
^^^
Rumah dinas Gavin // 06.20 WIB.
"Maaf ya bang, mbak. Jadi ngerepotin. Habisnya seperti yang abang dan mbak tau, saya cuma berdua sama Kenzo disini. Kenzo juga gak mau saya titip dimana-mana, maunya dirumah Abang aja." Ucap Satria tidak enak menitipkan anaknya pada komandan dan istri.
"Nggak apa-apa kali, sat. Mbak malah seneng Kenzo kamu titip disini biar Mairah ada temennya." Ucap Gita santai, tangannya mengelus kepala Kenzo.
"Kayak sama siapa aja kau, sat. Gak keberatan lah kalo kau titip Kenzo disini." Gavin ikut menimpali.
Satria tersenyum, lalu pandangan beralih kearah Kenzo yang berdiri di antara Gita dan Gavin.
"Kenzo jangan nakal ya, jangan bikin susah om Gavin sama Tante Gita. Ayah berangkat dulu." Kenzo menyalami ayahnya, lalu Satria mencium kepala anaknya.
"Ayah hati-hati ya. Cepat pulang." Unjar Kenzo dengan raut wajah ceria. Seakan ditinggal tugas oleh ayahnya adalah hal biasa.
"Iya. Doakan ayah ya nak." Satria mengusap kepala Kenzo menciumnya sekali lagi.
"Saya titip Kenzo ya mbak, bang."
"Tenang, Kenzo aman sama saya." Yakin Gita. Gavin hanya tersenyum.
Satria berjalan meninggalkan rumah dinas komandannya. Menaiki motor dinasnya.
"Dadahh ayah." Kenzo melambaikan tangannya sebelum motor Satria melaju menjauhi rumah Gavin dan menghilang saat keluar gerbang kodim.
Mairah sedang berkutat di dapur mencuci beras saat sayup-sayup ia mendengar seorang tamu yang sedang bercakap dengan Abang dan Mbaknya dan setelah itu terdengar suara deru motor.
"Siapa sih yang datang, kok gak masuk?"
Setelah menanak nasi di dalam mejik dan memencet tombol on. Mairah bergegas kedepan untuk melihat siapa tamu yang datang.
"Wih, ada cowok nih.. Hay ganteng nama kamu siapa?" Mairah menoel pipi chubby Kenzo yang berdiri disamping Gita.
"Kenzo. Tante juga cantik." Jawabannya malu-malu.
"Bwahahahaha.." Gavin dan Gita tergeletak melihat Kenzo yang malu-malu saat melihat wajah Mairah yang bisa dikatagorikan cantik.
"Paten kali anak Satria ini. Bisa gombal dia." Kekeh Gavin.
Gita ikut gemes melihat wajah malu-malu Kenzo "iya. Tahu aja Kenzo yang bening-bening." Kelakarnya.
Mengabaikan pasutri itu Mairah menarik Kenzo masuk kedalam kamarnya.
"Kenzo ikut Tante yuk. Tante ada coklat loh."
__ADS_1
Kenzo duduk diatas kasur Mairah memperhatikan gadis itu yang sedang membuka kopernya mengeluarkan beberapa chiki aneka macam dan rasa yang ia letakkan di samping Kenzo.
"Nih makan aja, tante masih ada banyak kok." Mairah meletakkan beberapa coklat beraneka bentuk dipangkuan Kenzo.
"Pantesan Abang cari dimana-mana gak nemu. Kau umpatin di sini rupanya." Gavin masuk kedalam kamar Mairah merampas beberapa chiki dari kopernya.
"Bang sikit be kau ini. Habis persediaan chiki ku kau makan." Protes Mairah. Gavin tidak peduli, di todongnya sebagian chiki Mairah untuk dirinya sendiri.
"Kiket kali kau ini Mai sama Abang sendiri."
"Macam mana gak kiket aku, bang. Persediaan chiki ku buat satu minggu kau habiskan dalam satu malam." Unjarnya mengingatkan Gavin akan kelakuannya.
Gavin itu punya kebiasaan menghabiskan chiki Mairah, adeknya itu kemanapun ia pergi atau baru kembali dari tempat liburnya. Oleh-oleh yang selalu ia bawah pulang adalah makanan untuk persediaan ngemilnya. Tapi satu yang pasti Mairah tidak pernah melar walau kebanyakan ngemil, Gavin heran lari kemana itu lemaknya.
Saat ditanya : Mairah, lari kemana itu lemak chikimu. Gak takut gendut? Dengan gampang Mairah akan menjawab dengan wajah songong.
Berkah anak soleh itu, banyak ngemil tapi gak gendut.
"Terserahlah kau Mai. Abang minta ini ya." Gavin keluar dari kamar Mairah dengan tangannya yang penuh chiki.
"Hem. Pergi sana hus.. hus.."
Mairah mengalihkan perhatiannya pada tas loreng besar yang tadi dibawah Gavin.
Kapten inf. Ksatria Nagara Bhakti.
Mairah mengangkat tas punggung itu ke atas tempat tidur, lalu melihat apa saja isi didalamnya.
"Mama kamu bawa apa aja?" Tanyanya pada Kenzo yang sejak tadi memperhatikannya.
Raut wajah Kenzo berubah lesu, Mairah yang masih memperhatikan Kenzo kebingungan, sampai ja menyadari sesuatu dan merasa tidak enak.
"Maaf Tante gak tahu." Unjarnya tulus.
"Gak papa Tante, udah lama juga bunda pergi." Kenzo tersenyum membuat matanya menyipit seperti bulan sabit.
Tegar kali anak ini. Bikin mau nangis.
Mairah berdehem menetralkan perasaannya. Jangan nangis disini Mai, malu lah sama anak kecil.
"Ayah kamu bawain apa aja?" Tanyanya mencairkan suasana yang mulai terasa canggung.
Kenzo hanya menggeleng tidak tahu.
Didalam tas milik Kenzo, terdapat beberapa potong baju dan celana, celana dalam, kaos dalam, bedak bayi, minyak telon, perlengkapan mandi, serta ada sebuah amplop lebar berwarna putih.
__ADS_1
Mairah membuka isi amplop yang terasa cukup tebal itu, lalu membuka isinya. Matanya terbelalak terkejut melihat lembaran-lembaran uang berwarna merah yang ada didalam amplop itu. Saat di hitung, uang itu berjumlah 5 juta rupiah.
"Kenzo, ini buat jajan kamu. Kasih sama Om Gavin dan Tante Gita ya." Begitu kalimat yang tertera di kertas kecil yang terselip diantara lembaran uang itu.
Mairah masih menatap tak percaya lembaran uang merah itu.
"Kenapa Tante, uangnya kurang? Nanti Kenzo minta lagi sama ayah kalo kurang." Tanya Kenzo.
Mairah menggeleng. Ya kali uang segini kurang buat jajan anak kecil kayak Kenzo.
"Emang Kenzo jajan nya banyak ya sayang?"
Kenzo menggeleng menatap Mairah dengan tatapan polos "Nggak kok Tante, Kenzo gak suka jajan." Jelasnya.
"Lah uang sebanyak ini buat apaan?"
Gita masuk kedalam kamar Mairah, ikut menimbrung obrolan keduanya.
"Emang berapa Mai isinya?"
"Lima juta, Mbak."
Gita mengangguk-angguk, seakan uang jajan anak kecil segitu gak kebanyakan.
"Gak sebanyak biasanya." Ucapannya santai.
Kening Mairah mengerut. "Emang dikasih berapa mbak biasanya?"
"Kenzo di titipin sama Mbak tiga hari uang jajannya dikasih sepuluh juta." Ucap Gita. Mata Mairah melotot sempurna.
"What!! sepuluh juta tiga hari. Kalo kamu di titip sama Tante satu bulan, bisa seratus juta. Bisa beli barang Hermes atau Dior Tante." Celoteh Mairah. Otak matrenya mulai membayangkan barang apa saja yang bisa ia beli dengan uang sebanyak itu.
cewek matre.. cewek matre.. nggak ada otaknya.
"Gak usah banyak ngayal kamu." Gita mencubit pelan lengan Mairah. Yang dicubit merenggut mengerucutkan bibirnya.
"Mbak sama Abang kamu mau keluar bentar mau nitip gak?" Mairah menggeleng, kepalanya menoleh kearah Kenzo.
"Kenzo mau nitip?"
Kenzo menggeleng. "Enggak Tante. Ini aja udah banyak." Tunjuknya kearah tumpukan chiki yang diberikan Mairah.
"Ya udah, Kenzo Tante tinggal ya. Hati-hati Tante Mairah suka ngamuk." Bisiknya di telinga Kenzo.
"Gak usah dengerin cewek matre kayak mbak Gita, Ken." Sahutnya membuat Gita memberengut tidak terima dibilang matre.
__ADS_1
Kenzo tergeletak mendengar pertengkaran Gita dan Mairah.
Gita yang misuh-misuh menggunakan bahasa Jawa medoknya dan Mairah dengan logat bataknya. Perpaduan yang mengocok perut.