
Tiga orang pria sedang melakukan ronda malam itu. Mereka berjalan di pinggir jalan raya kampung yang sepi. “Eh katanya … Nyai Galunggung datang lagi ya ke kampung kita? Esih dan Wira itu katanya korbannya,” kata pria bersarung di kepala. “Nyai Galunggung? Saha eta (Siapa itu)?” tanya pria satunya. “Ah maneh mah moal apal, maneh mah budak TikTok, apal na ngan seleb TikTok hungkul (Ah kamu mah ga akan tahu, kamu ‘kan anak TikTok, tahunya cuma seleb TikTok doang),” tawa pria bersarung.
“Nyai Galunggung itu sinden terkenal jaman baheula, tapi ceunah (katanya) moksa di hutan angker karena dia miara setan,” pria ketiga yang memakai kupluk berbaik hati menjelaskan. “Hiii,” gidik si pria Tiktok, “terus kenapa dia balik lagi?”
“Atuh teuing (aduh ga tahu) ceunah sih dendam lama tapi eta ge (itu juga) baru dugaan,” jawab pria berkupluk. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara keras dari sebuah motor yang melesat dengan kecepatan tinggi dan menabrak dinding gapura dengan suara tabrakan yang memekakkan telinga di depan mereka. “Astaghfirulloh!” teriak kaget ketiga pria itu berbarengan. Mereka diam terkesima melihat kejadian itu untuk beberapa saat. Lutut mereka lemas tapi setelah bisa menguasai diri, mereka mendekati tempat kecelakaan tersebut.
Mereka melihat kepala motor yang hancur begitu juga kepala pengemudinya yang tanpa helm. “Alah siah, ini mah si Anton …” kaget pria bersarung yang masih bisa mengenali wajah pengemudi motor itu.
...***...
Dewi menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan makam Anton. Tangannya mengepal gemetar. “Sudahlah Wi, kita harus ikhlas, Anton mengalami kecelakaan, namanya musibah, ga ada yang tahu,” bisik Imas di sebelahnya. Dewi menggeleng, “Saya sudah bilang … ini bukan kecelakaan Imas … kenapa tidak ada yang mendengar dan mempercayai saya?!”
“Ok, ok … urang percaya maneh … jadi kawih itu yang menyebabkannya?”
__ADS_1
Dewi mengangguk, “Menurut saya begitu … kawih itu memanggil sosok yang seharusnya tidak dipanggil … saya harus bertanggung jawab karena telah menembangkan kawih itu dan mendatangkan sosok itu.”
Imas melirik Dewi lalu kembali menatap makam Anton, “Andaikan saja kita ga iseng ya.” Dewi menengok sekelilingnya, “Mana Nining?”
Imas mengangkat bahunya, “Ga tahu.” Kemudian mereka tak bicara beberapa saat hanya memandangi makam Anton. “Setan memang bisa memperbudak manusia tapi manusia juga bisa memperbudak setan, kalau saling memperbudak begitu menurut maneh itu sebuah hubungan yang saling menguntungkan atau merugikan?” tanya Imas tiba-tiba.
“Maksud kamu apa Mas?” Dewi merasa aneh dengan kalimat itu. “Menurutku saling menguntungkan karena kedua pihak mendapatkan apa yang diinginkan bukan?” lanjut Imas. “Terus apa hubungannya dengan kematian teman-teman kita?” heran Dewi. Imas hanya mengangkat bahunya.
\*\*\*
Imas manggut-manggut, “Kalau begitu semoga kamu selamat ….” Dewi melirik Imas, dengan cara Imas mengatakannya tanpa intonasi seperti itu malah membuat kalimat itu terasa berarti sebaliknya. Imas kemudian berjalan pergi.
...***...
__ADS_1
“Tidak Wi, ini bukan tanggung jawabmu!” tegas ambu. “Ambu … apakah Ambu tega melihat semua orang jadi korban Kunti Hideung? Sudah tiga orang teman Dewi jadi korban padahal mereka tidak tahu apa-apa … ga adil buat Esih, Wira dan Anton … hanya Dewi yang bisa menghentikannya karena Dewi yang mengundangnya Ambu!” cetus Dewi, “malam ini Dewi akan tetap melakukannya.”
Ambu menggeleng, “Tidak Wi … kamu tidak akan bisa menghentikannya.”
“Dewi yakin bisa.”
“Tidak Wi, kamu tidak akan bisa!”
“Kenapa Ambu?” Dewi menatap ibunya yang terlihat begitu tegas dan tak yakin padanya itu, “katakan Ambu kenapa Dewi tidak bisa menghentikannya?” Ambu mengangkat kepalanya dan menatap Dewi, “Karena kakekmu bernama Tata Subarna.”
“Apa?” kaget Dewi.
“Ya kakekmu dulu adalah salah satu orang yang memukuli suami Nyai Galunggung hingga tewas … kamu adalah keturunan yang harus dihabisi Nyai Galunggung dan Kunti Hideung tahu itu!”
BERSAMBUNG
__ADS_1