila para prajurit Nusantara berhasil menemukannya. Namun, sikap Wikrama benar-benar membuatnya jengkel, padahal Nirmala sudah mulai menyukai Desa Wangsa. Tempat seperti itu yang di idamkannya sejak dia terkurung dalam istana.


Tidak lama Nirmala berhasil menemui Wikrama di sebuah kedai bersama beberapa para pendekar, mereka terlihat bercakap-cakap dengan pemilik kedai. Sewaktu menyadari kedatangan Nirmala, Wikrama memutus percakapan itu dan langsung berpamitan.


“Kita akan segera pergi dari desa ini,” katanya tergesa-gesa.


“Prajurit ayahku...”


“Benar sekali Tuan Putri, aku tidak menduga ini. Kumohon sementara ini tutupi rambut anda dengan kain ini,” Wikrama membalut rambut Nirmala dengan kain yang di belinya dari penjual pinggiran. “Mohon maaf Tuan Putri.


Nirmala tidak menjawab. Mereka berjalan cepat kembali ke tepi danau, dengan aba-aba singkat Wikrama mengumpulkan pendekar dan memintanya menggiring kuda-kuda untuk berkumpul di sisi Timur tepi danau yang jauh dari desa. Wajahnya nampak khawatir sewaktu tangannya terulur pada Nirmala, dengan segera Nirmala menaiki kuda putihnya.


“Kita dalam bahaya, aku sudah memastikannya dari ini,” katanya sambil memperlihatkan selembar rontal. Dengan lantang Wikrama membacakan isi aksara itu di hadapan Nirmala dan para pendekarnya.


Kepada rakyat-rakyatku, atas mandat dariku sebagai raja dari Kerajaan Nusantara, Patih Mahardhika. Aku mengutus para prajurit-prajuritku yang bergerak di atas kuda-kuda hitam untuk melakukan pencarian penting. Mereka yang tersebar di seluruh penjuru benua ini bergerak atas anugerahku sebagai raja berdarah dewa yang memiliki kuasa penuh terhadap negeri ini.


Bagi siapa pun rakyat yang menemukan ciri seorang putri raja suciku atas nama Sri Nirmala, dengan ciri kemerlap rambut sewarna perunggu, begitu pula bola matanya, dan melaporkan keberadaannya pada bhayangkaraku. Aku akan menjamin kesejahteraan kalian dengan kereta-kereta kuda berisi perhiasan dan bahan makanan selama setahun penuh.


Tapi aku akan memenggal leher siapa pun termasuk mereka yang berani menyembunyikan putriku atau merahasiakan keberadaan dirinya. Tunaikan tugas itu maka Nusantara akan menghormati jasamu selayaknya bangsawan.


Rangkaian kata-kata yang disampaikan Wikrama tidak satupun tercecer dan telah disimak dengan cermat oleh para pendekar. Wikrama memang sudah memprediksi kekacauan akan yang terjadi atas rencana penculikan itu dari jauh-jauh hari sebelum terlaksana. Namun, dia tidak menduga pergerakan para prajurit Nusantara akan secepat di waktu yang tidak tepat.


“Setelah ini bagaimana? Apa sebaliknya kita kembali ke desa?” Wyat mengusulkan.


“Jangan. Kita harus meneruskan perjalanan menuju reruntuhan Temaram,” Wikrama menegaskan. “Kemenangan kita terhadap Ahool tidak merubah kejadian bahwa para saudara kita telah gugur karenanya. Bagaimanapun kita harus mengantar abu ini. Selain itu, tidak disebutkan adanya seorang pendekar wanita dalam rombongan bhayangkara itu di desa Setu Hejo.”


Nirmala yang menyimak mulai merasa gelisah. Kata-kata dalam pesan yang ditulis ayahnya memang terdengar menggiurkan, tetapi ada kengerian di balik makna dari pesan itu. Mengapa ayahnya dengan mudah memenggal siapa pun yang hendak menyembunyikan dirinya? Apakah pesan itu ditujukan tidak hanya untuk para pemberontak, melainkan juga untuk rakyat-rakyat kecil?


“Kalau anda memutuskan kita tetap melanjutkan perjalanan, apa yang akan kita lakukan jika berpapasan dengan para prajurit Nusantara?” Wyat ingin memperjelas situasi.


Selanjutnya Wikrama termenung. Dia memandang keseluruhan jumlah pendekar yang ikut bersamanya. Mereka pendekar yang mahir bertempur dalam jarak dekat, bukan pemanah. Keputusan sulit harus dibuat, karena untuknya mengantarkan abu-abu pendekar yang gugur adalah tindakan yang paling penting.


Wikrama merapatkan telapak tangan dan mengangkat melekat ke ujung hidung. Wikrama melakukan itu sedikit lebih lama, hingga akhirnya dia bersuara.


“Seandainya kita berpapasan dengan para prajurit Nusantara, cabut keris kalian dan tancapkan pada jantung-jantung para prajurit itu.”


 


***

__ADS_1


__ADS_2