TEMBANG BEDOL NYAWA

TEMBANG BEDOL NYAWA
NYAI GALUNGGUNG BAG 3


__ADS_3

“Halo Imas … jadi siapa nama kakeknya Anton?” Nining mengulangi pertanyaannya karena suara Imas mendadak hilang. “Yaybrsstxxx ... kresek … sita …” ucap Imas. “Hah? Ga jelas Mas, jaringan maneh kresekan tuh!” cetus Nining.


Di dalam rumah, Anton melihat burung Cung Cuing itu hinggap di ujung lemari lalu bercuit keras. “Astaga! Datang dari mana kau!?” seru Anton yang segera mengusir burung itu. Burung itu tidak terbang keluar tapi berputar-putar dalam rumah lalu masuk ke dalam kamar Anton. “Kurang ajar kali ini burung!” kesal Anton.


“Halo, halo Ning, udah jelas?” seru Imas.


“Nah ini jelas ... iya Mas.”

__ADS_1


“Nama kakeknya Anton itu … Yayan Wasita,” kata Imas. “Ya Tuhan!” kaget Nining yang langsung mematikan teleponnya dan kembali menghubungi Anton.


Anton masuk ke dalam kamarnya dan melihat burung itu ada di atas tempat tidurnya diam tak bercuit. Sedang di luar kamar, lampu-lampu ruangan satu persatu mati. Gelap seketika mengisi rumah Anton. “Ton … Anton.” Anton terkejut mendengar suara itu ada di dalam rumahnya. “Mak? Mak sudah pulang?” teriak Anton dari dalam kamar tapi tidak ada jawaban, di saat itulah Anton melihat HP-nya menyala dan langsung mengangkatnya.


“Halo Ning?”


“Ton … Anton.”

__ADS_1


“Ning, itu mamakku manggil … makasih ya sudah kau ingatkan,” kata Anton, Nining mengangguk, “Syukurlah kalau ada mamakmu di rumah.” Anton pun menyudahi pembicaraan, melangkah keluar kamar dan berdiri terpaku di depan pintu karena ruangan tampak gelap. “Mak ... apa Mak yang matiin lampunya?” Anton menunggu tanggapan mamaknya tetapi tidak ada tanggapan. Hanya gelap dan sunyi. Ia menekan saklar sebuah lampu dan lampu tetap tidak menyala. “Ton … Anton.” Anton menoleh mendengar panggilan itu dan melihat seorang perempuan berambut panjang berdiri dalam gelap di depan pintu kamar mamaknya.


Jantung Anton berdebar seketika. Ia tahu itu bukan mamaknya karena mamaknya tidak pernah memakai gaun panjang berwarna hitam seperti itu dan rambut mamaknya juga tidak sepanjang itu. Tanpa pikir panjang Anton berlari ketakutan ke pintu depan tapi belum sampai pintu depan Anton merasa tercekik. Ia memegangi lehernya, mencoba menghirup udara yang mendadak tidak bisa dihirupnya. Paru-parunya terasa pengap karena tidak ada oksigen yang masuk. Anton jatuh tengkurap lemas karena kehabisan udara tapi ia tetap berusaha menjangkau pegangan pintu depan untuk membukanya.


Mendadak sebuah tarikan keras membuatnya menjauh dari pintu dan melemparkan tubuhnya menghantam dinding. Anton pun jatuh terlentang, setelah menghantam dinding, nafasnya tersenggal. Burung Cung Cuing berciut-ciut keras lalu terbang keluar kamar dan menghilang entah kemana.


Belum sempat Anton menyadari apa yang terjadi, tubuhnya sudah terangkat tinggi lagi lalu menghempas lantai dengan keras hingga tulang punggungnya berderak patah. Tidak sekali. Tubuhnya terangkat tinggi lagi lalu menghempas lantai lagi, terangkat tinggi lagi menghempas lantai lagi, begitu berulang kali hingga seluruh tulang belakang tubuhnya hancur kemudian berhenti.

__ADS_1


Kuntilanak hitam itu melayang mendekati Anton yang sudah tak bergerak. Menjilati darah dari luka-luka yang di derita Anton. Tak lama Anton bergerak dan seperti mayat hidup ia bangkit berjalan keluar rumah. 


__ADS_2