Tentang Aku Dan Kamu

Tentang Aku Dan Kamu
chapter 10


__ADS_3

"Abang besok Sabtu jadi ke Jogja bang?"


"Iya jadi. kenapa? Kamu mau ikut?"


"Berapa hari?"


"Ya sampai kerjaan Abang selesai lah." Andra merebahkan tubuhnya ke atas ranjang yang ada di kamarnya. Dirinya merasa lelah karena telah bekerja seharian mengurus toko nya. Banyak pelanggan yang datang hari ini,dan membuat para karyawan keteteran jadi mau tidak mau membuatnya harus turun tangan.


Bayangan Lili yang sedang bernyanyi tiba-tiba terlintas di pikirannya ketika Andra sedang memejamkan mata. Dia langsung membuka kelopak matanya dan bangun dari tidurnya. Dia melihat ke arah Indri yang kini sedang duduk sambil memainkan laptopnya.


"De' Abang mau nanya?" Indri yang sedang sibuk dengan membaca novel di laptop abangnya hanya berdehem sebagai jawaban.


"hmm..."


"Sejak kapan kamu kenal dengan Lili..?" Indri langsung menghentikan bacaannya dan membalikkan badannya untuk menghadap ke arah Andra. Indri menatap curiga ketika abangnya menanyakan tentang kedekatan nya dengan Lili.


"Kenapa memangnya bang..? emang abang masih inget sama mba Lili..?" Andra mengerutkan keningnya bingung ketika Indri masih memanggil Lili dengan sebutan mbak.


"Nggak nanya doang de'. Dan kenapa kamu masih manggil dia mba? bukannya kalian itu seumuran yah..?" Tanya Andra penasaran. setahunya Lili itu seumuran dengan adiknya.


"Hahaha Abang tuh bisa aja. Gini yah bang, mbak Lili tuh sama aku nggak seumuran justru malah tuaan mba Lili. Entar dulu aku inget inget....ehmm...kalau nggak salah umurnya mba Lili itu sekarang.......ah...28 bang."


"APA...?!! Kamu jangan bohongin Abang yah de'..?" Andra terkejut mendengar umur Lili yang sesungguhnya, ternyata tidak terlalu jauh dengan nya.


Indri memutar matanya melihat sikap abangnya yang terlalu lebay menurutnya.


"Nggak usah lebay gitu deh bang. Makanya jangan tertipu dengan wajah baby face mbak Lili dong. kena tipu kan Abang. Emang kenapa sih bang? Tumben Abang tertarik bahas soal cewek sama Indri. hayoooo jangan-jangan Abang tertarik yah sama mba Lili..?"


"Kalau punya mulut itu di sekolahin apa de'? Mana mungkin Abang bisa tertarik sama cewek modelan kaya dia..!" Andra mengelak jika harus di bilang menyukai Lili. Andra mendengus sinis ketika bayangan Lili terlintas di pikirannya.


"Jangan suka gitu bang. Sekarang bilangnya nggak tapi giliran nanti udah kepincut aja sampai lupa daratan." Indri mencibir abangnya yang masih mengelak dengan perasaan nya.


"Amit amit jabang bayi, jangan sampai itu terjadi." Andra mengetuk ranjangnya seakan-akan dia tidak Sudi untuk mencintai wanita seperti lili.


"Ok...!! Abang lihat saja siapa yang akan kalah, ego Abang atau hati abang..?!"

__ADS_1


"Baik kita lihat saja nanti. Udah sana de' Abang mau istirahat dulu. Lagian kamu bukannya juga besok kerja ngapain jam segini malah sibuk baca novel kaya gitu. " Andra mendorong adiknya keluar dari kamarnya. Indri langsung memanyunkan bibirnya melihat abangnya mengganggu kesenangan nya membaca novel.


Jebret


Andra menutup pintu kamar nya dan dia menuju ranjang nya kembali, Andra menumpukkan tangannya sebagai bantal kepalanya. Dia menatap langit-langit kamar nya bagaimana bisa dia memikirkan wanita itu teris.


"Sialan... kenapa aku harus memikirkan wanita itu terus." Andra bangun dan beranjak ke arah kamar mandi dan membasuh wajahnya. Mungkin dia pikir dengan membasuh wajahnya, dia akan bisa menghilangkan wajah Lili dari pikirannya.


Setelah selesai Andra kembali duduk di atas aranajng dan demi mengalihkan pikirannya , Andra bermain game di ponselnya dan itu cukup ampuh karena Andra sudah tenggelam dengan game di ponselnya.



------


Keesokan paginya Andra terbangun setelah menyelesaikan game nya pukul 1 dini hari. Andra mengecek jam yang ada di ponselnya dan menunjukkan pukul setengah enam. Andra bergegas untuk ke kamar mandi untuk mandi dan sholat. Selesai sholat Andra pergi keluar dari rumahnya mengenakan setelan olahraga, dia akan bjogging pagi ini. Sebelum memulai aktivitas kadang Andra memang suka jogging di sekitaran rumahnya.


Setelah menyelesaikan lari pagi nya Andra berniat istirahat di depan rumahnya, tapi ketika Andra akan duduk di kursi depan rumah dia melihat ada seorang laki-laki yang turun dari motornya dan berhenti di depan rumahnya.Andra hanya diam sambil menunggu orang itu menghampiri nya.


"Assalamualaikum mas. kenalkan nama saya Toni." Andra menjabat tangan lelaki yang bernama Toni dengan senyum tipis nya.


"Saya mau menjemput Indri mas." Jawab Toni jujur, sebenarnya dia cukup terintimidasi karena pandangan Andra padanya. Seakan sadar siapa orang di depannya , Andra mengangguk mengerti.


"Kamu yang dulu ngelamar Indri bukan..?" Toni langsung menatap wajah Andra kaget.


"Mas tahu tentang saya..?"


"Tidak. saya hanya bertanya saja. Karena waktu itu Indri pernah bilang pada saya kalau ada lelaki yang melamarnya di tempat kerja. saya hanya menebak saja." Toni akhirnya menceritakan tentang awal mula kenapa dia bisa melamar Indri. Dia hanya ingin berterus terang kepada kakak dari Indri. Supaya tidak ada salah paham di antara mereka.


ceklek


"Loh Abang udah pulang...? Lah ini kok ada mas Toni disini...?" Indri bingung dengan keberadaan dua lelaki tampan yang ada di depan rumahnya.


Andra hanya mengangkat bahu dan pergi dari hadapan adik dan calon adik iparnya. Indri yang melihat abangnya hanya berlalu pergi tanpa menjawab pertanyaan langsung menatap Toni yang ada di hadapannya.


"Bang Andra ngomong apa sama kamu mas..?"

__ADS_1


"Nggak ada de'. Bang Andra hanya diam saja ketika mas tadi ceritain tentang siapa mas sebenarnya. Ya udah ayo berangkat sekarang takut telat nanti." Ajak Toni kepada Indri, Indri sendiri hanya mengikuti langkah Toni di depannya. Dia menerima helm yang di berikan oleh Toni dan memakainya sendiri.


Sementara Andra yang melihat sikap Toni pada adiknya hanya bisa berdoa semoga adiknya benar-benar menemukan orang yang tepat untuk menemaninya nanti sampai tua.


Andra berjalan ke arah dapur dan menemukan ibunya berada disana, dia langsung berjalan ke arah ibunya yang kini sedang ada di depan kompor sambil memegang spatula.


Greebbb


Ibu Ratu terkejut dan hampir saja memukul orang yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Tapi ketika melihat sosok anaknya lah sang pelaku, ibu Ratu langsung mengelus tangan anak nya.


"Ada apa hmm...? Kami sudah lapar bang..?" Andra makin mengeratkan pelukannya, dia selalu merasa nyaman jika memeluk ibunya. Sedangkan ibu Ratu tetap melanjutkan acara memasaknya, walaupun agak kesusahan tapi dia tetapembiarakan anaknya untuk bermanja-manja padanya.


"Abang siap kalau emang Indri mau mendahului Abang Bu. Sepertinya kalau nunggu Abang menikah kasihan Indri." Dengan tiba-tiba Andra mengungkapkan perasaan nya kepada ibunya, Ibu Ratu sampai mematikan kompornya saatelihat anaknya yang kini sedang menatapnya serius.


"Ibu tidak akan memaksa Abang buat buru-buru menikah. semua itu ibu serahkan sma kamu bang. Kalau memang itu kauan Abang, ibu nanti bisa tanyakan kepada Indri. Dan kalau memang pacar Indri siap menikahi Indri sekarang , ibu hanya bisa merestui mereka. Karena ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anak-anak ibu ini."


Ibu Ratu mengusap wajah Andra dengan sayang, bahkan ibu Ratu sampai berkaca-kaca melihat betapa tegar nya anak sulung nya ini. Dia sudah menjadi tulang punggung keluarga ini ,dan ibu Ratu berharap siapapun yang akan menjadi istrinya nanti semoga mereka bisa menerima Andra dengan tulus.


"Kamu tahu bang...? Ibu pernah berharap seseorang itu bisa menjadi pendamping mu nanti. Ibu tahu karena ibu sudah cukup lama mengenalnya, tapi kembali lagi ibu tidak akan memaksa kamu dan keputusan itu ada di tangan kamu sendiri bang."


"Entah Bu, Andra pun sekarang sedang tidak berfikir untuk menikah secepatnya. Andra masih fokus melebarkan usaha Andra Bu." Andra mengambil tangan kasar ibunya, dia mengusap dengan sayang tangan ibunya.


"Iya nggak apa-apa bang. Tapi kalau bisa jangan terlalu fokus kesitu bang, cobalah sedikit untuk mencari kesenangan untuk kamu bang. Ibu tidak memaksa kok bang. Jalani aja, jika kamu lelah ada ibu di belakangmu yang siap menjadi orang pertama yang akan merangkulmu." Ibu Ratu menepuk-nepuk bahu Andra dengan sayang.


"Nanti Andra pikirkan Bu. Dan makasih untuk selalu sabar dan ikhlas merawat kami Bu. Abang sangat menyayangi ibu."


Andra memeluk ibunya dengan sayang. Bahkan Andra mencium rambut ibunya sesekali. Dia berharap bisa mendapatkan sosok istri yang seperti ibunya, dan tiba-tiba bayangan wajah Lili terlintas kembali di depannya.


**Tbc


Maaf yah baru up, soalnya lagi sibuk namatin cerita sebelah. jadi baru sempet up cerita Lili dan Andra deh . semoga suka yah.


Dan kalian juga bisa mampir di ceritaku yang satunya loh.


Salam cinta dari lili dan Andra.😍😍😍😍😍**

__ADS_1


__ADS_2