
Pagi datang. Bersama Purnapana, Satria menepi di sebuah tepi sungai yang tidak jauh dari gua. Air terjun setinggi tiga puluh hasta menjulang di hadapannya memercikkan buih-buih dingin dan pelangi berwarna. Di tempat itu, Purnapana menjanjikannya sebuah latihan-latihan penguatan perubahan wujud yang belum dimengerti sama sekali oleh Satria. Sebelum latihan dimulai mereka sarapan dengan ikan mujair sungai yang dibakar dengan ranting kering pohon pinus.
Sesekali Satria menyobek daging ikan mujair menjadi potongan kecil untuk Chana si kucing hutan. Chana nampak senang dan memakannya dengan lahap meskipun daging itu masih mengepulkan uap tipis. Setelah beberapa potongan ia terlihat kenyang dan menatap Satria dengan tatapan tenang.
“Hamba tidak menyangka, Chana telah menyelamatkan kami berdua dari prajurit mengerikan itu.”
“Satria, bahkan satu kebaikan kecil bisa menghindarkanmu dari kematian.”
Satria mengelus-ngelus kepala Chana, dia menyukainya meskipun Chana mencoba menghindar enggan. Perhatian Chana teralihkan pada sebuah capung biru yang hinggap di kerikil kecil. Dia lalu berlari melompat-lompat meninggalkan Satria, bermain-main mengejar si capung.
Satria tersenyum. Dua hari berlalu dan Satria sudah mengetahui semuanya. Purnapana adalah seorang cindaku. Sosok yang selama ini Satria puja sebagai sosok pembebas dan pembalas. Meskipun awalnya Satria merasa jengkel karena Purnapana merahasiakan hal itu padanya. Lambat laun dia menerima dan menjadi sangat menghormati Purnapana.
Berkali-kali Satria memandang Purnapana dengan cemas. Purnapana nampak lebih tua, berkeriput dan lelah. Bukan hanya itu, luka-lukanya semakin sulit sembuh. Tusukan di paha dan punggung, sekalipun luka di paha Purnapana telah terjadi sangat lama sewaktu dia pertama kali menemuinya di gua dan mengobati luka itu dengan getah batang pisang. Namun, saat ini luka itu kembali membuka dan memerah, terlihat seakan baru terjadi kemarin malam.
Sulit baginya melihat kesuraman itu terjadi pada Purnapana, tetapi pada saat yang sama dia sama sedihnya dengan tubuhnya sendiri. Sesuatu yang gelap mengalir dalam darahnya. Sebuah kekuatan maha dahsyat yang tidak pernah disadari selama lima belas tahun hidupnya. Selain itu, Satria juga menyadari dirinya masih berkutat dalam perubahan menuju pria dewasa. Tumbuh bersama misteri-misteri yang hidup dalam tubuhnya, acap kali membuat dia bertanya-tanya, siapakah diriku sebenarnya?
Purnapana memeriksa batu-batu cadas di sisi tebing air terjun. Dia mengelus setiap permukaan batu, berhenti sejenak di setiap ceruk lalu mengatakan bahwa tebing itu cukup aman. “Bebatuannya masih kokoh, tidak perlu takut longsor.”
Setelah selesai sarapan, Purnapana mengajaknya berjalan menapaki bebatuan berwarna kelabu kehijauan berlumut, dipandanginya kubah air yang sejernih langit, ikan-ikan berenang mengikuti laju langkahnya seakan berenang waspada sambil mengamati.
“Hari ini, kau akan bertapa di bawah air terjun ini, kurang lebih satu jam. Selama dalam batas waktu satu jam, alirkan tenaga murnimu untuk menahan laju deras air terjun yang menghantam tubuhmu. Aku ingin kau menguasai emosimu dengan stabil sampai tenaga murnimu membentuk sebuah perubahan wujud murni.”
Kengerian pada tenaga gelap dalam tubuhnya menggentarkan Satria hingga dia merasa ingin menyerah sebelum bersedekap di bawah air terjun itu.
“Tenang”, kata Purnapana menyentuh bahu Satria. “Aku bisa menghentikannya lebih cepat ketika tenaga murni hitammu bangkit menjadi ombak liar.”
“Ya, guru,” Satria meringis, dengan enggan dia mengendurkan otot-otot persendiannya. Pagi ini udara terasa dingin, begitu pun air terjun di depannya.
“Bersila dan eratkan jari-jarimu, pejamkan matamu lalu tarik napas dalam, alirkan tenaga murnimu seperti biasa, bayangkan uap-uap itu menyelubungi tubuhmu seperti selimut, dan lekatkan selimut itu pada kulit-kulitmu seakan selimut itu membentuk sebuah bentuk untuk mendorong tekadmu. Pertahankan sampai aku meminta untuk berhenti!”
Percobaan pertama cukup melegakan Satria, posisi itu ternyata cukup mudah dilakukan tanpa memicu hal-hal aneh. Tubuhnya menjadi hangat, seakan air terjun itu hanya melewati tubuhnya begitu saja tanpa menghantam kulitnya. Namun, begitu sepuluh menit berlalu, dia merasa waktu berlalu sangat lama dan membuatnya kelelahan. Konsentrasinya menjadi pecah, seketika ledakan air terjun itu terasa menyakitkan.
“Cukup, rupanya tidak sampai satu jam.”
Satria merasa kedinginan dan menepi pada dinding bebatuan granit di sebelah air terjun. Untuk mengalihkan rasa mengigilnya dia bertanya, “Apakah para prajurit itu masih akan mengejar guru?”
Purnapana mengusap janggut putihnya, “Mereka akan selalu memburuku, selama Mahardhika masih bernapas, dia akan terus memerintahkan anak buahnya untuk membunuhku, sebagai cindaku yang mereka anggap terakhir.”
Satria bergerak-gerak gelisah, “ada hal yang ingin hamba tanyakan lagi guru.”
“Jangan sungkan.”
“Apa wujud cindaku yang bersemayam dalam tubuh ini berkaitan dengan ayah kandungku?”
Purnapana tertegun, “Sebelum aku menjawabnya, seberapa penting sosok ayah itu bagimu?”
Satria termenung sesaat mencoba berpikir.
“Hamba tidak tahu, mungkin penting.”
“Di sana letak kesalahanmu, budak muda Satria. Kau harus menyadari bahwa segala keingintahuan tidak semata-mata berlandaskan keraguan, tapi kepastian. Bahkan hatimu pun masih mengambang di antara langit dan daratan, berkaitan atau tidak, yang harus kau pahami adalah mengapa kekuatan itu tumbuh dalam tubuhmu.”
“Hamba takut guru, bagaimana jika kekuatan ini akan membunuh sahabat dan mereka yang tidak bersalah?” kekecewaan menguasai Satria.
__ADS_1
“Maka kau telah melupakan inti dari latihan ini.”
“Bagaimana hamba tahu hamba telah menguasainya, jika hamba bahkan tidak mengingat apa yang sudah terjadi?” benaknya tenggelam pada kejadian di malam Prajurit Nusantara menyerangnya.
Purnapana menghembuskan napas panjang. Dari sisinya dia dapat memahami perasaan Satria, pemuda itu masih muda, kekanak-kanakan, dan ceroboh. Membuatnya teringat pada Wikrama sewaktu kecil.
“Kemari.”
Purnapana mengajak Satria turun menuruni bebatuan-bebatuan menuju tepi sungai beralaskan daun-daun ketapang lembab. Dia menarik napas panjang, kelopak matanya menyempit seakan alis putihnya hendak menyatu, dengan satu tarikan napas, Purnapana membusungkan dadanya dan berkuda-kuda.
Dalam satu gerakan cepat Purnapana menjatuhkan tubuhnya ke tanah, jemarinya mencakari dedaunan mati hingga bunyi gemersik membuat Satria ngilu. Uap putih keluar dari punggung Purnapana, menyebar melalui kulit keriputnya sampai kejadian itu terlihat begitu anggun.
Rambut-rambut halus tumbuh memenuhi punggung Purnapana seperti kuncup daun bawang yang tumbuh dalam semalam, rambut itu semakin berkumpul lebat menghasilkan warna kelabu dengan corak loreng. Telinganya meruncing, bergerak-gerak seakan pendengarannya mendengar suara bisikan terkecil sekalipun. Purnapana mengeram, selagi mulutnya berubah menjadi sebuah moncong dengan hidung segitiga putih, kumis mencuat keluar memanjang seiring dengan dua taring seputih gading tumbuh dari sela gusi merah mudanya.
Sosok cindaku itu berdiri membungkuk, berjalan penuh wibawa, meskipun pagi itu cahaya matahari telah menembus kanopi-kanopi hutan. Satria dapat melihat pendar menyala mata harimau cindaku Purnapana, menatapnya dengan sorot tenang yang mengerikan.
Satria lalu berlutut, dia terpesona dengan sosok itu, lidahnya seolah membeku, tak sanggup untuk berkata-kata.
Mengontrol perubahan wujud cindaku bukan untuk merubah dirimu menjadi seekor harimau yang ditakuti, tetapi menjadi sebuah sosok yang disegani karena melindungi, kata Purnapana seolah mengaum lembut.
“Hamba mengerti,” jawab Satria kecewa.
Apa dengan sosok ini aku bisa membunuhmu? Ya, tapi aku memilih untuk tidak melakukan itu, karena aku tahu siapa musuhku, dan aku ingin kau menancapkan tekad itu padamu. Jangan biarkan kekuatan itu menguasaimu, tetapi buat dirimu yang menguasai kekuatan itu, Satria.
“Hamba mohon maaf guru,” titik-titik air mata mulai menetes.
Chana mendekati Purnapana, menggosok-gosokkan kepalanya pada kaki Purnapana. Dia pun berputar dan menggigiti ekor panjang Purnapana yang melecut-lecut ke tanah. Bahkan seekor kucing hutan kecil itu sama sekali tidak terindimidasi dengan sosok Purnapana.
Maka buang keraguan itu dalam jurang yang dalam, karena aku pun yakin, ayahmu menurunkan kekuatan itu dengan tekad yang jauh lebih kuat. Dia pasti percaya padamu, sekalipun hidupmu terasa begitu berat.
“Guru!”
“Sesungguhnya, aku sudah tidak mampu mempertahankan wujud itu dalam waktu lama,” Purnapana mengakui. “Aku hanyalah sisa-sisa dari kejayaan masa lalu, tubuhku tidak seperti dulu, tekadku pun sudah memudar, ingatlah Satria... Sehebat apa pun kekuatan yang tertanam pada manusia, mereka hanyalah tubuh berdaging yang rapuh, dan duka dapat membuat mereka menjadi cacat sekalipun orang-orang menjulukinya sebagai manusia terhebat.”
Satria lalu menggopoh Purnapana menuju sisa-sisa api unggun, menyandarkannya pada sebuah pohon pinus yang besar. Setelah Purnapana meminta kendi minumnya, dia bertanya lagi, “Satria apa keinginan terbesarmu saat ini?”
“Kebebasan.”
“Ah,” Purnapana menanggapi. “Banyak penderitaan di dunia ini, salah satu yang terbesar adalah belenggu dari para penguasa. Sebelum Mahardhika mengklaim takhtanya, dan bahkan sebelum para raja-raja di Zamrud bergelut dalam kemelut takhta, benua ini daratan yang bebas Satria. Kau bisa memetik buah-buah manis tanpa perlu diteriaki pencuri.”
“Apa suatu hari kami para budak bisa melakukan itu?”
“Tidak ada yang tidak mungkin, Satria.”
Purnapana mendesah, dia merasakan lukanya kembali berdenyut. Dengan susah payah dia bangkit dengan menggunakan tongkat kayu hitamnya dan meminta Satria kembali bertapa. Purpanapa yakin keteguhan hati Satria sudah mulai menampakkan wujudnya, seiring berjalannya waktu. Suatu saat nanti Satria akan menjadi seseorang yang berbeda.
Dalam percobaan selanjutnya, Satria menyilangkan kaki dan memejamkan mata. Dunia berubah menjadi gelap, hanya deras air terjun yang terdengar riuh memecah permukaan kubah di bawahnya. Satria dengan hati-hati mengalirkan tenaga murninya ke seluruh tubuh, menjangkau ke sela-sela jarinya yang terguyur air. Awalnya dia merasakan sensasi yang biasa, tetapi sebuah bintik-bintik cahaya mulai muncul dari sebuah kehampaan.
Siluet wajah Asih, dan kenangan-kenangan bersama Harsya dan Syam berputar-putar semakin kuat, seolah Satria sedang duduk di ruang kosong bertabur bintang-bintang bercahaya hangat. Dia tidak perduli seberapa lama dia harus terpejam, dia menikmati saat-saat itu. semakin lama dia merasa tubunya terbalut sebuah perasaan yang aneh.
Dalam laju yang lambat, telinganya menjadi semakin peka, dia bisa mendengar aliran-aliran air yang berada jauh dari tempatnya, seekor bajing melompat-lompat mengendap pada dahan-dahan pohon bahkan keramaian kumbang-kumbang yang bersembunyi di balik semak.
Satria membuka matanya. Dunianya tampak berbeda dan berwarna lebih terang, seakan kegelapan yang tersembunyi dari rapatnya pepohonan dapat tergambar jelas. Kehidupan yang luar biasa itu membuatnya terpesona. Perasaan ini, aneh, dan liar, katanya sambil mengamati lengannya yang berubah menjadi tangan harimau berambut kelabu.
__ADS_1
“Sampai sini kau sudah melakukannya dengan sangat baik,” kata Purnapana berkata tanpa memandangnya, seolah menyembunyikan rasa haru.
“Apa ini wujud hamba yang sebenarnya, bukanlah sebagai seorang manusia, guru?”
“Wujud itu bahkan belum separuhnya, tapi kau sudah menunjukan sebuah tekad yang baik,” Purnapana menjawab. “Ketahuilah, kami para cindaku tidak pernah menganggap diri kami berbeda. Karunia itu diturunkan sebagai bentuk tanggung jawab kami untuk Zamrud.”
“Hamba mengerti guru.”
“Lepaskan tenaga murnimu.”
Satria merasa dia lebih nyaman dalam wujud itu, dia ingin mencoba lebih dan lebih lagi. Sebagian tubuhnya masih belum berubah secara sempurna. Apakah dengan wujud ini aku bisa menebas leher Dhanu dan Garung?
“Satria, kau mendengar apa yang aku katakan?”
“Maaf guru.”
Satria kemudian meleburkan selimut tenaga murninya ke udara. Tubuh-tubuhnya kembali mengeluarkan asap hangat, dan mengembalikan rambut halus itu menjadi kulit manusia, daun telinga panjangnya pun kembali mengerut menjadi tulang rawan. Mereka akhirnya menuruni tebing air terjun.
“Tekad itu tidak boleh diiringi dengan ambisi yang menggebu-gebu. Jika ambisimu menguasai lebih besar dari tekadmu untuk melindungi, maka suatu saat kau akan menjadi seperti Mahardhika.” Belum pernah Satria melihat Purnapa seserius sekarang, dia tertunduk malu dan mengangguk. “Sekarang waktunya melatih kemampuan beladirimu., karena tidak semua perselisihan dengan musuhmu harus diselesaikan dengan wujud itu, kau pun harus menguasai teknik-teknik kanuragan lainnya.”
Tidak banyak bicara Purnapana melemparkan sebuah tongkat ranting berukuran sedang. Satria terkejut dan menangkapnya dengan refleks cepat, tangannya berdenyut.
“Anggap itu tombak dan serang aku, jika kau berhasil mengenai tubuhku, latihan selesai.”
“Tapi Guru,” ujar Satria memandang ranting kayu liar itu.
“Mengapa? Keraguan muncul di balik wajah kurusmu, apa kau pikir dengan luka ini aku tidak bisa mengimbangimu? wahai muridku yang ceroboh.”
Apa guru benar-benar ingin melawanku dengan tubuh yang sudah melemah seperti itu? Kuakui wujud cindakunya sangat mengagumkan tetapi dengan ranting ini aku bisa menyamai kekuatannya, pikir Satria.
Satria memulai serangan dengan gerakan yang siap, tongkatnya diayunkan ke arah pinggang Purnapana yang terbuka. Purnapana menangkis serangan itu dan memulai serangan balasan. Merasa dalam posisi tidak menguntungkan, Satria melompat mundur, tetapi dengan gerakan cepat menghentakkan tongkat Satria sampai membuatnya kaget.
Bahkan guru belum melangkah sedikit pun, mengagumkan.
Satria menyadari serangan itu bukanlah kekuatan penuh, Purnapana tidak terlihat kelelahan sama sekali. Dia berdiri tenang bagai menunggu serangan Satria selanjutnya. Tanpa berpikir, Satria mengabaikan rasa ibanya dan menerjang sekali lagi, tetapi dengan mudah Purnapana menangis hujaman ranting satria dengan gerakan gemulai.
Lima belas menit berlalu, setelah Purnapana merasa bosan, dia mencoba memainkan tongkat ulinnya untuk menerima serangan Satria di segala sisi. Bunyi derakan terdengar hebat, beradu seperti tanduk-tanduk rusa. “Lebih cepat Satria!” seru Purnapana, matanya berkilau terpantul cahaya pagi.
Menit selanjutnya, gerakan Satria mulai terasa lincah, tubuhnya semakin hangat dan berkeringat. Namun, tidak ada satu pun serangannya yang mengenai Purnapana. Sewaktu wajah Satria terlihat putus asa, Purnapana mereggangkan tubuhnya, “Hanya segitu saja?”
Tanpa pikir panjang lagi, Satria menerjang sisi kiri Purnapana yang terbuka dengan sebuah tusukan gesit. Purnapana sudah mengantisipasi serangan itu dengan hindaran yang sederhana. Sejak pertama kali, Satria merasa bangga dapat membuat Purnapana beranjak dari tempat ia berdiri membungkuk. Di sisi lain Satria mengayunkan tongkatnya mengarah rusuk kanan Purnapana.
Satria tertegun, semua tindakan Purnapana seolah pertunjukan yang ingin ditunjukkan sebagai bahan latihan dan pengalaman untuk Satria. Sampai ketika Satria merasa letih, gemersak suara datang dari arah gua. Terpaksa Satria harus menyudahi latihannya.
“Adik kecil!” Harsya memanggil sewaktu dia tiba dengan terengah-engah. “Kau harus kembali, sekarang juga.”
Jantungnya berdetak cepat, perasaannya menjadi tidak enak.
“Ada apa Harsya?”
“Garung... dia...,” suaranya terhenti. Sambil mengatur napasnya Harsya menjawab bimbang, “Mereka sepertinya tahu... tentang pencuri makanan.”
__ADS_1
***