
^^^
Milanau, Kalimantan Utara.
Seorang gadis dengan celana katun army dan baju rajut hitam dilapisi cardingan hitam dengan pasmina hijau yang menutupi kepalanya berdiri didepan gerbang batalyon infanteri dengan koper di tangan kanannya dan tas loreng besar di punggungnya.
Beberapa pria berseragam loreng yang sedang berada di provost jaga menatap minat kearahnya.
Adiba Humairah Rasyid atau yang kerap disapa mairah, gadis 23 tahun yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di salah satu universitas terkenal di Indonesia, sedang membulatkan tekad dan memantapkan hati.
"Bismillah. Gue pasti bisa." Ujarnya mantap.
Setiap kakinya melangkah tekatnya semangkin bulat! Ia sudah sejauh ini tidak mungkin untuk mundur lagi.
Lebih baik menghadapi amukan sang komandan batalyon raider yang kalo marah bisa meruntuhkan bangunan dari pada harus menghadapi baginda raja dan ratu yang baiknya nauzubillah.
Oh ayolah! Ini sudah abad ke20 bukan zaman Siti Nurbaya yang masih jaman jodoh-jodohan. Sangking baiknya kedua orangtuanya sampai mencarikan jodoh untuk putri semata wayang mereka tanpa tanya dulu kesiapan sang anak.
Langkah kakinya terhenti tepat didepan pos jaga.
Seorang pria berseragam loreng dengan pangkat pratu menghadang jalannya. Bagaimana ia tahu pangkat pria itu? Terlihat dari atribut yang melekat di kedua lengan baju bagian atasnya.
"Maaf sebelumnya, mbak ada urusan apa ke kodim?" Tanyanya.
Mairah membaca name tag di dada pria itu, Putra.
"Saya mau bertemu Mayor Inf. Gavin Rasyid Handoko." Jelasnya, tersenyum ramah.
Raut wajah putra tampak menimbang-nimbang apakah ia harus menyampaikan informasi atau tidak mengingat Danyon sedang ada pertemuan di kantor.
Mengetahui kebingungan prajurit dihadapannya Mairah memilih memberitahu namanya. "Bilang saja Adiba Humairah Rasyid ingin bertemu."
Setelah memberi tahu kedatangannya, pratu putra memintanya untuk menunggu dan kembali ke provost jaga. Mairah memilih duduk diatas kopernya, harap-harap cemas menunggu kelanjutan hidupnya.
Ada dua opsi, pertama ia kan didepak kembali pulang ke Semarang setelah di ceramahi habis-habisan atau yang kedua ia akan dibiarkan menetap dengan hukuman harus mengikuti pelatihan militer seperti prajurit lainnya.
Dan ia berharap Tuhan tidak mengabulkan kedua opsi didalam otaknya itu.
"Ekhem."
Suara berat nan tegas menyapa indera pendengarannya. Mairah masih menunduk menatap sepasang sepatu laras hitam mengkilap yang bisa bikin jari kaki jerit kalo sampai keinjak.
Perlahan kepalanya terangkat naik melihat sepasang tangan yang bersedekap dengan tongkat komando kebanggaan di tangan kanannya.
__ADS_1
"Eh mas Gavin makin cakep aja." Sapanya. Wajahnya nyengir tidak bersalah.
"Gak usah cengar-cengir kau. Mau gigi kau ta rontokin." Mairah kicep jika harus berhadapan dengan Gavin yang pembawaannya bikin merinding kayak rumah angker.
"Siap salah."
Gavin menilik dari atas sampai bawah penampilan adik perempuannya itu yang entah kena angin topan atau tornado maha dahsyat mana kok bisa sampai hanyut ke tempat dinasnya.
"Naik apa kau kesini?"
"Siap. Dari Jakarta ke Semarang naik trepel, dari Semarang ke Kalimantan naik pesawat. Terus dari bandara kesini naik bus." Jelasnya persis prajurit yang sedang melapor pada atasan.
Gavin mengangguk-angguk mengerti. Lalu berbalik menatap ke empat anak buahnya yang dari tadi menatap minat kearah adiknya.
"Liat apa kelen!" Bentaknya garang.
Kompak anak buahnya kembali ke posisi siap.
"Siap, salah."
Gavin dengan logat bataknya memang tampak mengerikan. Apalagi profesinya yang seorang tentara dan menjabat sebagai Dayon batalyon raider adalah nilai plusnya.
Gavin mengisyaratkan Mairah untuk mendekat menggunakan tangannya. "Kesini kau Mai, ta kenali sama anak buahku." Mairah manut saja berdiri disamping Gavin.
"Kenalin ini adik saya Adiba Humairah." Gavin memperkenalkan Mairah kepada anak buahnya yang sedang menjaga provost.
"Gak usah salaman kau. Mau ta patahin itu tangan!"
Gahar sekali kau bang. Warga Indonesia mengapresiasi ke posesifan dirimu.
"Siap, salah."
Pratu putra kicep tidak berani untuk lebih lanjut modusin adik komandan itu yang manisnya bikin dompet meringis.
"Kenalin ini Pratu Putra, Pratu Wahyu, Prada Eko dan Serda Adi." Setelah perkenalan singkat itu Mairah segera di seret ke kediaman sang komandan batalyon. Tentu saja perjalan itu tidak semulus yang kalian bayangkan.
Mairah harus pasrah disuruh jalan jongkok dengan menenteng tas ranselnya dan menggeret koper super besarnya.
Kalian bisa bayangkan bagaimana susahnya mairah melangkah.
Beri tepuk tangan gemuruh untuk sang raja penyiksa.
Jika kalian bertanya kemana sang kakak tercinta? Jawabannya adalah kakaknya itu, Gavin Rasyid Handoko sedang bermotor disampingnya sambil berteriak memintanya untuk berjalan cepat agar tidak ketinggalan.
__ADS_1
Sekarang Mairah tahu alasan kakaknya menjemputnya dengan menggunakan motor bukan mobil.
"Mai, cepetan lambat kali kau!" jika memukul kepala Dayon diperbolehkan itu adalah opsi yang sangat ingin mairah lakukan.
Manis kali bang mukamu sampai pengen ta tampol.
Rasa malunya tidak sebanding dengan pegal di pangkal pahanya karena kelamaan jalan jongkok. Sepanjang jalan banyak prajurit dan ibu-ibu Persit yang menatap minat kearah nya. Apalagi ada beberapa anak kecil yang tertawa dan menjulurkan lidah mengejak. lengkap sudah kesialannya.
Bang Gavin sialan..
Setelah perjuangan panjang diselingi dengan teriakan bapak Dayon akhirnya mairah sampai juga ditempat tujuan.
Rasanya kakinya kebas sangking pegalnya jalan jongkok dari depan gerbang sampai rumah dinas milik kakaknya.
Mairah meringis kearah Gavin yang langsung nyelonong masuk kedalam rumah tidak sedikitpun kasihan pada adik perempuannya yang berbaring terlentang di muka pintu.
"Tambah sayang aku bang sama kau." Gerutunya. Bibirnya mengerucut menggambarkan kekesalannya.
Mairah bangkit dari tempatnya berbaring melangkah gontai masuk kedalam rumah.
"Assalamualaikum." Ucapannya memberi salam sebelum masuk kedalam rumah yang disambut seorang perempuan cantik dengan kimar cream menutupi kepalanya.
"Wa'alaikumussalam. Ya Allah mairah kok kamu bisa kesasar kesini dek." Gita istri Gavin menyambutnya dengan pelukan hangat.
"Loh bang Gavin gak kasih tahu kalo aku kesini mbak?"
Gita tampak terkejut. "Enggak tuh! Mas, kamu gak bilang kalo mairah mau datang." Protesnya menatap kearah sang suami yang sedang menikmati secangkir kopi dan cemilan di sopa ruang tamu.
"Mas lupa kalo ada dia." Jawab Gavin santai.
Mata mairah melotot sempurna. What! lupa. L.U.P.A. Adek segedek gini dilupain. Pantas saja sedari tadi kakaknya itu tidak keluar rumah hanya untuk sekedar menawarinya masuk.
"Terkutuk lah kau jelmaan setan." Makinya tertahan.
Gita menoleh kearahnya. "Kamu ngomong apa tadi dek?"
Mairah menggeleng. "Nggak ngomong apa-apa kok. Mbak salah denger kali."
"Ya udah kamu masuk sana gi, bersih-bersih dulu. Nanti mbak siapin kamarnya."
Mairah mengangguk. Kakinya melangkah mendekat kearah Gavin melihat cemilan dalam piring. Dan langsung membuat keputusan.
"Mintak satu bang." Unjarnya setelah mencomot makanan Gavin dan berlari masuk lebih dalam ke rumah dinas kakaknya itu.
__ADS_1
"Mairah itu pisang goreng Abang!!" Teriak Gavin.
Gita hanya geleng-geleng beginilah kalo kakak beradik itu berada dalam satu kawasan yang sama. Belum juga ditambah dua personil lagi, mungkin rumah dinasnya akan berubah menjadi hutan rimba pikirnya.