TEMBANG BEDOL NYAWA

TEMBANG BEDOL NYAWA
PAEHAN KABEH(MATIKAN SEMUA) CHAPTER 4


__ADS_3

Keesokan harinya, Dewi mendatangi Pak Ujang di ruang karawitan. “Coba mana buku yang kamu maksud di WA semalam?” tanya Pak Ujang. Dewi menyerahkan buku itu. Pak Ujang memperhatikan buku itu untuk beberapa menit, membolak-balik, juga membuka halaman-halamannya. “Di mana kamu temukan buku ini Wi?” Pak Ujang bertanya dengan matanya terus memperhatikan buku tersebut.


“Di perpus Pak.”


“Saya belum pernah melihat buku ini di perpus selama ini ….”


“Saya menemukannya di lantai Pak.”


“Oya? Yang menarik di buku ini ada nama pesinden ternama tahun tujuh puluhan ….”


“Mana Pak, saya ga lihat.”

__ADS_1


Pak Ujang menunjukkan sebuah tulisan kecil di ujung buku pada halaman akhir yang tintanya sudah menipis dan sangat samar bahkan Dewi pun harus mengerutkan keningnya untuk bisa membaca nama itu. “Sepertinya ini buku catatan lagu-lagunya,” sambung Pak Ujang. “Saya ga pernah dengar namanya Pak,” Dewi berusaha keras berpikir soal nama itu tapi selama yang bisa diingatnya, nama itu tidak termasuk dalam nama-nama pesinden legendaris di Jawa Barat.


“Nyai Galunggung …” gumam Dewi.


 “Tentu saja kamu dan orang-orang sekarang tidak tahu … Bapak saja tidak akan tahu kalau tidak sering-sering ngumpul sama para sepuh kesenian Jawa Barat, dari para sepuh itulah, Bapak suka mendapat cerita yang tidak ada di buku … Nyai Galunggung … beliau salah satu pesinden hebat di masanya … tapi menurut cerita turun temurun … di masa-masa keemasannya, beliau moksa* di sebuah hutan … hutan yang dikenal sebagai hutan angker …” ungkap Pak Jajang.


*Moksa artinya menghilang begitu saja, tidak hidup juga tidak mati.


“Menurut mereka yang tahu sih katanya benar … banyak versi ceritanya Wi … ada yang bilang karena sakit hati … ada yang bilang karena dendam … entahlah ….”


“Tapi bagaimana buku ini bisa ada di sini?”

__ADS_1


“Bapak juga tidak tahu Wi … mungkin muncul begitu saja atau entahlah … tapi fenomena keganjilan dalam seni tradisional kita itu memang nyata adanya … kamu mau percaya atau tidak, silakan … tapi sebagai generasi muda penerus dan pewaris seni budaya negeri ini, kamu harus menghormati itu semua.”


“Iya Pak … saya hanya berpikir … apakah kawih di buku ini sebagai penyebab kematian Esih?”


“Mati hidup manusia itu ada di tangan Sang Kuasa,” senyum Pak Ujang.


“Tapi saya merasakan aura jahat di kawih ini Pak … coba Bapak baca syairnya.”


 Pak Ujang melihat sebuah halaman yang ditunjukkan Dewi. Bola matanya bergerak-gerak membaca. “Gimana menurut Bapak?” tanya Dewi. “Satu-satunya cara untuk menjelaskan ini, kamu harus mencari keturunan Nyai Galunggung dan menanyakan pada mereka … siapa tahu, ada yang tahu maksud dari kawih ini, Bapak tidak bisa mengatakan apakah kawih ini bermistis atau tidak,” jelas Pak Ujang lalu menutup pembicaraan dan menyerahkan kembali buku itu pada Dewi. “Baiklah Pak, kalau gitu nuhun (terima kasih) buat waktunya ya Pak,” kata Dewi, Pak Ujang mengangguk Dewi pun melangkah keluar ruangan.


Setelah Dewi pergi, Pak Ujang menutup pintu ruangan karawitan dan ternyata di balik pintu berdiri seorang perempuan tengah menatapnya.

__ADS_1


“Astaghfirulloh!” jerit Pak Ujang terkejut. Perempuan itu nyengir. “Ning! Kirain siapa! Ngareuwaskeun wae (Ngagetin aja) kamu!” kesal Pak Ujang. “Punten Pak, ga bermaksud ngagetin,” kata Nining. Pak Ujang mengunci pintu, “Dari tadi kamu berdiri di situ heh? Ngapain? Kenapa ga masuk aja? Barusan temenmu si Dewi baru dari sini … aya naon (ada apa)?” Nining menggeleng, “Ga ada apa-apa kok Pak … cuma mampir aja.”


__ADS_2