
“Hah?!” pekik teman-temannya terkejut. Esih mengangguk cepat. “Kalau itu telpon dari si Nining, trus itu siapa yang di depan kita?” tanya Imas gemetar. Perlahan mereka semua menengok pada Nining yang sedang bertolak pinggang.
“Kenapa kaget? Sudah tau ya? Hahahaha!”
Tawa Nining jadi-jadian itu begitu keras membuat semua menjerit dan berlarian ketakutan. Tak sengaja Dewi tersandung sebuah buku yang tergeletak di lantai membuatnya terjatuh. Dewi melihat buku kumal itu dan entah mengapa dengan cepat ia mengambil buku itu begitu saja lalu berdiri dan berlari lagi menyusul teman-temannya.
...***...
Dewi sedang membolak-balik lembar buku yang ditemukannya di perpustakaan tadi sedang teman-temannya masih bercerita meributkan apa yang baru saja menimpa mereka pada Nining. “Urang (Saya) yakin penampakan di perpustakaan tadi itu karena lagu Bangbung Hideung yang dibawain Dewi!” seru Esih. Nining berdecak seraya menggeleng, “Ga mungkin … aku ga percaya,” lalu menengok pada Dewi, “buku apa itu Wi?”
Dewi melihat pada sampul bukunya dan mengangkat bahunya, “Ga tahu, sampul bukunya udah ga ada, isinya juga kayak catatan-catatan tulisan doang, kertasnya udah menguning banyak yang sobek dan tintanya mulai hilang.”
__ADS_1
Nining mengambil buku itu, menatapnya beberapa saat lalu membolak-balik halamannya. Semua temannya mendekat dan memperhatikan buku yang dipegang Nining itu. “Ini catatan-catatan jangjawokan (mantra/jampi),” kata Nining, “tapi ga tau siapa yang bikin. Kayaknya buku lama, ga penting sih.”
“Coba urang lihat Ning,” kata Wira. Nining menyerahkan buku itu pada Wira. Wira segera membuka halaman-halamannya. “Ini menarik,” gumam Wira bersemangat. Wira sangat senang dengan buku-buku Sunda lama apalagi yang berhubungan dengan ajimantra. Imas dan Esih kini mengerubungi Wira. Hanya Anton yang tampak tak tertarik, ia hanya duduk memainkan HP-nya.
“Ning, ini bukan jangjawokan semata, tapi juga ada kawih yang ditulis sendiri … lihat tulisannya masih utuh meski agak pudar,” tunjuk Wira. Nining dan Dewi mendekat lalu membaca susunan kata dari kawih tersebut yang ditulis dengan tinta hitam dan masih cukup jelas terbaca.
Wengi poek. (Malam gelap).
Seungit kembang bangkai. (Harum bunga bangkai).
Abdi hoyong pateupang. (Aku ingin bertemu).
Ngaharewos lalaunan. (Berbisiklah pelan-pelan).
Bejaan aya di dieu. (Kasih tahu, ada di sini).
__ADS_1
Di gigireun di tukangeun anjeun. (Di samping di belakang kamu).
Urang duaan ngalayang. (Kita berdua melayang).
Saacan janari terang. (Sebelum dini hari yang terang).
Neangan anu diteang. (Mencari yang dicari).
Seungit kembang bangkai. (Harum bunga bangkai).
Di tengah wengi poek. (Di tengah malam gelap).
Nining dan Dewi terdiam. Darah Dewi berdesir-desir, dadanya berdetak cepat, entah kenapa. “Kalau kalian bisa nyanyiin ini, kayaknya kawih ini bisa seterkenal Bangbung Hideung deh,” kata Wira dengan senyum lebar. “Ya Wira betul … aura mistisnya seperti lagu Bangbung Hideung atau seperti Lingsir Wengi …” tambah Esih.
Nining geleng-geleng, “Kalian ini semua … apa-apa dikaitkan dengan mistis … ini hanya kawih biasa, kalau aku baca liriknya, ini tentang orang yang sedang rindu pada kekasihnya …begitu juga sama lagu Bangbung Hideung dan Lingsir Wengi, ga ada mistis-mistisnya itu, coba baca baik-baik syairnya lagi … kalian itu terlalu banyak nonton film horor dan dibodohi mereka … lagu bagus-bagus kok dibilang mistis, nanti lagu itu jadi ga ada orang yang mau dengar karena takut.”
__ADS_1
Semua terdiam.
“Sudah malam, aku pulang dulu, besok sore jangan lupa kita latihan lagi, tuh buku-buku yang di meja dipelajari ya, tadi aku ambil dari perpus,” lanjut Nining dan setelah mengatakan itu ia berjalan keluar teras rumah menaiki motornya dan pergi. “Si Nining bener tuh, lagu bagus malah dibilang mistis … aya-aya wae (ada-ada saja),” timpal Anton sembari menyelempangkan tasnya, “semuanya, aku cabut duluan ya.” Wira segera mengembalikan buku kumal itu pada Dewi dan menyusul Anton, “Heh Kuya, tunggu, urang nebeng!” Mereka berdua pun menaiki motor berboncengan dan pergi.