Tentang Aku Dan Kamu

Tentang Aku Dan Kamu
chapter 24


__ADS_3

Andra POV


Entah bagaimana caranya kini aku bisa terdampar di cafe ini lagi, padahal aku sekarang harusnya sedang berkunjung kerumah ibuku. Aku memandang suasana yang begitu ramai disini, dan kebanyakan anak-anak remaja dan juga kumpulan laki-laki entah mereka sedang apa disini. Tapi sepertinya aku tahu karena tidak lama setelah itu ada sosok wanita cantik yang sedang tersenyum menyapa para pengunjung dan para lelaki itu langsung sumringah.


Dasar cowok nggak bisa kalau lihat yang bening dikit udah kaya lihat apa aja.


Dan aku tidak suka dengan itu semua, hatiku merasa terbakar oleh api cemburu hanya karena para kaum sebangsaku menatap Liliana seperti melihat mangsa yang siap di buru. Harusnya kalian mundur saja,karena hati dia sudah hanya untuk diriku seorang. Aku menyeringai sambil menatap lili yang sedang berbicara di depan.


Lili seperti nya tidak menyadari keberadaan ku sekarang, aku sengaja memilih kursi yang paling pojok. Walaupun dari panggung tidak terlihat tapi aku masih bisa melihatnya dengan jelas. Hari ini dia memakai pakaian yang sangat simpel tapi tetap cantik, tapi sepertinya dia sangat menyukai rok yang seperti itu, dan aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat nya.


Jujur wajah lili memang selalu cantik, walaupun tanpa riasan sekalipun wajahnya tetap cantik. Hanya saja egoku kadang masih tidak suka jika melihat cara berpakaian dia, secara yang aku ingin itu dia memakai baju yang lebih sopan.


Karena kadar kecantikan seorang wanita tidak harus mengumbar auratnya segala. Kalau memang dia sudah cantik dari hatinya , insyaallah auranya akan tetap terpancar walaupun tanpa perlu memakai riasan yang berlebih.



Aku menopangkan daguku dengan satu tangan mendengarkan suara lili yang sedang bernyanyi lagu mellow, Aku ikut terhanyut mendengar nyanyian liliana.



...🎶sewindu sudah🎶...


...ku tak mendengar suara mu...


...kutak lagi lihat senyumannu...


...yang selalu menghiasi hariku...


...sewindu sudah kau tak berada di sisiku kau Kau menghilang dari pandangan ku...


...tak tau kini kau dimana...


...Ternyata belum siap aku...


...kehilangan dirimu...


...belum sanggup untuk jauh darimu...


...yang masih selalu ada dalam hati ku...


...sewindu sudah kau tak berada di sisiku...

__ADS_1


...kau menghilang dari pandangan ku...


...tak tau kini kau dimana...


...Ternyata belum siap aku...


...kehilangan dirimu...


...belum sanggup jauh darimu...


...yang masih selalu ada dalam hati ku...


...Tuhan tolong mampukan aku...


...tuk lupakan dirinya...


...Belum siap diriku kehilangan dirimu...


...belum sanggup untuk jauh darimu...


...yang masih selalu ada dalam hati ku...


...Tuhan tolong mampukan aku...


...tuk lupakan dirinya...


Lihat bahkan aku seperti ikut terhipnotis mendengar lili bernyanyi di depan, dia memang selalu menghayati setiap lagu yang dia bawakan. Kadang ekspresi nya pun ikut sedih ketika menyanyi lagu mellow, dan saat dia sedang bernyanyi lagu ceria dia pun ikut semangat.


Aku menghabiskan waktu dua jam untuk duduk seorang diri disini, aku memang sengaja tidak menghampiri dia karena aku takut terganggu dengan kehadiranku. Selama ini aku memang sudah salah karena sudah mengabaikan dia, tapi sebenarnya itu hanya sebuah pertahanan ku saja untuk tidak termakan oleh rayuan dia.


Namun setelah melihat dia yang mulai menjauhiku , kini malah aku yang tidak mau. Aku menghela nafas lelah, baru kali ini aku menjadi pusing karena seorang perempuan. Padahal aku dulu sangat cuek jika ada yang mendekatiku tapi entah kenapa dia bisa meruntuhkan tembok yang sudah ku bangun tinggi-tinggi supaya tidak ada wanita yang bisa masuk kedalamnya.


Minggu lalu ibu ratu menanyakan kedekatan ku dengan lili, tapi hanya kernyitan di dahulu yang bisa menjawab pertanyaan ibu ratu. Aku yakin pasti ini ulah Indri yang sudah mengatakan yang tidak-tidak tentang kedekatan ku dengan lili. Sebenarnya ibu ratu tidak menuntut anak-anaknya dalam mencari jodoh, tapi aku juga tahu dia sudah ingin sekali melihatku menikah.


Aku sadar umurku sudah tidak muda lagi, tapi mau gimana lagi kalau hatiku belum sreg dengan wanita manapun, kecuali dia Liliana.


Aku akui ,aku memang bego karena sudah menyia-nyiakan waktu ku karena telah mengabaikan wanita seperti lili. Walaupun orangnya slengean tapi dia orangnya sangat baik. Nenek Aisyah sudah menceritakan tentang lili padaku saat kunjungan terakhir ku.


Dia juga sangat setuju jika aku bisa menikah dengan Liliana, tapi kembali lagi pada realita sekarang. Lili saja masih sering menghindar dariku, aku yang memang tidak tahu harus dengan cara apa mendekati seorang perempuan hanya bisa termenung sendirian meratapi betapa pengecutnya diriku selama ini.


Aku terkesiap saat suara lili terdengar sedang berpamitan kepada para pengunjung, aku langsung menundukkan kepala supaya lili tidak menyadari keberadaan ku. Aku melirik dari ekor mataku,bahwa lili kini sedang berjalan keluar cafe bersama manajernya yang bernama bumi.

__ADS_1


Tiba-tiba aku jadi berkeinginan untuk mengikuti kemana mereka akan pergi, sudah dari lama aku curiga kalau lili akan pergi ketempat yang aneh dengan bumi. Tapi untuk kali ini aku harus meruntuhkan egoku untuk bisa menjadi stalker seorang Liliana.


Mereka masuk ke kursi penumpang bagian belakang, dan sepertinya ada seseorang yang sudah menunggu mereka dari tadi. Kaca mobil yang berwarna hitam membuatku kesulitan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi,mobilnya kini sudah pergi meninggalkan area parkir cafe.


Aku mengikuti mereka dengan motor PCX ku , sambil tetap fokus melihat mobil yang di tumpangi oleh Liliana, aku berkali-kali masuk dengan kumpulan kendaraan yang sedang berkumpul menjadi satu dijalan karena ini adalah long weekend makanya jalanan begitu padat hari ini.


Aku tetap melajukan motorku dengan kecepatan mengikuti mobil kijang Innova yang ada di depanku. Aku mengernyitkan keningku heran akan kemana arah mobil mereka bergerak, dan aku semakin merasa sebal karena mobil yang lili tumpangi akan masuk tol. Aku yang mengendarai motor akhirnya hanya bisa memberhentikan laju motor ku kearah pinggir jalan.


"Sebenarnya aku kemana mereka itu tak bisakah kalian tetap berada dalam jangkauanku saja? Aakkhhhh sialan."


Bugh


Aku memukul setir motorku dengan kesal, aku tidak tahu mau dibawa kemana lili sebenarnya. Saat pikiran ku yang mulai buntu aku jadi ingat kalau Indri mempunyai nomor lili, aku langsung mengambil ponselku dan mendial nomor Indri. Pada sambungan ketiga akhirnya Indri mengangkat telfon ku.


"De' tolong kirimkan kontak lili sekarang juga.!!! Tuttuttut" Aku langsung mematikan telfonku saat kurasa aku sudah mengatakan apa kemauanku. Bahkan aku tidak memberi waktu buat Indri berbicara dan langsung mencecarnya.


Ku melihat notifikasi pesan dari Indri, aku membukanya dan tertera nomor kontak lili dikirimkan oleh Indri. Sebelum aku berubah pikiran aku langsung mendial nomor lili, pada deringan pertama kedua dan cukup lama sambungan telfonku belum diangkat juga oleh lili. Saat aku akan menurunkan ponselku aku mendengar suara lili di seberang sana.


"Ha..Lo.." Aku berbicara dengan suara tergagap, aku yakin lili disana pasti sedang bingung.


"Liliana?" Panggilku kembali.


"Iya ,,ada apa yah? Dan maaf kalau boleh tahu dengan siapa saya berbicara?" Jawab lili disana dengan lugas. Aku yakin lili belum tahu kalau aku yang menelfonnya. Kentara sekali dengan suaranya yang begitu formal.


"Ini saya Andra." Jawabku, untuk beberapa saat aku tidak mendengar suara lili, tapi aku masih bisa mendengar suara dari orang yang ada di sekitarnya.


"Oohh. Mas Andra. Ada apa yah mas?" Aku menyeringai kecil saat Sura lili menjadi begitu dingin saat tahu kalau aku yang menelfonnya. Aku menjadi gugup apakah aku harus menanyakan keberadaan nya sekarang atau aku harus mematikan telfonku. Aku jadi bingung.


"Kalau tidak ada----"


"Tunggu dulu Liliana..!!" Cegahku saat dia akan mematikan telfonku. Tidak bisa seenaknya kamu melakukan ini padaku Nyai. Laahh......


"Ada apa mas?" Suara lili mulai terdengar tidak seperti tadi yang begitu dingin.


"Itu...emmm,, apa kamu ada waktu hari ini? Sebenarnya saya ingin mengajak ka---"


"Maaf mas Andra, saya tidak bisa. Sekarang saya sedang pergi dengan teman saya." Belum selesai aku berbicara lili sudah memutuskan omonganku. Lagian aku juga belum sempat mengutarakan maksudku dia sudah lebih dulu menolaknya.


"Oh..kalau begitu have fun yah Li. Nanti hati-hati disana. Kalau begitu maaf yah udah mengganggu. Assalamualaikum."


"Emmm. wa'alaikumsalam." Aku menurunkan ponselku dari telingaku, aku menunduk melihat diriku yang kini seperti sedang terdapat di tempat antah berantah. Aku mencengkeram erat ponselku dengan perasaan yang campur aduk, haruskah aku menyusul Liliana atau tetap stay disini.

__ADS_1


TBC


Jangan lupa like dan komen nya yah. Makasih. Kalau bisa tolong vote ceritaku juga.


__ADS_2