Tentang Aku Dan Kamu

Tentang Aku Dan Kamu
chapter 11


__ADS_3

"Loh loh loh kenapa lagi ini si purple...please jangan mogok dong purple. Aduh mana ini masih jauh lagi." Seorang gadis merancau sendiri di tengah jalan yang sepi ini, dia melihat ke arah jalanan yang jauh dari keramaian dan gelap.


"Aduh nggak bisa di biarin ini emang. Mampus deh gue. Ah..lebih baik gue hubungin appa dulu deh siapa tahu appa bisa tolongin anaknya ini." Gadis yang kita ketahui bernama Liliana itu kini sedang mencoba menghubungi ayahnya. Dia baru saja menghadiri acara ulang tahun temannya yang terletak cukuo jauh dari rumahnya.


"Aigooo..mana baterai low lagi. Appa kemana sih, kok nggak angkat telfon Lili." Lili menggerutu karna telfon nya belum tersambung dengan ayahnya. Lili melihat area sekitarnya yang di penuhi dengan sawah dan pohon-pohon besar di sepanjang jalan, dan penerangan lampunya juga tidak terlalu banyak. Membuat perasaan lili menjadi campur aduk.


Yang paling mendominasi adalah rasa takutnya, dia tidak takut motornya di ambil orang. Dia lebih takut kalau sampai ada yang berniat memperk*s* nya. Bulu kuduk Lili langsung meremang melihat area persawahan yang gelap ini.


"Ya Allah tolong selamatkan Lili Ya Allah. " Di sela-sela ketakutannya Lili tetap memberanikan menuntun motornya sampai di perkampungan terdekat. Dia merasakan dingin malam ini menusuk tulang nya. Walaupun sudah memakai jaket dan celana panjang, Lili masih kedinginan.


Sepanjang jalan Lili berusaha merapalkan doa doa yang dia tau. Dia melihat ada sebuah cahaya yang menyinari jalan di belakangnya, lili memberhentikan jalannya dan menstandarkan motornya di tepi jalan. Dia membalikkan badannya dan menyulitkan matanya untuk melihat kendaraan apa yang ada di belakangnya.


Setelah terlihat Lili langsung melihat ada dua sebuah sepeda motor yang akan melewatinya. Lili ragu apakah dia mau meminta tolong orang itu atau dia harus pergi dan sembunyi. Dia sudah sering mendengar banyak kejadian begal di tempat seperti ini. Lili sengaja mundur dan berusaha sembunyi dengan masuk ke dalam pesawahan dan menjauh dari tempat itu.


Beruntung tanaman padinya sudah tinggi jadi dia bisa menyembunyikan badannya yang kecil di antara tanaman padi itu. Lili sengaja memilih berada di tengah-tengah sawah agar orang tidak bisa melihat keberadaan nya.


Dengan tangan gemetar Lili mengintip dari tempatnya dan melihat ke arah motornya yang terparkir di tepi jalan. Lili menemukan orang tadi berhenti pas di samping motornya dan sedang melihat-lihat ke arah sekitarnya.


Lili menyembunyikan tubuhnya lebih dalam lagi ketika melihat ada satu dia antara orang itu sedang melihat ke arah tempat persembunyian nya. Tubuh Lili bergetar hebat saat menyadari ada yang berjalan mendekati tempat nya berada.


Eomma...appa...salyeojuseyo. dowajuseyo.


Lili membekap mulutnya sendiri untuk menahan suara isakan tangisnya.


"Lo cari di sebelah kanan. gue mau cari sebelah kiri. Gue yakin orang itu pasti masih ada di sekitar sini."


"Ok." dua orang lelaki yang di taksir berumur awal 30 tahunan itu saling berpencar untuk mencari siapa pemilih motor yang ada di tepi jalan. Mereka yakin pasti pemiliknya adalah seorang perempuan, dilihat dari warnanya yang identik dengan cewe. Makanya mereka bela-belain nyari siapa tahu mereka bisa mendapatkan kepuasan dari pemilik motor itu.


Suara dedaunan yang bergesekan dengan langkah kaki lelaki itu membuat Lili ketakutan setengah mati. Lili memakai kupluk jaketnya untuk menutupi kepalanya agar tidak terlihat oleh orang itu, lili tetap bersembunyi di tengah-tengah sawah sambil berjongkok menyembunyikan tubuhnya.


"Ketemu nggak lo bro..?"


"Nggak ada disini , disitu ada nggak Bray..?"


"Sial. kemana sebenarnya dia sembunyi..!!" Lelaki itu memukul tanaman padi yang ada di depan nya.

__ADS_1


"Udah lah bro,,kita biarkan dia lolos. lebih baik kita bawa motornya aja. lumayan kita bisa pesta setelah menjual motor itu."


"Bener banget Bray. ayo buruan badan gue udah gatal-gatal nih kena daun padi. "


Akhirnya kedua orang itu pergi meninggalkan Lili sendirian di tengah-tengah sawah. Lili merasa cukup lega karena sudah terhindar dari bahaya. Tapi sepertinya dia harus mengikhlaskan motor kesayangan nya di ambil orang itu.


"Hiks...huwaaaaa eomma tolongin Lili eomma. Lili takut disini eomma, hiks." Dengan tergugu Lili menangis tanpa memperdulikan baju dan celananya yang kotor terkena lumpur. Dengan keberanian yang tersisa Lili berusaha bangun dari persembunyiannya. Kakinya yang gemetar membuatnya jatuh tersungkur saat akan berjalan.


Bruk.


Akh.......


Lili melihat batu besar ada di depannya dan membuatnya jatuh tersungkur . Lili merasakan nyeri di lututnya tapi dia tidak bisa melihatnya karena suasana gelap. Dengan menahan rasa sakit Lili menyeret kakinya untuk berjalan ke arah jalanan kecil yang ada di pesawahan.


Lili tidak berani berjalan di pinggir jalan , karena takut ada orang yang berniat jahat padanya. Jadi Lili lebih memilih untuk berjalan di sepanjang jalan kecil yang ada di pinggiran sawah.


Dengan terpincang Lili berjalan sambil melihat ke arah sekitarnya. Dia berharap tidak ada ular di sawah ini. Setelah menghabiskan tenaga yang banyak Lili akhirnya sampai di rumah paling ujung. Dia melihat lampu di sekitar rumah itu masih menyala. tapi dia ragu apakah dia harus meminta tolong ke rumah itu.



Dulu dia sempat berfikir untuk menjual rumah ini karena letaknya yang kurang strategis, tapi setelah di pikir-pikir lagi dia juga suka dengan kondisi di sekitar rumah ini ketika pagi hingga siang menjelang . karena udara disini begitu bersih dan juga jauh dari polusi.


Mata Andra memincing melihat ada seseorang yang sedang duduk di tepi sawah sambil melihat ke arah rumahnya. Andra melihat gerak-gerik orang itu yang cukup mencurigakan. Dengan segera Andra menutup jendelanya dan keluar dari kamarnya untuk keluar, dia sengaja membawa senter supaya bisa menerangi area pesawahan itu.


Andra berjalan mendekati orang itu dengan pelan, dan sepertinya orang itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tidak menyadari ada orang yang sedang mengintainya. Andra memang belum menyalakan senter nya, sengaja biar orang itu tidak kabur duluan. Setelah sampai di dekat orang itu Andra langsung menarik kupluk yang menutupi kepala orang itu dan menyenteri wajahnya langsung.


Deg


Andra langsung terkejut melihat kalau orang itu adalah Lili, Andra sampai mengucek matanya dan melihat kembali ke arah wajah Lili yang sudah basah karena air mata.


Lili sediri yang terkejut tiba-tiba ada seseorang yang menarik penutup kepalanya langsung berjingkrak kaget. Dia bahkan langsung menutup ke-dua matanya karena silau terkena cahaya.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sekitar rumahku...?" Lili yang mendengar suara yang familiar mencoba membuka mata nya dan melihat wajah orang itu.


__ADS_1


Lili tidak bisa menyembunyikan air mata nya ketika melihat orang itu adalah Andra. Dengan tertatih Lili berusaha menggapai tangan Andra yang masih menyenterinya.


Sreettt


Ah....


Lili meringis ngilu ketika dia bisa berdiri di depan Andra, sedangkan Andra yang melihat keadaan Lili yang begitu kotor dan berantakan langsung menatapnya khawatir.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan kamu? Dan bagaimana bisa kamu terluka seperti ini...?"


"Tadi...hiks..." Lili yang sedang menangis tersedu-sedu tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan andram yang Lili alakukan hanya menangis karena bahagia akhirnya dia bisa bertemu dengan penolongnya.


Andra yang melihat Lili seperti ini menjadi tidak tega, dia berniat membawa Lili untuk masuk kerumahnya supaya dia bisa menanyakan kronologis kejadian yang sesungguhnya.


"Lebih baik kamu obati dulu luka kamu di rumah saya. Kamu bisa jalan sendiri kan..? Lili menggeleng karena kakinya memang udah terasa kebas buat di ajak berjalan. Andra ragu apakah dia harus menggendong Lili atau menuntunnya. Setelah di pikir-pikir lagi , Andra memutuskan untuk menggendong Lili di belakang.


"Ayo sini saya Gendong kamu dari belakang. dan Kuta obati dulu luka kamu." Andra berjongkok di depan Lili supaya Lili gampang naik ke atas punggungnya. Lili langsung melingkarkan tangannya di leher Andra dan kemudian Andra langsung berdiri dan menggendong Lili di pinggulnya. Andra merasakan bahwa detak jantung Lili begitu cepat sampai dia bisa merasakannya di punggung nya.


Lili menyandarkan kepalanya di bahu Andra, dia masih mencoba menenangkan rasa tajutnya. Lili tidak mau membuka matanya karena takut dengan kegelapan yang ada di belakangnya. Sesampainya di depan rumah nya, Andra berusaha membuka pintunya yang memang tidak terkunci tadi jadi membuatnya tidak terlalu sulit ketika membuka pintunya.


Kriet


Lampu yang menyinari ruang tamu membuat Lili membuka kelopak matanya, diaelihat area sekitarnya yang sudah berganti menjadi pemandangan ruang tamu. Andra meletakkan Lili di atas sofa ouknya dengan pelan, Lili jugaencoba melepaskan pelukannya di leher Andra dengan tidak ikhlas. Karena Lili masih merasa trauma jika sendirian.


Setelah terang begini barulah terlihat keadaan Lili yang sesungguhnya, baju dan jaket Lili bagian depan terkena noda lumpur. Bahkan celananya pun juga ikut terkena juga. Andra melihat ke arah lutut kiri Lili yang seperti sobek, dia berjalan mendekat dan melihat lebih dekat lagi. Andra berdecak melihat lutut Lili yang terluka cukup lebar, bahkan Andra yakin pasti arahnya banyak yang keluar. Tapi karena kondisi celana Lili yang sudah kotor terkena lumpur membuatnya tidak terlihat.


Andra bangun dari jongkoknya dan melihat ke arah Lili yang kini sedang menundukkan kepala, tanpa banyak kata Andra berjalan ke arah sebuah kamar dan mengambil baju adiknya untuk dia berikan kepada Lili.


"Ini pakailah dulu baju Indri, dan kamu bisa menggunakan kamar Indri sekalian membersihkan tubuh kamu disana."


Andra berjalan meninggalkan Lili yang kini sedang menatap punggung tegapnya yang berjalan menjauh darinya dan tak terlihat lagi karena Andra masuk ke sebuah kamar.


**Gomawo oppa, karena kamu sudah menolong ku.


Tbc**

__ADS_1


__ADS_2