
Di perjalanan Selly bingung karna jalan yang di tuju bukan jalan pulang ke rumah Selly.
"Bram kita mau kemana?" ucap Selly.
"Kita ke rumah ku ya, kamu kan tidak pernah ke rumah ku dan aku juga tidak menerima penolakan." jawab Bram dengan tetap fokus menyetir.
Selly hanya terdiam mendengar jawaban Bram, bagaimana dia mau menolak kalau Bram saja sudah bilang seperti itu.
Sesampainya di rumah Bram, Bram pun menyuruh Selly masuk ke dalam rumah Selly pun mengikuti langkah Bram.
"Duduk disini dulu biar aku suruh bibik buatin minum, aku mau ganti baju dulu" ucap Bram, Selly pun hanya mengganggukan kepala.
Bram berjalan meninggalkan Selly, Selly yang merasa bosan karna sendirian ia pun menyalakan televisi yang ada di ruang tamu. Saat Selly sedang asik menonton televisi ada seorang perempuan paruh baya yang datang menghampirinya dengan membawa minuman dan cemilan.
"Silahkan dinikmati non." ucapnya.
"Trimakasih bi." jawab Selly.
Orang tersebut pun pergi, Selly pun memakan cemilan tersebut sambil tetap fokus menonton televisi. tak lama kemudian Bram datang menghampiri Selly lalu duduk di sebelah Selly.
"Sell maafin aku" ucap Bram tiba-tiba.
"Maaf untuk apa?" ucap Selly tatapannya masih fokus menonton acara televisi.
"Maaf kalo aku belum bisa buktiin kalo aku beneran serius sama kamu" ucap Bram lalu memegang telapak tangan Selly.
"Tidak perlu dibuktikan, fokus saja sama Sinta aku tidak masalah kok" ucap Selly lalu memandang Bram dengan senyuman.
Selly begitu pintar dalam menyembunyikan perasaannya, ia mampu terlihat senyum tapi sebenarnya ia tidak rela jika harus mengikhlaskan Bram dengan wanita lain.
"Aku sungguh tidak ada apa-apa dengan dia Sell" ucap Bram menjelaskan. "Apa perlu aku telfon dia agar dia ke rumah ku dan menjelaskan sendiri" lanjutnya.
"Yang dia bilang waktu di taman itu sudah cukup jelas kok buat aku" ucap Selly lalu memalingkan wajahnya ke arah televisi lagi.
Bram hanya terdiam, ia tahu betul kalo Selly tipe orang yang susah percaya. Bram pun berdiri dari duduknya lalu menuju dapur untuk mengambil minum.
Singkat cerita karna ini sudah mau sore Selly pun berniat mau pulang.
"Bram aku mau pulang." ucap Selly.
"Nanti saja sekalian kita cari makan malam di luar" jawab Bram, kini Bram sedang mengerjakan file kantornya di samping Selly.
"Tapi Bram aku ingin mandi." ucap Selly.
"Mandi di sini saja" jawab Bram singkat.
__ADS_1
"Aku kan gak bawa baju ganti."
"Aku sudah menyiapkan untuk mu naiklah ke kamar ku, ada di lantai atas pintu kedua yang ada di tengah" ucap Bram.
Selly pun hanya diam menatap Bram lalu berdiri berjalan menuju kamar Bram yang sudah dijelaskan tadi. Sesampainya di pintu yang di maksut Bram, Selly pun segera masuk saat ia masuk Selly menemukan gaun dress warna pink ia pun membawanya masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi Selly duduk di dekat meja yang di letaki banyak sekali parfum, ia pun merapikan rambutnya lalu mengambil sedikit parfum Bram untuk di oleskan di bajunya.
'hmm harumnya' gumam Selly saat mencium bau parfum Bram.
Setelah Selly merasa dirinya sudah rapi ia pun menghampiri Bram lagi di lihatnya Bram masih fokus dengan pekerjaan kantornya.
"Masih banyak Bram pekerjaan mu?" ucap Selly.
"Tidak kok, sebentar lagi selesai"jawab Bram.
Selly pun menunggu Bram dengan fokus menonton televisi lagi, saat Selly sedang menonton televisi Rio menelfonnya. Selly yang melihat ada panggilan dari Rio pun ia melirik ke arah Bram seolah ingin meminta izin untuk mengangkat telfon.
"Angkat saja tidak apa" ucap Bram.
Selly pun mengangkat telfon tersebut ia masih duduk di samping Bram.
"Hallo Rio, ada apa?" ucap Selly tanpa basa basi.
"Baik kok." jawab Selly singkat.
"Ayo kita keluar malam ini" ucap Rio mengajak Selly pergi.
"Tidak bisa aku sudah ada janji, sudah dulu ya Rio" ucap Selly.
"Baiklah."
Selly pun meletakkan ponselnya ia kembali fokus menonton televisi sambil sesekali melirik ke arah Bram yang terlihat sangat sibuk.
Waktu menunjukan pukul 19.00 Bram sudah selesai dengan pekerjaannya dia pun berniat untuk ganti baju.
"Aku ganti baju dulu sebentar ya" ucap Bram dan Selly hanya menggangukkan kepala.
Setelah Bram Selesai ganti baju, Selly dan Bram pun pergi menuju ke restoran untuk makan malam.
"Pelayan." ucap Bram.
pelayan itu pun datang menghampiri meja Selly dan Bram.
"Ini tuan buku menunya" ucap pelayan tersebut dengan sopan.
__ADS_1
"Emm beri saja kita menu spesial yang ada disini" ucap Bram lalu mengembalikan buku menu tersebut.
"Baik tuan, mohon tunggu sebentar" ucap pelayan tersebut lalu pergi meninggalkan Bram dan Selly.
Selly hanya diam mengamati yang ada di sekitarnya.
Tak berapa lama kemudian pelayan datang membawakan pesanan mereka berdua.
"Trimakasih" ucap Bram.
"Silahkan dinikmati tuan dan nyonya" jawaban pelayan tersebut.
"Saya masih nona" gerutu Selly.
"Oh maaf nona, silahkan dinikmati" ucap pelayan tersebut, Bram yang mendengar ucapan Selly hanya menahan tawanya.
Mereka berdua menikmati makan malam tanpa ada suara sedikit pun hanya saja mereka saling mencuri pandang.
Setelah selesai makan mereka berbincang sedikit.
"Bram kamu ada disini juga?" ucap seorang wanita yang tiba-tiba menghampiri Selly dan Bram.
"Sinta?" ucap Bram terkejut.
"Sayang aku kangen." ucap Sinta lalu memeluk Bram ia sengaja ingin membuat Selly cemburu.
"Sin lepasin." ucap Bram.
Sinta pun melepaskan pelukannya lalu melirik ke arah Selly.
"Kamu jadi cewek gak tau diri banget sih, suka banget ya jadi perusak hubungan orang." ucap Sinta lalu mendorong tubuh Selly.
"Sin kamu apa apaan sih" ucap Bram.
"Oh maaf mbak saya tidak bermaksut, saya permisi dulu" ucap Selly lalu pergi meninggalkan Sinta.
Bram pun ingin mengejar Selly tapi langkahnya ditahan oleh Sinta.
"Bram disini saja bersama ku" ucap Sinta sambil memeggang lengan Bram dengan erat.
"Lepasin Sin." ucap Bram sambil melepas tangan Sinta secara paksa.
Bram pun keluar dari restoran tersebut untuk mengejar Selly, sesampainya di luar ia melihat Selly masuk ke dalam taksi dan taksi tersebut sudah melaju dengan kecepatan sedang. Bram pun segera menuju ke parkiran mobilnya ia segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan ngebut mengejar taksi yang dinaiki Selly.
Di perjalanan Bram berusaha mengejar taksi tersebut tapi taksi itu juga semakin mempercepat lajunya, Bram pun menambah kecepatan mobilnya ia terus berusaha mengejar taksi tersebut sampai akhirnya ia berhasil menghadang taksi itu minggir ke kiri.
__ADS_1