Tentang Aku Dan Kamu

Tentang Aku Dan Kamu
chapter 16


__ADS_3

"PD banget Lo. dari pada gue ngepoin Lo mending gue makan. Sok penting banget sih Lo." Andra melanjutkan acara makannya yang tertunda. sambil menatap lili tajam Andra berusaha meredam emosi yang tiba-tiba mendera hatinya.


Aku dan Indri saling menatap dan terkekeh bersama melihat bang Andra yang tiba-tiba jadi badmood setelah melihatku mengabaikannya. Aku berusaha menyingkirkan rasa gemasku untuk mencubit pipi bang Andra. Bagaimana tidak, lihat saja sekarang bang Andra makan dengan buru-buru bahkan dia sampai tersedak sendiri karena kelakuannya.


Aku membantu mengambilkan air minum untuknya tapi di tolak oleh bang Andra dengan mengambil air minumnya sendiri. Aku hanya tersenyum sambil menggedikkan bahuku melihat penolakan bang Andra. Kami akhirnya menikmati acara makan siang dengan saling menggoda satu sama lain. Sebenarnya sih aku dan Indri saja, sedangkan bang Andra hanya diam saja.


Selesai makan..... dengan seenaknya aku dan Indri membiarkan bang Andra yang mencuci piring nya. Aku dan Indri malah menonton tutorial make up di laptop bang Andra.


"Eonni nanti ajarin Indri dong buat cara make up yang ini, aku udah nyoba berkali-kali dirumah tapi tetap saja jatuhnya nggak natural malah kelihatan aneh." ujar Indri sambil memanyunkan bibirnya menunjuk ke arah laptop yang sedang menayangkan wanita yang sedang asyik memakai make up natural.


"asyiap. Kamu tenang saja kalau masalah itu eonni siap bantu kok. Oh iya nanti sore eonni ada kerjaan jadi eonni nggak bisa lama-lama disini. "


"Ya udah nanti minta anterin bang Andra saja eon, kan biar bisa PDKT sekalian eon.. iya nggak..?!"


"Kayak abangmu mau nganterin eonni aja in, kamu tau sendiri abangmu kalau deket-deket eonni aja udah kaya jijik banget. haahhhhh...emang eonni nggak cantik yah in..? Kok bisa Abang mu nggak tertarik sama eonni.?!"


"Mata bang Andra emang rusak kali kak. Indri aja heran kok bisa Abang kalau lihat eonni kayak gitu, padahal Abang juga suka nanya-nanya tentang eonni sama indri. Kayaknya Abang lagi sok jual mahal eon, maklum dia kan sudah biasa di deketin cewek-cewek Makanya jadi kayak gitu. Sabar aja eon, Indri pasti dukung eonni kok. Fighting eonni..!!" Aku tersenyum dan memilih melihat bang Andra yang kini sedang berada di ruang makan, entah apa yang sedang dia lakukan akupun tidak tahu. Aku ijin ke Indri buat berbicara dengan bang Andra dan Indri langsung menyetujuinya.


Aku berjalan mendekati bang Andra yang ternyata sedang berkutat dengan buku jurnal, mungkin itu catatan hutangnya akupun tidak tahu. Jujur aku belum tahu apa kerjaan bang Andra sebenarnya, aku langsung duduk menarik kursi dan duduk di sebelahnya. Bahkan dia hanya melirikku sebentar dan memilih mengacuhkan ku.


Aku memangku wajahku dengan kedua tanganku sambil menatap wajah nya dengan seksama. Wajah nya yang putih bersih, hidungnya yang tidak terlalu mancung tapi pas di wajahnya yang tampan. Bulu matanya yang hitam bahkan alisnya juga rapih dan tebal membuat ku ingin mengusapnya dengan tangan ku.


Saat aku sedang meneliti setiap jengkal dari wajah bang Andra, tiba-tiba dia malah balik menatap wajahku.


Deg deg deg


Jantungku langsung berdetak lebih cepat membuatku menjadi susah bernafas, aku langsung menggigit bibir tanpa sadar bahkan aku langsung berdehem supaya bisa menetralkan rasa yang begitu menggelitik perutku yang terasa bergejolak aneh.


"Kenapa wajah kamu memerah?" Aku langsung memegang wajahku tanpa sadar,dan aku marasa pasokan oksigen disini tiba-tiba tidak ada. Aku langsung beranjak keluar rumah dan mengipas-ngipasi wajahku yang terasa terbakar.


"Aigoo...kok bisa sih aku malah jadi kayak ABG labil kek gini sih. Baru juga di tatap seperti itu tapi kok gue udah kaya mau mati. Heh jantung bisa tidak kamu bekerja sama denganku, tak perlu kamu berdetak cepat seperti itu, apa kamu aku membuat aku mati sesak nafas apa. " Aku menggerutu sendiri sambil mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya. Saat aku membalikkan tubuhku aku langsung terkejut karena melihat tubuh tinggi bang Andra sedang menatapku sinis.


"Udah sana Lo pulang aja , lagian Lo disini juga cuman bisa ganggu gue doang." ucap bang Andra dengan santai, aku merotasikan mataku sambil mencibir gaya bicara bang Andra. Sumpah yah bang kalau bukan kamu orangnya udah aku tendang. Untung aku masih punya banyak stok sabar buat ngadepin cowok kaya dia. Kalau nggak gue juga ogah buat deketin dia.


"Malah ngelamun lagi. Hoi...dengar nggak Lo apa yang gue bilang..!" aku terperanjat mendengar bang Andra berteriak padaku.


"Jangan kasar-kasar bang nanti kalau bang Andra jadi cinta sama lili loh. kkkk.."


"Walaupun stok cewek cuma tinggal Lo doang di dunia ini mending gue milih sendiri aja. Ckckck."

__ADS_1


Hatiku langsung berdenyut nyeri mendengar ucapan bang Andra. Aku memandang wajahnya yang menatapku dingin, aku menolehkan wajahku sebentar ke samping dan menghela nafas panjang. Tapi kemudian aku menatap wajahnya dengan sok kuat padahal hatiku cukup sakit.


"Jinjayeo...? Gereu...kalau begitu beri aku kesempatan buat membuktikan jika bang Andra tidak akan jatuh cinta padaku. " Tantangku dengan serius padanya, dia hanya berdecih melihatku.


"Nggak perlu. Karena itu nggak penting dan buang-buang waktu gue doang. masih banyak kerjaan yang lebih bermanfaat dari pada gue harus ngurusin Lo."


"Bilang aja bang Andra takut kan..?!" Dengan berani aku mendekatkan wajahku padanya. Dia langsung menonyor kepalaku kebelakang.


"Nggak usah deket-deket gue lagi. Mending Lo pergi dari sini dan Lo bisa nyari laki-laki yang bisa Lo goda, dan sorry gue bukan laki-laki yang akan tergoda hanya karena Lo. Lo bukan tipe gue, dan harusnya Lo ngaca dulu. Lihat.... cara berpakaian Lo aja seperti ini.!!" Aku melihat diriku sendiri.



Kemudian menatap wajah bang Andra yang kini seakan meremehkan ku. Aku akui aku memang senang berpakaian seperti ini, tapi menurutku itu masih wajar kok. Aku melihat ponselku yang menunjukkan pukul setengah empat.


Lebih baik aku pergi dari sini dari pada aku memukul wajah bang Andra karena sudah merendahkan ku. Aku berjalan masuk kedalam dan mengambil tas ku dan pamit kepada Indri karena aku akan ke kafe sekarang. Saat didepan aku berpapasan dengan bang Andra aku langsung menundukkan kepala ku dan tanpa berpamitan,aku langsung pergi dari rumahnya. Aku mengotak-atik ponselku dan menghubungi temanku dan menyuruhnya menjemputmu.


"Dit Lo jemput gue di pertigaan jalan Deket rumah Lo yah. gue mau ke kafe bang dika. ...ok thanks yah." Aku langsung menutup telfon ku dan memasukkan nya kedalam tasku. Aku menggerutu sepanjang jalan menuju kafe. Bahkan aku mengacuhkan Radit yang sedang berbicara di depan. Hari ini aku lagi malas buat ngladenin orang curhat jadi dari pada gue harus melontarkan kata-kata kasar pada Radit aku lebih baik memintanya untuk diam dan dia langsung terdiam dan mengikuti kemauanku.


Aku masih memikirkan kata-kata bang Andra yang manilai tentang penampilan ku. Aku melihat tubuh bagian bawahku yang terekspos, aku melihat beberapa orang menoleh padaku dan aku yakin mereka pasti berfikir kalau aku adalah cewek gampangan. Kadang aku juga risih dengan pandangan mereka padaku, tapi selama ini memang tidak ada yang berkata seperti itu langsung padaku. makanya ketika aku mendengarnya langsung jadi cukup membuat hatiku tak terima.


Setelah sampai kafe aku langsung berganti baju dan memilih mengajukan jamku karena aku malas dirumah sendiri. Dan untung saja sang pemilik setuju. Aku membubuhkan make up sedikit untuk menyempurnakan penampilan ku.



...kau tak mungkin ku dapatkan ...


...tentang perasaan tak bisa dipaksakan ...


...aku ingin kamu tapi kau tak mau...


...jangan-jangan paksa aku untuk membencimu...


...memahami hatimu ...


...tak akan cukup usiaku ...


...sementara rindu ini ...


...semakin menusuk dadaku...

__ADS_1


...ternyata perasaan mu padaku biasa-biasa saja...


...Cinta itu sederhana...


...yang rumit itu kamu...


...mencintai mu itu mudah...


...yang sulit adalah membuatmu juga mencintaiku...


...Aku mengerti bahwa bahagiamu bukan denganku ...


...Nisscaya semua luka kan sembuh bersama waktu...


...Maafkan aku yang pernah ada di hidupmu...


...Kini ku pergi dan tak akan lagi mengganggu...


...aku telah belajar ikhlas untuk melepas...


...Kau abadi sebagai luka yang membekas...


...terima kasih untuk cinta yang pernah hadir...


...Walau bukan seperti ini ku bayangkan kan berakhir...


...cinta itu sederhana...


...yang rumit itu kamu...


...cinta itu sederhana...


...yang rumit itu kamu...


...mencintai mu itu mudah...


...yang sulit adalah membuatmu juga mencintaiku...


Untuk hari ini aku lebih memilih melupakan semua ucapan bang Andra, aku yakin pasti suatu saat nanti dia pasti akan jatuh cinta pada ku.

__ADS_1


TBC


__ADS_2