TEMBANG BEDOL NYAWA

TEMBANG BEDOL NYAWA
BANGKIT BAB 5


__ADS_3

Sementara itu.


Di salah satu daerah yang berada di Priangan Timur, tepatnya di sebuah hutan yang berjarak 100 kilometer dari sebuah kota, hutan yang dulu lebih dikenal dengan sebutan Tanah Gaib Sunda, terdengar suara. Suara helaan nafas berat yang membuat keheningan di hutan ini semakin senyap. Suara yang ditakuti bahkan oleh para penunggu hutan terbuas. Suara nafas yang keluar dari dalam perut bumi yang panas menyelesak muncul dalam kengerian tanpa batas. Seketika angin kencang menggoyang pepohonan hutan lalu hilang dan hutan kembali hening seperti kematian.


 


...***...

__ADS_1


 


Dewi merasakan gerah. Ia mengusap keningnya dari keringat yang menetes. Burung Cung Cuing sudah tak terdengar lagi. Dalam mata yang masih mengantuk ia melihat seorang perempuan sedang duduk memunggunginya menghadap kaca riasnya. Rambutnya hitam panjang sepinggang. Pakaiannya hitam-hitam. Perempuan itu sedang menyisir rambutnya dan menyenandungkan kawih dari buku kumal itu sembari berkaca. Suaranya merintih menyayat hati. Bulu kuduk Dewi berdiri dan jantungnya berdetak cepat. Ia memejamkan matanya takut.


Beberapa saat kemudian, Dewi membuka matanya lagi dan tidak ada siapa-siapa di depan kaca riasnya. Ia duduk di tempat tidur, melihat di sebelah kanannya berjejer Esih dan Imas yang tengah tertidur lelap. Tadi pasti mimpi, batinnya. Dewi bangun dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Sebelum ke kamar mandi, ia mematikan lampu-lampu yang masih menyala. Kemudian ia melihat gorden jendela depan yang bergerak-gerak tertiup angin. Dewi geleng-geleng sendiri, pasti tadi lupa untuk menutup jendelanya.


“Cicak sialan,” umpat Dewi karena kaget kemudian menutup jendela serta merapikan gordennya lalu berjalan menuju kamar mandi. Menyalakan lampu kamar mandinya lalu membuang air kecil. Setelah selesai Dewi mematikan lampunya kembali, cetrek! Baru saja beberapa langkah, ia mendengar suara tombol saklar lampu berbunyi, cetrak! Dewi pelan-pelan menengok dan terkejut melihat lampu kamar mandi sudah menyala lagi.

__ADS_1


Jari telunjuknya pelan-pelan menyentuh tombol saklar untuk mematikannya lagi, lampu pun mati. Tapi tak lama, tombol saklar itu hidup lagi dan lampu kamar mandi pun menyala lagi. “Astaghfirullah,” Dewi terkejut. Jari telunjuknya gemetar mendekati tombol saklar untuk mematikannya lagi. Lampu pun mati. Kemudian Dewi berdiri di depan pintu kamar mandi yang terbuka menunggu beberapa saat. Kamar mandi tampak gelap dan lampunya tetap mati. Ia menghela nafas lega ternyata lampu itu hanya konslet saja tadi.


Dewi membalikkan badannya baru akan melangkah tiba-tiba tombol saklar itu berbunyi, lampu kamar mandi pun menyala, tapi dengan cepat tombol saklarnya mati lagi, lampu pun kembali mati, lalu tombolnya menyala lagi tapi mati lagi, menyala lagi, mati lagi, terus begitu berulang kali hingga membuat lampu di kamar mandi berkedap-kedip cepat. Cetrak cetrek cetrak cetrek. Terang gelap terang gelap. Dewi menelan ludahnya kemudian memutar badannya untuk melihat apa yang terjadi di dalam kamar mandi.


Di bawah lampu kamar mandi yang berkedap-kedip itu, Dewi melihat kuntilanak dengan wajah yang mengerikan tengah berdiri di dalam kamar mandi menatapnya.


... ...

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2