Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan

Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan
Satria


__ADS_3

“Aku akan mengusulkan sebuah nama padamu,” kata Purnapana, sewaktu sang kucing hutan sedang asik bermain-main dengan ranting kecil. “Dulu Raja Dotulong memiliki kucing pertama yang selalu mengikutinya kemanapun dia pergi. Kucing itu ditemukannya di sebuah desa bekas pembantaian prajurit Nusantara. Nama kucing pertamanya Chana.”


Satria mengusap dagu, dia masih memainkan ranting itu, “Hamba menyukainya, apakah kau menyukainya juga Chana?” Si kucing hutan menggeliat-geliat mengunyah ujung ranting, ekornya melecut-lecut di udara, kemudian ia meringkuk dalam paha Satria.


“Nampaknya dia senang adik kecil,” kata Harsya.


Purnapa duduk bersila di hadapan api unggun, sambil menikmati potongan daging domba bakar.


“Mengenai cerita kalian tadi, aku turut berduka, tentang apa yang terjadi pada salah seorang teman kalian,” Purnapana mengeram. “Bumi selalu disesaki oleh ketidakadilan, yang kuat cenderung berdiri di atas.”


Satria dan Harsya berwajah murung, mereka menyetujui.


“Berdiri budak muda, aku akan mengajarkan kalian sebuah kanuragan, sebuah ilmu bela diri turun temurun dari keluarga bangsawan Kerajaan Temaram. Aku bukanlah dewa perubah nasib tapi kalian sudah menunjukan kebaikan yang layak untuk sebuah kesempatan merubah nasib kalian sendiri.”


“Sebelumnya mulai saat ini, aku ingin kalian memanggilku guru,” dia menatap kedua pemuda itu dengan serius.


Satria dan Harsya menunduk.


 “Dalam benua ini, kanuragan terbagi menjadi dua aliran ilmu, hitam dan putih. Aku mungkin hanya akan mengajarkan kalian aliran putih, walau sejujurnya Raja Dotulong dulu pun beraliran hitam. Ada empat ajian yang terdapat dalam ilmu kanuragan, tapi aku tidak ingin membuat kepala kalian penuh dengan teori keilmuan.”


Sambil memandang ke arah Satria dan Harsya, Purnapana berkata, “Bersiaplah, aku akan menunjukkan wujud dari tenaga murni.”


Purnapana menghembus napas panjang. Satria tertegun, dengan tubuh kurus dan kecil, Purnapana mampu menarik udara sebanyak itu dengan satu tarikan napas. Purnapana melebarkan kaki, meskipun bekas luka tusukan tombak itu berdenyut nyeri, Purnapana berusaha menahan keseimbangan, lengannya disilangkan ke dada.


Sensasi aneh merayap masuk ke tubuh Satria dan Harsya, mereka merasakan sebuah tekanan udara yang berat. Kepala mereka menjadi pusing dan berputar, seketika bumi seakan terbalik. Mereka berdua pun terjatuh dan terengah-engah.


“Tenaga murni ini adalah dasar untuk menguasai kanuragan, aku hanya mengeluarkan kurang dari setengahnya,” kata Purnapana, janggut putihnya bergerak-gerak.


“Luar biasa guru,” Satria terperangah.


“Aku hampir pingsan adik kecil,” Harsya terlihat lebih kepayahan.


“Tentu, kalian masih awam, seseorang yang berhadapan dengan tenaga murni tanpa persiapan yang matang akan kehilangan kesadaran. Berdiri lagi, lakukan kuda-kuda yang aku tunjukkan barusan.”


Dengan usaha payah, Satria dan Harsya berdiri, mereka melebarkan kedua kaki dan mencontohkan kuda-kuda dari Purnapana. bentuknya terlihat kaku, tapi Purnapana tersenyum melihat keteguhan hati budak muda itu.


“Pejamkan mata kalian. Rasakan aliran itu mengalir dari dalam tubuh, seakan sebuah uap hangat mengalir di nadi-nadi dalam tubuh kalian dan merembes melalui serat otot sampai ke kulit, “ kata Purnapana sambil mengitari kedua budak itu.


Permintaan itu cukup sulit untuk Satria dan Harsya. Sementara mereka terus berkonsentrasi, Purnapana duduk bersedekap mengamati sambil sesekali memberi Chana daging potong domba. Chana melompat-lompat kegirangan.


Sampai beberapa waktu Harsya berhenti, dia merasa cukup lelah, “Hamba hanya bisa merasakan sedikit.”


“Sedikit lebih baik daripada tidak, untuk satu jam awal kau telah melakukannya dengan baik, bagaimana denganmu Satria?”


Satria masih berkonsentrasi, seketika dalam benaknya emosinya muncul meluap-luap, sebuah kekejaman dari para prajurit tersirat melintas dalam kepalanya. Budak-budak yang mati, budak-budak yang tersiksa, ketakutannya mencair memenuhi wadah di dalam dadanya. Chana lalu mendesis, bulu halusnya menegak, ia merasakan kekuatan besar hampir meledak di sekitar tubuh Satria.


“Hentikan!” teriak Purnapana. Dia lalu mengeluarkan jurus pamungkas ajian bathin penangkal, untuk menetralkan tenaga murni Satria yang terlampau liar. “Tenaga murnimu berbahaya, liar dan buas.”


Satria jatuh terlungkup, napasnya terengah-engah, dia merasa sangat haus,” maafkan hamba, guru.”


“yang tadi itu sangat mengerikan adik kecil,” Harsya terperangah.


“Kekuatan bisa menjadi pisau bermata dua, jika tekadmu di penuhi kebencian, dia akan menghunus jantungmu sendiri,” Purnapana membantu Satria duduk di sebelah api unggun, dan memberinya kendi berisi air. “Tenaga murnimu bagaikan ombak lautan, deras dan kuat. Siapakah ayahmu Satria?”


“Aku tidak punya bapak, dia meninggalkanku,” jawab Satria tidak ingin terlalu membahasnya.


Purnapana mengangguk, dia merasa kesedihan merasuki pikirannya, “Pastilah sungguh berat.”

__ADS_1


“Sudah lama sekali aku tidak melihat bakat alami itu sejak berpuluh-puluh tahun lalu, semenjak Raja Dotulong muda berlatih kanuragan. Aku memiliki cara lain untuk mengetahui aliran tenaga murni kalian, tetapi ini cukup terlarang, jangan pernah katakan pada petapa-petapa lainnya tentang apa yang akan aku tunjukan pada kalian.”


Satria dan Harsya masih sama bingungnya, tetapi mereka merasa tidak berdaya, dan hanya mengangguk setuju.


Purnapana lalu merapatkan kedua telapak tangannya dan membentuknya seperti sebuah cawan, “isi tanganku dengan air dan taburkan pasir ke dalamnya.”


Tanpa pikir panjang, Satria menuangkan sisa air dalam kendi itu, dia menabur pasir yang diambilnya dari tanah hangat dekat api unggun. Kemudian Purnapana mulai merapalkan sebuah bisikan-bisikan mantra pada telapak tangannya yang terisi air dan pasir, bisikannya seperti bahasa kuno yang tidak dapat mereka pahami.


“Harsya, sekarang kau akan mengalirkan tenaga murnimu ke arah telapak tanganku, bayangkan seolah uap dalam ragamu mengalir memenuhi air ini.”


Harsya berdiri dia lalu berkuda-kuda. Dia menghabiskan waktu lama untuk berkonsentrasi, aliran tenaga dalam itu keluar bagaikan tetesan rintik hujan, lambat dan kecil. Sampai lima menit berkonsentrasi, perubahan mulai terlihat. Pasir di dalam air lambat laun berputar rendah, seolah ada pusaran berputar pelan, lama-kelamaan pasir menghilang sedikit demi sedikit. Menyisakan air kendi yang jernih.


“Tenaga murnimu putih, sebuah cakra yang bagus untuk penyembuhan dan pengobatan. Aku bisa merasakan kelembutan dari tenaga murnimu,” kata Purnapana sambil mengusap janggut putihnya.


“Giliranmu, Satria.”


Sewaktu Satria memulai kuda-kudanya, hatinya berdegub kencang, haruskah aku mengeluarkan harsrat dendamku atau menahannya, pikirnya bimbang. Satria memutuskan untuk mengesampingkan amarah yang timbul dan mencoba memusatkan aliran tenaga murni itu selembut mungkin.


Waktu berlalu detik demi detik, Purnapana mengamati anak itu dengan tatapan sedih. Ada suatu emosi kesedihan setelah melihat wajah Satria lebih dalam, dia mengetahui sesuatu tetapi dia menahannya.


“Keluarkan! Apa yang membuatmu gundah budak muda Satria!” Purnapana berkata dalam lantang.


Seketika tekanan udara di sekitarnya menjadi berat kembali. Satria membayangkan aliran itu mengalir dalam ceruk jurang yang dalam. Menerobos batuan-batuan cadas, cakranya memenuhi telapak tangan Purnapana, seketika air jernih berpasir itu berubah warna. Titik-titik hitam bertebaran seakan butiran pasir menjelma menjadi bayangan, lama kemudian titik itu menggumpal dan melebar, air itu menjadi berwarna hitam.


Purnapana kemudian jatuh terlungkup, air matanya menetes membasahi seluruh kumis dan janggut putihnya, matanya berkaca-kaca, dalam bisikan sesenggukan dia berkata, “ramalan, ramalan itu benar adanya.”


Satria salah paham, dia mengangap tenaga yang dialirkan terlalu berlebihan, wajahnya menjadi murung. Satria merasa kasihan pada Purnapana, apakah kakek ini menjadi sinting karena tenaga murniku?


“Apakah tenaga murni hamba berbahaya?” Satria bertanya, dia merasa gelisah.


“Tidak budak muda Satria, tentu tidak, semua tenaga murni memiliki bahaya yang sama, termasuk penyembuh sekalipun, hanya saja tenaga murnimu sangat langka,” Purnapana bangkit, tapi Satria masih dapat melihat sisa-sisa air mata Purnapana, dia melanjutan, “Tenaga murnimu sakti, cakramu mampu membuat tubuh manusia menjadi kuat melebihi tubuh aslinya.”


“Tentu dengan disiplin latihan yang tinggi.”


Purnapana meminta Satria dan Harsya untuk duduk kembali, Chana si kucing hutan kini mencari perhatian pada Satria, namun akhirnya dia berbaring lesu di pangkuannya.


“Sebagai pendalaman latihan tenaga murni, aku akan memberikan latihan lagi. Kalian bisa melakukannya di mana saja, hanya aku ingin kalian tidak memaksakan, karena latihan ini akan menghabiskan energi.”


Purnapana berdiri, dia memetik daun talas dan sebuah ranting kecil yang sudah lapuk di sekitar semak tempat mereka duduk. Purnapana menyobek lembut daun talas itu menjadi robek sebagian tanpa memutusnya, dia memberikannya pada Harsya, “Alirkan tenaga murnimu pada sobekan daun talas ini, jika kau sudah bisa mengontrol cakramu, lambat laun sobekan ini akan menyatu.”


“Apa setelah ini aku bisa menyembuhkan luka, guru?” tukas Harsya bimbang.


“Sayangnya tidak secepat membalikkan tangan. Seorang yang memiliki aliran tenaga murni putih harus bisa menjaga aliran cakra seperti mengontrol air dalam pancuran, cakramu dingin dan sejuk. Perlu berbulan-bulan untuk bisa menyatukan luka manusia. Jika pancuran cakramu terlalu kencang, akan menyebabkan sakit yang luar biasa sebelum luka orang itu tertutup.”


Harsya mengangguk, dia mengesampingkan rasa takutnya. Lantas dia memejam mata dan langsung mengulangi latihannya. Purnapana kini memberikan ranting lapuk itu pada Satria, “Rasakan ranting ini, remaslah.”


Satria meremas ranting itu, kemudian ranting itu hancur menjadi serbuk-serbuk coklat, “Sangat lunak sekali guru.”


“Lakukan hal yang sama.”


Sewaktu Satria mengalirkan tenaga murninya pada ranting itu, dia merasakan sensasi berbeda, ranting yang di genggamnya mulai mengeras. Namun, tindakan itu tidak membutuhkan waktu lama, hanya berselang beberapa waktu ranting itu kembali melunak. Rasa lelah merayapi tubuh Satria.


Purnapana pun meminta mereka untuk beristirahat sejenak, menyantap makanan-makanan yang di bawanya dalam karung yang sama.


“Dimana kalian mendapatkan makanan-makanan ini? Apa budak diberi bahan makanan seakan kalian prabu sang raja?”


Satria diam sejenak, berupaya mempertimbangkan jawaban yang lebih baik, karena dia benci berbohong maka dia mengaku, “Hamba mencurinya guru.”

__ADS_1


Purnapana mengusap janggutnya, “Sulit bagiku untuk menilai apa yang salah dari apa yang sudah kalian lakukan. Kehidupan kalian sudah cukup berat, tindakan ini bisa membahayakan diri kalian.”


Sambil menyantap beberapa buah Satria menyetujui, tetapi dia mencoba mengesampingkan bayangan siksaan yang akan menimpanya seandainya suatu saat para prajurit akan mengetahuinya. Setelah mereka cukup kenyang, Purnapana mengajari mereka beberapa teknik beladiri.


Dua jam waktu malam itu dihabiskannya dengan berlatih beladiri. Purnapana mengajari beberapa teknik pertahanan yang menyambung pada seni beladiri kanuragan, kuda-kuda serangan dan pukulan ulu hati. Mereka berlatih sampai kaki dan lengannya terasa pegal.


Udara semakin terasa dingin, dekuk burung hantu menggema di tajuk-tajuk gelap. Satria dan Harsya berpamitan untuk kembali ke kemah. Purnapana memintanya untuk kembali lagi pada malam-malam selanjutnya, sementara dia akan kembali menjaga Chana. Malam itu sekiranya sudah menunjukan waktu tengah malam, tubuh mereka kelelahan dan mereka mulai sedikit mengantuk.


Setelah mereka meninggalkan gua Purnapana menuju ke arah kemah, mereka tiba dekat pohon keranji, mereka mendengar suara bisikan dari beberapa orang di balik rimbunnya pepohonan. Dua kobaran obor remang berayun di sela-sela batang pohon mengisi gelapnya malam.


“Siapa itu?” bisik Satria pada Harsya.


“Jangan perdulikan, lebih baik kita kembali ke kemah!” kata Harsya mulai ketakutan.


Satria menolak gagasan itu, dia bergerak lincah menyelinap di balik akar-akar besar pohon mahoni dan sengon, mendekati sumber suara. Harsya tidak suka cara itu, tetapi rasa takutnya memaksanya bergerak mengikuti Satria. Akhirnya mereka tiba di sebuah sudut yang berjarak kurang dari delapan hasta, dua orang prajurit saling berhadapan, berbicara tegang di balik api unggun.


“Apa benar buronan itu ada di dalam hutan seperti ini?” kata salah seorang prajurit.


“Mana kutahu, sebetulnya itu bukan urusan kita, tapi Dhanu sudah memberi perintah”


“Keparat Kerajaan Nusantara, urusan mereka harus kita tangani juga, sejujurnya aku benci harus melewatkan malam arakku.”


“Kau pikir aku senang harus berjaga di sini? Sedangkan yang lain tidur nyenyak setelah mabuk?” tukas si prajurit kawannya ikut jengkel.


“Tak kusangka kabar menghilangnya Putri Nirmala berimbas pada kebebasan kita,” oceh prajurit yang sejak tadi berwajah masam. “Sungguh, Raja Dharma atau Dhanu, mereka hanyalah kacung bagi Mahardhika.”


“Bodoh kau, jangan lancang, hati-hati,” kawannya memperingatkan.


“Siapa juga yang mendengar?  Yang penting kita bisa mabuk terus tiap malam.”


Mereka berdua terkekeh. Kejijikan memenuhi perut Satria dari kejauhan.


“Lagipula mengapa kita harus takut pada buronan itu? kita punya banyak arak, kita bisa mengajaknya bergabung.”


“Kau semakin sinting,” katanya.


Selanjutnya perbincangan mereka hanyalah tentang kejadian hari itu. Para budak tersiksa yang dianggapnya hanya lelucon. Tidak henti-hentinya mereka tertawa sampai Satria merasa muak dan memutuskan untuk pergi sambil menyumpah.


“Haruskan kita mematahkan leher mereka suatu saat,” kata Satria.


“Mungkin adik kecil, tapi kemampuan bertarung kita bahkan masih setara bocah,” jawab Harsya. “Tadi mereka menyebut tentang buronan.”


“Apakah buronan itu guru?”


“Melihat kemampuan tarung dan tenaga dalam dari kakek seperti dirinya, aku setuju,” Harsya mengangguk.


“Dan mereka menyebut juga tentang putri yang menghilang, Putri Nirmala.”


“Sungguh banyak yang terjadi di benua ini adik kecil,” Harsya memandang Satria. “Apa pun itu semoga dewa mengkaruniai keberuntungan pada kita di tahun ini.”


Satria mengangguk.


“Aku merasa guru memiliki banyak hal yang masih ia sembunyikan dari kita.”


Harsya mengerutkan dahi, “Bisa jadi adik kecil, tapi yang terpenting, aku harap tenaga murni yang ada dalam diriku bisa menyembuhkan luka Syam.”


Satria tertunduk murung, “Ya, semoga...”

__ADS_1


 


***


__ADS_2