TEMBANG BEDOL NYAWA

TEMBANG BEDOL NYAWA
BANGKIT BAB 2


__ADS_3

“Eh, lain kitu … meski maneh teu boga bakat mun rajin latihan mah bisa wae … yeuh dengekeun, jelema berbakat tiasa eleh kanu jelema anu rajin Esih! (Eh bukan gitu … meski kamu ga punya bakat kalau rajin latihan mah bisa … nih dengerin, orang berbakat bisa kalah sama orang yang rajin Esih!)” terang Wira. “Ho’oh aja deh,” angguk Esih pendek. Wira tertawa.


“Geus ah, maraneh gandeng (Udah ah, kalian berisik),” sahut Imas. “Betul Mas, kalian itu seperti Tom dan Jerry saja,” tambah Anton yang tadi meniup suling, “eh Wi, rasanya kau sudah siap dengan ujian akhir bakat nanti deh, kau akan membuat Pak Ujang dan guru karawitan lainnya tercengang.” Dewi tertawa, “Tapi saya masih belum puas Ton.”


“Ya betul … ada beberapa nada yang masih terdengar fals,” kritik seorang gadis yang sedari tadi duduk sedikit jauh dari mereka. Ia berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Dewi. “Mentang-mentang anak sinden,” bisik Wira pada Anton. “Ya kamu betul Ning, saya juga merasakan itu,” Dewi menyetujui pendapat temannya itu. “Bagus sih tapi ga cukup bagus,” lanjut Nining lalu berjongkok di sebelah Dewi yang masih duduk bersimpuh di atas tikar. Matanya menatap dalam mata Dewi. “Menembangkan kawih* karuhun** ga sama dengan bernyanyi pop Sunda,” kata Nining. Dewi mengangguk setuju.


*Kawih adalah jenis lagu Sunda yang tidak terikat dengan aturan.


**Karuhun adalah nenek moyang.


“Bangbung Hideung yang barusan maneh (kamu) bawain itu sakral,” lanjut Nining.


“Mistis?” celetuk Esih.

__ADS_1


“Bukan … lagu ini punya makna yang dalam ...” jelas Nining.


“Bilang aja, ‘level lo masih di bawah gue’ gitu,” bisik Wira lagi kali ini ada nada sebal di kalimatnya dan Anton tetap diam tak menanggapi. “Ya kamu betul, kamu harus ajarin saya Ning, secara kamu lebih berpengalaman dalam dunia sinden,” kata Dewi. Nining berdiri dan berjalan keluar sambil berkata, “Latihan kita lanjut besok, kalau sudah beres-beres, kunci pintu ini, Ok? Trus tunggu urang (saya) di perpustakaan.” Dewi menatap punggung Nining yang pergi tanpa menanggapi permintaannya tadi.


“Eh Ning, jangan pergi dulu, sekarang gilirannya Imas nyinden nih,” seru Esih mengingatkan. Nining tertawa, “Imas? Ah dia hanya membuang waktuku saja!” Imas tersenyum pahit mendengar itu.


“Si anying, sombong amat,” ketus Wira sebal. “Mentang-mentang dia ditunjuk sama Pak Ujang untuk jadi ketua di grup kita dan sudah punya jam terbang nyinden tapi ya ga gitu juga kali,” kata Esih. “Dia begitu karena memang bagus sih nyindennya,” celetuk Anton. “Wi, urang pikir mah, tanpa bantuan si Nining, maneh juga bisa lebih bagus dari dia kok,” kata Imas menyemangati Dewi. Dewi bangun dari duduknya mengambil tasnya dan memandangi teman-temannya, “Kayaknya dia ga mau ada dua sinden bagus di grup ini---“


“Hey … dua? Wah maneh ngelupain Imas,” potong Esih.


***


Setelah pintu ruangan karawitan dikunci mereka berjalan melewati lorong sekolah yang sepi menuju ruang perpustakaan. Gemuruh petir terdengar pelan dan mendung masih menggantung. Imas menatap pohon besar di pojok lapangan yang berada di seberang ruang guru lalu kedua bahunya bergidik. “Kunaon maneh (Kenapa kamu)?” tanya Anton. “Urang (saya) ngerasa banyak yang liatin kita dari pohon itu,” tunjuk Imas. Keempat temannya menengok pada pohon besar yang dimaksud Imas.

__ADS_1


“Emang serem sih, itu pohon termasuk pohon paling tua di sekolah ini,” sahut Wira. Dewi memperhatikan pohon itu, bulu kuduknya pun meremang. “Eh, maraneh (kalian) tahu ga, urban legend di toilet lantai dua?” bisik Esih. Anton menggelengkan kepala,” Ah kau ini Sih, ini suasana mendung dan sepi, kau malah mau cerita horor pula.” Esih nyengir, “Kau takut ya?” Anton mencibir. “Aku juga takut sih Ton, tapi aku mau cerita … di lantai dua itu pernah ada siswi yang gantung diri di dalam toilet sekitar tahun sembilan puluhan, katanya hamil sama pacarnya dan pacarnya ga mau tanggung jawab,” ungkap Esih.


“Beneran?” Imas terkejut. “Namanya urban legend itu cerita turun temurun dari mulut ke mulut, yang belum bisa dipastikan kebenarannya, jadi belum tentu bener Mas,” celetuk Wira. “Siswi yang gantung diri itu namanya Marni … penjaga sekolah, Mang Uus, juga pernah lihat penampakan Marni ini dengan seragam sekolahnya, penampakannya ga cuma malam tapi Marni juga bisa muncul sore-sore mendung kayak gini nih!” cetus Esih. “Hiiii,” Imas bergidik.


“Udahan ah cerita horornya … tuh lihat pintu perpustakaan udah kebuka,” Dewi mengerutkan kening. Semua melihat pintu ruang perpustakaan yang terbuka. “Bukannya kunci pintunya masih ada sama maneh ya?” kata Anton, Wira mengangguk. “Trus siapa yang buka dong?” heran Esih. “Ah paling si Nining, dia juga tadi dipegangin kunci sama Mang Uus, gue lihat kok,” kata Imas. Mendengar itu semua pun menghela nafas lega. Mereka semua masuk ke dalam perpustakaan yang gelap. Wira menekan tombol lampunya tapi tidak mau menyala.


“Ah Mang Uus, belum ganti lampunya nih,” sebal Wira pada penjaga sekolahnya itu. “Eh sebenernya kita disuruh ke perpus sama si Nining ‘tu disuruh ngapain sih?” heran Anton. “Dia mau nunjukkin buku degung Sunda jaman baheula (dulu), buat kita pelajari,” jelas Imas. “Eh tuh dia si Nining,” tunjuk Esih pada Nining yang sedang berdiri menyilangkan tangannya di dada di hadapan mereka.


“Kemana aja sih baru muncul,” ketus Nining dengan wajah kesal.


“Sori Ning,” ucap Imas mewakili teman-temannya.


“Sudah lama ditunggu-tunggu kalian tuh!” Nining menatap tajam pada Imas lalu Dewi dan membalikkan badannya berjalan. Wira mencibirkan bibirnya sebal, Esih menahan tawa melihat itu. “Kenapa cuma kita yang dipelototin?” bisik Dewi pada Imas. Imas menggeleng tak tahu. Mereka semua berjalan mengikuti Nining. Nining terus berjalan tanpa bicara menuju belakang ruangan perpustakaan. Tiba-tiba Esih mendengar HP-nya berbunyi, semua orang menghentikan langkahnya begitu juga Nining. “Angkat cepat!” kata Nining tak sabar.

__ADS_1


Dengan cepat Esih menempelkan HP itu di telinganya. “Assalamualaikum, saha iyeu (siapa ini)?” tanya Esih yang tak sempat melihat siapa peneleponnya tadi. “Waalaikumsalam! Saha iyeu saha iyeu … kalian teh pada di mana sih?” kesal suara di ujung telepon sana. Esih mengerutkan keningnya karena ia mengenali suara itu. “Saha Sih?” penasaran Imas begitu pun yang lainnya. Esih menelan ludahnya sebelum berkata dengan gemetar dan berbisik pelan, “Ini dari Nining,” sambil menunjuk HP-nya.


__ADS_2