TEMBANG BEDOL NYAWA

TEMBANG BEDOL NYAWA
PAEHAN KABEH (MATIKAN SEMUA) CHAPTER 2


__ADS_3

Esih mengerutkan kening sambil mengendus-ngendus. Kok bau busuk ya? Batin Esih. Kamar mandi terasa sunyi. Dalam kesunyian sesenyap ini membuat Esih bisa merasakan kalau ia tidak sendirian di dalam kamar mandi. Esih merinding, ia bergerak cepat dalam gelap untuk keluar dari dalam kamar mandi. Esih meraba dinding mencari pegangan pintu tapi setelah pegangan pintu digenggamnnya, pintu itu tidak bisa dibuka padahal ia yakin sekali tadi tidak mengunci pintunya.


“Mas! Imas! Urang kakunci (Saya terkunci) di kamar mandi euy! Mas!” teriak Esih sambil mencoba membuka pintunya berkali-kali. Tiba-tiba Esih mendengar helaan nafas berat yang terdengar dari belakangnya. Ia terdiam tubuhnya membeku. Hatinya mengatakan kalau yang berada di belakangnya ini bukanlah manusia apalagi hewan. Tiba-tiba lampu kamar mandi menyala tapi itu tidak membuat Esih senang sebaliknya malah membuat dada Esih semakin berdebar karena dalam terang ia bisa melihat sosok itu dengan lebih jelas. Pelan-pelan Esih membalikkan badannya dengan kepala menunduk, ia tak berani menatapnya langsung dari mata ke mata tapi ia penasaran.

__ADS_1


“Ya Gusti,” lirih Esih dengan kepala menunduk melihat ke bawah tampak sepasang kaki pucat yang melayang beberapa senti dari ubin kamar mandi ada di hadapannya. Baju hitamnya melambai menguarkan bau amis. Tubuh Esih gemetar. Hela nafas berat itu bisa dirasakan panas pada ubun-ubunnya. Pelan-pelan Esih mendongakkan kepalanya dan menjerit sekuatnya ketika melihat sebentuk wajah kuntilanak yang menyeramkan sedang berteriak dengan mulut yang terbuka lebar padanya!


“Imaaas!!! Tolong buka pintunya!!” jerit Esih panik menggedor-gedor pintu kamar mandi dan lampu kamar mandi pun mati lagi. “Tidaaak!!” jerit Esih yang merasakan dirinya ditarik menjauh dari pintu dan dilempar ke pojok kamar mandi. Esih bisa mendengar suara remuk pada tengkorak kepala belakangnya yang berbenturan dengan pinggiran bak kamar mandi. Esih terduduk di ubin kamar mandi, ia meraba hidung dan telinganya yang mengalirkan darah. Kepalanya sakit luar biasa, telinganya pun berdengung hebat. Pintu kamar mandi mendadak terbuka lebar sendiri.

__ADS_1


Esih tidak bisa berdiri, kakinya tidak bisa dirasakannya serasa lumpuh dari pinggang ke bawah. Ia hanya bisa merayap pelan di lantai. Bibirnya mencoba memanggil sahabatnya tapi tidak bisa mengeluarkan suara. Hanya suara erangan pelan yang terdengar dari mulut Esih. Ia terus merayap keluar dari kamar mandi sedang kuntilanak hitam itu terus menatapnya dari belakang dengan senyum yang menyeringai lebar.


“Sih? Esih!” teriak Imas melihat Esih tengkurap di lantai. Ia segera membangunkan Esih. Esih membuka matanya, menatap Imas dengan tatapan kosong. “Esih kenapa Mas?” tanya Dewi dari pintu kamar. Imas menggeleng kemudian membantu Esih berdiri. Mereka masuk ke dalam kamar. Esih tampak sangat pucat dan linglung. Dewi menyentuh tangan Esih yang dingin, ia terkejut lalu memberikan minum tapi Esih tidak membuka mulutnya. “Sudah Wi, dia masih syok … ga tahu kenapa …” kata Imas. Dewi terus memperhatikan Esih, ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari Esih. “Sebaiknya kita istirahat, sebentar lagi pagi dan kita harus ke sekolah,” kata Imas mengingatkan. Dewi mengangguk dan menarik selimutnya begitu juga Imas tapi Esih hanya duduk mematung.

__ADS_1


 


...***...

__ADS_1


__ADS_2