
Sementara itu di kamar Dewi.
“Sori Wi, barusan aku dan Mamah terpaksa mendobrak pintu rumahmu untuk masuk,” ucap Nining. “Ga pa-pa itu lebih baik … terima kasih kamu datang kembali Ning … tapi bagaimana kamu tahu kalau sosok itu akan datang lagi?” tanya Dewi sambil merebahkan ibunya di tempat tidur. “Ada orang yang mendatangkan Kunti Hideung dengan menembangkan kawih itu dengan lengkap dan benar tapi bukan kita,” ungkap Nining. “Jadi bukan saya ‘kan?” Dewi lega sekaligus terkejut, “tapi siapa Ning yang bisa menembangkan kawih karuhun sebaik kita?” Nining menggeleng, “Aku belum tahu Wi … sebaiknya aku menyusul Mamah ke dapur.” Dewi mengangguk.
Nining segera keluar kamar tapi di depan pintu kamar ia menjerit. Dewi terkejut melihat sebuah pisau telah menusuk perut Nining. Nining melangkah mundur dengan wajah kaget tak menyangka seraya memegangi perutnya yang meneteskan darah. “Nining!” teriak Dewi melompat dari ranjang untuk menangkap Nining yang sempoyongan akan jatuh. “Siapa yang melakukannya Ning?” panik Dewi memeluk temannya itu. Dengan jemari berlumuran darah Nining menunjuk ke arah pintu kamar. Dewi menoleh cepat.
Di pintu kamar tampak berdiri seorang perempuan berpakaian hitam-hitam dengan rambut hitam panjang sepinggang.
“Imas!?” kaget Dewi.
Imas melangkah masuk ke dalam kamar dengan senyum sinis, “Kalian pikir hanya kalian berdua yang bisa menembangkan kawih karuhun itu dengan baik? Kalian pikir hanya kalian pesinden terbaik di sekolah? Lihat aku sudah membuktikan aku juga bisa. Sekarang Kunti Hideung bahkan ada di tanganku!”
“Jadi yang menyanyikan kawih di kamar saya saat itu adalah kamu! Saya pikir saya bermimpi, ya Allah … kamu yang memanggilnya Imas … kamu membunuh teman-temanmu sendiri!” geram Dewi.
“Itulah kesepakatan yang saling menguntungkan … aku memberikan garis keturunan, dia memberiku kekuatan dan sebentar lagi aku akan dikenal sebagai sinden termuda dan terkenal dari SMK Pasundan setelah kalian berdua ditemukan tewas saling membunuh karena persaingan sesama sinden, kasihan…” ejek Imas lalu tertawa.
“Apa?” Dewi belum memahami apa maksud kalimat Imas itu tiba-tiba Nining mencabut pisau dari perutnya dan menusukkan pisau itu pada paha Dewi. Dewi menjerit kesakitan. “Wi … itu bukan aku … bukan aku … aku … aku ga tahu Wi, maafkan aku Wi,” panik Nining seraya membuang pisau itu dari tangannya. Ia tak berdaya tangannya digerakkan oleh sesuatu yang tak kasat mata yang tak bisa ditolaknya. Imas tertawa senang. Dewi dengan cepat berdiri berlari keluar kamar dengan terpincang-pincang sambil berteriak, “Tolong! Tolong!” Imas mengejarnya dan menjambak rambut Dewi hingga kepalanya mendongak.
“Imas … sadar Imas,” ucap Dewi. “Maneh nu kuduna sadar (Kamu yang harusnya sadar) selama ini aing cicing wae diledek maraneh, teu dianggap ku maraneh (selama ini saya diam saja diledek kalian, tidak dianggap sama kalian) tapi kesabaran ada batasnya!” kata Imas lalu mendorong keras Dewi hingga menabrak meja dan kursi tamu.
__ADS_1
Di luar rumah, para tetangga mulai berdatangan mendengar keributan itu. Dewi yang tergeletak di lantai menatap Imas, “Imas … ini bukan kamu … kamu tidak begini Imas.” Imas tertawa, “Sok tahu maneh! Inilah aing sebenarnya!” Dewi menggeleng, “Teganya kamu mengorbankan Esih, Wira dan Anton … mereka temanmu Imas!”
“Ya mereka temanku dan mereka berguna untuk ditukar dalam kesepakatan ini, mereka punya nilai tukar yang bagus, yaitu garis keturunan … hey bukankah setiap perjuangan butuh pengorbanan? Butuh tumbal? Tenang Wi, mereka adalah tumbal yang tidak sia-sia buatku,” senyum Imas.
Dewi geleng-geleng, “Kamu gila!”
Mendadak muncul ular besar belang berwarna merah hitam di dekat Dewi siap menyerangnya. Dewi terpekik ketakutan. “Apakah kamu tahu Wi kalau kakekmu itu mati karena dipacok ular di sawah? Sekarang cucunya pun akan mengalami hal yang sama … ckckck tragis sekali,” ejek Imas. Ular itu bergerak mendekat membuat Dewi menghindar dengan mundur ke pojok ruang tamu tapi ia tidak bisa kemana-mana lagi karena ular itu menghadang tepat di depannya. Rahangnya membuka menunjukkan taring-taringnya. Dewi gemetar.
Mamah Titi yang baru muncul dari dapur terkejut melihat Nining bersimbah darah di perutnya. “Ning!!” jerit Mamah Titih dan segera menekan luka anaknya itu agar tidak kehabisan darah. “Apa yang terjadi pada Imas Mah?” tanya Nining pelan sambil menahan sakitnya. “Aura jahat dan kekuatan Kunti Hideung telah merasukinya Ning … ini berat,” bisik Mamah Titi.
Imas menoleh pada Mamah Titih, “Oh ini dia si pesinden legendaris Titi Gayatri itu ya? Heh, ingat ga dua belas tahun lalu kamu pernah menolak seorang ibu dan anak perempuannya yang masih kecil untuk foto bersamamu? Sampai ibu itu terjatuh dan terinjak-injak orang?”
Mamah Titi menggeleng, dia tidak ingat.
“Maafkan saya kalau saat itu saya salah tapi saya yakin, ibu kamu pasti tidak mau kamu seperti ini Nak,” bujuk Mamah Titi. “Nye nye nye nye,” cibir Imas mengejek Mamah Titi. “Salah! Dia akan bangga, karena aku bisa menyanyikan kawih karuhun itu dengan sempurna bahkan kamu dan anakmu saja belum tentu bisa! Aing pesinden hebat!” teriak Imas sambil menepuk dadanya dengan bangga.
“Jangan Nak … kamu tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan … lepaskan kawih itu sekarang sebelum terlambat … hentikan Nak,” mohon Mamah Titi. “Jangan panggil aku “Nak” aku bukan anakmu!” sentak Imas lalu menembangkan kawih itu sembari mengangkat tangannya dari jauh dan jemarinya melakukan gerakan mencengkeram, seketika Mamah Titi memegangi lehernya yang tercekik.
“Mah, Mah!” jerit Nining cemas melihat mamahnya kehabisan nafas, “Imas hentikan!” Imas tidak peduli tangannya melakukan gerakan melempar dan Mamah Titi pun terpelanting menghantam meja rias hingga cerminnya pecah berantakan. Nining menjadi marah melihat mamahnya terluka, ia berusaha berdiri dan mencoba menembangkan tembang aji mantra penolak bala tapi mulut Nining tiba-tiba jadi rapat seperti ada lem yang merekatkannya. Ia tak bisa membuka bibirnya untuk menembangkan tembang itu lalu ia mendengar suara berbisik di telinganya.
__ADS_1
“Di gigireun anjeun (Di samping kamu).”
Sebuah suara berat yang mengancam. Nining menoleh dan terkejut karena Kunti Hideung telah berdiri di sampingnya. Tangan dan kaki Nining mendadak menjadi kaku tak bisa digerakkan, kini Nining berdiri seperti patung. Sosok mengerikan itu mendekat dan siap ******* Nining. Bau bangkai busuk menyelimuti Nining dengan cepat. Tidak, tidak, tidak, batin Nining panik.
Imas tertawa senang melihat semua orang yang dibencinya itu tampak tak berdaya.
Mamah Titi berbisik dalam lukanya yang tertancap serpihan kaca dan kayu, “Ambu … Titi tahu Ambu masih ada di sini … lihat Ambu … anakmu dan cucumu ini … apakah Ambu tega membiarkan kami mati dan dibawa ke Tanah Sunda Gaib seperti Ambu? Hanya Ambu yang bisa menundukkan Kunti Hideung … tos cekapkeun kanyerina (sudah cukupkan sakit hatinya) Nyai Galunggung … toskeun dengdamna (sudahi dendamnya) … Titi sudah ikhlaskan kepergian abah.”
Perlahan terdengar suara tembang yang diiringi degung. Mengalun memenuhi seisi rumah. Imas terkejut mendengar Tembang Bedol Nyawa itu ada yang menyanyikannya lagi. “Siapa itu? Siapa?” teriak Imas. Suara itu terus menembangkannya tak peduli Imas berteriak-teriak. Tak lama ular besar itu merayap meninggalkan Dewi dan menghilang di depan pintu begitu juga Kunti Hideung yang menguar menjadi asap hitam dan bergerak keluar melalui jendela kamar. Nining pun bisa menggerakkan bibir serta kaki dan tangannya lagi.
“Jangan pergi! Tidak! Jangan pergi!” panggil Imas lalu menyanyikan kawih itu untuk memanggil kembali sosok kejam itu lagi tapi karismanya tidak sebanding dengan Nyai Galunggung. Tembang Bedol Nyawa itu gagal dinyanyikan Imas.
Di luar rumah para tetangga dan warga sudah berkumpul termasuk tiga pria peronda, serta keluarga Esih, Wira dan Anton. Bahkan beberapa ustad tampak di antara mereka tengah membaca doa. Nyali Imas menjadi ciut melihat situasi itu. Panik melandanya. “Lihatlah Imas mereka sudah tahu kamulah penyebab kematian Esih, Wira dan Anton, kamu tidak bisa melarikan diri dari semua ini!” tegas Nining yang berdiri dipapah Mamah Titi.
Imas menengok ke kanan ke kiri sembari terus melantunkan kawih itu dengan suara yang fals juga kacau. “Kamu pikir dia akan datang menolongmu Imas? Ingat kesepakatan yang saling menguntungkan itu berlaku hanya untuk dia, kamu sudah ditinggalkan sendirian!” ucap Dewi.
“Tidak! Tidak!” jerit Imas seraya bersimpuh di lantai lalu menjambak-jambak rambutnya sendiri dengan kesal. Tiba-tiba Imas terdiam, ia melihat telapak tangannya yang mendadak menjadi hitam gosong begitu pun wajahnya. Pakaian hitamnya terasa mengikat tubuhnya dengan erat hingga Imas tak bisa bergerak, tak bisa bernafas. “Tolong … tolong abdi (saya) … Wi … Ning … tolong,” Imas memohon ketakutan. Dalam pandangannya ia melihat dua buah lubang rongga besar yang berwarna hitam pekat di depannya dan menariknya ke dalam. Imas menggeleng-geleng, “Tidak, tidak … tidaaak!”
Tak ada yang bisa dilakukan Dewi dan Nining untuk menolong Imas, mereka hanya bisa melihat saat jasad Imas terbaring di depan mereka dalam balutan kain kafan berwarna hitam. Sedih hati Dewi dan Nining melihat temannya menjadi pocong hitam seperti itu. “Astaghfirulloh! Innalillahi waina illahi rojiun!” ucap para warga yang terkejut saat mereka masuk ke dalam rumah dan melihat jasad Imas.
__ADS_1
TAMAT.