
Sepanjang jalan menuju sekolah Dewi terus memperhatikan Esih yang dibonceng motor oleh Imas. Wajah Esih yang pucat, tatapannya yang kosong, tak bicara sepatah kata pun sejak semalam bahkan ia tak mandi dan berganti pakaian, membuat Dewi bertanya-tanya. Tidak seperti Esih biasanya, batin Dewi. Baru sampai gerbang sekolah, Esih sudah melompat turun dari boncengan motor dan berjalan menuju jalan raya. “Hey Sih, mau kemana?!” teriak Dewi terkejut. Ia segera menghentikan motornya begitu saja lalu mengejar Esih.
Sebuah truk melaju cepat di jalan raya yang masih pagi dan tak dinyana Esih melompat ke tengah jalan raya. Terdengar suara benturan keras disusul decitan rem roda truk. Dewi menjerit tak kuasa melihat apa yang terjadi di depan matanya. Imas hanya berdiri membeku melihat itu karena semua terjadi dengan begitu cepat.
...***...
__ADS_1
“Urang teu nyangka (Saya ga sangka) Esih pergi secepat ini,” lirih Wira dengan kepala menunduk. Anton menatap Imas dan Dewi bergantian. “Kalian ‘kan orang terakhir yang bersama Esih … apa Esih ga menunjukkan sesuatu yang berbeda? Kok tiba-tiba maen lompat ke jalan?” heran Anton. “Urang ga terlalu merhatiin Ton,” ucap Imas yang terlihat masih syok. “Maneh?” Anton kini menatap Dewi. Dewi baru akan membuka mulutnya tetapi Nining memotongnya, “Ah sudahlah … yang sudah pergi ga usah dibahas lagi … lagi pula dia juga bunuh diri, itu keputusan dia kok ….”
“Heh Ning, maneh bisa berempati teu? Baru tadi siang loh kita nguburin Esih, maneh ga pantas ngomong kayak gitu!” sentak Wira. “Ya sori sori … tapi itu kenyataan dan sori kalau kamu bersedih karena Esih gebetan kamu bukan?” kata Nini. Wira mendelik mendengar kalimat Nining itu. “Naon eta maksudna anying (Apa itu maksudnya an**ng)!?” marah Wira. “Hey hey Wir … kalem, kalem … kita baru kehilangan teman … kenapa jadi berantem sih?” sela Anton sambil memegangi Wira yang wajahnya memerah.
“Wir, semua juga tahu kamu suka sama Esih … aku di mana salahnya?” kilah Nining. Wira mendengus dan melangkah pergi. “Salah kamu itu waktunya ga tepat Ning,” kata Dewi. Nining menghela nafas. “Udah biarin aja Ton, ga usah disusulin, biar dia tenang sendiri dulu,” kata Imas. Anton tak jadi menyusul Wira dan kembali duduk. Semua hanya diam membisu. Menit-menit berlalu maka Dewi memutuskan untuk menceritakan apa yang dialaminya.
“Ada yang aneh sama Esih sebelum dia melompat ke jalan ….”
Dewi menceritakan saat melihat Esih yang tiba-tiba berubah. “Dan semua itu terjadi setelah kita menyanyikan kawih itu,” kata Dewi. “Bentar … jadi menurutmu, penampakan yang kamu lihat dan perubahan yang terjadi sama Esih itu semua gara-gara kawih itu?” tanya Nining. Dewi mengangguk dan Nining menggelengkan kepala.
__ADS_1
“Mmm … memang agak sulit buat dipercaya sih ya Wi,” tambah Anton, “aku ga pernah tahu dampak sebuah kawih bisa semengerikan itu.”
“Ga tahu bukan berarti ga ada,” balas Dewi, “karena … saat menyanyikannya ada aura buruk yang saya rasakan dan saya ga kuat dengan aura itu.”
Nining tertawa, “Wi … kamu itu belum jadi pesinden profesional … kamu bisa merasakan ada aura mistis itu kalau kamu sudah melaksanakan ritual sebagai pesinden sebenarnya … seperti puasa empat puluh hari, mutih dan lain sebagainya … kamu itu belum apa-apa … baru nyobain nembang doang, itu juga ga selesai bukan?” Dewi mengangguk mengiyakan, ia malas berdebat karena Nining tidak merasakan apa yang dirasakannya.
“Tapi menurutku tetap harus dicari tahu sih soal kawih itu, biar jelas, coba tanya ke Pak Ujang, dia ‘kan guru karawitan, pasti tahu,” saran Anton. “Ya betul Ton, besok saya coba tanya-tanya ke Pak Ujang,” kata Dewi.
__ADS_1
...***...