
Dimana aku?
Nimala membuka mata, pupil mata perunggunya nampak berkilau. Dia terpejam cukup lama, bahkan lebih lama dari tidurnya yang lelap. Cahaya di sekelilingnya remang, berasal dari cahaya obor kecil yang menggantung di dinding. Dia tidak berada di dalam kamar, dinding ini kasar, seperti bebatuan yang bergerigi. Alasnya cukup tipis, terbuat dari rajutan jerami yang berpilin sampai setebal dua ruas, cukup hangat. Batu-batu stalagmit tajam mencuat dari langit-langit seperti deretan taring yang meneteskan air dengan irama sama.
“Putri Nirmala sudah sadar,” kata seorang pemuda yang duduk diantara celah-celah stalagtit.
Awalnya, dalam pandangan Nirmala wajah pemuda itu terlihat samar-samar, tetapi setelah Nirmala menggosok matanya dan bersimpu, dia mengenali sang pemuda. Pemuda itu Wikrama. Kali ini Wikrama mengenakan gelang-gelang berwarna perak, dan sebuah kalung berwujud harimau yang berkilauan karena pantulan cahaya obor dinding yang berkelip. Rambut Wikrama di gerai sampai pinggang, kemilau hitamnya surut oleh sinar redup, hanya luka sayatan di tubuhnya yang terpampang jelas.
“Dimana aku? Apa yang terjadi?”
“Aku yakin banyak pertanyaan yang muncul dari benak Tuan Putri saat ini,” Wikrama mendekati Nirmala dan menyuguhkan satu cangkir berisi air jernih. Nirmala enggan menerima, Wikrama lalu tersenyum dan menaruh cangkir itu di sebelah Nirmala. “Gua ini adalah tempat aku bernaung, lebih tepatnya bertapa.”
“Aku tidak berada di istana?”
“Tidak Tuan Putri.”
Jawaban itu terdengar singkat, tapi Nirmala mencoba menelaah jauh ke belakang. Dia mengingat saat-saat terakhir dirinya berada di halaman istana. Sewaktu tubuhnya lemas dan perutnya mual, dia mulai hilang kesadaran dan semua menjadi gelap. Perlahan semua ingatan yang samar menjadi semakin jelas. Seseorang tidak membawanya kembali menuju istana, melainkan membawanya pergi cukup jauh.
“Kalian menculikku.”
“Hamba mohon tenang, Tuan Putri,” jawab Wikrama, menduga reaksi Nirmala.
Seketika bulu kuduk Nirmala meremang, dia bergerak mundur hingga punggungnya membentur dinding gua yang kasar, kulitnya terasa ngilu.
“Dimana aku? Cepat bawa aku kembali, atau pengawalku akan menghukum kalian!”
“Sayangnya tidak ada yang bisa menghukum siapa pun di sini. Aku bisa menjelaskan ini Tuan Putri, asalkan Tuan Putri tenang, kumohon minumlah.”
Nirmala menoleh dengan waspada, dia berpikir untuk lari saat ini juga. Apakah itu mustahil? Pikirnya gugup.
“Tidak perlu dijelaskan, aku sudah mendengar semua tentang kalian dari Ihsya! Kalian adalah pasukan bulan purnama. Kalian adalah pemberontak, pengkhianat bagi ayahku dan kejayaannya. Kalian menculikku untuk membalas dendam? Sungguh itu adalah cara pengecut dari para pasukan musuh ayahku.”
Wikrama tertegun mendengar pernyataan itu, tetapi tidak ada amarah yang muncul, justru Wikrama memandang Nirmala dengan kagum.
“Setidaknya kebohongan itu yang mereka ajarkan padamu wahai Tuan Putri.”
Nirmala merasa gelisah, “Apa yang kalian inginkan dariku?”
Sebelum menjawab pertanyaan itu, Wikrama berdiri, dia meraba bekas luka sayatan di badannya. Bekas luka itu seolah berdenyut, membawa Wikrama pada kenangan-kenangan masa lalu.
“Luka ini telah sembuh bertahun-tahun lamanya, tapi setiap malam aku selalu merasakan sayatan itu, hangat dan basah seakan terjadi baru kemarin, tepat seperti lima belas tahun lalu.”
Perhatian Nirmala tertuju lagi pada luka Wikrama. Wikrama berdiri layaknya seorang prajurit di istananya, tangguh dan gagah. Sebenarnya Nirmala tidak ingin mengetahui asal luka itu, tapi tubuhnya bagai membeku, dia akhirnya mendengarkan.
“Ayahmu, Mahardhika mengirimkan pasukan-pasukan berkudanya setelah kemenangan di pertempuran dewa mengalahkan Raja Dotulong. Para pasukan berkuda diberi perintah untuk membantai, membunuh dan membakar desa-desa penentang sebagai peringatan dimulainya dinasti baru. Ayahku, Purnapana yang pada saat itu dipenuhi rasa bersalah tidak sanggup melindungiku. Dia menyesali hari-hari setelahnya sebagai kegagalan yang tak termaafkan, dia merasa telah gagal menjaga keluarga Dotulong. Sayangnya, aku sebagai yang tersisa dari Kerajaan Temaram, berhasil ditemukan. Aku pada saat itu berumur lima tahun terpaksa harus berlari menghindari pasukan-pasukan kuda hitam dari ayah anda.”
Nirmala memandang telapak Wikrama yang mengepal, dari jarak yang cukup dekat Nirmala dapat merasakan ketegangan cerita Wikrama.
“Satu hal yang terakhir kuingat, aku melucuti keris salah satu prajurit semudah memetik buah pisang. Tapi Dewa berkehendak lain, mereka prajurit dewasa, dengan satu sabetan keris aku tidak bisa melawan lagi. Kurasakan dadaku terasa panas dan basah, mungkin hari itu seharusnya menjadi hari terakhirku. Anehnya, dewa belum menginginkanku mati, aku mendengar ayahku datang, dengan wujud cindakunya, dia mengoyak perut mereka seperti membajak lumpur padi.”
“Membantai? Membakar desa?” Nirmala berkata dalam bisik parau, dia mencoba tidak mempercayai Wikrama, pemuda itu baru saja ditemuinya di hari penamaan dirinya. “Ayahku bukanlah orang yang kejam.”
“Tidak kejam ketika dia berada di singgasananya, bahkan di dampar kencananya. Ayahmu adalah raja gila yang haus kekuasaan, darah dewa telah merubah dirinya bagai malam berubah menjadi siang.”
“Tapi cerita yang kudapat...”
“Cerita itu penuh kebohongan, bahkan untuk seorang dayang. Mereka telah hidup dalam kemewahan istana yang rapat, sama sepertti halnya dirimu wahai Tuan Putri. Mereka tidak pernah tau dunia luar. Sang raja menyembunyikan kebenaran itu dari seisi istana untuk menutupi tujuan-tujuannya yang besar, ambisinya lebih mengerikan dari siluman tergelap sekalipun.”
“Aku tidak mempercayainya!” tukas Nirmala dengan berani.
“Bagaimana dengan arena jawara? Kau melihat sendiri bagaimana ayahmu menikmati pertarungan itu seolah itu adalah tarian-tarian hiburan makan siang. Lagipula, aku tidak menuntut anda untuk percaya saat ini juga, wahai Tuan Putri, kami memiliki tujuan lain.”
Benar, tentang arena jawara aku setuju itu, pikirnya meskipun Nirmala enggan untuk menyetujui.
“Kalau kalian ingin membunuhku cepat lakukan! Itu yang kalian inginkan tentunya.”
Wikrama menggeleng sedih.
__ADS_1
“Membunuh anda bukan cara yang ingin kami tuju, Tuan Putri. Ada hal-hal lain yang lebih berharga daripada harus membunuh anda. Alasan itu yang membuat kami memilih untuk membawa anda.”
Nirmala bergerak gelisah.
“Anda adalah satu-satunya keturunan Mahardhika yang mewarisi darah kakek anda Dewa Ganesha. Rambut indah anda yang sewarna perunggu itu adalah bukti bahwa anda pewaris kekuatan sah sang raja. Bagi Raja Mahardhika keberadaan anda harus dilindungi sedemikian rupa karena anda adalah ketakutannya sendiri.”
“Ayah takut padaku?”
“Benar, takut dalam harfiah tertentu.”
“Aku sungguh tidak mengerti,” Nirmala mendadak ingin menangis.
Wikrama lalu mendekati Nirmala dengan perlahan dan mengangkat satu telapak tangan Nirmala. Seketika pipi Nirmala merona, dia tidak ingin salah paham. Wikrama menarik sebilah keris dari dalam sarung yang menggantung di pinggangnya, dengan gerakan lamban mengiris telapak tangan Nirmala. Nirmala terlonjak kaget hingga cangkir di sebelahnya terjatuh dengan bunyi gemerincing yang menggema. Dia menyingkirkan telapak tangannya menjauhi Wikrama.
Namun, keterkejutannya itu hilang sewaktu dia mengamati telapaknya. Kulit arinya masih sehalus seperti sebelumnya, tidak ada darah bahkan guratan.
“Daging anda sekeras permata dan kulit anda sehalus sutra,” Wikrama kemudian menyarungi kembali kerisnya. “Tidak ada yang bisa melukai tubuh anda kecuali dua hal, sihir tenaga dalam dan taring cindaku.”
Nirmala tidak bisa berkata apa-apa selain menyaksikan Wikrama yang berjalan kembali ke tempat duduknya di antara stalaktit tajam.
“Aku akan menjawab beberapa pertanyaan anda Tuan Putri. Pertama anda berada di markas kami. Gua ini bertempat di kaki Gunung Majalaya, jauh di Utara dekat dengan Hutan Mustika Raja. Gua ini adalah bekas peninggalan kakekku, mereka adalah petapa tangguh yang merenungkan kekuatannya di dalam gua ini. Alasan kami menculik anda adalah karena anda adalah harapan kami, anda yang mengetahui semua tentang isi dari Istana Nusantara, pelayan dan prajurit tangguh serta kelemahannya. Selain itu, menjauhkan anda dari sang raja akan membuatnya rapuh, Mahardhika akan takut kekuatan anda di salah gunakan...”
“Jangan harap kalian bisa membuatku berkhianat!” Nirmala bersikeras.
“Anda tidak akan berkhianat, tapi aku ingin Tuan Putri melihat kejadian sebenarnya di luar istana. Tuan Putri akan mempelajari itu semua dan berhak memutuskan siapa yang benar dalam perang ini.”
Nirmala menimbang-nimbang, entah mengapa dalam lubuk hatinya, Nirmala tidak merasa Wikrama ancaman yang membahayakan. Nada suara Wikrama selembut nyanyian-nyanyian istana.
Dari lorong gua yang remang-remang, muncul Wyat. Dia menggunakan ikat kepala berbahan kain berwarna putih sewarna gelang yang digunakan Wikrama. Poninya hampir menutupi setengah matanya, tapi Nirmala dapat merasakan sorot matanya yang waspada. Wyat lalu menunduk hormat pada Nirmala, “Hormat hamba Wyat, pemangku dan tangan kanan Tuan muda Wikrama.”
“Bagaimana?” Tanya Wikrama tanpa basa-basi tertuju pada Wyat.
“Merpati pesan sudah tiba Tuan muda, ada tiga berita yang telah sampai. Pertama keberadaan ayah anda Purnapana masih belum diketahui. Para pendekar bulan purnama menduga Tuan Purnapana masih belum tiba di Mayakarsa, mereka juga tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Toro sang wakil panglima prajurit Nusantara di daerah Candi Takas. Hamba menduga Toro tersesat atau...”
“Dikalahkan ayahku,” potong Wikrama, dia terlihat khawatir dan mengusap-usap dagunya. “Toro sudah diperintahkan memburu ayahku sejak satu tahun lamanya. Bagaimanapun dia masih prajurit seumur bayi, gelar-gelar dan selendang panjinya tidak sebijak pemikirannya.”
“Semoga dewa keberuntungan memberkati Tuan Purnapana,” Wyat menambahkan.
“Dewa masih merahasiakan takdir itu Tuan muda.”
“Jika memang anak itu masih hidup dan tumbuh dewasa, dialah yang akan mengguncang Zamrud ini, dia adalah anak Dotulong, aku akan berada di sisinya saat nama dia menggema di benua ini.”
Dengan nada tenang Wyat melanjutkan, “Berita kedua dari mata-mata kita di Tarlingga, sepertinya sulit mengambil hati sang Raja Sanjaya, kerajaan itu pun sedang dilanda carut marut politik akibat kemarau yang panjang. Tapi ada hal yang bisa di pastikan dari Tarlingga.”
“Apa itu?” Wikrama tidak berkedip.
“Keberadaan iblis gelap itu Tuan, tentang....”
“Jangan sebut namanya di sini,” Wikrama mengangkat tangannya. “Jika memang Raja Sanjaya masih berpihak pada Nusantara, kita harus segera menarik mata-mata kita dari Tarlingga, aku tidak ingin mereka berlama-lama di sana. Tanah Timur dikutuk, aku sangat khawatir pada mereka, Wyat.”
Wyat tergelak, pandangannya kini tertuju pada Nirmala yang sedari tadi menyimak dengan gugup, “berita terakhir datang dari Djayamantara. Sepertinya kabar menghilangnya Putri Nirmala mulai tersebar, raja mulai mengerahkan separuh pasukan untuk mencari Nirmala.”
Wikrama tersenyum, “Semua berjalan sesuai rencana. Siapa pemimpin para prajurit pencari itu?”
“Sri Sekar, putri kedua Mahardhika.”
“Luar biasa, bagaimana usaha dan rencana kita selama ini berhasil membuat dua keturunan Mahardhika keluar dari istana. Aku peringatkan, kita tetap harus berhati-hati. Sri Sekar memang seorang perempuan, tapi kekuatan beladirinya setara dengan panglima prajurit Nusantara. Jangan terkecoh dengan parasnya.”
“Kalian memang licik!” Nirmala menyela. Wikrama dapat melihat pupil perunggu Nirmala berkaca-kaca.
“Percayalah Putri Nirmala, kami tidak akan membunuh Sri Sekar seperti Mahardhika membunuh hampir seluruh keluarga Kerajaan Temaram.”
“Pendusta!”
Udara napas Wikrama keluar dalam hembusan panjang, dia berdiri dan mendekati Nirmala, “Ikut aku, akan aku ajak anda berkeliling di sekitar pemukiman kami. Aku tidak menganggap anda sebagai sandera, Tuan Putri adalah tamuku, tamu kami.”
Nirmala diam sejenak, dia nampak ragu, lalu akhirnya menjawab, “Jauhi aku, tinggalkan aku.”
__ADS_1
“Itu terserah pada anda Tuan Putri, jika memang anda menolak, aku dan Wyat akan meninggalkan anda di sini, dan tentu saja jangan berpikir untuk melarikan diri. Mulut gua ini dijaga oleh para pendekar terbaikku, mereka akan dengan mudah menangkap anda. Seandainya anda tertangkap nantinya terpaksa aku akan mengikat tangan anda untuk hari-hari selanjutnya, dan jika anda berhasil kabur, hutan di seberang sana membentang seratus kali luas Istana Nusantara. Tuan Putri akan tersesat di dalam keajaiban Hutan Mustika Raja, anda mau mencoba?”
Bulu kuduk Nirmala menegak, ancaman Wikrama membuatnya merasa ngilu. Ini pertama kalinya Nirmala berada di luar Istana, bahkan dia berada di jarak yang sangat jauh yang tidak dia kenal. Nirmala memang berhasrat untuk pergi keluar istana, tetapi bukan sebagai sandera. Dia ingin bebas, berpijak pada rumput-rumput yang terlihat hijau yang membentang dari jendela di kamarnya, dia ingin melihat sungai deras memercikan air-air sejuk membasahi wajahnya. Tentu terkurung dalam gua yang gelap seorang diri bukan pilihan yang dia hendaki saat ini.
“A-aku tidak mau.”
Wikrama tersenyum lagi, “setangguh apa pun dirimu, kau tetaplah putri kerajaan bukan seorang pendekar.”
Mereka akhirnya berjalan menyusuri lorong gua. Seiring berdetaknya waktu, lebar gua semakin bertambah sedikit demi sedikit. Setelah berjalan hampir sepuluh menit, Nirmala dapat melihat cahaya dari sebuah ruangan gua yang cukup besar. Matanya terasa gatal sewaktu berkas cahaya luar gua menyelinap masuk melalui celah luar. Dia lalu mengerjap.
Perasaan kagum dan suka cita merayapi tubuh Nirmala, napasnya berubah menjadi uap putih di udara pagi yang dingin. Perbukitan hijau membentang di hadapannya bagai patung-patung kuno sementara cahaya keemasan mulai merayapi padang rumput di bawahnya.
Nirmala menuruni tangga batu menuju sebuah pemukiman yang tidak jauh dari bibir gua. Wikrama turun lebih dulu, disusul oleh Nirmala, sedangkan Wyat beserta dua prajurit pengawal turun menyusul di belakang Nirmala. Sewaktu menuruni tangga batu, Nirmala dapat merasakan hutan di sekelilingnya berbau tanah lembab.
Di hadapannya kini berdiri sebuah gapura berbahan kayu jati setinggi tiga hasta. Pada ujung tiang itu terpahat ukiran wajah harimau mengaum. Pagar-pagar di samping gapura bersusun dengan jarak tidak sama, pagar-pagar itu diikat dengan simpul tali berbahan serabut kulit kelapa. Anak-anak kecil nampak berkeliaran sambil mengejar satu sama lainnya, mereka tidak beralas kaki dan hanya menggunakan sarung berbahan kain tenun. Sewaktu menyadari kedatangan Wikrama beserta seorang Putri berambut perunggu, mereka segera bersembunyi di balik batang-batang pohon, mengamati dengan curiga.
“Selamat datang di Desa Wangsa Tuan Putri, atau anda bisa menyebutnya kemah para pasukan bulan.”
“Kenapa mereka takut padaku?” tanya Nirmala, sewaktu dia berjalan melewati pepohonan tempat anak-anak itu bersembunyi.
“Mereta takut dengan simbol yang anda bawa,” Wikrama menunjuk simbol matahari berwarna perunggu yang terpampang pada selendang Nirmala. Mereka anak yatim piatu, ayah ibunya telah gugur sewaktu ekspansi ayah anda di Utara. Dalam benak mereka, simbol itu menjadi teror untuk kehidupan mereka.”
“Apakah itu benar?”
Wikrama hanya membalas pertanyaan Nirmala dengan senyum.
Di sebelah Barat rumah-rumah berdinding kayu papan berdiri, atapnya terbuat dari daun-daun kelapa yang kering, sebagian dicampur dengan jerami. Di halamannya terdapat ladang-ladang kecil berupa ladang jagung, pepaya dan sawi-sawian. Orang-orang membungkuk ketika Wikrama melewat yang dibalas Wikrama dengan sapaan lembut.
Pemukiman itu tidak padat tapi terlihat sibuk. Orang tua dan anak-anak, lelaki besar dan kecil bertelanjang kaki. Ada seorang menuntun seekor lembu menuju alang-alang yang telah dipangkas. Sebagian besar diantara mereka berjalan kaki, hanya beberapa yang menaiki gerobak berisi hasil panen sayuran. Wajah para orang dewasa menampilkan ekspresi suram sewaktu Nirmala melintas. Namun, ada juga yang tertegun, mengagumi kecantikan paras serta kemilau perunggu rambut dan matanya.
“Kebanyakan dari mereka bukan seorang pendekar atau petarung. Mereka hanya orang-orang yang ditinggalkan dari mereka yang dulu hidup sebagai penentang sang raja. Awalnya para pendekar bulan purnama hanya membangun tenda-tenda untuk mereka, tapi semakin lama mereka hidup mandiri, bahkan mendirikan rumah sederhana, membesarkan ternak yang dijinakkan dari hutan, dan menanam sayur-mayur.”
Wikrama kemudian membalas senyum sejenak sewaktu melewati sekumpulan petani-petani yang sedang mengarit alang-alang liar. Dia melanjutkan, “Kami bersyukur apa yang kami lakukan untuk mereka berdampak jauh lebih besar dari apa yang aku bayangkan.”
Namun tiba-tiba seorang perempuan tua bermata cekung, meneriaki Nirmala dari pinggir jalan. “Putri kotor! Putri pembantai keparat! Kemilau rambutmu tidak ada artinya di sini, lebih baik kau lumuri rambut itu dengan lumpur!”
Nirmala berpaling, dia merasa hina, sesaat dia ingin menangis, tapi dia mencoba tegar. Nirmala berusaha memaklumi, cacian itu bisa berasal dari rasa dendam musuh-musuh ayahnya.
Wikrama merasa iba, dia mencoba menghibur, “anaknya mati di bunuh prajurit ayah anda sewaktu berumur dua puluh tujuh tahun di malam terakhir sebelum dia hendak menikah esoknya. Lebih menyedihkan ketika kami juga mengetahui calon istrinya diperkosa oleh para Prajurit Nusantara dan akhirnya di bunuh.”
Nirmala mengigit bibir, dia benar-benar tidak ingin mempercayai itu semua. Anehnya dia melihat ketulusan di balik kebencian mereka terhadap dirinya. Jika memang ayahku seburuk itu, mengapa selama ini aku tidak mengetahui dari para dayang, bahkan ibu tidak menyinggung sama sekali. Mpu Lodrok pun pintar menyembunyikan semua itu. Apa alasan itu benar adanya, sampai mereka harus mengurungku dalam istana megah. Demi menyembunyikan kebusukan kejayaan ayahku? Pikirnya sambil meringis.
“Kita tiba, di sanalah para Pendekar berlatih.” Kata Wikrama menunjuk ke arah lapangan di sisi utara desa.
Nirmala melihat sebuah tanah lapang yang cukup luas. Lapangan itu penuh dengan Pendekar bertelanjang dada. Sebagian sedang memanah sebuah boneka-boneka berbahan jerami di sisi Barat, sedangkan di Timur para pendekar berbaris dengan jarak sama membentuk barisan-barisan pola teratur, mereka saling berteriak serempak setelah melakukan satu gerakan beladiri.
Wikrama menepuk tangannya mengisyaratkan para pendekar untuk berhenti sejenak dari kesibukan berlatih. Nirmala lagi-lagi merasakan tatapan tajam tertuju pada dirinya. Kebencian dari para pendekar terasa berat bagaikan anak panah yang hendak menghujam jantungnya.
“Mulai hari ini Putri Nirmala adalah tamu, perlakukan dia selayaknya tamu, lindungi Tuan Putri seperti kalian melindungi Desa Wangsa,” ucap Wikrama sambil memandang ke seluruh pendekar di hadapannya.
Para pendekar balas membungkuk, tapi Nirmala merasa tekanan itu tidak kunjung hilang.
“Apa semua pendekar bulan purnama bisa berubah menjadi cindaku?” tanya Nirmala mencoba mengalihkan.
Para pendekar terbelalak. Ada perasaan cemas, curiga, dan khawatir. Untuk mengatasinya, Wikrama segera tersenyum dan menjawab, “Sayangnya tidak ada, cindaku terakhir satu-satunya adalah ayahku. Ilmu itu tidak bisa di turunkan dalam satu malam kecuali anda memiliki tekad keadilan yang tinggi. Ayahku pun tidak berniat menurunkan ilmu itu padaku, tapi aku mengerti satu hal,” Wikrama menarik napas panjang sambil mencengkeram kalung dengan liontin harimaunya. “Luka hatinya terlalu dalam, dia ingin menanggung semua beban itu sendiri. Bagaimanapun wujud cindaku adalah api dari kelompok kami, aku tetap menghormati keputusan ayahku seperti aku menghormati para leluhurku.”
Nirmala takjub, menurutnya selama ini cindaku hanyalah sosok siluman pembunuh, bahkan menjadi teror dari Benua Zamrud serta bayang-bayang iblis di wilayah Utara. Kisah-kisah itu seperti dongeng kelam masa lalu yang diceritakan oleh manusia yang berhasil bertahan hidup.
“Dari sini kita akan berpisah sejenak Tuan Putri, aku akan melatih para pendekar. Wyat akan mengantarkan Tuan Putri kembali ke gua, sementara hanya itu tempat teraman yang bisa ku janjikan untuk Tuan Putri saat ini.”
“Mengapa aku harus kembali ke gua? Kau bisa mengurungku di gudang atau rumah tidak berpenghuni, tidak di gua gelap itu lagi.”
“Itu pilihan terbaik dari Tuan muda,” Wyat kini menjawab, suaranya lebih tegas dari Wikrama. Wyat tidak menganggap permintaan Nirmala adalah kelancangan. Wyat menatap Nirmala Khawatir, “sebagian penduduk desa membenci anda, bahkan mereka bisa saja menggorok leher anda di malam buta. Meskipun leher anda tidak akan putus sama sekali, itu bukan cara kami memperlakukan anda.”
“Aku mengerti.”
Benci.. benci.. aku benci.. mengapa aku selalu terkurung, tidak dalam tembok kokoh atau dalam tembok rapuh. Siapa lagi yang bisa aku percaya? Tak sanggup aku berdiri di hadapan iblis maupun dewa, kini aku hanya menjadi serpihan takdir yang tidak pasti.
__ADS_1
***