
^^^
Kedua gadis remaja itu berjalan santai di trotoar jalan dengan bergandengan tangan.
Ralat. Lebih tepatnya salah satu dari mereka yang menggandeng.
"Prajna, gue mau kawin!!"
Ini adalah kali ke dua puluh satu dalam kurun waktu 5 menit Prajna Paramita mendengar kalimat nyeleneh itu keluar dari mulut sahabatnya.
Jika membunuh orang di legalkan. Mungkin Arneta sudah mati mengenaskan.
Ia harus memiliki ekstra stok kesabaran jika masih mau bersahabat dengan gadis gila yang masih setia bergelayut di lengan kanannya. Ditambah panasnya matahari yang tepat berada di atas kepala membuatnya mati-matian menahan diri agar tidak berakhir menggorok leher jenjang sahabatnya.
Arneta Ranjani, gadis gila yang naasnya adalah sahabatnya.
"Kalo mau kawin ya kawin aja, tuh cowok banyak tinggal seret ke kamar." Ucap Prajna ketus. Tangannya dengan asal menunjuk tukang cilok yang lewat di depan mereka.
"Ih bukan gitu. Gue tuh maunya dihalalin dulu pake mahar."
"Hem."
Saat ini keduanya tengah berjalan di trotoar jalan. Keduanya baru pulang dari kampus dengan berjalan kaki.
Ini bukanlah sepenuhnya keinginan Prajna untuk pulang berjalan kaki. Karena ia sendiri datang ke kampus tadi pagi dengan menggunakan motor metik kesayangannya. Tapi seperti yang sering kali terjadi, nasib buruk selalu saja menimpanya jika ia masih bersahabat dengan Arneta Ranjani.
Jika kalian berpikir nasib buruk yang menimpanya karena Arneta pembawa sial. Itu salah besar.
Karena sebenarnya Arneta lah yang menciptakan kesialan itu.
Tadi, mungkin beberapa menit lalu. Prajna masuk kedalam parkiran kampus hendak mengambil motor metik kesayangannya. Namun hampir setengah jam ia mutar-mutar mencari motornya tidak juga ketemu, perasaannya mulai tidak enak takut-takut motornya di gondol maling. Tapi saat ia bertanya dengan sahabat laknatnya, Arneta yang sedang jongkok di depan pos satpam sambil menghitung daun jatuh, Prajna di buat melongo oleh jawaban polos sahabatnya itu.
"Neta, loh liat motor gue?"
Dengan antengnya sahabatnya itu menjawab.
"Oh motor loh." Prajna mengangguk. "Tadi gue kasih pinjam James buat di bawah pulang. Kasian dia pulang jalan kaki, motornya masuk rumah sakit." Jelasnya kalem.
Bola mata Prajna hampir keluar dibuatnya. Kalo motornya di pinjam James lalu bagaimana mereka pulang. Sedangkan satu-satunya kendaraan mereka pulang pergi kampus adalah motor metik itu 'pikirnya.
Dengan berbekal istighfar berulang-ulang. Prajna pasrah saja saat di seret Arneta pulang jalan kaki dengan alasan menikmati pemandangan.
Sepanjang perjalanan Prajna masih berpikir. Sahabatnya itu yang kelewat baik atau Arneta memang tidak punya otak.
"Prajna, gue mau kawin." Lagi, Arneta merengekan kalimat yang sama.
"Loh mau kawin. Noh Lani masih duda." Ucap Prajna sembarangan. Dengan santainya ia menawarkan satpam kampusnya.
"Nggak mau yang kayak gitu."
Prajna memutar bola matanya. "Terus loh maunya yang kayak gimana?"
Mendengar pertanyaan sahabatnya dengan liar otak Arneta membayangkan calon suami idamannya.
"Yang kaya, tampan, mapan, punya roti sobek sama matanya biru kayak Chris Evans." Tunjuknya pada wallpaper layar ponselnya yang menunjukkan foto seorang pria dalam keadaan shirtles.
__ADS_1
"Mana ada cowok kek gitu mau sama cewek buluk kayak loh." Sadisnya mulut seorang Prajna Paramita memang tidak ada duanya.
Arneta mengerucutkan bibirnya, jengkel. Memang benar ia akui jodoh itu cerminan diri, kalo cantik sama ganteng, kaya sama kaya, ustadz sama ustazah. Mana mau orang baik-baik dapat jodoh yang nggak baik. Tapi, apa salahnya kalo ia berharap Tuhan menurunkan jodoh terbaik yang seperti khayalannya.
"Praj."
"Hem."
"Apa gue jual diri aja ya. Biar laku!"
Prajna menghentikan langkahnya. Ditatapnya Arneta yang masih setia bergelayut ditangannya.
"Gini nih kalo biji rambutan di kasih nyawa!"
**
Arneta duduk lesehan di bawah pohon mangga mamanya, sepulangnya dari kampus ia di minta mamanya membersikan kolam ikan samping rumah. Keringat meluncur bebas dari dahinya, separuh bajunya basah oleh keringat dan air kolam. Tangannya sibuk mengipaskan uang pecahan puluhan ribu yang ia sengaja susun membentuk kipas.
"Gila! Nggak nyangka gue, itu ikan di kiloin mayan juga." Unjar Arneta, tangannya sibuk membuka tutup botol air mineral yang ia minta dari Bobby anak tetangga sebelah rumahnya.
"ARNETA!!" Teriak sang mama tercinta.
Arneta yang sedang minum pun sampai menyemburkan kembali minumannya.
Heran deh itu emak-emak doyan banget teriak, di kira ini rumah hutan apa.
"Apa sih maa! Neta di bawah pohon mangga." Sahutnya berteriak tidak kala kencang.
Peduli amat sama kuping tetangganya yang nyut-nyutan.
Arneta berpikir apa gerangan yang membuat nyonya Aditomo mengamuk seperti ini.
"Mama kenapa?"
"Kamu nggak tahu!" Arneta menggeleng.
Lina menggeram marah. "Itu ikan mas koki mama kenapa bisa ada di keresek belanjaan tetangga sebelah sih Neta!!" Murka Lina.
Arneta diam, mencoba mencerna ucapan mamanya. "Oh! ikan mas mama."
"Iya ikan mas koki mama!" Ketus Lina sambil berkacak pinggang.
"Udah abis. Arneta kiloin sama tetangga." Jelasnya kalem.
"A AP-APA!!"
Arneta cengengesan, kakinya mengambil ancang-ancang melarikan diri.
"Mau kemana kamu!"
"Adudududuhhh, sakit ma. Ma sakit!" Arneta meringis sambil menahan ikatan rambutnya yang dijambak sang mama dengan sadis.
Lina menatap tajam sang anak. "Sekarang kamu jelasin. Gimana ceritanya ikan mas koki mama bisa sampai kamu kiloin!"
"Iya, iya Neta jelasin. Tapi lepasin dulu ma sakit." Ucapnya memelas meminta Lina melepaskan jambakannya.
__ADS_1
"Kan tadi mama suruh Neta bersihin kolam ikan, terus Neta bingung mau tarok ikannya dimana. Pas banget mbak ullie mau beli ikan. Ya udah deh ikan mama Neta kiloin. 20rb per-kilo. Pintarkan Neta.." jelasnya bangga.
Lina diam. Pikirannya langsung blank! Ikan mas koki seharga jutaan miliknya di kiloin anak gadisnya seharga dua puluh ribu rupiah. DUA PULUH RIBU RUPIAH!!.
"ARNETAAA!!!"
...Ada Mbah dokon....
...Yang sedang mengobati....
...Pasyennya......
BRAK
Surya Aditomo sang kepala rumah yang sedang berkaraoke ria menoleh kearah pintu utama yang di dobrak sang istri tercinta.
"Pa, tolongin Neta. Pa!" Unjar Arneta dengan muka melas semelas-melasnya, saat melihat papanya sedang duduk di sofa ruang keluarga dengan mix ditangannya.
"Neta kenapa, ma?"
"Papa tahu?!" Surya menggeleng.
"Ini nih, kelakuan anak gadis papa bikin mama dara tinggi!" Geram Lina sambil melepaskan jeweran nya pada telinga Arneta.
Arneta mengerucutkan bibirnya, tangannya mengelus daun telinganya yang memerah terkena jeweran maut Lina.
Kening Surya berkerut. "Emang Neta bikin ulah apa lagi?"
"Masa ikan mas koki mama satu kolam di kiloin sama dia." Adu Lina.
"Berapa duit Net dapatnya." Bukannya marah Surya malah menanyakan penghasilan Arneta setelah menjual ikan mas milik mamanya.
"20rb pa, perkilo." Arneta mengeluarkan uang hasil penjualan, alisnya naik turun dengan songong.
"Mayan pa, buat beli miniatur Naruto." Ucapnya tengil.
Surya mengangguk ikut mendukung niat anak gadisnya. Namun langsung kicep saat matanya melirik wajah sang istri yang sudah mengeluarkan tanduk.
"Papa ini gimana SIH!! Arneta udah loakin ikan mama kok nggak di marahin mala ikut-ikutan kehasut sama miniatur Saruto-saruto dari Jepang itu!!"
Baik Surya maupun Arneta hanya diam saat ratu rimba mulai menunjukkan taringnya.
Lebih baik diam kalo tidak ingin diterkam.
"Anu ma, itu.."
"APA!!"
'Nahkan lebih baik diam'.
"PAPA SAMA NETA ITU SAMA AJA! AWAS JANGAN DEKET-DEKET MAMA SELAMA SEBULAN!!"
*
*
__ADS_1
BERSAMBUNG