
Dewi menjerit dan berlari ketakutan. Nafasnya memburu seperti ketakutannya yang mendesak jantung. Ia berlari tetapi rasanya tidak sampai-sampai ke kamar. Sosok kuntilanak dengan pakaian hitam itu bergerak mendekati Dewi. Kakinya yang pucat tampak melayang beberapa senti dari lantai. Kini ia sudah berada tepat di belakang Dewi. Dewi memejamkan matanya dan terus berlari. Ia bisa merasakan helaan nafas berat berbau bangkai busuk menyeruak dari tengkuknya sampai ke indera penciumannya.
Tidak, tidak, panik Dewi dalam hati.
Kepalanya menggeleng-geleng cepat.
Kakinya berlari pesat tapi tetap di tempat.
“Wi!” teriak Esih mengguncang tubuh Dewi. Dewi membuka matanya, melihat Esih dan langsung memeluk Esih dengan erat. Esih bisa merasakan tubuh Dewi yang basah oleh keringat dan gemetar hebat. “Aya naon (Ada apa) Wi? Kamu kenapa?” cemas Esih. Dewi tidak bisa berkata-kata ia hanya terus memeluk Esih. Tak lama Imas keluar dari kamar dan terkejut melihat kedua sahabatnya sedang berpelukan di depan pintu. “Aya naon Sih, kunaon (kenapa) si Dewi?” heran Imas. Esih menggeleng sembari mengangkat kedua bahunya.
__ADS_1
Mereka membawa Dewi ke dalam kamar. Waktu berlalu dan Dewi masih diam serta hanya meringkuk di balik selimut. Esih berdiri dari duduknya melangkah keluar kamar. “Mau kemana Sih?” lirih Dewi. “Urang mau ke kamar mandi, sekalian ambil air putih buat kamu,” jawab Esih. Dewi menggeleng cepat, “Jangan!” Esih dan Imas saling menatap bingung. “Jangan kemana-mana Sih, saya takut,” ucap Dewi gelisah dan berkali-kali mengusap wajahnya seakan ingin menghilangkan apa yang baru saja dilihat matanya.
“Tapi ada Imas di sini Wi,” kata Esih, “soalnya urang kebelet pipis euy.” Imas pun duduk di samping Dewi, “Maneh kayaknya cuma mimpi buruk Wi … tenang urang di sini.” Dewi menggeleng, “Bukan Mas, ini bukan mimpi.”
“Tapi tadi Esih ngeliat maneh tidur sambil jalan Wi trus maneh kayak yang lagi lari-lari di depan pintu kamar sambil merem,” sambung Imas. “Saya ga pernah tidur sambil jalan,” tolak Dewi. “Sori euy, urang geus teu kuat (Maaf saya udah ga kuat) … kebelet pisan (banget) ah,” celetuk Esih yang segera berlari keluar kamar.
Dewi menatap Imas, “Mas, ada sesuatu yang buruk dari kawih itu.”
Dewi mengangguk.
__ADS_1
“Kalau begitu, kenapa bukunya maneh bawa pulang?” heran Imas. Dewi menghela nafas sesal, “Ga tahu, saya mengambilnya begitu saja … tapi buku itu mau saya kembalikan, saya merasa ada yang berbeda di sini sejak menyanyikan syair dari kawih itu.” Imas mengangguk, “Ya kumaha maneh we (Ya gimana kamu aja deh) … tapi sayang sih ya, seharusnya kawih itu bisa dikenal dulu oleh banyak orang setelah maneh nyanyikan.”
“Saya ga kuat dengan auranya Mas,” geleng Dewi.
...***...
__ADS_1
Di dalam kamar mandi, Esih sedang mencuci wajahnya setelah menyelesaikan hajat kecilnya, tiba-tiba lampu kamar mandi mati. “Hey!” jerit Esih terkejut. Ia meraba dinding mencari saklar lampu dan menekan tombolnya tapi lampu tak jua menyala. “Hadeh,” kesal Esih lalu dalam gelap meraba dinding kamar mandi untuk mencari handuk yang digantungnya. Esih menemukan handuk itu dan mulai mengelap wajahnya sedang di sebelah gantungan handuk itu telah berdiri sosok kuntilanak hitam dengan wajah yang sangat menyeramkan tengah menatapnya.