
Dewi menunduk, “Berarti Dewi memang bertanggung jawab atas kematian Esih dan Wira, Ambu … karena Dewi menyanyikan kawih itu dan Dewi melihat sosok itu setelah menyanyikannya, itu artinya Dewilah yang memanggilnya kembali ….”
“Astaghfirullah …” wajah ambu mendadak pucat.
“Padahal Dewi tidak menyelesaikan kawih itu Ambu …” geleng Dewi tak mengerti.
“Tapi jangan menyimpulkan dulu Wi, belum tentu kamu … bisa saja sosok itu muncul begitu saja karena dendam lama yang belum tuntas ….”
“Tapi Ambu, kenapa Esih dan Wira? Apa hubungannya mereka dengan dendam Nyai Galunggung?”
“Sayangnya Ambu tidak tahu Wi ….”
...***...
__ADS_1
Telepon genggam Imas berbunyi. Imas mengangkatnya dan terdengar suara Nining, “Imas … kamu dulu pernah bantu-bantu di kelurahan jadi bagian administrasi warga ‘kan ya?” Imas mengerutkan kening belum mengerti akan kemana arah pertanyaan ini tapi ia menjawab, “Iya … kunaon kitu (kenapa gitu) Ning?”
“Nah berarti maneh apal silsilah keluarga-keluargawarga atuh ya?”
Imas tertawa, “Ya engga semualah anjir … paling yang deket-deket aja.”
Nining menggangguk-ngangguk, “Ok … kalau gitu maneh tahu nama kakeknya Esih dan Wira?” Imas mencoba mengingat-ngingat, “Iya inget … soalnya kemarin ‘kan baru bantuin ngurusin adminitrasi buat pemakaman mereka jadi membuka data lama … kalau Esih, nama kakeknya itu Engkus Pribados … kalau Wira itu nama kakeknya Cecep Koswara.”
Nining menyebutkan nama-nama itu pada mamahnya yang berada di sampingnya. Mamah terkejut dan mengangguk, “Iya Ning itu namanya, jadi mereka adalah cucu Engkus dan Cecep ya.” Kemudian wajah mamah terlihat sedih seraya bergumam pelan, “Kasihan anak-anak itu … seharusnya ini sudah tak terjadi lagi.”
“Kalau nama kakeknya Anton, maneh apal teu (kamu tahu ga)?” tanya Nining lagi.
“Hadeh Mas, nama kakeknya, aku ga peduli sukunya,” potong Nining.
Imas nyengir, “Ga tau euy … harus cek ke kelurahan dulu.”
“Kalau nama kakek maneh saha Mas?”
__ADS_1
“Barja Rukmana.”
“Syukurlah kamu tidak termasuk …” lega Nining.
“Apakah ini soal sumpah dendamnya Nyai Galunggung ya?” akhirnya Imas bisa menangkap kemana arah pertanyaan Nining sejak awal tadi.
“Kok kamu tahu Mas?”
“Orang-orang kampung sudah membicarakannya Ning ….”
“Astaga … ya sudah Mas, aku mau nelpon Anton dan Dewi untuk memperingatkan mereka,” kata Nining cepat lalu menutup teleponnya.
HP Anton yang berada di kamar berbunyi tapi tak terdengar oleh Anton yang sedang menonton televisi karena deringnya di-silent. Terdengar ketukan di pintu depan. “Ton … Anton.” Anton mendengar suara perempuan memanggil namanya. “Eh mamak (ibu : Bhs. Batak) sudah pulang gitu?” gumam Anton bertanya-tanya. Ketukan terdengar lagi disusul suara memanggil. “Ton … Anton.” Anton pun berdiri untuk membuka pintu tersebut.
Nining berdecak kesal karena teleponnya tak diangkat Anton. “Sudah tidur mungkin Ning,” kata mamah. Tiba-tiba Imas meneleponnya. “Ada apa Mas?” tanya Nining. “Urang inget nama kakeknya Anton!” cetus Imas. “Saha Mas (siapa)?” tanya Nining cepat.
Sementara itu. Anton membuka pintu depan rumahnya. Ia bingung karena tidak ada siapa-siapa di depan pintu. Ia celingak-celinguk untuk memastikan tapi memang tidak ada siapa pun. Terdengar suara anjing menggonggong. Anton mengusap-ngusap tengkuknya lalu kembali masuk ke dalam rumah, menutup pintunya. Tanpa disadari Anton, pintu itu terbuka sendiri. Anton merasakan angin dingin meniupi punggungnya. Ia pun membalikkan badan, mengerutkan keningnya. Dalam hatinya ia yakin telah menutup pintu itu tadi. Baru saja ia akan menutupnya tiba-tiba seekor burung Cung Cuing terbang masuk ke dalam rumah membuatnya kaget.
__ADS_1
***