Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan

Takhta Nusantara - Senandung Kebangkitan
Ruswara


__ADS_3

Para tamu berduyun-duyun memasuki gapura istana bagai lautan hitam. Kuda-kuda sehitam jelaga, dengan penunggang-penunggang berkulit sewarna tembaga, lima puluh orang jumlahnya. Rombongan itu terdiri atas salah seorang panglima Nusantara bernama Pragantara dan prajurit-prajurit yang bersumpah setia pada Patih Mahardhika. Di pinggang mereka selendang selembut sutra berkibar bergambar matahari berwarna perunggu mengilap.


            Ruswara tidak mengenal banyak anggota pasukan itu. Nama Pragantara hanya pernah tercetus sebagai pendekar perang pemberani garis depan sewaktu perang dewa pecah lima belas tahun silam. Sosoknya jangkung dan berbidang seperti beruang, menggunakan kawaca dan gelang-gelang perunggu, berjalan lambat dengan kudanya yang memimpin rombongan.


            Pragantara lalu melompat turun dari kudanya menghadap Raja Sanjaya tanpa berlutut, “Ada sebuah perintah penting dari Raja Mahardhika untuk semua raja-raja sekutu di Zamrud.”


            Sambil terbatuk-batuk, Raja Sanjaya menjawab, “Terpujilah istana kami atas kedatangan pasukan dari raja semua raja. Silakan, jadikan kedaton kami sebagai persingahan yang nyaman.”


            Ruswara membayangkan seandainya dirinyalah raja yang berdiri di hadapan Pragantara, dia akan menjawab dengan hal yang berbeda. Mereka tidak pernah menganggap kami dan selalu merendahkan Tarlingga, tapi kini mereka datang selayaknya anjing lapar yang meminta seonggok tulang.


            Begitu sambutan resmi selesai, para rombongan menambatkan kudanya di istal istana, kemudian beriringan memasuki dalam kedaton menuju aula perjamuan.


            Pragantara mendengus, “Timur selalu panas dan kering, sungguh menyedihkan, bagaimana kalian bisa bertahan di tanah neraka ini?”


            “Musim kemarau memang berat,” Raja Sanjaya mengaku. “Tapi negeri ini tidak pernah kehabisan tuak.”


            Raja Sanjaya lalu menjentikkan jari, seketika para dayang-dayang datang membawa hidangan-hidangan ke meja persegi panjang yang lebar. Aneka unggas kukus dengan rempah sereh dan cengkih, serta buah-buah manis kemarau serta tuak disajikan satu persatu.


            Pragantara menenggak tuak itu dalam sekali teguk dan menghembuskan napas panjang, “Rasanya lumayan, walau sedikit lebih asam.”


            Para bangsawan Nusantara memang dikenal sombong dan berselera tinggi, ocehan semacam itu sama sekali tidak tepat untuk Raja Sanjaya. Seketika Raja Sanjaya menahan muka masamnya, dia sedikit tersinggung. Di sampingnya Mpu Moro berdeham, ingin menengahi.


            “Yang mulia panglima,” Mpu Moro berkata hormat. “Sesungguhnya kami merasa terhormat melayani iringan anda, tapi tentu kami ingin tahu maksud kedatangan anda jauh-jauh menuju negeri di Timur ini.”


            Pragantara mengangkat kedua kakinya hingga menyentak meja jamuan itu dan bersandar pada kursi berbahan kayu jati, “Raja Mahardhika memberikan mandat itu pada raja-raja sekutu di Zamrud, tentang berita yang sudah tersampaikan pada lembaran rontal yang aku tunjukkan.”


            “Tapi bagaimana bisa?” Mpu Moro ingin mempertegas.


            “Apanya?” Pragantara beralih pandang pada Raja Sanjaya. “Apa penasihatmu sudah terlalu udzur sampai dia menjadi sangat bodoh?”


            “Tuan, tidak mengurangi rasa hormatku, yang aku maksudkan tentang bagaimana Putri Sri Nirmala bisa menghilang.”


            “Perlukah detail itu disampaikan?” katanya sambil melipat lengan.


Raut wajah para prajurit Tarlingga hampir berubah, tetapi situasi ruangan jamuan itu sangat sulit di tebak. Para prajurit Nusantara berwajah kaku dan sombong. Membuat hawa di dalam aula perjamuan menjadi semakin menganggu.


“Pasukan bulan purnama membawanya, kami akui kami lengah, mereka berhasil menyusup di bantu oleh mata-mata keparatm dan menyamar sebagai penonton arena jawara tepat di hari penamaan Putri Nirmala. Aku memaklumi, karena cara pengecut itu membuat kami lengah,” Pragantara berwajah tajam menyeringai.


“Sungguh kejadian yang nahas, bahkan leluhurku benci cara-cara seperti itu,” Raja Sanjaya tertawa penuh kebanggaan, yang di balas sorot menggelikan dari para prajurit Nusantara.


“Saat ini keberadaan Nirmala masih belum diketahui, mata-mata kami menyebut dia terlihat melintasi wilayah Utara, tapi beberapa yang lainnya yakin pasukan bulan purnama juga memiliki tempat persembunyian di Timur.”


“Mungkinkah?” tanya Raja Sanjaya.


“Kenapa kau tanya aku? Kalian penghuni daratan gurun ini, kalian yang lebih mengenal wilayah ini, bahkan tikus-tikus bulan purnama itu bisa membangun sarangnya di bawah gundukan pasir,” cemooh Pragantara, sambil mengetuk-ngetuk jarinya di meja.


Sekali lagi Raja Sanjaya merasa terhina. Dia merasa sedikit hilang kesabaran dan berniat mengusir prajurit sombong itu.


“Jika memang ada petunjuk, kami akan segera membantu mencari dan memburu penculik Putri Nirmala, karena ini menyangkut harga diri kami sebagai kerajaan sekutu,” Mpu Moro berkata dengan nada sendu.


“Sepuh yang pintar,” sahut Pragantara, dia mengambil cawan arak itu dan meneguknya dengan suara berisik. “Ngomong-ngomong Raja Mahardhika menyiapkan hadiah untuk siapa pun yang berhasil menemukan Putri Nirmala dengan selamat.”


Hidung Raja Sanjaya seolah membesar mengendus-ngendus kata itu, “Apa itu? Sebutkan.”


“Harta dan kehormatan.”


“Sayangnya Tarlingga sudah memiliki itu semua,” tanpa ragu Raja Sanjaya menjawab menantang sambil terbatuk-batuk. “Ada hal yang lebih aku inginkan ketimbang gundukan permata yang berkilau.”


Pragantara hampir tertegun, tetapi dia mendengus meremehkan, menurutnya raja sekutu yang di hadapinya sekarang hanyalah seorang pria tua yang hampir usai.


“Katakanlah, raja sang penguasa gurun gersang, Sanjaya Putra Manjaya,” nadanya meledek.


“Aku ingin Nirmala dijodohkan dengan putra pertamaku, Mahendra.”


Pernyataan itu mengundang seringai para prajurit Nusantara. Sesaat Pragantara tidak berbicara, lantas ia berdiri dari kursi jatinya, mengayunkan langkah menuju Raja Sanjaya.


“Permintaanmu sungguh berani, kakek tua,” kata-katanya terhenti, dia lalu mengambil cawan milik Raja Sanjaya dan meminum araknya. “Bisa dipertimbangkan.”


“Apa itu sungguh-sungguh?” Mpu Moro bertanya, hatinya merasa tidak tenang.


“Jika memang putranya mampu menyelamatkan Sri Nirmala, itu bisa menjadi pertimbangan untuk sang raja itu sendiri, bahkan beliau akan memilih calon suami yang rela bertumpah darah demi putrinya.”


Setelah itu Pragantara segera mengayunkan langkah, hendak meninggalkan aula perjamuan.


“Tunggu,” Mahendra menyela.


Pragantara berbalik.


“Ada apa lagi?”


“Demi kehormatan, petunjuk apa yang bisa Tuan Pragantara berikan untuk memburu bajingan purnama itu?”

__ADS_1


Pragantara tersenyum kecut, dia mulai sedikit jengkel. Udara panas di lingkungan Tarlingga membuatnya muak dan hendak segera pergi meninggalkan kerajaan terkutuk itu. Namun dengan sombong dia berusaha menguasai diri.


“Pasukan bulan purnama memiliki mata-mata di seluruh negeri, urusanmu untuk menemukannya, bisa jadi salah satu rakyatmu adalah mereka. Lakukan sesukamu.”


Pragantara kemudian menepukkan tangan, seketika para prajurit Nusantara berdiri dan berbaris, meninggalkan aula perjamuan itu. Tak terpikirkan olehnya sebuah salam perpisahan ataupun salam formal lainnya, yang di inginkannya hanyalah segera pergi dari Tarlingga.


“Jika bukan karena Mahardhika, Nusantara hanyalah sekumpulan bangsawan rendah,” cetus Raja Sanjaya setelah memastikan tidak ada satupun prajurit Nusantara di aulanya.


Setidaknya, kini muncul pertanyaan yang mengganjal, darimana mereka harus mulai mencari Putri Nirmala? Benua ini seluas lautan dengan misteri dan seluk-beluk yang belum terjamah. Bahkan sang raja sendiri tidak yakin Nirmala ada di sekitar Negeri Tarlingga.


Mahendra dengan langkah petenteng, mendekati sang raja.


“Ayahanda aku siap melaksanakan tugas itu,” ujarnya berlagak.


“Jangan gegabah, bahkan kemarau ini sudah cukup membuatku pusing. Aku terlalu malas untuk memikirkan Nirmala, kupikir akan lebih mudah bisa melamarnya langsung daripada harus mencarinya di seluruh penjuru negeri, keparat Mahardhika.”


Raja Sanjaya memanggil dayang untuk membawakan kendi-kendi arak.


“Apa ayahanda tidak mendengar petunjuk dari Pragantara? Mungkin penduduk di luar sana mengetahui sesuatu.”


Awalnya Raja Sanjaya nampak tidak peduli, tetapi serangan batuk menyerang lagi sewaktu dia menengguk arak dengan cawan kecil, “Benar, benar. Kau lebih baik segera menuju desa sore ini, ancam mereka, mungkin tikus purnama akan keluar mengaku.”


“Itu bukan cara yang bijak, yang mulia Baginda,” sela Mpu Moro.


“Sudahlah! Apa kau ingin menyiakan kesempatan dari para bajingan penguasa itu? Setidaknya aku tidak perlu repot menuju Nusantara.”


“Yang hamba khawatirkan adalah keutuhan kerajaan ini yang mulia,” kata Mpu Moro dengan suara serak pelan. “Bagaimana jika pasukan bulan purnama justru menjadi musuh yang berbahaya untuk kerajaan ini?”


“Kita punya Kerajaan Nusantara sebagai sekutu.”


“Apa sekutu itu telah mempedulikan kita selama ini ayahanda?” Ruswara kini berbicara, setelah mengamati begitu lama. “Apa kehormatan untuk Tarlingga diperoleh dengan menebar ancaman pada rakyat kita?”


“Adik, kata-katamu semakin buruk serupa dengan wajahmu,” Mahendra mulai jengkel.


Kata yang diucapkan Mahendra itu utuh melekat dalam benaknya. Ruswara menggigit bibirnya, dia tidak ingin emosinya pecah menodai aula suci tempat para leluhurnya berunding demi rakyatnya bertahun-tahun silam.


“Sekarang katakan kakahanda, apa engkau ingin menjadi pangeran yang dibenci?” tanya Ruswara.


“Apa yang kau takutkan dari kebencian orang-orang kotor itu? Mereka berdiri di tanah Tarlingga, selama kita yang memegang kendali, kita penguasa mereka!”


“Kurasa cukup,” Welino tidak tinggal diam.


“Apa yang kau inginkan adikku yang buruk rupa? Kau ingin menjadi raja? Kau tidak akan bisa! Akulah putra pertama!”


Mahendra berlutut sambil menyeringai, “Baik ayahanda, aku akan menemui para penduduk itu. Jika aku berhasil menemukan mata-mata itu, haruskan aku menyeretnya menuju halaman istana ayahanda?”


“Terserah padamu, jangan sampai dia mati sebelum kau mengetahui dimana Nirmala disembunyikan.”


Mahendra berdiri, dia memerintahkan beberapa prajurit untuk mengawalnya menuju desa, “sampai jumpa lagi, adik bajingan.”


Ruswara memandang Raja Sanjaya seolah berharap ayahnya membuka hati.


“Ayahanda....”


“Cukup, aku akan kembali ke ruanganku,” dia bangkit meninggalkan ruang aula dengan langkah terhuyung-huyung sambil menggengam kendi tuak.


Di belakangnya Mpu Moro mengikuti, sambil menghadap Ruswara, dia menggeleng-gelengkan kepala, matanya berkaca-kaca seolah air mata hampir menitik.


Senyum kecut mencuat dari bibir Ruswara, dia merasa jengkel, di tatapnya langit-langit aula itu yang megah, dengan berbagai ukiran-ukiran pahatan dengan motif beragam. Istana itu terlihat mewah dan kuno, tetapi sedang dilanda sakit yang luar biasa.


“Welino, aku akan mengunjungi putra Pancha, Aku mohon awasi Mahendra apabila dia bertindak berlebihan, engkau tahu harus menemuiku dimana,” serunya.


“Hamba siap melaksanakan.”


Sementara ini Ruswara ingin mengesampingkan Mahendra, dia teringat tentang putra Pancha. Ruswara lalu berkuda dari istana menuju rumah Pancha di pinggir desa. Dilihatnya pemuda yang lebih tua sepuluh tahun darinya itu sedang membersihkan kotoran ternak. Pakaiannya hanya berupa kain tenun kotor yang mengikat pinggangnya. Wajahnya muram dengan alis mata tebal, bekas luka arit melintang dari kedua lengannya.


Pemuda itu lantas langsung menundukkan kepala sambil setengah berlutut, tetapi raut kesedihan terpancar dari wajahnya. Dengan lirih dia berkata, “Mohon maaf atas keadaan ini, ada yang bisa hamba bantu wahai Mahamantri Ruswara?”


“Tidak masalah, apakah benar engkau adalah Wira putra pertama Pancha?”


Wira nampak tidak nyaman dengan hal itu, dia mengernyitkan dahinya. Namun, citra Ruswara bagi penduduk desa sangat baik dan harum, membuat Wira menarik senyum kecil.


“Benar sekali Tuan, silakan mampir ke dalam, di luar sini bau ternak kami sangat menganggu.”


“Terima kasih.”


Sewaktu tiba di dalam ruangan sederhana itu, Ruswara mengamati beraneka perkakas ternak mengantung di dinding, seperti  arit, garpu cangkul, dan golok sembelih. Sama seperti rumah-rumah pedesaan lainnya, lantai rumah Pancha hanya berupa pasir-pasir tanpa alas. Selama keheningan itu, Wira terus mengintip Ruswara dengan ragu-ragu.


“Sesungguhnya kedatanganku untuk menyampaikan kabar baik tentang ayahmu.”


Kemuraman itu kembali mendatangi wajah Wira, “Saya sudah ikhlas.”

__ADS_1


“Tidak, belum saatnya engkau mengikhlaskan Pancha.”


Sejenak kembali Hening menyibak menyeruak.


“Apa yang Tuan maksudkan?”


“Pancha masih hidup, berita kematian itu hanyalah pengecoh untuk kakakku,” ujar Ruswara. Diam-diam memperhatikan kelegaan yang terpancar samar dari wajah Wira.


“Terpujilah, terbekatilah anda Mahamantri Ruswara. Dimanakah bapak sekarang? Bagaimana keadaannya?”


Wajah Ruswara berubah tegang, “Lukanya kian membaik, hanya saja Pancha masih harus menetap dalam istana, keadaan kacau istana akhir-akhir ini bisa mengancam nyawa Pancha sekali lagi, bahkan penduduk lainnya.”


Wira membisu seolah memaklumi hal terjadi di lingkungan istana beberapa bulan belakangan, “Hamba tidak tahu bagaimana hamba harus membalas budi kebaikan anda Tuan.”


“Tidak, tidak. Aku tidak mengharapkan balas budi dari rakyatku di tengah derita ini,” Ruswara memandang Wira dengan tatapan sejuk. “Ada yang ingin aku tanyakan, tentang rahasia di desa.”


Wira mengertakkan gigi, perasaan campur aduk seketika berputar dalam benaknya. Wira lalu menghembus napas panjang, seolah sudah menduga perkataan itu.


“Apa bapak yang mengatakannya?” dia bertanya pasrah.


“Apa pun rahasia itu, percayalah hatiku berpihak untuk kalian, bukan pada kekuasaan ayahku.”


Wira tak henti-hentinya mengumbar kelegaan. Meskipun ada percikan ketakutan terbesit, dia mempercayai Ruswara.


“Hamba takut akan ada pemberontakan dalam waktu dekat Tuan.”


Ruswara tersenyum tipis berusaha tidak terkejut, dia sadar pergejolakan di Tarlingga tentunya akan memantik benih-benih perlawanan.


“Sudah dipastikan?”


“Belum, tapi mereka berbisik-bisik tentang perkakas-perkakas tajam,” balas Wira. “karena itu aku sibuk mengasah perkakas itu beberapa hari ini.”


“Jangan lakukan dulu selama Mahendra masih di lingkungan istana.”


“Sayangnya aku tidak bisa meredam kebencian mereka, Tuan.”


Ruswara mengigit bibirnya, “Sejujurnya aku pun berniat seperti itu, tapi keadaan selalu berputar seperti pusaran. Ada hal yang terjadi sama kacaunya di Nusantara.”


Wajah Wira menunjukan ketertarikan.


“Tentang apakah itu Tuan?”


“Putri Nirmala diculik oleh sekelompok penentang.”


Wira terbelalak, seketika jemarinya bergetar, “Tuan Wikrama berhasil.”


“Sudah kuduga. Kau dan Pancha menyimpan rahasia lain.”


Wira menghela napas panjang, dia tidak ragu pada Ruswara seperti dia mempercayai Wikrama dari tempat yang sangat jauh.


“Aku... adalah mata-mata pasukan bulan purnama.”


Ruswara tidak menjawab, tetapi dia hanya mengangguk pendek. Keselarasan ini bagaikan mekar kuncup bunga mawar yang menyerbakkan harum. Manakala dirinya merasa sendiri di tengah carut marut politik negerinya, kabar sedap itu datang bagaikan sebuah tembang penantian.


“Apakah Pancha juga termasuk mata-mata?”


Wira tampak shock mendengarnya, dia mencari cara tepat untuk menjelaskan pada Ruswara, “Sesungguhnya benar adanya Tuan. Tersebarnya pasukan bulan purnama di penjuru negeri ini tiada lain untuk mengumpulkan sekutu dalam tujuan yang lebih besar.”


Ruswara seketika takjub, “Untuk menggulingkan Tarlingga?”


“Kerajaan Nusantara,” wajah Wira berubah cerah, lalu kembali melanjutkan, “Selama ini pasukan bulan purnama membantu keuangan kami melalui keping-keping uang yang diselundupkan dari merpati pembawa pesan, meskipun tidak banyak tetapi cukup untuk menutupi upeti kami yang tinggi.”


Seringai masam terpancar dari wajah Ruwara, dia dapat merasakan ketidaknyamanan gerik Wira, “Jadi pesan-pesan apa yang selalu engkau sampaikan untuk sang pemimpin bulan purnama, siapakah tadi? Wikrama?”


“Misi rahasia untuk membuat Tarlingga mengkhianati Raja Mahardhika.”


Ruswara mendesah, “Bahkan raja dari semua raja memiliki musuh bayangan yang mengerikan.”


Ayahanda tidak akan punya nyali untuk hal itu, kecintaan dan kepeduliannya telah hanyut tenggelam oleh arak-araknya. Jika memang pasukan itu bisa menjadi sekutu yang lebih baik dari Nusantara, mengapa kita tidak mengambil kesempatan itu?


Wira memiringkan kepala, gemetar tangannya mulai muncul, “Apa Tuan Ruswara sungguh memihak kami?”


Ruswara tersenyum, “Aku tidak tertarik dengan takhta megah Nusantara, tidak juga dengan dinding istana yang kokoh,” Ruswara berdiri dari duduknya. “yang aku inginkan saat ini, membebaskan derita rakyakku di tengah kemarau ini dan membebaskan mereka dari kekuasaan yang penuh dusta. Jika memang pasukan bulan purnama bisa menjadi sekutu yang handal, aku akan berdiri bersama kalian untuk meraih keadilan yang pantas di benua ini.”


Wira kemudian berlutut, dia merasa sangat terharu, “Sungguh anda lah yang pantas memimpin negeri ini wahai mahamantri Ruswara.”


Akhirnya, Ruswara merasa telah tiba waktunya untuk berpamitan, “Aku pamit dulu. Beristirahatlah Wira, aku akan menemui Pancha dan mengabarkan ini padanya.”


Setelah berpamitan Ruswara bergegas memacu kudanya kembali menuju istana, derap langkah kudanya meninggalkan kepulan debu di sepanjang jalan yang dilewati. Di langit biru yang bersih tanpa mendung yang dirindukan, ada sebuah hujan yang akan turun segera di atas tanah-tanah tandus. Bukan hujan air, tapi hujan keadilan.


 

__ADS_1


***


__ADS_2