
Dewi membuka matanya dan ambu segera memeluknya. “Sekarang kamu percaya ‘kan Ning?” kata Dewi. “Sejak awal sebetulnya aku sudah merasakan aura mistisnya Wi … tapi aku tidak bisa mengatakannya kalau belum pasti apalagi membuat semuanya panik,” jelas Nining, “dan karena sekarang mamah sudah menjelaskan dan aku sudah pasti … kawih itu memang berbahaya.”
“Terus bagaimana kamu tahu saya akan melakukan pemanggilan ini Ning?” tanya Dewi. “Wi … Nining dan mamahnya ini adalah cucu dan anak dari Nyai Galunggung … jadi ikatan batin mereka sudah kuat, mereka bisa merasakan kalau Nyai Galunggung itu muncul,” ambu yang menjelaskan. “Ya Tuhan … kamu cucunya maestro sinden legendaris Ning,” kaget Dewi. “Ah … aku dan mamah malah malu … apa yang dilakukan nini, buat kami ini memalukan dan sebuah aib,” Nining menggeleng seakan menyesali tindakan neneknya yang bersekutu dengan dunia kegelapan.
“Dan Wi … Ambu baru tahu, kalau mamahnya Nining ini pesinden terkenal tahun sembilan puluhan loh … Titi Gayatri … Ambu ngefans banget sama beliau! Terakhir rilis lagu dan tampil di depan masyarakat itu sekitar tahun dua ribu sepuluh ya,” tebak ambu, “setelah itu ga kedengaran lagi.”
“Ah benar, hebat Ambu masih ingat … betul … setelah itu saya pensiun dari dunia sinden … sekarang waktunya pesinden muda dan cantik yang harus tampil,” senyum Mamah Titi seraya menatap Dewi dan Nining. Ambu tersenyum senang tebakannya benar. “Oya Wi, ambu kamu tadi menyerahkan buku ini waktu kamu masih pingsan,” kata Mamah Titi sambil menunjukkan sebuah buku kumal. “Buku ini Tante ambil dan akan Tante musnahkan, untuk menghindari penyalahgunaan ke depannya ya,” lanjut Mamah Titi.
“Iya Tante … ambil saja, gara-gara buku itu, saya harus kehilangan tiga orang teman,” kata Dewi lesu. “Tante ikut bersedih … tidak seharusnya ini semua terjadi … semoga ini semua sudah selesai ya Wi,” senyum Mamah Titi. “Beneran Tante? Apakah semua ini sudah selesai” ulang Dewi ingin yakin karena ia sangat takut kalau ini semua belum berakhir dan sosok menyeramkan itu datang kembali. Mamah Titi mengangguk. “Ah senangnya, terima kasih Mamah dan kamu juga Ning,” ucap Dewi senang. Nining tersenyum.
“Baiklah, karena semuanya sudah kembali normal, saya dan Nining mohon pamit ya Wi, Ambu,” ucap Mamah Titi. Mereka pun saling berpelukan lalu berjalan keluar rumah.
__ADS_1
“Sudah tidak ada yang harus kamu takutkan lagi Wi … dan soal tanggung jawab itu … itu bukan kewajiban kamu … tapi aku dan mamah, karena kita cucu dan anaknya …” Nining mengatakan itu sebelum masuk ke dalam mobil. “Iya Ning … waktu itu saya hanya berpikir, karena saya yang menembangkan kawih itu, jadi saya yang harus bertanggung jawab,” Dewi memberikan alasan, “meski saya hanya menyanyikan sampai syair kelima saja ga duga dampaknya separah ini ….”
Air muka Mamah Titi berubah saat mendengar kalimat Dewi, yang tadinya sedang tertawa bersama ambu mendadak diam dan Nining melihat perubahan itu. Akhirnya, ambu dan Dewi pun melambaikan tangan seiring mobil yang membawa Mamah Titi dan Nining berjalan menjauh. Di perjalanan Nining memandangi mamahnya yang tengah mengendarai mobil. Mata Mamah Titi memandang ke jalan tapi Nining tahu ada yang sedang dipikirkan mamahnya.
“Ada apa Mah?”
Mamah menatap Nining sebentar lalu matanya kembali ke jalan. “Apakah kamu mendengar apa yang dikatakan Dewi sebelum kita masuk mobil tadi?” tanya Mamah Titi. “Iya, kalau dia menyanyikan kawih karuhun itu hanya lima baris saja, memang kenapa Mah?” tanya Nining. Mamah terdiam dan tampak gelisah. “Ada apa sih Mah, kok seperti yang gelisah begitu? Aku jadi was-was nih,” kata Nining.
“Sudah seharusnya Ning.” Mamah mengusap wajahnya.
Mamah Titi mengangguk.
__ADS_1
“Kenapa?” heran Nining.
“Ning, Mamah mau nanya tapi jawab jujur … apakah kamu juga menyanyikan kawih itu dengan lengkap di rumah atau di tempat lain?” Mamah menjawab pertanyaan Nining dengan pertanyaan lagi. “Ga … aku ga hapal syairnya … jadi mana mungkin aku bisa nyanyiin kawih itu di rumah dengan benar dan lengkap?” jawab Nining, “kenapa memangnya Mah?”
“Karena, kawih itu ga akan berdampak apa-apa kalau tidak dinyanyikan dengan benar dan selesai,” ungkap Mamah Titi.
“Jadi maksud Mamah?”
“Ini belum selesai Ning …” kata Mamah Titi lalu membanting setir menuju arah yang berlawanan. Suara decitan roda mobil yang beradu dengan aspal jalan terdengar nyaring berbunyi di malam yang sepi. Nining menjerit terkejut, “Mah! Ada apa sih?!” Setelah mobil berada di posisi stabil, gasnya diinjak dalam-dalam oleh Mamah Titi seraya berkata, “Nyawa Dewi dan ambunya sekarang benar-benar terancam Ning! Kita harus menolongnya!”
Mobil pun melesat menembus kegelapan malam.
__ADS_1
BERSAMBUNG