Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan

Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan
Nirmala


__ADS_3

Mereka telah menempuh perjalanan selama berjam-jam setelah meninggalkan desa Setu Hejo. Untuk mengecoh pasukan patroli berkuda dari Nusantara, Wikrama mengambil jalur perjalanan yang memutar. Mereka menghindari rawa-rawa berlumpur, mengikuti kaki Pegunungan Rapani. Di belakangnya, deretan gunung terlihat mengecil seperti gerigi-gerigi hijau. Namun, sisi pegunungannya membentuk corak-corak kecoklatan dan abu-abu yang kokoh. Nirmala terperangah menatap guratan alami pegunungan itu seperti urat-urat tebing. Wikrama menjelaskan bahwa gunung itu didominasi oleh batuan granit yang berkualitas tinggi.


Rumput yang tumbuh di celah bebatuan cadasnya memberi kesan eksotis dan megah. Mereka tiba  di sebuah lereng dan harus melambatkan laju kuda. Jalan itu pun berliku-liku sampai mereka harus melewati bukit lagi di sisi-sisi kaki gunung Rapani. Dalam kondisi tertentu, tidak jarang juga mereka harus mendaki tebing, sampai akhirnya mereka tiba di sebuah savana yang luas membentang.


            “Di depan sana berdiri kedaton Temaram,” nada suara Wikrama bercampur sedih. “Lebih tepatnya reruntuhan Kedaton Temaram.”


            Nirmala terbelalak, Nirmala bisa melihat beberapa struktur terbuat dari batu kelabu di antara pepohonan-pepohonan liar. Menara-menara tinggi nampak hancur dengan bekas hitam terbakar. Jalan masuk kedaton itu ditumbuhi semak belukar yang menenggelamkan jalan dan undakan-undakan berbatu. Sebagian arca berdiri miring, tertimbun tanah, ada juga yang sudah retak dan hancur, menyisakan wajah setengah harimau.


          Sesungguhnya, Nirmala dapat menilai bahwa bangunan-bangunan itu anggun dan berkesan lebih ringan daripada bangunan yang ada di Istana Nusantara. Namun, yang menjadi perbedaannya adalah atap-atapnya berupa kubah memanjang dengan ukiran dan corak gagah. Seketika Nirmala membayangkan bagaimana arsitektur kedaton itu berdiri megah sebelum kehancuran memakan keindahan kedaton ini. Kemegahan itu seakan tertelan waktu, menjadi reruntuhan yang meninggalkan kesan mistis.


            Para pendekar turun dari kuda, berupaya mengarit dan membabat habis segala macam perdu penghalang untuk jalan masuk kuda-kuda mereka. Hampir seluruh bangunan sudah hancur, beberapa diantaranya bahkan lebih parah. Kerusakan itu tersebar sampai ke sisi dinding-dinding kedaton.


            “Lihatlah kemegahan sisa-sisa kejayaan Temaram,” kata Wikrama, “Putri Nirmala, sebelum perang dewa itu meletus, ratusan anak-anak bermain gembira melewati jalan yang kita pijak sekarang. Penjual daging dan buah menjajaki dagangannya setiap pagi dan para pemuda-pemuda menyantap makanan enak di taman-taman kedaton.”


            “Ini terasa menyedihkan,” Nirmala bertutur sambil terus menegadah ke arah bangunan-bangunan hancur.


            “Ketika Dotulong dan para cindaku terbunuh, mereka yang menetap di sini harus merasakan derita terakhir akibat dari kekalahan sang raja melawan Raja Mahardhika.”


            Dengan cemas, Nirmala membayangkan kehidupan kedaton itu dahulu. Kenangan-kenangan apa yang pernah ada di sana? Selama ini dia tidak pernah mengetahui kejadian-kejadian yang terjadi di luar dinding Istana Nusantara. Semua bukti-bukti sejarah itu tidak pernah diceritakan padanya.


            Kesedihan Nirmala larut seiring senja yang menguning membanjiri reruntuhan kedaton itu bagai penutup kisah-kisah menyedihkan, menciptakan suasana hati yang sangat murung.


            Wikrama seakan menyesal, “Aku tidak berniat melukai hati anda Tuan putri.”


            “Yang berlalu telah terjadi, sekarang aku melihatnya seakan mereka menangis di hadapanku Wikrama, luka hatiku tidak sesakit jiwa-jiwa mereka yang telah tiada.”


Dekat tepi kota yang terlantar, Nirmala melihat makam-makam berdiri terbuat dari pusara-pusara berbatu, ratusan jumlahnya. Pemandangan itu membuatnya ngilu, tetapi dia tidak mampu mengalihkan tatapannya.


“Tahun demi tahun, sanak saudara jauhnya datang ke sini, mereka menanamkan batu pusara sebagai bentuk kenangan terakhir mereka. Kau akan membaca nama-nama mereka dalam goresan pallawa di pusara itu Tuan Putri.”


Kuda-kuda mereka terus bertapak melewati puluhan-puluhan pusara yang berdiri bagai patung-patung prajurit. Samar-samar sebuah pohon bramastana berdiri menjulang ke angkasa di Utara makam. Pohon itu lebih tinggi dan lebih besar dari pohon bramastana yang pernah Nirmala lihat seumur hidupnya.


Jalinan akarnya-akarnya bengkok merambah keluar dari batangnya berlapis lumut-lumut berwarna hijau tua, panjang bergelombang dan lenyap ketika menembus tanah lembab di bawah. Kanopinya membentang membentuk cembung yang hampir menutupi sinar jingga senja. Tupai dan bajing melompat-lompat berlarian diantara dahan kuno itu, melihat kedatangan manusia asing. Di antara jalinan akar berdiri sebuah batu prasasti berbentuk segi empat memanjang dengan ujung melandai.


“Di prasasti itu nama-nama pejuang dan pendekar Temaram terukir.”


Wikrama menambatkan kudanya tidak jauh dari akar pohon bramastana yang meliuk-liuk kaku seperti ular besar. Bersama-sama mereka berjalan menuju sebuah prasasti tapak bulan. Sampai saat itu, Nirmala tercengang, dia benar-benar tidak memahami betapa besarnya pertempuran itu, berapa banyak nyawa tercabut, atau berapa raga terbaring.


Deretan nama pejuang, pendekar, prajurit bahkan nama raja terukir memilukan dalam huruf-huruf palawa. Pemandangan ini memperbarui pandangannya pada sang ayah, dan sekali lagi Nirmala merasa rapuh dan menyesal.


“Putri Nirmala tahukah anda mengapa kami harus menempuh perjalanan sejauh ini demi mengantarkan abu para pendekar kami?”


Wikrama tersenyum, rambut hitam panjangnya berkibar tertiup hembusan angin lembut, seolah sang pohon sedang bernapas di hadapan mereka. Nirmala dapat merasakan kesejukan, entah sudah berapa lama Wikrama tidak tersenyum begitu lepas pada dirinya semenjak keberhasilan mereka mengalahkan Ahool.


Sewaktu Wyat menyerahkan kendi merah berisi abu-abu pendekar yang telah gugur. Para pendekar di belakangnya berbaris bersenandung ramalan-ramalan sang pembebas.


Jauh, jauh, bulan datang memancarkan sinar


Jauh, jauh, bulan pergi meredup tiada


Di pegunungan yang berselimut cahaya perak


Dilahirkan putra pembawa cita


Secepat badai dia tersiksa


Selambat padi menguning dia tumbuh


            Tempo genderang meningkat, dan senandung tembang mulai terdengar menggema di langit-langit kanopi bramastana.


Purnama datang di langit


Beriring putra-putra dewata berlari


Cahayanya membanjiri kaki


Tanpa bayangan mereka melaju


Di sanalah mereka datang


Di sana pula mereka pergi


Dari mana datangnya perang ini?


Tanpa suara pusara berbicara


Mari kita gantungkan sang raja di hadapan dewata


Gantungkan!


Gantungkan!


            Matahari yang kian terbenam perlahan mulai menghilang di balik garis cakrawala. Langit seketika berubah warna bak cat yang terbias dalam permukaan air tenang. Sosok bulan purnama itu mengantikan matahari, memancarkan sinar keperakan yang menyala.


            Daun-daun bramastama bergemersak, bukan pula ia hidup tapi tertiup angin malam. Nirmala dapat merasakan kehidupan yang lain di sana, seolah jiwa-jiwa mereka yang telah tiada berbicara di sekelilingnya dalam bisik. Seketika daun-daun bramastana itu seolah menyala bagai titik-titik bintang di kejauhan. Cahaya bulankah? Atau memang ia benar-benar hidup untuk menyampaikan sesuatu? Nirmala bertanya pada dirinya sambil terpesona melihat kejadian di hadapannya.


            Dengan gerakan gemulai, Wikrama membuka sumbat kendinya. Dia mengangkat ke atas dahi dan membiarkan angin menyapu isi kendi itu sampai abu mereka beterbangan bebas. Abu-abu pendekar berputar mengikuti laju angin menuju celah-celah dahan kuno hingga tersebar pada kanopi tajuk yang rimbun.


Keindahan itu belum selesai. Nirmala begitu takjubnya sewaktu melihat kunang-kunang melayang-layang berpijar keluar dari kulit pohon brasmatana, mengiringi kepergian abu para pendekar. Cahayanya bagai bola yang mengecil dan membengkak seperti denyut jantung, mereka berputar lembut membanjiri kanopi pohon. Pijaran cahaya itu berkumpul semakin penuh dan terang. Seakan Nirmala berada di tengah galaksi yang megah.


            “Putri Nirmala,” Wikrama memecah lamunan Nirmala. “Dahulu, sebuah pohon ajaib tumbuh di tanah ini. Tatkala bulan purnama tiba menyambut malam, pohon itu bercahaya. Lambat laun bangsa pertama mulai mencintai pohon itu, mereka merawatnya dan berdoa pada dewa sambil berteduh. Orang-orang mulai membangun persinggahan, persinggahan tumbuh menjadi pemukiman, bahkan leluhur Raja Dotulong membangun kerajaannya di sekitar bramastana kuno ini. Sampai tahun demi tahun berganti, pohon itu tidak pernah henti-hentinya memberikan keajaiban-keajaiban yang menakjubkan.”

__ADS_1


            “Ini sungguh indah Wikrama,” Nirmala menitikkan air mata.


            “Kami percaya pohon ini adalah benih yang jatuh dari kahyangan, dan kami berharap jiwa-jiwa mereka yang tiada akan bersemayam dalam pohon ini hingga kami semua berkumpul lagi dalam satu kahyangan di keabadian kelak.”


            Nirmala tidak menanggapi perkataan Wikrama, dia tetap pada tempatnya, lehernya lunglai serta punggungnya gemetar. Saat itu juga dia merasa sangat kecil, dan rapuh. Dunia di hadapannya sangat luas penuh misteri-misteri yang tidak terjawab. Nirmala menyesali tahun-tahun dirinya harus terkurung dalam istana megah tanpa pernah sekalipun melihat kunang-kunang seindah itu.


            Rasa terima kasih memancar dari Nirmala. Tanpa sadar, tangan Wikrama mengenggamnya lembut. Pipi Nirmala merona, tetapi dia berpura-pura acuh meskipun jantungnya berdegub kencang. Bersama-sama mereka berjalan mengitari pohon bramastana kuno yang digemakan tembang dan suara-suara dari para pendekar di belakangnya.


Di bawah ribuan cahaya kunang-kunang yang mulai meredup satu persatu. Wikrama memandang Nirmala, dia dapat mendengar desah napas gugup Nirmala. Sekalipun telah lama dia bersama Nirmala, Wikrama tidak hentinya mengagumi kecantikan Nirmala, leher Nirmala yang lembut dan pucat, dan bulu matanya berlapis minyak sehingga menyebabkan bulu matanya mengilap dan lentik. Kemilau perunggu dari bola matanya bagaikan permata yang basah oleh hujan.


Mulanya Nirmala tidak membalas tatapan Wikrama, melainkan berjalan menjauhi pohon bramastana, menghadap savana di arah Utara dengan puncak-puncak gunung yang nampak terlihat jauh dan kecil.


Di tempat itu Wikrama merasa menyesal atas apa yang dilakukannya pada Nirmala, perasaannya seolah terbentur oleh rasa bersalah yang dianggapnya sebagai tindakan konyol.


            “Aku ingin meminta maaf.”


            “Untuk?” Nirmala tidak mengernyit atau menunjukkan keterkejutan.


            “Aku pikir, dengan mengacuhkanmu, aku bisa terhindar dari rasa bersalah, tapi justru aku semakin tenggelam dalam penyesalan.”


            “Jadi kau menyadarinya.”


            Wikrama mendesah pasrah, “Apa kau membenciku karena itu?”


            Nirmala menghembuskan napas, dia tersenyum kecil, “Sayangnya tidak, aku sudah mulai terbiasa dengan sifat kekanak-kanakan kalian wahai pendekar bulan purnama.”


            Wikrama tertawa mendengarnya, “Seperti inilah kami, hidup dari bayang-bayang serta merta membuat pikiran kami sulit tumbuh.”


            “Tapi kau tidak seharusnya menghindariku.”


            “Malam itu, sewaktu anak panah berjatuhan dan menimpa tubuh anda, aku merasakan sakit dan malu,” kata Wikrama sambil bejalan ke arah batang raksasa bramastana, menyentuh kulit keras sang pohon, membayangkan itu adalah tubuhnya sendiri. “Anda tidak akan pernah mengerti rasanya menjadi seorang lelaki yang menyesali keputusan yang sudah dia buat. Demi apa? Hidup dan mati? Harga diri? Pengorbanan?”


            Nirmala masih berdiri dibelakangnya, menyaksikan cahaya redup yang semakin menghilang, “Tapi sungguh aku senang dapat melakukannya untuk Naya, juga untuk desa.”


            “Tidak dengan cara menjadikan tubuh anda sebagai dinding kami, Putri Nirmala,” dia berkata. “Anda bisa melindungi kami dengan cara yang lain dan itu tugasku untuk memikirkannya. Sesungguhnya aku tidak pantas memimpin pasukan ini.”


            “Wikrama, kau adalah pria yang baik hati, kau sangat peduli, tapi aku melihat kebimbangan dalam dirimu. Jika memang kau ingin menyelamatkan mereka, bagaimana kau akan menghadapi ayahku dengan kebimbangan itu?”


            Wikrama menggeleng, “Aku tidak tahu. Ada suatu keinginan lain tumbuh dalam hatiku, dan aku tidak ingin bulan purnama mengetahuinya.”


            Dalam kecemasan, Nirmala bertanya, “Keinginan apa itu?”


            “Aku....”


            Tidak lama kemudian lengkingan genderang terdengar dari sisi Selatan yang dentumannya membekukan tubuh Nirmala. Wikrama berputar, dia lalu mengenggam lagi tangan Nirmala menuju kerumuman pendekar di tempat pusara-pusara batu.


Sosok barisan-barisan kuda hitam berjejer membentuk deretan pagar sewarna jelaga, burung-burung bubut berhamburan dari persembunyiannya di savana sewaktu tanah bergemuruh. Para prajurit berkuda itu maju dengan bunyi iringan yang sama, meneriakan semboyan-semboyan dewa. Panji-panji matahari perunggu mereka berkibar diterpa angin savana.


“Prajurit Nusantara tiba Tuan muda!” teriak Wyat, sewaktu pendekar berhamburan menaiki kudanya.


            “Mereka adalah para pasukan khusus prajurit tertinggi Nusantara,” kata Wikrama, dia mengetahui persis cara berkuda pasukan-pasukan terlatih Nusantara.


            “Tiga puluh lawan seratus, bagaimana menurut anda Tuan muda?” kata Wyat di sebelahnya, sambil menghitung ulang barisan-barisan kuda prajurit Nusantara.


            “Tombak dengan keris, sebuah perbedaan yang cukup membuatku khawatir, tapi prajurit bulan purnama tidak mengenal kata mundur. Di kala bulan purnama membulat sempurna, para dewa akan mengiringi langkah kita untuk membantai mereka.”


            “Apa kita serang sekarang?” Wyat bertanya, suaranya terdengar serak.


Bersama-sama mereka melihat Sekar maju seorang diri bersama kuda jantan hitam. Tombak perunggu sepanjang hampir dua kali tubuhnya digenggamnya dengan waspada, nampak berat, tajam dan anggun. Seakan mustahil bagi seorang gadis berusia lima belas tahun untuk memegangnya dengan satu tangan.


“Wikrama, aku sudah mendengar dan melihat sendiri kekejianmu, kelicikanmu, dan semua yang kau perbuat di hari suci penamaan Nirmala di istana ayahku. Bebaskan kakakku Sri Nirmala maka prajurit Nusantara akan memberimu pengampunan dan membiarkanmu hidup. Hanya dirimu.”


“Sekar putri Mahardhika, kau masih muda, tapi jiwamu sudah teracuni oleh ambisi Mahardhika. Kata-kata itu tidak pantas keluar dari seorang putri pembantai,” Wikrama balas menantang.


“Pemberontak kotor, aku menyesal mengetahui bahwa ayahanda menginginkanmu hidup. Malam ini, di tempat ini, pengikutmu akan terkubur bersama para penentang ayahanda yang sudah mendahului kalian!”


“Hidup atau mati hanya diputuskan dari senjatamu Sri Sekar, bukan mulutmu,” Wikrama mencemooh, membuat gadis pendekar itu mendidih.


Tanpa berkata-kata lagi Sekar memutar kudanya, rengutan murka mengubah wajahnya menjadi sekeras laki-laki. Dia memberi isyarat pada para prajurit kuda untuk menyerang. Para pasukan berkuda itu mengalir maju menapaki rerumputan savana yang gemerlapan memantulkan sinar rembulan. Deret demi deret prajurit berbaris menerjang dengan suara gemuruh yang mengerikan.


Mereka menyerang sisi depan pendekar, kedua pasukan saling bertabrakan diiringi raungan yang memekakan telinga. Tombak beradu dengan keris, para pendekar menyiasatinya dengan pertahanan beladiri ajian brajamusti. Dengan gerakan lincah mereka melompati kuda-kuda prajurit Nusantara, menusukkan kerisnya tepat di leher para prajurit Nusantara.


Para prajurit Nusantara terbelalak tidak menyadari serangan-serangan akrobatik selincah itu. Hampir seketika mereka lengah dan kebingungan, para barisan lalu menghambur berpencar menghindari lompatan pendekar selanjutnya.


Wikrama menahan diri untuk tidak memimpin pertempuran di garis depan, karena dengan begitu mereka akan memiliki kelemahan yang terbuka. Setelah melucuti salah satu tombak prajurit Nusantara, Wikrama menghunusnya menembus kerongkongan prajurit, darah merah gelap menyembur dari leher.


“Anda tidak apa-apa?”


“Aku takut, aku tidak bisa melihat mereka mati satu persatu,” jawab Nirmala enggan menatap peperangan itu dan menyembunyikan wajahnya di balik punggung Wikrama.


Kemudahan para pendekar bulan purnama membantai prajurit Nusantara menyebabkan Sekar tertegun. Para prajurit yang menggunakan kawaca berat kalah gesit dengan para pasukan bulan purnama yang bertelanjang dada. Alih-alih menjadi kelemahan, justru para pendekar itu terlihat semakin ganas. Sekalipun terpesona pada keahlian mereka. Kematian prajurit Nusantara memuakkannya. Tapi tidak ada waktu untuk memikirkan hal itu.


“Lihat dirimu, berkuda dan berperang layaknya seorang pria, bagaimana rupa suamimu kelak Sekar,” cibir seorang pendekar yang berkuda ke arahnya.


“Aku tidak butuh seorang lelaki untuk mengurusiku, aku bukanlah Nirmala yang manja,” jawabnya murka.


Dentingan antar logam terdengar melengking, dengan gerakan yang sama gesitnya, Sekar menghindari tusukan sang pendekar. Membuat pendekar itu berpikir dua kali untuk melucuti tombak Sekar. Lalu dari sebelah kanan seorang pendekar lain melompat dari kudanya sambil berkuda-kuda. Sekar dengan sigap menarik kekang kuda ke arah kanan untuk mengecoh, dan memaksanya menggunakan tombak panjang untuk menusuk pendekar itu sewaktu di udara. Sambil menyeringai muram, Sekar mencabut tombak itu, tidak butuh waktu lama untuk pendekar itu mengerang, tusukan kedua membuat sang pendekar tidak bergerak.


“Cari Wikrama, dia bersama Nirmala, bawa mereka berdua!” teriaknya memerintah, selagi disibukkan dengan dua pendekar lainnya yang mengepungnya.


            Di sisi lain, Wikrama menyadari sepuluh pendekar berjatuhan di garis depan. Belum setengah jumlah kami telah gugur dan kami telah membantai hampir setengah jumlah mereka.

__ADS_1


            Selama lebih dari satu jam, Wikrama terus membantai, menebas dan menusuk senjata-senjata itu pada prajurit. Namun, musuh itu bagaikan derasnya air bah. Jumlah itu membingungkan Wikrama. Apa kemenangan itu akan tiba? Dia melirik cemas pendekar-pendekar yang mulai kelelahan. Bau darah yang seperti besi memenuhi udara, dan tirai langit berubah menjadi mendung. Di atas kepala mereka burung pemakan bangkai beterbangan menunggu santapan.


Dua kali Wikrama maju dan dua kali Wikrama membantai hampir sekitar dua puluh prajurit. Tidak terkira seberapa tebal darah prajurit membanjiri tubuhnya dan Nirmala menangis terisak di punggungnya. Desah napas Nirmala terasa hangat, Wikrama merasa pilu menyerang, dia tidak ingin kehilangan Nirmala.


            Wikrama menyerbu kelompok yang terdiri dari prajurit pembawa panji perang, dia melesat dari satu prajurit ke prajurit lainnya, menangkis tombak dan menusukkan keris seperti sambaran kilat yang mematikan. Dalam lima menit dia berhasil menumbangkan prajurit itu.


            Kondisi Wyat mengguncangkan Wikrama, lima orang prajurit mengerubunginya seperti sekawanan hewan buas. Meskipun tersudut Wyat dengan gemulai menghindari hujaman tombak dari para prajurit, sambil melompati satu demi satu kuda untuk memutus nadi penunggangnya. Namun, serangan itu menumpulkan instingnya, dan salah seorang prajurit berhasil menghujamkan tombak mengiris pinggangnya. Wyat masih bisa menahannya, dia  berpindah lompatan pada kuda di penyerang.  Sayangnya, lompatan itu tidak terlalu berjalan mulus. Pada kuda ke empat, sebuah lemparan tombak perunggu Sekar tepat menembus paha kanannya. Wyat menjerit begitu dia jatuh ke tanah berumput.


“Wyat!” raung Wikrama memacu kudanya menerjang para prajurit Nusantara yang menghadang.


“Kuakui kalian pendekar yang tangguh, bahkan kalian bisa mendesak prajurit ayahku sampai seperti ini,” kata Sekar sewaktu kudanya tiba di sebelah Wyat. “Tapi semua sudah berakhir.”


Sekar mencabut tombak yang menancap di paha Wyat dan menghunusnya ke jantung Wyat. Pancuran liar darah Wyat mengucur seperti mata air. Dalam denyut lambat, napas Wyat tersendat-sendat dan berhenti.


Kejadian itu menurunkan semangat para pendekar yang tersisa, mereka bertarung dengan enggan dan semua pandangannya teralihkan pada tubuh Wyat. Sedangkan prajurit Nusantara bersorak memuji kehebatan Sri Sekar menaklukkan sang wakil pemimpin bulan Purnama.


“Keparat!” Wikrama menuruni kudanya dan berlari menerjang kuda-kuda hitam. Tangannya terasa kebas akibat gagang keris yang terasa semakin berat. Puluhan serangan datang menghujani tubuhnya, entah berapa prajurit sudah tumbang hingga dia hampir sampai menjangkau Sri Sekar.


“Aku sungguh penasaran dengan kehebatanmu Wikrama,” Sri Sekar tertegun melihat amukan Wikrama.


Ekspresi Wikrama yang semula datar dalam waktu singkat berubah menjadi kebencian. Sambil menari-nari maju, kedua senjata itu beradu memercikkan bunga api merah ketika berdenting. Pada saat yang sama Sri Sekar dengan apik memuntir gagang tombak perunggunya, untuk menghindari serangan kilat Wikrama.


Selama mereka beradu, Sri Sekar berkata lantang, “Aku tumbuh bersama para panglima kekar dan kuat, meskipun darah dewa tidak mengalir dalam tubuhku, aku melatihnya sedemikian rupa untuk membuktikan pada ayahanda bahwa aku bukan putri yang gagal!”


“Kau memang gagal, selamanya kau tidak akan menandingi kecantikan hati Nirmala, selamanya kau tidak akan menyamai kerendahan hati Nirmala, bahkan dewa tidak mau menurunkan karunianya padamu Sekar!”


Sri Sekar mengertakkan gigi. Dia bisa tidak bisa menerima penghinaan dari seorang pemberontak pembangkang. Dia sangat murka lalu mengayunkan tombak perunggunya secepat ayunan ranting. Wikrama menunduk dan melompat mundur. Serangan itu pasti langsung menewaskannya seandainya dia terlambat menghindari detik terakhir.


“Gadis lima belas tahun yang mengerikan,” Wikrama memuji sambil terengah-engah.


Wikrama bisa melihat Sekar mencibir merendahkan. Terlintas dalam benak Wikrama untuk menuntaskannya satu serangan, tetapi dia sangat sulit melihat peluang. Kesedihan semakin menyeruak saat para pendekar di sekitarnya semakin gugur, dan hanya menyisakan sepuluh orang, bahkan mereka telah letih untuk melawan.


Apakah ini akan berakhir...


Kuda putih yang kini ditunggani Nirmala tiba, memantik perhatian dari semua pasukan. Dia menuruni kuda putihnya berlari mendekat, dan berdiri memecah jarak antara Sekar dan Wikrama, “Sudahi, pertempuran ini, kumohon.”


“Minggir Nirmala!”


Raut muram merekah di wajah Nirmala. “Aku akan kembali ke istana, kumohon hentikan perang ini, Sekar.”


“Ada apa Nirmala? Kau berbelas kasih pada para penculikmu?”


“Demi kehormatan ayahanda, Sri Sekar, kumohon. Mereka sudah tidak berdaya, jika memang tujuanmu membawaku, bawalah aku kembali, mereka sudah kalah.”


“Lalu kita bebaskan mereka? Itu yang kau mau?” tukas Sri Sekar nampak tidak senang.


            “Kau bisa memberinya pengampunan wahai adikku, mereka merawatku seperti ayahanda merawatku,” Nirmala menahan air matanya pecah. “Aku percaya kau seorang gadis yang bijaksana.”


            Sri Sekar mengernyitkan dahi, dia berbalik menatap “Apa kau tidak merasa terhina dengan permohonan sanderamu, Wikrama?”


            “Tuan Putri, aku tidak...,”


     “Diam...Wikrama, sudah cukup.”


            Beberapa prajurit menyergap dan melucuti keris Wikrama, menendangnya hingga dia jatuh berlutut. Dua pendekar mengunci lengannya. Dengan cara kasar satu prajurit menjambak rambut panjangnya hingga wajahnya menengadah ke langit.


            “Kau memang lembek Nirmala, aku mengerti mengapa ayahanda begitu takut kehilangan dirimu, dia takut kau mencoreng nama Kerajaan Nusantara.”


             “Aku akan memberi pengampunan dengan syarat,” Sekar berkata. “Wikrama kau akui kekalahanmu dan akui Raja Mahardhika sebagai penguasa.”


            Dengan suara seakan tercekik Wikrama menjawab, “Aku tidak akan pernah mengakuinya.”


            “Wikrama, aku mohon, demi pendekarmu, demi diriku,” Nirmala meminta, tangis pecah dari kedua mata perunggunya. “Aku tidak sanggup lagi melihat mereka gugur.”


            Sri Sekar nampak menikmati ketidak berdayaan Wikrama.


            Lengkingan keputusasaan menjalar melalui benak Wikrama. Apa yang harus aku pertahankan sekarang? Harga diri atau nyawa para saudara bulan purnama? Jika aku adalah Raja Dotulong, apa yang dia akan katakan.


Dalam sudut sempit matanya dia melihat Nirmala, gadis itu tidak pernah kehilangan kecantikannya, pada detik itu juga Wikrama seolah ingin selalu berada disampingnya, mendengarkannya dan menuruti semua yang Nirmala pinta. Dia menjadi lemah, dan tidak ingin kehilangan Nirmala.


            “Aku kalah, aku mengakui kekalahanku,” dia berkata dengan suara pelan.


            Para pendekar merengut kecewa, meneriakkan sumpah-sumpah saudara bulan purnama dan memaki.


            Sekar menyeringai, meskipun dia belum puas dengan jawaban itu. Dia sudah muak dengan bau-bau darah dan mayat-mayat di sekitarnya, lantas dia memerintahkan prajurit untuk mengikat kedua lengan dan kaki Wikrama dengan rantai dan menaikkannya ke kuda hitam Sekar.


            “Putri Sekar, bagaimana dengan pendekar lainnya?”


            Sewaktu dia menaiki kudanya Sekar berpikir sejenak, sambil mengamati pendekar-pendekar dalam dekapan prajurit, dia mendengus jijik.


            “Bunuh.”


            “Tidak! Bagaimana dengan janjimu Sekar!” Nirmala berkata dalam lantang.


            “Aku tidak berjanji apa-apa, Nirmala,” dia menatap wajah Nirmala, cekung di pipinya membuat wajahnya terlihat seperti pria tanggung. “Kuakui kecantikanmu membuatnya lebih lemah dari yang kubayangkan, setidaknya lebih memudahkan pekerjaanku. Apa kau tidak menyadarinya? Inilah cara kita Nirmala, dan itulah akibat yang diterima untuk para pemberontak kejayaan ayah kita.”


            Kejadian itu berlalu singkat, tombak-tombak menghunus tubuh pendekar yang tersisa, menyisakan jerit dan teriakan menggema, bukan jerit sakit yang terlontar melainkan sumpah janji saudara bulan purnama. Suara mereka lambat laut menghilang menjadi keheningan malam. Di atas kuda Sekar, Wikrama terdiam, tatapan matanya kosong.


            Kegelapan dan kekosongan, kabut hitam menutupi dunia, seiring cahaya-cahaya langit malam meredup terhalang.


Hilang. Sepi. Ia sendirian, terjebak dalam jurang hatinya.

__ADS_1


 


***


__ADS_2