
Tahun 2010.
Mall saat itu ramai dengan orang-orang yang mengerubungi seorang pesinden terkenal untuk meminta foto atau tanda tangan. Mereka para fans yang sudah tak sabar menunggu dan saat idola mereka muncul, mereka semua berebutan maju ke depan. Suasana jumpa fans itu jadi ricuh, berdesakan, saling himpit dan dorong. Bahkan sekuriti pun tidak bisa mengendalikan para fans pesinden tersebut. Melihat hal itu panitia memutuskan untuk menunda acara dan membawa pesinden itu keluar dari kericuhan.
Seorang ibu berjalan cepat sambil menggandeng tangan anaknya. “Ayo Neng* cepetan, kamu harus tahu pesinden ini … ini pesinden idola Ambu (Ibu; bhs. Sunda) loh … nanti kamu besar, kamu juga harus jadi pesinden kayak dia ya … ayo cepet jalannya atuh!” kata sang ibu menarik tangan anaknya. Anak perempuan yang masih kecil itu hanya mengikuti saja ditarik oleh ibunya.
*Neng adalah panggilan sayang orang tua ke anak perempuannya di daerah Sunda, Jawa Barat.
Sang ibu dan anak itu melihat semua orang sedang berusaha mendekati sang pesinden yang terlihat sudah tak nyaman dengan situasi ini. Sebagian orang yang berada di lantai atas mall juga memangil-manggil namanya, “Titi! Titi!” Pesinden itu hanya melambaikan tangannya. Ibu dan anak itu merangsek masuk di antara himpitan orang-orang. Sang anak tak menyukai kondisi ini. “Ambu pulang! Ambu hayuk pulang!” teriaknya tapi sang ibu tak memedulikan teriakan anaknya, ia terus menarik tangan anaknya hingga akhirnya mereka berhasil berada di hapadan pesinden itu.
__ADS_1
Sang ibu terkesima saat berada di depan idolanya. Ia memandangi idolanya itu dengan penuh kekaguman lalu menarik anaknya dan berkata gugup, “Teh Titi, idola abdi (saya) … mau berfoto bersama kami?” Pesinden itu melirik sekilas pada ibu dan anaknya kemudian menepiskan tangannya hingga menyenggol HP yang dipegang sang ibu hingga terlempar. Ibu itu terkejut lalu mencari HP-nya yang jatuh di antara kaki orang-orang tapi keramaian orang yang tak terkendali malah membuatnya terjatuh lalu menginjak-nginjaknya. “Ambuuuu! Ambuuu!” teriak sang anak.
Seorang sekuriti yang melihat itu segera menolong menarik sang ibu dan anaknya menjauhi keramaian yang bergerak mengikuti langkah sang pesinden terkenal itu masuk ke dalam lift kaca. “Ambu, Ambu,” anak itu memeluk ibunya yang rambutnya kusut, wajahnya kotor dan pakaiannya berantakan karena habis terinjak-injak. “Ambu ga apa-apa Neng … ga apa-apa,” ucapnya menenangkan sang anak. Sambil memeluk ibunya, anak perempuan kecil itu menatap pesinden terkenal yang berada di dalam lift kaca dengan tatapan tajam.
...***...
Suasana sekolah SMK Pasundan sore itu sudah sepi. Kelas-kelas tampak kosong. Lorong-lorong sekolah juga tampak lengang baik di lantai satu juga di lantai dua. Awan mendung menggantung di langit sore itu. Terdengar lamat-lamat gema suara perempuan yang terbawa angin melewati lorong dan kelas. Suara perempuan yang sedang menembangkan sebuah kidung Sunda lara hati. Suaranya terdengar lirih, merdu, yang sesekali diberi lengking tinggi. Langit yang redup, gemuruh petir yang terbekap di balik awan abu-abu turut merasakan betapa pedihnya tembang itu terdengar.
__ADS_1
Tak lama, menyusul suara degung (gamelan) Sunda ikut menggema pelan. Mengalun dalam nada pentatonik yang teratur. Ditabuh pelan mengiringi lirih tembang tadi dinyanyikan. Disusul suara suling Sunda yang terdengar menghipnotis. Perpaduan semuanya itu menghasilkan irama ritmik yang mistis. Indah sekaligus merindingkan bulu kuduk. Pada lantai dua, di ruangan paling pojok, sebuah pintu kamar mandi perempuan terbuka perlahan. Tidak ada angin, tidak ada orang. Membuka sendiri dengan suara berderit.
Ranting-ranting pohon besar di seberang ruang guru bergemerisik meski angin tak meniupi. Beberapa dahan pohonnya tampak bergayut berat ke bawah seperti ada yang menduduki. Di dalam pojok perpustakaan yang temaram, sebuah bangku bergeser sendiri dengan keras hingga menabrak lemari membuat sebuah buku dari rak ketiga jatuh ke lantai.
Di ruang sebelahnya, penjaga sekolah yang sedang membersihkan ruang guru memegangi tengkuknya lalu melihat sekelilingnya. Ruangan guru yang kosong itu seperti balik menatapnya dalam hening. Nyalinya ciut, ia segera menyelesaikan kerjanya dan menutup pintunya.
Suara sinden dan degung itu masih terus terdengar. Asalnya dari sebuah ruangan karawitan yang berada di pinggir kebun kosong. Pintu ruangan karawitan itu terlihat terbuka setengah. Di dalamnya tampak dari belakang sesosok perempuan berkerudung putih sedang duduk bersimpuh di atas tikar. Kepalanya menggeleng ritmis pelan ke kanan dan ke kiri menikmati. Matanya terpejam khidmat. Hingga tembang itu sampai di nada akhir yang ditutup dengan suara lirih disusul suara degung yang berhenti.
Sontak, ruangan pun menjadi sepi. Sosok perempuan berkerudung itu diam, masih dengan mata terpejam. Sedang di sekelilingnya lima pasang mata sedang menatapnya, menunggunya. Perlahan perempuan itu membuka matanya diikuti senyumnya yang lebar. Maka terdengarlah tepuk tangan meriah yang menggema di ruangan yang dipenuhi dengan alat-alat karawitan itu.
__ADS_1
“Eduuun Wiiii, maneh keren pisan (Gila Wii, kamu keren banget)!” seru Imas kagum. “Urang merinding teu nyangka maneh bisa kitu nyindenna (Saya sampe merinding, ga nyangka kamu bisa gitu nyanyinya),” geleng-geleng Esih yang sama dengan Imas dipenuhi kekaguman. “Tah Sih, eta teh hasil tina latihan, teu jiga maneh males latihan … jadi we pales wae, matakna ku Pak Ujang maneh dipindah jadi maen degung hehehe (Tuh Sih, itu hasil dari latihan, ga kayak kamu, males latihan jadi aja fals terus, makanya sama Pak Ujang kamu dipindah jadi pemain degung hehehe),” cengir Wira yang tadi memukul alat-alat degung. “Ah bae anjir, urang geus usaha, kudu kumaha deui, da si Dewi mah memang boga bakat (Ah biarin anjir, saya sudah usaha, harus gimana lagi. Kalau si Dewi ‘kan memang punya bakat),” kilah Esih.