TEMBANG BEDOL NYAWA

TEMBANG BEDOL NYAWA
PAEHAN KABEH (MATIKAN SEMUA) CHAPTER 5


__ADS_3

“Oya, Bapak sudah menempelkan pengumuman di mading kalau ujian bakat ditunda dulu karena kita masih berduka atas kepergian Esih yang mendadak … kalau-kalau kamu belum tahu info itu Ning,” ucap Pak Ujang lalu melenggang pergi. “Baik Pak,” kemudian Nining berdiri memandang jauh ke lapangan basket yang kosong dan bibirnya menggumamkan sebuah nama, “Nyai Galunggung ….”


 


...***...


 

__ADS_1


Wira memainkan alat degungnya sore itu. Ia memukulnya tanpa semangat dengan sesekali melihat ke depannya, tempat di mana Esih biasanya duduk memainkan alat degungnya juga. Ia mengucek-ngucek matanya yang mendadak basah. Anton menghentikan tiupan sulingnya ketika menyadari temannya itu sedang menitikkan air mata. “Wir … maneh teu nanaon (kamu ga apa-apa)?” tanya Anton. “Ga … urang ga apa-apa,” jawab Wira berkelit padahal hatinya sedang bersedih..


“Kau tadi ngajakin aku buat latihan kesini, katanya di rumah gabut … eh udah di sini kau malah jadi keingetan sama si Esih, aku juga jadi ikutan sedih Wir … dari pada kita sedih, mending kita maen basket sama anak-anak aja yuk di luar ….”


“Sori … sori … ayo kita latihan lagi Ton,” Wira memukul alat gendingnya lagi dengan asal terlihat sekali kalau ia sedang menutupi kegalauan hatinya. “Wir … hey Wir … emang kita latihan mau ngapain sih? Bukannya ujian bakatnya juga ditunda ya?” kata Anton.


“Hayuklah kita maen basket di luar,” ajak Anton berdiri dari duduknya. “Kamu bener Ton ... ga seharusnya saya cengeng kayak gini …” senyum Wira. “Nah gitu dong,” tawa Anton lalu berjalan keluar dan melihat Wira masih duduk di belakang gendingnya, “ayo atuh Wir!”  

__ADS_1


“Maneh duluan aja Ton ntar saya nyusul, mau ngunci pintu dulu.”


“Ok Wir, aku tunggu di lapangan ya,” Anton pun melangkah keluar ruangan menuju lapangan. Di depan pintu ruangan karawitan ia melihat Mang Uus sedang menyapu. “Mang Uus … eta lampu di perpus pareum euy (itu lampu di perpus mati euy) …” ucap Anton. “Tos digentos da kamari (Sudah diganti kok kemarin),” sahut Mang Uus, “Oh okeh sip kalau gitu mah,” kemudian Anton berlari masuk ke lapangan basket dan mulai bermain bersama teman-temannya.


Wira menarik dan menghela nafasnya. Melihat sekeliling ruangan karawitan. Pikirannya berhalusinasi, ia melihat dirinya saat sedang bersama Esih di waktu berlatih degung atau saat mereka sedang saling meledek di sela istirahat latihan. Setiap jengkal di ruangan ini, mengingatkannya pada Esih. Esih adalah gadis yang ditaksirnya diam-diam. Hatinya terasa nyeri kehilangan Esih begitu cepat.


“Ton! Oper!” teriak salah satu teman. Anton dengan segera mengoper bolanya dan ditangkap tepat oleh temannya itu yang men-dribble cepat lalu berkelit dari hadangan lawan dan melakukan gerakan slam-dunk. “Yes!” teriak Anton melihat temannya berhasil memasukkan bola pada keranjang. Di pinggir lapangan ia melihat Wira sedang berdiri. “Ah akhirnya nyusul juga kau … Wir mau maen? Gantiin aku!” teriak Anton dari dalam lapangan, Wira menggeleng, “Moal (tidak), urang mau nonton.” Kemudian Wira duduk di pinggir lapangan, Anton pun melanjutkan permainannya.

__ADS_1


Mang Uus yang sedang menyapu mendadak diam. Ia mengerutkan keningnya kemudian berjalan mendekati pintu ruang karawitan dan menempelkan telinganya pada pintu. Dari dalam ruangan terdengar suara alunan degung. Mang Uus menarik kepalanya seakan tak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Ia menempelkan telinganya lagi untuk memastikan apa yang didengarnya. Kini terdengar suara degung itu dengan lebih keras. Ia pun terkejut.


__ADS_2