Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan

Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan
Ruswara


__ADS_3

Jauh di Timur Zamrud, enam bulan sudah waktu berlalu sejak hujan terakhir menetes di wilayah daratan gersang Negeri Tarlingga. Kemarau panjang menjadikan udara sedemikian kering dan sengsara. Manusia, hewan ternak dan tumbuhan meringis berharap penderitaan ini segera berlalu. Kemarau hadir bagaikan jalan panjang tanpa ujung yang membentang luas tanpa akhir.


            Ruswara yang berumur delapan belas tahun duduk bersandar di dinding halaman istana. Dia memandang langit tak berawan, merindukan hujan. Dia dapat merasakan pohon tidak saling menyapa, dan dedaunan berguguran meranggas.


Ruswara tahu dengan berkuda selama tujuh hari tujuh malam, dia bisa menemukan tanah hijau yang subur. Namun, dia tidak bisa melakukan itu. Dia mencintai rakyat di Tarlingga. Ayahnya yang tidak lain adalah seorang Raja dari Kerajaan Tarlingga bernama Sanjaya, tidak pernah setuju untuk memindahkan wilayah kerajaan menjauhi Timur. Di tanah inilah Kerajaan Tarlingga pernah berjaya berpuluh-puluh tahun lamanya, dan di tanah Timur ini leluhurnya terbaring dalam kejayaan Tarlingga di masa lampau.


Raja Sanjaya dinobatkan sebagai penerus sah ke lima dari garis keturunan Tarlingga menggantikan mendiang kakeknya yang bernama Manjaya. Namun, kepemimpinan Sanjaya sangat buruk. Raja Sanjaya lebih memilih bermabuk-mabukan dan cenderung acuh mengurus rakyatnya sendiri. Kesialan itu tidak terhenti, kebiasaan buruk Sanjaya menurun pada putra pertamanya yang bernama Mahendra.


Sudah semenjak petang Ruswara tidak melihat Mahendra di lingkungan kedaton istana. Dia menduga kakaknya sedang bermain judi sabung ayam bersama para prajurit-prajurit istana. Ruswara kerap menangis melihat kondisi rakyat di Tarlingga yang semakin terpuruk. Setiap minggu ternak mulai kelaparan dan mati di pagi hari. Tumbuhan pertanian gagal panen dan sungai mengering retak.


Sudah berapa banyak rakyatnya yang kelaparan? Pikirnya dengan hati teriris. Sedangkan istana tidak pernah kehabisan bahan makanan karena upeti yang tinggi dari sang raja.


            Saat itu Ruswara sedang beristirahat setelah berlatih beladiri bersama Welino, sang kepala prajurit. Meskipun di wilayah Tarlingga jarang terjadi perebutan kekuasaan, Ruswara tetap berlatih beladiri. Punggung jarinya melepuh dan kapalan. Beberapa kuku jari kakinya copot karena terlalu keras berlatih, menyisakan daging putih yang mengeras.


Welino mondar-mandir di dekat arca tidak jauh dari dinding istana. Welino mengenakan keris dengan sarung berwarna coklat bermahkota. Keris itu di turunkan dari leluhurnya yang merupakan pengabdi setia keluarga Kerajaan Tarlingga.


            “Apa gerangan yang membuatmu gelisah wahai abdi setia, Welino, putra dari Hatya,” kata Ruswara. Dia lalu bangkit dan mendekati Welino.


            “Aku mendengar akan adanya pertemuan nanti malam,” kata Welino menghembuskan napas, ia terlihat tidak tenang.


            “Ada apa dengan pertemuan itu?”


            “Baginda Raja Sanjaya akan berencana menjodohkan Mahamantri Mahendra dengan putri sang raja penguasa, Sri Nirmala.”


            “Demi dewa perang, aku telah hidup dan mendengar kisah tentang raja penguasa di negeri ini Welino. Beliau adalah raja dari segala raja. Darah Ganesha mengalir di urat nadinya sejak berpuluh-puluh tahun lamanya,” Ruswara mengernyitkan dahi, dia merasa sang ayah sudah kehilangan akal. “Darimana kabar pertemuan ini engkau dapatkan?”


            “Mpu Moro,” tukas Welino, dia mencoba menenangkan diri. “Tuan harus tahu, betapa besar rasa khawatir Mpu Moro terhadap kesehatan sang raja. Kebiasaan mabuk Baginda membuat emosi Baginda semakin tidak terkendali, tubuhnya semakin melemah. Mpu Moro berencana memintaku untuk merayu Baginda raja untuk membatalkan niatnya.”


            “Apa ibunda tahu kabar ini?”


            “Hamba meyakini belum adanya, Tuan.”


            “Perjodohan itu seharusnya tidak pernah ada!” Ruswara kini gusar. “Aku lebih mengkhawatirkan kesejahteraan rakyat. Apa kau tidak melihat berapa banyak dari mereka yang kelaparan sampai tubuhnya sekurus lembu-lembu di luar istana? Mereka kelaparan, bukan saat yang tepat untuk menjodohkan kakahanda. ”


            “Hamba turut bersedih tapi itu bukan kuasa hamba, perintah raja tetaplah mutlak,” Welino pasrah lalu duduk dan tertunduk.


            “Apa yang dikatakan Mpu Moro tepat,” kata Ruswara, segera duduk bersimpu di hadapan Welino. “Malam nanti engkau harus merayu ayahanda.”


            “Tapi,” jawab Welino terhenti sesaat. “Tugas hamba melayani.”


            “Batalnya rencana lamaran itu bisa berdampak baik untuk rakyat Tarlingga,” kata Ruswara, dia mencengkram kedua bahu Welino seakan ingin menunjukkan perkataannya jauh lebih serius. “Layanilah sang raja dengan perintah yang berdampak baik untuk rakyat kita, Welino. Aku mengenalmu, kau adalah guru dari ayahku dan juga guruku. Kau adalah tombak dari Tarlingga. Kau harus merayu ayahanda untuk membatalkan rencana itu.”


            Welino memandang wajah Ruswara. Dia melihat sorot mata Ruswara bagaikan kobaran api yang menyala. Sorot itu yang selalu dirindukan Welino dari mendiang kakek Ruswara, sang bijak Raja Manjaya. Raja Manjaya adalah raja penakluk, di segani, namun cintanya pada rakyatnya bagaikan kendi rapuh. Celakalah Raja Sanjaya yang memiliki sifat berkebalikan dari sang raja-raja Timur terdahulu.

__ADS_1


            “Hamba akan merayu sang raja,” Welino menjawab dengan yakin. Dia lalu bangkit melihat dua orang dayang berlari ke arah mereka berdua.


            “Tuan kepala! Tuan pangeran!” teriak kedua dayang yang berlari kepayahan.


            “Tidak seharusnya dayang berlari seakan mereka akan pergi berperang, ceritakan masalah kalian,” kata Ruswara.


            “Ma.. Mahamantri Mahendra Tuan,” jawab kedua dayang itu, suara mereka seakan tercekik oleh napasnya sendiri. “Mahamantri Mahendra kalah dalam taruhan berjudi, beliau murka. Beliau berencana memenggal kepala Pancha, si peternak ayam di desa.”


            “Dimana sekarang Mahendra?” kini Ruswara dibuat murka mendengar ulah kebodohan kakaknya.


            “Menuju rumah Pancha, membawa empat prajurit pengawal!”


            Ruswara terbelalak, “antarkan aku kesana!”


            Mereka lalu bergegas keluar istana menuju pemukiman desa di luar istana, setelah menuruni tangga berbahan batuan andesit mereka melewati gapura istana yang megah dengan ujung gapura yang dipahat dalam bentuk wajah Dewi Sri Sandhana, lumut kering menempel menyedihkan di sisi-sisi gapura megah itu.


Mereka tiba di desa dengan rumah-rumah yang terbuat dari kayu sengon dan atap jerami. Pohon-pohon tumbuh meranggas tak berdaun. Ruswara dapat melihat sekumpulan riuh orang yang berkumpul di depan rumah dengan pagar yang cukup luas.


Dia melihat sang kakak berdiri di hadapan seorang lelaki paruh baya renta yang bersujud di hadapannya. Mahendra terlihat murka dengan empat orang prajurit pengawal di belakangnya. Masing-masing prajurit pengawal menggenggam tombak sepanjang tiga hasta.


“Kau pikir aku siapa Pancha!” teriak Mahendra, dia lalu melempar seekor bangkai ayam jantan yang sudah tercabik-cabik ke wajah Pancha. “Aku adalah Putra Raja Sanjaya, penerus sah kerajaan ini! Sudah kubilang berikan aku ayam pejantan yang kuat sekuat diriku! Tapi kau malah memberiku seekor pejantan lemah selemah dirimu!”


“Tuan, kemarau ini telah berdampak pada kesehatan hewan ternak,” rintih Pancha, suaranya terdengar gemetar. “Ayam-ayam itu kekurangan makan, sebagian ayam untuk persediaan makan istana. Hanya itu jantan terbaik, hanya untuk Tuan Mahendra. ”


Dengan gerakan cepat, Mahendra menendang wajah Pancha sampai Pancha terhempas dan menabrak pagar kayu rumahnya. Darah segar menetes seperti rintik hujan dari kedua lubang hidung Pancha, membasahi kumis dan janggut putihnya. “Bajingan kau Pancha!”


Mahendra mengangkat leher Pancha dengan satu tangan. Tangan kirinya mengenggam gagang keris di pinggangnya., “hukuman mati untukmu Pancha. Sudah waktunya aku mengganti kepala desa, bukan begitu?”


Empat prajurit pengawalnya mengangguk terkikik.


“Hentikan!” teriak Ruswara.


Mahendra yang kaget seketika menjatuhkan Pancha dari genggamannya.


“Lihat siapa yang datang, adikku yang buruk rupa.”


“Segera hentikan tindakanmu ini, sebagai putra raja, engkau seharusnya malu kakahanda!”


“Atas dasar apa kau berani memerintahku? Aku adalah kakakmu, aku lahir lebih dulu dan akulah pewaris sah kerajaan ini,” urat wajah Mahendra mulai berkedut. Seketika dia melupakan Pancha dan mulai memandang Ruswara.


“Atas dasar kecintaanku pada rakyat Tarlingga,” Ruswara lalu membelah kerumunan orang-orang untuk mendekati Pancha. Hidung Pancha patah, tapi Ruswara dapat merasakan napas Pancha yang masih teratur. “Bawa Pancha ke istana, rawat lukanya!”


Prajurit yang diperintahnya terlihat ragu untuk bergerak. Namun, setelah Welino memelototi mereka, prajurit itu menggotong Pancha untuk meninggalkan kerumunan dan menuju ke istana.

__ADS_1


“Kau harus merubah sifat itu dalam kepalamu atau Tarlingga tidak akan pernah berjaya lagi,” kata Ruswara memandang kakaknya dengan raut setajam  rajawali.


“Kata-kata itu tidak berlaku untuk seseorang yang akan menjadi raja!” raum Mahendra.


Mahendra lalu menghujamkan satu pukulan ke arah dagu Ruswara. Dengan refleks yang cepat, Ruswara menangkis tinju itu dengan telapak tangannya, membuat keseimbangan Mahendra terganggu. Telapak tangan Ruswara terasa berdenyut. Dalam upaya kedua, Mahendra memulai lagi serangan dengan gerakan yang lebih siap. Dia mengayunkan tumit kakinya yang menonjol ke arah pinggang Ruswara. Lagi-lagi, Ruswara dapat menangkap kaki Mahendra dan memutarnya hingga Mahendra jatuh.


Mahendra merasa malu, dia menjadi semakin murka. Wajahnya memerah, dia tidak bisa membiarkan dirinya dipermalukan di depan rakyat Tarlingga.


“Aku belum serius.”


“Begitupun aku kakahanda.”


Mereka saling balas pandang. Ledakan amarah tersirat dari wajah Mahendra.


“Sudah cukup!” teriak Welino.


“Diam! Ini urusanku dengan adikku! Apa kau juga ingin menentang perintah? Aku bisa saja memerintahkan kerajaan untuk memenggal kepalamu Welino jika..”


“Mahendra! Jikalau memang urusanmu denganku, lawan aku! Jangan berkata-kata lagi, lidahmu bagaikan bencana, kata-katamu adalah kutukan.”


“Keparat kau Ruswara!”


Tanpa pikir panjang lagi, Mahendra menerjang sisi kiri Ruswara yang terbuka dengan sebuah tusukan jari-jari yang dirapatkan, serangan itu cukup untuk membunuh. Ruswara sudah mengantisipasi serangan itu dengan hindaran yang sederhana. Mahendra melompat mundur sementara. Dia tidak rela tubuhnya di jatuhkan kedua kalinya.


Mahendra tertegun, bahkan adiknya belum melakukan serangan balik dari percobaan serangan-serangan tadi. Semua tindakannya seolah pertunjukan  semata untuk memperlihatkan kualitas antara keduanya.


Mahendra mengerutkan alis matanya, dalam satu hembusan napas dan kuda-kuda. Mahendra berkata, “Kau meremehkanku adik?”


“Aku tidak meremehkanmu, aku kecewa padamu kakahanda.”


“Aku yang harusnya kecewa, aku kalah berjudi!”


“Tingkahmu seperti anak kecil kakahanda, lihat rakyat di sekelilingmu. Bahkan engkau tidak pernah mengerti penderitaan mereka!”


“Keparat!”


Mereka saling mengitari. Selama sepuluh menit Mahendra mencoba mengenai telak serangannya, tetapi nihil. Pertarungan sparing mereka menguras stamina Mahendra hingga tenggorokannya kering. Keringat mulai mengucur dan membasahi tubuh Mahendra. Namun, Ruswara tidak kelelahan sama sekali. Dia masih memandangnya dengan sorotan tajam penuh wibawa.


“Sampai kapan kau akan terus bertahan?”


 Mahendra mulai merasa terdesak.


“Ketika ilmu beladirimu dipakai untuk menyakiti bukan untuk melindungi, seranganmu tidak akan berguna kakahanda.”

__ADS_1


Kemudian suara gemersak pasir terdengar keras ketika dia menerjang Ruswara dengan cepat. Mahendra semakin murka, kepalanya mendidih. Kilatan serangan itu bagaikan siluet bayangan dengan gerakan yang tangkas. Debu mengepul di antara gerakan kedua putra raja itu, Entah serangan Mahendra mungkin mengenai beberapa bagian-bagian tubuh Ruswara. Para penonton di buat takjub.


Merasa sudah bertarung cukup lama, Ruswara ingin menghentikan perkelahian memalukan ini. Dia lalu mengunci kedua lengan Mahendra dengan dekapan di lengannya dan memuntir tubuh Mahendra hingga tubuh Mahendra membentur tanah. Dengan satu Hantaman telak di belakang tengkuk. Pandangan Mahendra semakin melemah seketika dan kosong. Mahendra pun pingsan.


__ADS_2