
Senyum Nyai Galunggung menghilang. Ia diam mematung dengan mata melotot pada Dewi dan tiba-tiba tubuh Dewi terlempar ke dinding. Dewi mengaduh sakit karena punggungnya menghantam dinding dengan keras. Ia berusaha bergerak tapi tak bisa. Tubuhnya menempel pada dinding. Nyai Galunggung melayang mendekati Dewi. Kakinya berjarak beberapa senti dari lantai, ujung kain kebayanya melambai-lambai.
Dewi menelan ludahnya melihat wajah Nyai Galunggung dari dekat. Ia bisa melihat begitu banyak kilatan amarah dalam bola matanya. “Subarna … inikah wajah cucumu? Hihihi.” Suara Nyai Galunggung terdengar bergema dan mengejek. “Tolong hentikan semua ini Nyai, abdi nyuhunkeun hampura (saya memohon maaf),” mohon Dewi dengan suara serak. “Subarna … Subarna … tingali yeuh (lihat nih) … incu maneh rek paeh (cucu kamu mau mati) hehehe.” Nyai Galunggung memandangi wajah Dewi dalam-dalam, seperti dewi kematian yang akan menjemput jiwa tak berdaya.
Dewi menggeleng, “Jangan … jangan … ini bukan dosa saya---“
__ADS_1
“Cicing (diam)! Subarna! Matakna jadi jalma kudu ngelingan maneh bakalan boga budak jeung incu (makanya jadi manusia harus ingat, kamu akan punya anak dan cucu), sangeunahna maehan salaki batur (seenaknya membunuh suami orang)! Ngafitnah batur (memfitnah orang)! Iyeu karma maneh, Subarna (Ini karma kamu Subarna)!” teriak Nyai Galunggung.
Wajah Nyai Galunggung mendadak berubah menjadi wajah Kunti Hideung yang sedang berteriak di hadapan Dewi! Dewi menjerit kaget melihat perubahan itu. Ia bisa melihat dua lubang rongga mata yang hitam pekat seperti sumur tanpa dasar di hadapannya. Ia bisa merasakan kengerian juga mendengar teriakan dari orang-orang yang direnggut nyawanya di dalam lubang rongga hitam itu.
Tak jauh, ular belang hitam merah tadi telah merayap di lantai mendekati kaki Dewi. Lidahnya bergerak keluar masuk dengan cepat. Ambu mendengar teriakan Dewi dan segera menggedor pintu kamar. “Wi! Dewi! Ada apa Dewi!?” cemas ambu yang berusaha membuka pintu kamar tapi tak bisa. Dari pintu depan ambu mendengar suara ketukan keras, ambu segera berlari ke pintu depan untuk membuka pintunya.
__ADS_1
Ular itu melilit pinggang Dewi dan kepalanya menjulur mendekati wajah Dewi. Kepala ular yang berbentuk pipih dengan matanya yang merah itu menatap Dewi siap memangsanya. Jantung Dewi berdetak tak karuan, ia ingin melepaskan diri tapi tak berdaya sesuatu yang tak kasat mata mengikatnya pada dinding ini. Dewi pun memejamkan mata dan berdoa memohon pertolongan pada Sang Kuasa. Kunti Hideung menghela nafasnya yang berat dan menggeleng-geleng seakan mengatakan percuma untuk berdoa karena dirinya sudah siap untuk mencabut nyawanya.
Perlahan ular itu membuka rahangnya menampakkan gigi taringnya yang meneteskan air liur. Dewi terus berdoa dengan cepat dan sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi. Desisan ular itu terdengar tajam sebuah tanda kalau ia akan memulai santapannya.
Namun, sayup-sayup terdengar alunan suara yang melantunkan sebuah tembang penolak bala, sebuah kawih ajimantra dari Sunda Karuhun yang menghanyutkan jiwa. Syairnya menggugah kesunyian mengusir ketakutan.
__ADS_1
Alam peteng ngabuder (Alam gelap tumbuh). Wani nyiliwuri setan (Keberanian mengejar setan). Rasa kanyeuri lain kula (Rasa sakit bukan karena saya). Doa pamunah jurig ti Gusti (Doa pemunah setan dari Tuhan). Nu indit tong balik (Yang pergi jangan kembali). Peuting poek teu sieun (Malam gelap tidak takut). Gera indit tong balik (Cepat pergi, jangan kembali).