Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan

Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan
Epilog


__ADS_3

Ruang Aula dipenuhi orang-orang yang duduk membisu mengelilingi meja hias bercorak rumit. Penerangan ruangan itu berasal dari obor-obor yang mengantung di dinding istana, sementara permadani perunggu mewah menutupi sebagian besar lantai batu, menghasilkan kilau yang mengagumkan.


            Di atas meja, sosok manusia yang terikat rantai perunggu tergantung aneh. Bobot tubuhnya seukuran pria dewasa, tubuhnya berputar pelan sehingga dia dapat menyaksikan mata-mata mengawasinya dengan benci.


            Seseorang tiba dalam ruangan itu, kedatangannya memancing mata mengarah padanya, mereka menatap jengkel karena semua telah menunggu kedatangannya. Dia berjalan membungkuk pelan dengan tongkat kayu sewarna tembaga, wajahnya pucat dan berkeriput serta berparas sangat tua sekali.


            “Bagaimana penasihatku?” terdengar suara jelas bernada tinggi dari ujung meja. “Sudah ada kabar?”


            Orang yang berbicara itu bertubuh jangkung dan kekar, berdiri menghadap sebuah patung arca lembushwana, tubuhnya mengilap seakan tubuhnya terbuat dari logam mulia yang disepuh. Dia diam memandangi arca itu bagai terpaku pada keelokan dan kemegahan sang hewan penunggang ayahnya. Saat Mpu Lodrok mendekat, terlihat wajahnya bersinar dalam ruangan redup. Memiliki rambut panjang berwarna perunggu gelap dengan bola mata dengan warna serupa. Tatapannya sangat dingin dan menusuk. Perasaan kelam menyelimuti Mpu Lodrok sewaktu dia merasakan kemarahan terpancar dari sorot mata orang itu.


            “Merpati pesan tiba, Baginda. Putri Nirmala sudah ditemukan oleh Putri Sri Sekar, dan seharusnya sekarang mereka sedang dalam perjalanan menuju istana.”


            Raja Mahardhika tidak menjawab, dia menyilangkan lengannya di dada dan terus memandang ke arah arca lembushwana, “Ada lagi?”


            “Di Timur, Raja Sanjaya mangkat dan digantikan oleh putranya, sepertinya kondisi kerajaan sekutu kita tidak begitu baik.”


            “Itu tidak penting, Timur hanyalah negeri sekumpulan manusia sekarat, tarik kembali pasukan Pragantara dari Timur karena tempat itu hanya akan membunuh pasukanku lebih banyak. Penasihatku, aku ingin tahu berita yang lebih penting,” dia menjawab, mata perunggunya kini menatap Mpu Lodrok, sorot itu terasa sangat tajam dan gelap. Beberapa orang di ruang aula memalingkan wajah.


            “Mengenai kabar dari Selatan,” Mpu Lodrok berkata dalam getar.


            “Purnapana?”


            “Sesosok cindaku muncul di Mayakarsa, dia bukan Purnapana, dia seorang bocah, bocah budak.” Ketertarikan di sekitar meja memuncak, beberapa terdiam dan menunjukkan kegelisahan. “Tapi aku tidak bisa memastikan kebenarannya, karena yang kita tahu, cindaku hanyalah Purnapana seorang semenjak li...”


            “Kita tidak mengetahui hal kecil itu penasihatku,” Mahardhika memutar tubuh, sekarang pandangannya tertuju pada orang-orang di meja bundar. “Perang lima belas tahun yang lalu, aku telah mengubur dan menenggelamkan para pembangkang itu ke dalam bumi yang gelap. Tapi bisa saja aku salah, aku mungkin ceroboh, dan aku punya sedikit gambaran tentang hal itu.”


            “Apa seorang keturunan cindaku lepas?”

__ADS_1


            “Kau memang penasihatku yang pintar,” kata Mahardhika. Tatapannya teralih pada tubuh seseorang yang berputar pelan, dia terlihat tenggelam dalam pikirannya. “Selama ini, aku berusaha keras, memburu para penyihir yang tersisa ke Utara dan Barat, memberantas mereka dan menghilangkan keberadaannya dari tanah ini. Tapi mereka seperti semut merah yang berkembang dari remah-remah bangkai, dan kemungkinan, semut ini merupakan semut yang berbahaya dan pintar. Alih-alih hidup di Utara, dia memilih menyelundupkan bocah itu ke Selatan.”


            Mahardhika mengangkat tangannya, kemudian merapalkan sebuah bahasa kuno yang tidak dimengerti orang-orang di dalam ruangan. Seketika jemari tangannya bergerak-gerak aneh, seperti menarik benang di udara, membuat sumpal mulut orang yang bergantung itu terlepas seakan ada tangan tidak tak kasat mata mencabutnya.


            Orang itu terengah-engah, tetapi sorot matanya masih setajam elang.


“Kau sudah kalah Mahardhika, pembebas itu sudah muncul, dialah yang akan menggulingkan takhtamu dan mayatmu, dialah cahaya yang akan membalaskan dendam kami!” hardik orang itu. seketika mengundang cemooh dari penonton di bawahnya.


            “Begitukah Djayamantara?” Mahardhika mengerutkan kening. “Cahaya yang kau maksud hanyalah seorang bocah yang tidak tau caranya mengasah pisau. Aku akui, aku terkesan padamu, aku tidak menyangka kau selama ini menjadi bayang-bayang bulan purnama di istanaku. Bukankah kau yang menyelundupkan para bajingan itu saat hari penamaan putriku?”


            Ketika Raja Mahardhika mengucapkan kata-kata itu, nada suaranya bagaikan ratapan dan kesengsaraan. Beberapa orang dapat merasakan tekanan dingin menyergap, sorot tenang Mahardhika justru menyulut ketakutan dari orang-orang di aula itu.


            “Mpu Lodrok,” kata Mahardhika, tanpa perubahan ketenangan suaranya.


            “Ya, Baginda,” sahut Mpu Lodrok yang membungkuk rendah.


            “Perintahkan Pragantara menuju Mayakarsa untuk memburu bocah itu, aku ingin Dharma tahu, dia harus mendukung penuh perburuan ini,” Suaranya terdengar penuh kedengkian. “Jika memang benar cindaku itu adalah dia. Aku berani menjamin, bocah itu adalah keturunan Dotulong. Bocah itu harus mati.”


            “Kau tidak akan bisa menghentikannya Mahardhika! Ramalan itu mulai terkuak sekarang...”


            Sekejap suaranya terhenti, sesuatu yang berat mencekik leher Djayamantara. Mahardhika menatapnya dengan bengis, mata perunggunya memperhatikan kesengsaraan orang itu dengan ekspresi tenang.


            “Dunia sedang kacau akibat ulah kalian para pembangkang yang tidak bisa menerima takdir,” Mahardhika menghembus napas panjang. “Dua kali aku kecolongan, dan aku tidak bisa lagi menanggung rasa malu ini.”


            Beberapa orang terkikik melihat Djayamantara memekik sesak.


            “Apakah masih ada pengawalku, abdi setiaku, bahkan dayang-dayangku yang menjadi anjing Wikrama di ruangan ini? Mengakulah atau kalian akan mendapat siksaku lebih dari ini.”     Terdengar suara bisik-bisik, mereka saling pandang curiga. Namun, ruang itu hening kembali.

__ADS_1


            “Tidak ada kehormatan yang melebihi apa pun selain kesetiaan kalian,” ulang Mahardhika. “Untukku, seorang pengkhianat tetap layak mendapat penghormatan dariku.”


            Mahardhika berbisik lagi, kali ini bisikannya terdengar lebih keras, sekejap rantai perunggu itu seolah bergerak bagai seekor ular. Ia melepaskan dirinya dari langit-langit, bergerak melayang membawa tubuh Djayamantara menuju ke arahnya. Wajah Djayamantara pucat, kulitnya hampir membiru, tetapi Mahardhika melonggarkan cekikan di leher Djayamantara, cukup untuk memberi ruang napas untuk Djayamantara.


Tidak ada seorang pun yang tertawa kali ini, hanya ada kemarahan dan penghinaan yang tersirat dari wajah sang raja. Tangan dingin itu bergerak meraih muka Djayamantara.


“Tidak ada ada cahaya masa depan untukmu Djayamantara, karena semua penentangku akan berakhir di tangan ini.”


Percikan darah dan tulang meledak memenuhi sudut ruangan. Djayamantara jatuh berdebam keras di atas permadani berwarna perunggu gelap. Beberapa orang terlonjak dari kursi mereka, dayang-dayang menahan jerit sementara mereka bergidik ngeri melihat wajah sang raja yang bermandikan darah Djayamantara.


“Kau ingin bermain api denganku Purnapana?” gumam Mahardhika dengan dingin. “Aku akan meladenimu, aku akan membangkitkan lembushwana ayahku dan melakukan.... pengadilan dewa.”


 


***


Seri


TAKHTA NUSANTARA


‘Senandung Kebangkitan’


 


akan berlanjut dalam naskah ke dua ;


 

__ADS_1


TAKHTA NUSANTARA


‘Genderang Perang’


__ADS_2