
“Ada apa Ambu? Ayo pindah kamar,” ajak Dewi. Ambu menggeleng lalu berbisik, “Ada setan Wi.” Dewi terkejut dan jantungnya berdebar, “Di mana? Emang Ambu lihat?” Ambu mengangguk pelan. “Mana setannya?” bisik Dewi takut.
“Ini,” tunjuk ambu pada dirinya sendiri lalu kepala ambu lepas dari tubuhnnya dan jatuh menggelinding mengenai kaki Dewi. Dewi melompat kaget dan menjerit-jerit melihat kepala ambu yang memakai kain kafan berkuncup itu bergoyang-goyang di lantai seperti buah kelapa yang baru jatuh dari pohonnya. Mata ambu melotot dan tawanya menyeringai lebar membuat Dewi semakin panik.
“Eh denger ga tuh? Ada suara jeritan dari rumahnya ambu,” cetus pria bersarung pada kedua temannya. “Hayuk kita cek! Takut ada apa-apa!” ajak pria Tiktok maka mereka bertiga bergegas menuju rumah ambu tapi baru sampai pagar rumah mendadak mereka berhenti dan diam membeku.
Di teras rumah ambu muncul penampakan kuntilanak hitam berdiri di pojok teras yang gelap dan menatap ketiga pria itu. “Astaghfirulloh!” gemetar pria bersarung melihat sosok yang selama ini hanya dilihatnya di sosial media saja. “Ayuk pulang aja yuk,” ajak pria berkupluk dengan kedua kakinya gemetar. “Si Tiktok kamana?” tanya pria bersarung gugup. “Tuh si anying udah lari duluan,” kata pria berkupluk gemetar menunjuk pria TikTok yang sudah lari tunggang langgang lebih dulu. Kemudian mereka berdua pun lari secepat yang mereka bisa. “Kuntilanaaaak,” teriak mereka.
Dewi berlari keluar dari gudang kecil itu dengan dada yang naik turun cepat karena ketakutan. Kemudian ia terus mencari ibunya. “Ambu, Ambu,” panggil Dewi gemetar mencari ke kamar-kamar.
__ADS_1
“Wi … Wi ….”
Dewi mendengar suara lemah itu dan berlari ke dapur. Ia terkejut melihat ambu sudah tergantung dengan leher terikat pada seutas tali di palang kayu. Suara ambu terdengar lemah sekali, terkadang seperti orang mendengkur karena tercekik dan kehabisan udara. Kaki ambu menendang kesana kemari kejang. Dewi tahu ia harus segera menolong ibunya yang sudah kritis itu, tapi ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sendirian seperti ini. “Ambu bertahan Ambu!” teriak Dewi memeluk tubuh ibunya untuk menjaga agar leher ibunya itu tidak semakin tercekik. “Tolong! Tolong” teriak Dewi kepada tetangga.
“Subarna tingali … budak jeung incu maneh sakarat hihihi (Subarna lihat, anak dan cucu kamu sekarat hihihi).” Suara bergema itu terdengar meski tak tampak wujudnya. “Atos Nyai … atos … abdi jeung ambu nyuhunkeun pihampura (Sudah Nyai, sudah, saya dan ibu memohon pengampunan)!” mohon Dewi sambil menangis. Nafas ambu tersenggal dan tubuhnya melunglai lemah. “Tidak Ambuuu, tidaaak ….” jerit Dewi.
Tiba-tiba
Dewi terkejut mendengar teriakan dari Mamah Titi yang tiba-tiba muncul di dapur bersama Nining yang dengan cepat menarik kursi, menaikinya lalu memotong tali yang mengikat leher ambu dengan pisau. Tubuh ambu pun luruh dan tergolek tak sadarkan diri. Nining memeriksa nadi ambu. “Ambu masih hidup ayo kita bawa ambu ke kamar untuk menetralkan jantungnya Wi supaya nafasnya normal lagi” kata Nining, Dewi mengangguk. Mereka pun menggotong ambu ke kamar.
__ADS_1
Mamah Titi menatap sekeliling dapur yang luas itu.
“Ambu, ini Titi … anak Ambu … Ambu jangan pergi … Ambu masih di sini ‘kan? Sudah hentikan semua dendam ini Ambu, Titi mohon,” Mamah Titi mengatupkan tangannya di dada. Terdengar helaan nafas berat di belakang Mamah Titi. Mamah Titi dengan cepat membalikkan badannya tapi tidak ada siapa-siapa. “Ambu … orang-orang yang bertanggung jawab atas kematian abah sudah mati sejak dulu … sekarang sudah tidak ada yang harus dipaehan deui (dimatikan lagi) … cukup orang yang tak berdosa jadi korban Ambu, cabut sumpah itu Ambu,” pinta Mamah Titi. Tidak ada tanggapan tapi Mamah Titi bisa merasakan kehadiran ibunya di dapur itu.
Mamah Titi memejamkan matanya dan dalam pejaman matanya ia bisa melihat sebentuk gambaran perempuan cantik dengan sanggul dan kebaya berdiri tak jauh di hadapannya. Menatapnya. Tak bisa disentuhnya. Mamah Titi tersenyum, “Apa kabar Ambu? Lama kita tak bertemu … duh Ambu, Titi sono pisan ka Ambu (Titi rindu banget sama ibu),” lirih Mama Titi mengucapkan kalimat itu dengan air mata yang menetes.
...***...
__ADS_1