TEMBANG BEDOL NYAWA

TEMBANG BEDOL NYAWA
DI GIGIREUN ANJEUN(DI SAMPING KAMU)BAB 1


__ADS_3

Dewi duduk seorang diri menghadap kaca rias di dalam kamarnya malam itu. Lampu kamarnya sudah dimatikan dan ia hanya menggunakan sebatang lilin sebagai penerang. Dewi menatap wajahnya. Buku kumal itu ada di hadapannya. “Baiklah inilah saatnya,” bisik Dewi. Di luar kamar tampak ambu yang terlihat khawatir. Sejujurnya ambu tetap berat untuk mengizinkan Dewi melakukan hal ini karena taruhannya nyawa tapi Dewi bersikukuh untuk bertanggung jawab dengan segala resikonya, akhirnya ambu mengalah tapi dengan syarat ambu diijinkan menjaganya di depan pintu kamar yang tidak dikunci. Kini ambu mengenakan mukena putih untuk membantu anaknya dengan doa.


Dewi mengatur nafasnya. Memejamkan matanya. Perlahan bibirnya terbuka, pita suaranya merekah dan ia mulai mengambil nada untuk memulai syair pertama dalam menembangkan kawih terlarang itu.


Wengi poek. Seungit kembang bangkai.


Suaranya mengalun indah, membuai. Seperti suara pesinden berpengalaman dalam pentas-pentas wayang golek dengan dalang ternama.


Abdi hoyong pateupang. Ulah dumadakan.

__ADS_1


Lirih sekali Dewi menembangkan syair ini seperti sedang merindukan kekasih yang tak kunjung datang. Di luar mendadak angin bertiup kencang, menggoyangkan tanaman, menggemerisikkan daun-daun pohon besar dan membuat anjing menggonggong. Ambu semakin khusyuk berdoa mendengar semua itu. Api lilin di dalam kamar Dewi mulai bergoyang-goyang.


Ngaharewos lalaunan. Bejaan aya di dieu.


Berdiri bulu kuduk Dewi di bagian ini. Ia bisa merasakan kehadiran di dalam kamarnya. Hatinya sebenarnya takut tapi Dewi terus menembangkannya.


Di gigireun di tukangeun anjeun.


Perlahan Dewi bisa mendengar musik degung Sunda berbunyi bersamaan dengan suara seruling yang datang dari pojok-pojok gelap kamar yang tak terterangi cahaya lilin. Mengalun pelan memenuhi kamar. Berdiri bulu kuduk Dewi. Perempuan cantik berkebaya dan bersanggul itu menatap Dewi lalu menembangkan lanjutan kawih dengan iringan degung.

__ADS_1


Urang duaan ngalayang. Saacan janari terang.


Keringat dingin menetes di punggung dan dahi Dewi. Ia terdiam. Kombinasi suara Nyai Galunggung dan degung yang mistis bergerak menelusuri syaraf ketakutannya. Seperti menelikungnya dari belakang, membuatnya tak bisa bergerak. Jemari Nyai Galunggung yang lentik bergerak menari lemah lembut. Entah dari mana tiba-tiba dari balik gorden jendela, masuk seekor ular besar belang berwarna merah dan hitam. Lidahnya menjulur-julur. Ular itu merayap melalui gorden dan turun ke tempat tidur Dewi.


Neangan anu diteang.


Nada tinggi di bagian ini mengiris-iris nyali Dewi. Ia ciut di hadapan maestro sinden ini. Ternyata penampakan Nyai Galunggung lebih mengerikan dibanding sosok iblis mana pun karena aura gelap yang membungkusnya mematikan semua nalar dan logika. Senyuman dan kerlingan matanya membumihanguskan keberanian manusia. Dewi tahu ini jauh bahkan sangat jauh dari jangkauannya. Ia bisa mati dengan mudah di tangan Nyai Galunggung.    


Seungit kembang bangkai.  Di tengah wengi poek.

__ADS_1


Kawih itu selesai dinyanyikan dan suara degung pun lamat-lamat menghilang kembali ke pojok-pojok kamar yang gelap. Tubuh Dewi bergetar saat Nyai Galunggung menatapnya dengan bibirnya menyungging senyum. “Saya mohon Nyai, maafkan kami… ini bukan dosa kami,” Dewi memberanikan diri berkata meski gemetar.


__ADS_2