Tentang Aku Dan Kamu

Tentang Aku Dan Kamu
chapter 23


__ADS_3

Lili POV


Setelah menyelesaikan lagu terakhir aku duduk di samping bumi yang berada di samping panggung. Hari ini lumayan menguras suaraku. Aku mengambil air minum dan langsung meneguknya.


glek


Ku tutup botol minum yang tinggal setengah itu dan ku taruh di bawah kursi. Aku mengedarkan pandanganku ke area cafe, aku tersenyum sopan kepada pengunjung yang tidak sengaja bertatapan dengan ku. Saat orang yang aku cari ternyata masih duduk di sini membuat ku tidak bisa menahan senyum ku.


Aku ijin kepada bumi untuk menghampiri orang tersebut dan bumi hanya mengingatkan untuk tidak berlama-lama karena setelah ini mereka akan langsung pulang.


Ketika langkahku sudah dekat tiba-tiba orang tersebut berdiri dari kursinya dan berjalan menuju pintu cafe, aku tetap mengikutinya dan ketika sampai di luar dia menghentikan jalan nya dan memutar tubuhnya jadi menghadap ku. Aku menyeringai kecil saat mengerti apa maksudnya dia pergi keluar, mungkin dia tahu kalau aku akan menghampirinya makanya dia mengajakku keluar secara tidak langsung.


"Sudah berapa lama Lo kenal dengan manajer lo itu?" Aku langsung memicingkan mataku melihat pertanyaan nya yang syarat akan ketidak sabaran. Aku menyilangkan tanganku dan menatapnya sekilas.


"Sudah cukup lama. Emang kenapa?"


"Apa lo nggak tahu kalau manajer lo itu suka sama elo? Gue yang sama-sama cowok itu bisa merasakan kalau sebenarnya orang itu tuh suka sama elo. Apa lo nggak tahu atau hanya pura-pura nggak tahu?" Aku yang sedang melihat ke arah paving blok yang ada di bawah langsung mengangkat kepala ku untuk menatap wajahnya. Ada sinar kecemburuan dari matanya, dan itu membuatku tersenyum samar.


"Kalaupun dia suka sama gue itu nggak masalah buat gue. Selama dia tetap profesional dengan kerjaannya dan tidak mencampur adukkan masalah pribadi dengan kerjaan , Why not???" Jelasku pada sosok lelaki yang kini sedang mengetatkan rahangnya sambil menahan emosi. Maaf bang seperti aku harus bermain-main dengan kamu dulu bang. Aku suka melihat wajahmu yang cemburu seperti itu, tapi aku juga nggak akan semudah itu memaafkan kesalahanmu yang telah menyakitiku.


"Terserah lah yang penting gue udah ngasih tau elo. Dan kalau Lo udah selesai ayo pulang, biar gue yang antar elo.!!"


"Dan bisa tidak elo manggil gue seperti waktu pertama elo manggil gue..?! Gue nggak suka kalau dengan panggilan elo sekarang, seakan-akan kita orang yang baru kenal saja." Aku menyeringai dan berpura-pura tidak mendengarnya, ku tolehkan wajahku ke arah dalam cafe dan menemukan bumi yang sedang melambaikan tangan memanggilku.


"Apa yang sedang elo lihat?" aku merotasikan kedua bola mataku melihat betapa tidak sukanya cowok ini di abaikan. Aku menatapnya serius,dan dia langsung melepaskan tangannya di lenganku.


"Kenapa saya harus nurutin kata-kata anda? Anda bukan siapa-siapa ,jadi anda tidak berhak menyuruh saya. Dan maaf bila anda tersinggung dengan panggilan saya kepada anda." Aku menarik nafas dan membuangnya pelan-pelan.


"Tapi seingat saya...dulu anda tidak menyukai saya memanggil anda dengan sebutan Abang. Anda sendiri yang meminta saya untuk pergi dari hadapan anda. jadi kenapa sekarang anda seperti berbalik mendekati saya? Ohhh apa sekarang anda sudah tahu betapa pentingnya saya di hidup anda? Ckckck...tapi maaf...saya sudah terlanjur tidak tertarik dengan anda.!!" Ucapku sambil menatapnya serius, tadinya aku berniat langsung memaafkan dia tapi biarlah aku hanya ingin tahu betapa kerasnya usaha dia mendapatkan ku.


Kalian pasti tahu orang ini, dia adalah sosok lelaki yang sudah menolak ku kemarin. Dia adalah Andra, entah setan dari mana yang membuat dia menjadi seperti ini. Sepertinya bang Andra bingung harus menjawab apa, karena sekarang dia sedang menggaruk belakang kepala nya dan aku yakin itu bukan karena gatal tapi sedang salah tingkah.


"Itu... itu...maksud saya..." Belum selesai bang Andra bicara aku sudah pergi meninggalkan nya. Maaf bang ,aku sedang tidak mau mendengar penjelasan mu.


Sreettt

__ADS_1


"Tunggu Liliana..!!! Gue belum selesai bicara. Kenapa kamu sekarang jadi seakan menghindari gue." Duuuhhh bang Andra ngapain sih pake tarik-tarik tangan aku segala, aku kan lagi pengin jual mahal sama Abang.


"Dengerin dulu penjelasan gue Li?!"


"Ada apa lagi? saya harus menemui manajer saya. lagian ini juga udah sore, apa nggak sebaiknya anda pulang?"


"Kalaupun saya harus pulang, itu harus sama kamu." Aku masih bimbang haruskah menerima ajakan dari bang Andra atau harus pulang bersama bumi. Ku lihat bumi berjalan mendekat kearah kami, aku menghempaskan tangan bang Andra yang memegang tanganku. Aku berjalan mendekati bumi yang kini sudah menenteng tas dan juga jaket ku.


Aku melirik ke arah bang Andra yang kini sedang menatapku kecewa. Maaf bang aku hanya tidak mau jika harus tersakiti lagi oleh mu. Biarkanlah aku hidup seperti dulu, bebas dan tak ada kamu di hidupku.


Aku menaiki mobil bumi dan kemudian kami meninggalkan area cafe menembus jalanan kota yang macet. Aku melihat ke luar jendela dan melihat betapa padat nya jalanan hari ini. Aku juga mendiamkan bumi yang berada di sampingku, aku sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun.


Drrttt


Aku mengambil ponselku dan nama Doni terpampang di sana, aku menghela nafas pelan dan menekan tombol hijau untuk mengangkat telfonnya.


"Hmmmm..." Aku berdehem sebagai salam pembuka. bukannya apa aku sedang malas berbicara. Dan Doni sepertinya hafal dengan tabiatku, dia ikut terdiam sampai beberapa menit. Aku akhirnya menyerah dan mengajaknya berbicara.


"Kenapa sih Li? Kayaknya Lo lagi badmood yah? Sekarang Lo lagi sama siapa?" Aku menolehkan wajahku kesamping dan kutemukan wajah bumi yang seperti bertanya denagn siapa aku berbicara. Aku langsung mengubah mode panggilan suara menjadi panggilan video. Aku mengarahkan kamera ku ke arah wajahku dan bumi, aku bersandar di bahu bumi yang kini sedang menyetir.


"Kalian baru selesai manggung dimana?" Tanya bumi saat tahu kalau kami habis kerja. Aku memanyunkan bibirku menatap Doni yang kini sedang tersenyum melihatku.


"Nggak tau gue, tiba-tiba dia udah kayak gitu waktu gue samperin. Tapi kayaknya ada hubungannya sama cowo yang kemarin kita temui di toko baju itu loh. Lo masih inget kan sama cowok yang berusaha deketin lili kemarin?" Tanpa di perintah bumi sudah menjelaskan duduk permasalahannya pada Doni, aku hanya diam saja menunggu tanggapan dari Doni.


Ku lihat dia seperti berfikir, mungkin sedang mengingat-ingat siapa cowok yang di maksud bumi. Asal kalian tahu mereka sudah tidak kaget lagi kalau banyak cowok yang mendekatiku, tapi biasanya aku tidak pernah kaya gini makanya Doni jadi penasaran.


"Oohhhh yang waktu kita mau pulang itu yah. Ya,,ya,,ya gue inget. Memang siapa dia Li? Ada hubungan apa Lo sama dia? Cerita saja sama kami,siapa tau kita bisa bantu. Lagian kalau emang dia cowok brengsek atau cowok nggak bener mending Lo nggak usah deket-deket lagi sama dia. Emang nyokap Lo udah nyuruh Lo buat buru-buru nikah apa?" Aku menggeleng pelan, dan tetap diam tidak mau menjawab. Bumi yang greget dengan keterdiamanku hanya bisa diam dan memilih fokus menyetir.


Aku mengernyit bingung melihat jalanan yang tidak menuju kearah rumahku, dan sepertinya aku tahu mau dibawa kemana aku sekarang oleh bumi. Aku melihat ke arah Doni yang masih sibuk dengan kertas yang ada di depannya.


"Kenapa malah ikut diem sih Don? Biasanya juga berisik."


"Lah kirain nggak butuh temen makanya gue diemin." Doni tuh kadang kalau lagi mode temen tuh nyebelin, tapi kalau lagi mode kakak beeehhhh ngalahin pacar orang. Perhatiannya bikin salah paham. Herannya kenapa aku nggak suka sama dia aja, kenapa harus sama makhluk sejenis Andra. Udah nyebelin,jutek lagi sama aku, emang bener kata Indri matanya Andra tuh kayaknya rusak kali. Cewe secantik gue kok bisa di kacangin kaya gini.


Tapi aku lagi males buat bahas tentang dia, yang gue pengin sekarang adalah ice cream.

__ADS_1


"Pesenin gue ice cream? Kita udah mau nyampe rumah lo? Nggak usah sok kaget gitu Lo pasti yang nyuruh bumi buat kerumah elo kan?"


"Kkkk...kirain Lo nggak nyadar Li. Oke lah mau berapa ember?"


"Lo kira gue gentong apa? Seember aja cukup. Sama chicken seember juga."


"Busyet dah elo kalau lagi galau nggak usah mlorotin gue Napa? "


"Dihhhh pokoknya gue nggak mau tahu kalau gue Dateng itu makanan udah siap di rumah Lo. Panggil yang lain juga, gue aku nelfon eomma dulu buat ngasih tahu kalau anak tercantik ya pulangnya telat. Bye...!" Tanpa menunggu persetujuan dari Doni aku sudah mematikan telfonnya. Kemudian aku menelfon eomma sebentar dan dia mengijinkannya.


Kami akhirnya berkumpul di rumah Doni dengan personil yang nggak lengkap, karena anggun masih lembur kerjanya jadi nanti sepulang kerja baru dia nyusul. Asal kalian tahu rumah Doni ini sangat luas, dan orang tuanya juga sudah sangat mengenal kami. Jadi ketika kami datang langsung di sambut dengan baik, bahkan pesenanku sudah ada di sana, jangan lupakan dengan makanan pendamping yang lainnya.


Saat baru turun dari mobil bumi aku bertemu Tania, dia juga baru sampai dan kami langsung seperti saudara kembar yang baru pertama bertemu. Kami langsung saling berpelukan dan jingkrak-jingkrak nggak jelas, bahkan bumi langsung nyelonong masuk kerumah bumi yang sudah di buka.


"Kangen....."


"Sama......"


"Ohya si Riri katanya bentar lagi juga sampai, dan anggun nanti nyusul. sementara Radit dia lagi gue suruh beli pecel ayam buat kita semua "


"Bagus Tan, tau gitu gue suruh beli lays sama jajanan yang lainnya tadi."


"Yang ada dia nanti bakalan ngomel tujuh hari tujuh malam. hahaha. ya udah yuk masuk. Kok tumben nggak akhir pekan kita kumpulnya?" Aku dan Tania berjalan memasuki pekarangan rumah Doni yang di tumbuhi banyak pohon mangga dan juga pohon jambu. Aku lihat banyak buah mangga yang sudah mau matang.


"Ya sekali-kali lah biar Lo pada nggak pusing masalah kerjaan Mulu." Saat sampai di depan pintu tiba-tiba Bu Sarah mamanya Doni sudah ada di depan kami. Kami langsung cipika-cipiki dan berpelukan, mama Doni emang orangnya sangat enak sekali diajak ngobrok. Jadi kami selalu nyaman dengan keberadaan nya, bahkan kami sudah menganggap Bu Sarah sebagai mama kami.


"Ya ampun tambah cantik aja nih anak-anak mama. Makannya apa sih?"


"Aigooo mama mah bisa aja."


"Ya udah sana masuk, Tante mau kedepan dulu sebentar. "


"Siap laksanakan. Hati-hati yah mah."


Aku masuk kedalam rumah Doni dan menemukan Doni dan juga bumi sedang bermain PS , baru juga datang sudah sibuk aja mereka berdua. Aku yang melihat ice cream di atas meja langsung menyambarnya Dan makan berdua dengan Tania. Setelah beberapa saat Riri dan juga Radit datang kami sudah mulai sibuk dengan makanan di depan kami dan juga kami sibuk saling bercengkrama.

__ADS_1


Kami bercengkrama sampai pukul 10 malam. Kami mulai mengundurkan diri dan pulang kerumah masing-masing. Aku diantar oleh Tania karena dia akan menginap dirumah ku dan dia akan berangkat kerja dari rumahku. Sedangkan yang lain naik kendaraannya sendiri-sendiri. Kami berpisah setelah berjanji akan bertemu ketika akhir pekan, maklum kita nggak ada yang diapelin jadi begini.


TBC


__ADS_2