TEMBANG BEDOL NYAWA

TEMBANG BEDOL NYAWA
PAEHAN KABEH(MATIKAN SEMUA) CHAPTER 6


__ADS_3

“Eh lo denger ga tuh?” cetus seorang teman yang memegang bola basket. Semua orang yang berada di lapangan terdiam dan mendengarkan. Suara degung itu terdengar jelas mengalun seakan sedang mengiringi seorang pesinden. Anton melihat pada Wira, “Wir … siapa yang maenin degung?”  Wira hanya mengangkat bahunya. “Kau sudah kunci pintunya ‘kan?” tanya Anton, Wira mengangguk. “Anjrit urang merinding euy,” celetuk salah satu dari mereka. “Aing oge anjir (Saya juga anjir), hiiii,” timpal yang lain sembari memegangi tengkuknya.


Mang Uus penasaran, ia mencoba membuka pintu ruang karawitan ternyata pintunya tidak terkunci. Semua orang di lapangan ikut melihat dan menunggu dengan was-was. Mang Uus membuka pintunya sedikit lalu mengintip. “Aya naon (ada apa) Mang?” tanya Anton dari pinggir lapangan. Mang Uus menggeleng karena belum bisa melihat apa pun tapi alunan degung itu masih terdengar. Pintu pun dibukanya dengan lebar dan seketika alunan degung itu berhenti.


Mang Uus berdiri terpaku di depan pintu yang terbuka itu dengan wajah terkejut. Bibirnya gemetar dan tangannya menunjuk, “Astaghfirulloh ….” Hanya kata itu yang terdengar dari bibir Mang Uus. Anton dan teman-temannya berlari mendekat untuk melihat apa yang terjadi di dalam ruang karawitan. Mata Anton terbelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Semua temannya pun menjerit.


Di dalam ruangan karawitan tampak Wira telah menggantung dirinya sendiri dengan selendang tari yang dililitkan di lehernya.


“Ga mungkin,” kata Anton dan segera menoleh ke lapangan. Tampak Wira tengah berdiri di pinggir lapangan dengan tawa yang menyeringai. “Saha maneh (siapa kamu)!?” bentak Anton membuat kaget semuanya tapi mereka tidak melihat apa yang dilihat Anton. Bagi mereka lapangan basket itu tampak kosong. Wira tertawa dan bergerak melayang ke pohon besar lalu menghilang di sana.  


 

__ADS_1


...***...


 


Nining duduk di pinggir tempat tidurnya sambil memikirkan nama Nyai Galunggung yang didengarnya dari Dewi. Ia juga teringat perasaannya saat membaca syair-syair di kawih pada buku kumal itu, ia merasakan ada sesuatu pada kawih itu. Bukan karena ia pernah melakukan ritual sebagai pesinden profesional tapi tanpa melakukan itu pun, aura tak enak pada kawih itu bisa dirasakan dengan mudah bagi yang biasa menembang kawih karuhun. Dewi betul, hanya saja ia menyembunyikan semua ini di depan teman-temannnya karena ia sendiri masih ragu apakah yang dirasakannya ini benar atau hanya perasaannya saja.


“Ning …”


Nining mengangguk.


“Tidak ada yang menyangka ya ….”

__ADS_1


“Mah … sebagai pesinden, apakah Mamah percaya ada kawih atau tembang yang bisa membawa kematian?” tanya Nining.


Mamah terkejut dengan pertanyaan itu, “Maksudmu?”


“Dewi … teman Nining, menemukan sebuah buku yang di dalamnya tertulis sebuah kawih karuhun … anehnya saat membaca syair itu, Nining merasa ada sesuatu yang tak enak, syairnya membuat bulu kuduk berdiri,” jelas Nining. “Buku? Kawih?” Nining mengangguk. Mamah bertanya-tanya dalam hatinya, apakah buku dan kawih ini sama dengan buku dan kawih yang ada dalam pikirannya?


“Bukunya seperti buku catatan, sudah kumal, halamannya menguning sebagian sudah sobek, tinta tulisannya juga mulai hilang ….”


Mamah terdiam.


“Mah … Mamah tahu pesinden bernama Nyai Galunggung ga?”

__ADS_1


Mamah membelalakan matanya terkejut. Nining memandangi mamahnya, “Kenapa kaget Mah? Mamah tahu Nyai Galunggung itu?”


__ADS_2