TENTANG JODOH

TENTANG JODOH
3 | MAHLUK.


__ADS_3

^^^


Senin // 16.28 WIB.


Mairah dan Gita berjalan santai mengelilingi kodim.


Sudah empat hari ia disini dan baru hari ini bisa keliling melihat-lihat tempat dinas abangnya yang masih asri di kelilingi pepohonan.


"Enak ya mbak dinas di sini suasananya sejuk gak kayak Semarang polusi dimana-mana." Gita mengangguk menyetujui ucapan Mairah.


"Bener. Disini suasananya masih asri baik untuk pernafasan."


Terlihat beberapa ibu-ibu yang sedang mengobrol di teras rumah menyapa mbak Gita.


"Izin menyapa ibu. Selamat sore."


Gita dan Mairah menghentikan langkah mereka saat melewati para ibu-ibu yang sedang mengobrol itu. "Iya sore. Mbak padil, mbak Angga dan dek Arya." Gita membalas sapaan ibu-ibu itu ramah.


"Izin ibu, sama siapa itu?" Mbak padil bertanya saat melihat Mairah yang menggandeng tangan Gita.


“Ini Mairah adeknya Mas Gavin." Mairah menyalami tangan ibu-ibu itu.


"Mairah mbak." Kenalnya tersenyum ramah.


"Oh ala adeknya komandan toh."


"Dari Jakarta ya dek?" Tanya mbak Arya.


"Iya Mbak."


"Cantik ya. Adeknya komandan." Unjar mbak Angga. Mairah hanya tersenyum membalas pujian mbak Angga tidak berniat ikut dalam obrolan para ibu-ibu Persit itu.


Matanya tidak sengaja menatap anak kecil yang sedang duduk dipintu rumah mbak padil.


"Ada apa dek?" Gita menepuk bahu Mairah pelan.


Tersentak Mairah menatap mbaknya dan para ibu-ibu itu yang menatap penasaran kearahnya.


"Oh gak papa kok Mbak. Pulang yuk." Ajaknya. Gita ikut menatap kearah tempat yang tadi Mairah lihat.


"Ya udah. Mbak Angga, Mbak padil, Dek Arya kita pulang dulu ya." Pamit Gita.


"Iya ibu. Hati-hati." Sahut ketiganya.


Mairah masih menggandeng tangan Gita sepanjang perjalanan pulang.


"Tadi kamu lihat apa?" Gita bertanya saat mereka sudah jauh dari rumah mbak Padil.


"Anak kecil cowok. Tapi kasian." Mairah menerawang wajah anak kecil tadi. Wajahnya pucat matanya hitam dan tatapannya kosong seperti orang linglung.


"Kenapa?"


"Umurnya mungkin baru sembilan atau sepuluh bulan, masih kecil benget. Mairah kasihan liatnya."

__ADS_1


"Kok bisa ya?"


Mairah menoleh kearah Gita. "Apanya?"


"Ya kok bisa anak kecil seusia itu masih ketahan di dunia kita. Bukannya anak kecil itu masih suci belum ada dosanya."


Mairah mengangguk-angguk. "Iya juga ya mbak. Mungkin orang tuanya belum ikhlas sama kepergian dia makannya masih ketahan sampai sekarang." Mairah menjelaskan teorinya.


"Emang bisa kayak gitu?"


"Ya mana Mairah tahu, mbak. Gak nanya tadi." Kekeh nya. Memang Mairah memiliki kemampuan istimewa bisa melihat mereka yang tidak terlihat atau lebih tepatnya mereka yang beda dunia dengan kita mahluk pana.


Gita ikutan tertawa mendengar goyonan Mairah, keningnya berkerut teringat sesuatu. "Bukannya kamu udah ditutup ya sama Om Arjun?" Selidik Gita.


Om Arjun adalah adik dari Rasyid papanya yang juga memiliki kelebihan sama seperti Mairah bisa melihat mahluk halus atau kasarnya hantu.


Mairah mengangkat bahunya. "Gak tahu kebuka sendiri. Om Arjun nutupnya cuma nahan seminggu abis itu aku bisa liat lagi." Jelasnya.


"Mungkin Om Arjun nutupnya pake clash ekonomi makannya tahan seminggu. Coba pake clash bisnis mungkin berbulan-bulan tahannya." Kelakarnya.


"Bener banget. Apalagi pake clash VIP, behww.. unlimited tahannya." Timpal Mairah.


Gita tergeletak. "Hahahaha... kamu kira paket kuota unlimited."


"Mbak juga bilang pake clash bisnis sama ekonomi. Dikira pesawat kali.. hahahahaa.."


Tidak terasa Mairah dan Gita sudah sampai didepan rumah bercat hijau pupus itu.


"Bang Vivin." Teriaknya bersemangat menubruk tubuh tinggi pria itu.


"Kesambet setan mana kau Mai."


Gita menggeleng saat Gavin menatap kearahnya yang kira-kira bisa diartikan. Kenapa anak ini.?


"Kangen kali dua hari gak ketemu abangnya."


"Masuk yuk mau magrib, udah sore juga nanti ada demit." Gavin merangkul bahu Gita mengajaknya masuk kedalam rumah meninggalkan Mairah yang mendengus melihat keromantisan pasutri itu.


"Gini nih kalo jomblo. Jadi baygon kan gue." Dumelnya. Mairah menekuk wajahnya masam tangannya mengada keatas dengan kepala mendongak.


"Ya Allah dekatkanlah jodoh hamba agar hamba bisa balas mesra-mesraan kayak bang Gavin ya Allah." Pintanya.


Gavin berteriak dari dalam rumah. "Mai gak masuk kau. Apa ta konci di luar kau berteman nyamuk."


"Ini mau masuk bang."


^^^


11.35 WIB.


Mairah sedang berbaring seperti janin di dalam ayunan bulat bentuk telur ayam raksasa yang ada di teras belakang rumah dinas abangnya.


Ayunan berwarna putih dengan di isi beberapa bantal bulu tebal berwarna ungu bunga-bunga yang empuk dan pintunya yang ditutupi tirai tipis transparan guna menghalangi nyamuk masuk. Adalah tempat yang pas untuk Mairah jadikan beskem tempat berselancar di Instagram.

__ADS_1


"Mairah!!"


Gavin berteriak dari dalam rumah berlari tergopoh-gopoh kearahnya dengan hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya memperlihatkan dada dan perutnya yang kotak-kotak dengan busa sabun yang masih bertengger cantik di atas kepalanya.


Mairah masih santai saja tidak tertarik melirik kearah abangnya yang berwajah masam. Lain halnya dengan Gita istri tercinta yang langsung Stay here saat mendengar teriakan lebay mas suami.


Dan sekali lagi Gita berterimakasih dengan jabatan yang ada pada suaminya, sebagai Dayon. Bukan hanya karena ia memiliki jabatan yang tinggi dalam Persit tapi juga karena posisi jabatan suaminya itu rumah dinas mereka berada jauh dari beberapa rumah dinas anak buahnya atau lebih tepatnya rumah dinasnya tidak memiliki tetangga dekat yang cukup berjarak. Jadi tidak ada komentar buruk tentang suami dan adik iparnya yang suka berteriak-teriak tidak ingat umur.


"Mairah"


"Hem..."


Gavin menarik paksa ponsel adiknya membuat Mairah mengubah posisinya duduk.


"Abang apaan sih. Hp aku kok dirampas?" Protesnya merenggut kesal.


"Kau ini, mai! Bikin Abang berang saja sama kelakuan, kau. Santai kali kau ini tak liat peliharaan kau yang lagi gangguin Abang. Kek mau betumbok Abang lihat kau.!" Celotehnya garang saat Mairah tidak peduli dengan keadaannya.


"Macam mana pula bang kau ini datang marah-marah. Aku tidak punya peliharaan lah." Balasnya ngegas.


Begitulah kalo Mairah dan Gavin bersama logat bataknya akan keluar sendiri.


"Itu peliharaan kau nangkring dikamar mandi tak tengok kau." Tunjuknya kedalam rumah. Mairah menoleh kearah tempat yang ditunjuk Gavin.


Gita yang bingung ikut bertanya. "Kamu pelihara apa sih, mai?"


"Itu kuntilanak satu dibawanya juga kesini. Macam mana pula itu setan bisa kau bawah Mai.!?" Mairah meringis mengetahui peliharaan yang dimaksud Gavin adalah Kimberly sahabat gaibnya.


"Ya mana Mairah tahu kalo Kim bakal gangguin Abang."


Badan Gavin gemetar karena takut, ditambah saat ia merasakan terpaan angin yang berhembus disampingnya membuat bulu kuduknya merinding.


"Maaf Mai."


Itu adalah ucapan Kim saat ia berhasil melayang melewati Gavin dan duduk disamping Mairah yang masih setia di dalam ayunan.


"Gak usah kau sebut juga nama dia, Mai. Kalo dia datang macam mana." Gita terkekeh saat Gavin bersembunyi dibelakang tubuhnya.


Mairah kembali membaringkan tubuhnya. "Mandi sana kau bang. Itu busa atas kepala masih ada." Usirnya.


Mengabaikan Mairah Gavin menatap memelas istrinya. "Sayang, kamu temanin Mas mandi ya. Nanti ta beliin tas keluaran terbaru." Bujuknya.


Pucuk dicinta dompet suami memang surga.


"Ya udah ayok. Tapi janji ya mas kita ke Hermes, Dior, Zara sama Sephora." Gavin meringis mendengar merek barang-barang brendet itu sedangkan Mairah ngakak sepuas-sepuasnya.


"Bhahahahhaha... Habis gaji kau bang." Ejeknya.


Gavin tidak peduli nasip kartu Merah Putihnya, yang jelas sekarang ia membutuhkan istrinya.


Gita sungguh berterimakasih kepada Adek iparnya itu. Kalo begini ceritanya ia akan minta Mairah sering-sering mengerjai Gavin melewati teman gaibnya.


"Mai, nanti mbak teraktir mie ayam kamu." Mairah mengancungkan jempolnya sebagai balasan.

__ADS_1


__ADS_2