
“Mamah tahu dari mana semua cerita ini?”
“Dari teman dekat Nyai Galunggung yang dititipkan Mamah dan akhirnya menjadi orang tua angkat Mamah … Ning kamu harus tanya temanmu apakah di antara mereka ada yang menembangkan kawih itu dan cari tahu siapa nama kakek teman-temanmu itu semua.”
“Baik Mah.”
...***...
__ADS_1
Dewi sedang berpikir, kemana dirinya akan bertanya perihal kawih karuhun dan Nyai Galunggung ini? Siapa yang tahu soal pesinden legendaris ini? Akhirnya Dewi memutuskan untuk menanyakannya pada ibunya. Dewi mendekati ibunya yang sedang duduk di halaman belakang rumah. Matanya menatap kosong karena di dalam pikirannya tengah berkecamuk pikiran tentang kematian teman-teman putrinya yang menjadi bahan omongan orang sekampung dan ia terkejut ketika Dewi menepuk pundaknya, “Astgahfirullah Wi! Ngagetin aja kamu!” Dewi menarik kursi dan duduk di depan ibunya, “Ambu kok ngelamun sih? Ngelamunin apa?”
“Ga ngelamunin apa-apa, cuma lagi inget sama abahmu yang lagi kerja di luar kota,” ucap ambu mengalihkan apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya. “Abah baik-baik kok Ambu, tadi abis telponan sama Dewi … abah terkejut mendengar kabar kematian Esih dan Wira,” kata Dewi.
“Iya … Ambu juga kaget … kenapa mereka senekat itu ya? Bunuh diri?”
“Mereka ga bunuh diri Ambu,” sanggah Dewi.
“Maksudmu?” ambu menatap serius Dewi.
“Apa? Maksudmu gimana Wi?”
__ADS_1
Dewi mengeluarkan buku kumal itu lalu menyerahkannya pada ibunya dan menceritakan semuanya. Ambu diam terpaku mendengar cerita Dewi sembari melihat buku itu dan dalam pikirannya ambu semakin meyakini apa yang terjadi pada Esih dan Wira bukanlah kematian biasa dugaannya benar seperti yang berkecamuk dalam pikirannya.
“Apakah Ambu tahu soal kawih ini dan soal Nyai Galunggung? Dewi tidak tahu harus bertanya kepada siapa, rasanya setiap orang yang Dewi tanya soal Nyai Galunggung semua menutup mulutnya … Dewi bingung Ambu ….”
Ambu terdiam seperti ragu untuk bercerita tapi ia melihat Dewi sangat tertekan dengan kematian kedua sahabatnya itu maka Ambu memutuskan untuk menceritakan apa yang diketahuinya.
“Wi, mereka takut untuk menceritakan soal Nyai Galunggung, bahkan tabu buat sebagian orang sini menyebut nama itu … tapi Ambu akan bercerita sebanyak yang Ambu tahu … jadi Nyai Galunggung itu adalah sinden terkenal tahun tujuh puluhan di Jawa Barat, tapi beredar kabar, kalau dia dan suaminya itu maen dukun untuk bisa terkenal, lalu orang kampung mengusir mereka dan memukuli suaminya hingga mati … Nyai Galunggung pun marah dan bersumpah untuk membalas orang-orang yang membunuh suaminya bahkan sampai ke anak cucunya … hampir semua orang kampung yang ada di sana saat kejadian mendengar sumpah itu dan semuanya ketakutan.”
“Dan buku itu, sepertinya memang buku catatannya … dan kawih itu … adalah kawih yang terlarang untuk dinyanyikan.”
“Kenapa Ambu?” Dewi semakin cemas mendengarnya.
__ADS_1
“Itu bukan kawih biasa Wi … para sepuh kesenian Jawa Barat sepakat bahwa kawih itu terlalu gelap dan mistis sehingga dilarang untuk dibawakan oleh para pesinden … terlebih karena kawih itu ditulis oleh Nyai Galunggung untuk memanggil setan terjahat di tanah Sunda … namanya … Kunti Hideung ….” ambu mengecilkan suaranya saat menyebut nama itu lalu segera membaca ta’awudz.
“Kata legendanya yang Ambu dengar dari para sepuh kampung ini … penampakan sosok ini memakai baju hitam, rambutnya hitam panjang, tidak memiliki bola mata, yang ada hanya dua rongga bolong berwarna hitam dan sosok ini sangat kejam, bisa disuruh untuk membunuh, bisa menyerupai macam-macam … dia senang menjilati luka korbannya yang sudah mati kemudian membuatnya hidup lagi untuk mati di tempat lain seakan bunuh diri atau kecelakaan … tapi … untuk menguasai sosok kejam ini … orang harus tinggal di hutan angker itu dan menjadi bagian tergelap dari dunianya.”