
“Dari mana kamu tahu nama itu?” mamah balik bertanya. “Pak Ujang mengatakan saat melihat nama itu ada di buku yang ditemukan Dewi, Mah,” jawab Nining. “Astaghfirullah,” kaget mamah kini ia yakin kalau buku dan kawih itu adalah buku yang ada dalam pikirannya. “Apakah sudah ada yang menembangkan kawih itu?” tanya mamah was-was.
“Nining ga tahu Mah … Dewi yang pegang buku itu soalnya … memangnya kenapa sih Mah?”
“Malapetaka Ning.”
Nining terkejut, “Malapetaka? Malapetaka gimana Mah?”
“Kawih itu adalah sebuah tembang yang kalau dinyanyikan dengan benar akan mendatangkan malapetaka yang merenggut nyawa … kawih itu dikenal dengan nama “Tembang Bedol Nyawa” atau “Tembang Pencabut Nyawa” … ya Tuhan, semoga wafatnya kedua temanmu itu tidak ada hubungannya dengan ini.”
“Jadi maksud Mamah … kawih ini betulan mistis?”
“Ning, tradisi karuhun kita itu kental dengan hal-hal supranatural dan mistis, tidak ada yang harus dipertanyakan lagi … kawih itu adalah tembang terlarang dan buku itu sudah lama dimusnahkan oleh para sepuh kesenian Jawa Barat sejak tahun delapan puluhan.”
“Tapi kenapa buku itu bisa muncul lagi?”
“Mamah tidak tahu … sepertinya ada hal gaib yang menariknya … entahlah ... Ning, buku itu memang milik Nyai Galunggung yang berisikan coretan-coretan sakit hati dan dendamnya.”
“Kok Mamah tahu?”
__ADS_1
“Kamu mau tahu siapa Nyai Galunggung itu?”
Nining mengangguk.
“Nyai Galunggung itu nini (nenek) kamu.”
“Apa?!” kaget Nining.
“Ningrum Arum Natawira adalah pesinden terkenal di tanah Priangan dari timur sampai ke barat. Banyak yang bilang suaranya sangat indah membuat orang terlena bahkan ada yang bilang suaranya seperti dari alam lain, penuh kemistisan … karena itu dan seperti gunung Galunggung yang penuh misteri maka Ningrum dijuluki sebagai, Nyai Galunggung.”
“Nama Nyai Galunggung semakin terkenal, tapi ada orang-orang yang iri padanya dan menyebarkan berita, kalau Nyai Galunggung dan suaminya adalah dukun santet dan entah kenapa, selalu saja ada orang yang kerasukan di setiap pertunjukkannya … nahasnya beberapa orang yang kerasukan itu meninggal beberapa hari kemudian. Berita yang tersebar lagi adalah Nyai Galunggung minta tumbal. Tahun tujuh puluhan saat itu isu soal dukun santet begitu kuat sehingga masyarakat mudah percaya dan dampaknya mengerikan.”
Mamah terdiam dari ceritanya. Jantung Nining berdebar tak menyangka semua ini. “Lalu gimana lanjutannya Mah?” Nining tak sabar. “Kamu yakin mau melanjutkan cerita ini?” Nining mengangguk. Mamah menatap jauh ke depan seakan sedang membayangkan apa yang terjadi.
“Di suatu malam sekelompok pria mendatangi rumah Nyai Galunggung dan suaminya. Tanpa peringatan bahkan tanpa bertanya, mereka mengamuk membabi buta lalu membakar rumah Nyai Galunggung ….”
__ADS_1
“Ya Allah,” lirih Nining.
“Nyai Galunggung yang sedang hamil tua saat itu berhasil menyelamatkan diri tapi suaminya … tidak … Nyai Galunggung melihat sang suami meregang nyawa di depan matanya … dan malam itu Nyai Galunggung bersumpah akan menghabisi nyawa orang-orang yang membunuh suaminya itu hingga ke keturunannya ….”
Nining semakin tegang mendengarkan.
“Cecep Koswara, Engkus Pribados, Tata Subarna, Yayan Wasita ….”
“Siapa itu Mah?”
“Nama-nama pria yang bertanggung jawab atas kematian suami Nyai Galunggung … mamah sempat lihat nama-nama itu sebelum buku catatan itu dimusnahkan … dan nama-nama itu sulit untuk dilupakan karena nama-nama itulah yang membuat mamah tidak pernah bisa bertemu dengan abah (ayah; bhs. Sunda) untuk selamanya,” mamah mengusap wajahnya. Nining masih bisa melihat air muka sedih di wajah mamahnya saat menceritakan kejadian yang sudah terjadi bertahun-tahun lalu.
“Tapi dari mana nini tahu nama-nama itu Mah?”
“Banyak orang yang tidak percaya akan berita itu dan membantu nini mencari tahu siapa yang sebenarnya menyebarkan berita fitnah itu Ning.”
“Apa yang terjadi kemudian Mah?”
“Setelah melahirkan Mamah, nini kamu menitipkan Mamah pada teman dekatnya dan dia pergi ke sebuah hutan angker yang dulu disebut Tanah Gaib Sunda di pesisir Priangan Timur lalu kembali lagi dua tahun kemudian. Sekembalinya Nyai Galunggung, orang-orang yang bertanggung jawab atas kematian suaminya satu persatu mati … ada yang dipacok ular di sawah … ditabrak mobil … kecelakaan motor … gantung diri ….”
__ADS_1
“Cerita yang beredar … banyak saksi yang mengatakan kalau mereka mendengar Nyai Galunggung menyanyikan sebuah kawih sebelum orang-orang itu mati … kawih yang ada di buku itu … setelah itu Nyai Galunggung pergi dan menghilang untuk selamanya, katanya moksa di hutan angker itu.”