
Malam itu Dewi tidur bersama ambu di satu tempat tidur. Malam belumlah beranjak. Kegelapan masih terlihat pekat, dini hari masihlah jauh berjarak.
Di luar rumah, terlihat tiga pria yang sedang meronda. Mereka berjalan memeriksa lingkungan. “Naha sih urang-urang deui nu dititah ngaronda ku Pak RT (kenapa sih kita-kita lagi yang disuruh ngeronda sama Pak RT)?” keluh pria bersarung di kepala. “Soalna ngan urang tiluan nu nganggur jeung nu lainna borangan (soalnya cuma kita bertiga yang nganggur sama yang lainnya pada penakut),” sahut pria TikTok. “Emang kamu berani? Katanya takut sama Nyai Galunggung … eh Nyai Galunggung lagi nyari tumbal loh,” canda pria berkupluk menakuti. “Ah moal sieun ayeuna mah (Ah ga takut sekarang mah), setan itu hina, manusia itu sempurna, tinggal ngado’a, setan pasti lari,” kilah pria TikTok meyakinkan kedua temannya. Kedua temannya mengangguk setuju, mereka pun melanjutkan ronda.
__ADS_1
Di dalam kamar, ambu terbangun dengan mukena yang belum dilepasnya. Ia bangun dari tempat tidur pelan-pelan karena tidak mau membangunkan Dewi yang terlelap. Ia berjalan ke dapur yang luas untuk mengambil teko lalu menuangkan air putih di sebuah gelas. Setelah meneguk air putihnya ambu kembali menuju kamar tetapi langkahnya berhenti di depan kamar yang biasa dijadikan gudang kecil. Ia mendengar suara dengkuran dari dalam kamar itu. Ambu yakin sekali tadi waktu ke dapur dan melewati kamar itu, ia tidak mendengar suara dengkuran sama sekali.
Suara dengkuran itu terdengar lagi. Ambu ragu sebetulnya untuk mengeceknya tapi ia teringat abah. Abah memang punya kunci rumah sendiri dan biasa pulang larut malam lalu langsung tidur karena tidak ingin membangunkan ambu dan Dewi. Ambu mendekati kamar yang pintunya hanya berupa gorden saja. Baru ambu akan menggeser gordennya, ia berpikir dulu, tapi abah tidak pernah tidur di kamar ini biasanya abah akan tidur di sofa panjang ruang keluarga itu. Lalu siapa yang mendengkur? Apakah maling? Ambu bergegas mengambil sapu ijuk dan bersiap memukul. Ia menggeser gordennya lalu melihat ke dalam.
__ADS_1
Di lantai yang beralaskan tikar itu ambu melihat pocong sedang berbaring dengan kuncup di kepalanya dan wajahnya hitam gosong!
Dewi yang berada di dalam kamar membuka matanya. Ia terbangun ketika mendengar suara jeritan juga burung Cung Cuing bercuit di atap rumahnya. Ia menoleh ke samping tempat tidur dan melihat ambu tak ada di situ. “Ambu!” pekik Dewi menyadari ada sesuatu yang menimpa ambu. Dewi segera keluar kamar. “Ambu? Ambu di mana?” panggil Dewi.
__ADS_1
Bulu kuduknya meremang. Ia merasa ada sesuatu yang menatapnya kemana pun ia bergerak dari kegelapan pojok-pojok rumah. Dewi melihat sapu ijuk yang tergeletak di lantai. Dewi mengerutkan keningnya, “Ambu? Ambu di gudang ngapain?” Dewi lalu menyibak pelan gordennya.
Ia melihat ambu sedang duduk bersimpuh membelakanginya di atas tikar. “Ambu, ngapain salat Tahajud di sini sih?” kata Dewi seraya mendekat lalu menepuk lembut bahu ambu. Pelan-pelan kepala dengan mukena itu bergerak menoleh. Dewi deg-degan karena ia takut saat menoleh ternyata bukan wajah ambu. Tapi Dewi menghela nafas lega saat melihat wajah ambu yang menoleh dan menatap dirinya.
__ADS_1