TEMBANG BEDOL NYAWA

TEMBANG BEDOL NYAWA
BANGKIT BAB 4


__ADS_3

“Kalau kalian ga pulang ‘kan? Jadi nginep di rumah saya malam ini ya plis? Saya sendirian soalnya abah (bapak) sama ambu (ibu) lagi nginep di rumah aki (kakek), plis?” mohon Dewi. Imas dan Esih mengangguk. “Yes!” seru Dewi senang.


“Wi, maneh (kamu) mah enak ya, masih punya aki  … kita mah dari kecil juga udah ga punya aki,” kata Esih, Imas mengangguk. “Kata ambu ini juga aki angkat … ga tau aki yang betulnya kemana,” cengir Dewi. “Wah berarti kita ini anak-anak tanpa aki atuh ya … kita sama kayak Wira, dia juga ga punya aki tuh,” tawa Esih. “Cie inget Wira ni yaaa,” goda Imas.  


“Dih apaan sih Mas (Imas tertawa) … eh ini ‘kan tinggal kita bertiga nih … gimana kalau kita coba nyanyiin kawih ini yuk?” Esih memberi ide. Imas menatap Dewi. “Mmm … saya ga tau ya … saya agak males Sih,” ragu Dewi. “Wi, kalau lagu ini ga ada mistisnya kenapa kita harus takut sih?” tantang Esih.


Dewi menatap Imas, Imas hanya mengangkat bahunya, seperti mengatakan, terserah kamu. “Mmm … ok deh, kita coba cari nadanya tapi di kamar, jangan di teras sini, udah malam,” kata Dewi. Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah. Tak lama seekor burung Cung Cuing hinggap di atap rumah Dewi dan bercuit.


*Burung Cung Cuing di kepercayaan sebagian masyarakat Sunda adalah burung penanda kematian. Kalau ada burung Cung Cuing hinggap dan bercuit di atap sebuah rumah, maka akan ada orang yang mati di rumah itu, begitu mitosnya.

__ADS_1


 


...***...


  


Imas berdehem sebentar lalu mencoba lagi. “Wengiii poek … seungit kembaaang bangkai … abdi ho … uhuk! Uhuk!” Imas terbatuk-batuk. “Hahaha … maneh (kamu) mah teu (tidak) bakat jadi sinden Imas … suara maneh (kamu) jelek hahaha,” ledek Esih. Imas hanya diam lalu menyerahkan buku itu pada Dewi, “Coba maneh yang nyanyiin Wi.” Dewi membaca syair kawih itu sebentar lalu berdecak.


“Saya ragu ….”

__ADS_1


“Wi, ini mah bukan lagu mistis jadi santai aja kali,” Esih meyakinkan.


“Baiklah,” Dewi menghela nafas, bersiap lalu mengambil sebuah tarikan nada pada syair pertama. Esih dan Imas saling menatap. Mereka terpesona dengan suara Dewi. Masuk ke syair kedua, burung Cung Cuing semakin sering bercuit. Dewi terdiam sebelum memasuki syair ke tiganya. “Terusin Wi, bagus banget, kenapa berhenti?” tanya Esih. “Itu burung Cung Cuing … kalian ga denger?” Dewi terlihat was-was.


“Halah itu mitos … ayo terusin ntar kalau udah lancar, urang (saya) rekam pake hape, lagu ini pasti viral!” seru Esih bersemangat. Dewi menatap Imas seperti meminta dukungan supaya Esih menghentikan ini semua tapi lagi-lagi Imas hanya mengangkat bahunya lagi. Dengan berat hati Dewi melanjutkan percobaannya lagi untuk menyanyikan kawih tersebut. Selesai syair kelima, bulu kuduk Dewi berdiri dan ia tidak bisa melanjutkan kawih itu lagi.


“Plis Sih, jangan paksa saya … kalau mau biar Imas yang coba … saya ga kuat,” tolak Dewi hampir menangis. Imas segera memeluk Dewi, “Udah Sih, cukup!” Esih mengangguk, “Iya iya … punten ya Wi ….” Dewi mengangguk. “Sebaiknya kamu tidur duluan saja deh Wi, supaya lebih tenang,” saran Imas. Dewi mengangguk. Setelah Dewi beranjak ke tempat tidur, kedua sahabatnya itu masih terus mencoba menyanyikan kawih tersebut diiringi tawa canda.


“Cik urang nyobaan nembang ah (aku nyobain nembang ah) … wengii poooek syalala lalalala … seungit kembang bangkai dung tak dung tak, hahaha,” canda Esih. Imas hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat polah temannya itu

__ADS_1


 


...***...


__ADS_2