TENTANG JODOH

TENTANG JODOH
4 | PESTA PEMBAWA SIAL


__ADS_3

^^^


Malam ini, Arneta sudah siap dengan gaun putih selutut tanpa lengan dengan tali sejari bercorak bunga-bunga berwarna merah yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih. Rambut hitam sepunggung nya yang di cat silver bagian bawahnya ia biarkan tergerai bebas. Untuk menyempurna kan penampilannya Arneta meminjam high heels silver lima senti milik Prajna.


Sekali lagi Arneta mematut dirinya di depan cermin. Perfect.


Malam ini ia berdandan cantik layaknya putri dongeng khusus untuk menemani abangnya Adipati menghadiri acara nikahan teman SMA nya sekaligus mantan terindahnya. Biar nggak kelihatan ngenes tanpa gandengan, Adipati menumbalkan Arneta yang akan berpura-pura sebagai pacarnya. Tentu saja Arneta tidak dengan sukarela mau melakukannya. Sebagai imbalan atas bantuan adik perempuan nya Adipati harus merelakakan dompetnya bolong sebagai sogokan agar Arneta mau menemaninya.


"Bang. Jadi malam ini gue jadi pacar bayaran loh?" Bukannya menjawab Adipati malah mengelu.


"Udah belum, dek. Lama amat loh."


Adipati bersandar di kepala ranjang Arneta dengan wajah terkantuk-kantuk.


Sudah hampir dua jam lebih ia menunggu Arneta bersiap-siap. Mulai dari mencari baju dan sepatu yang katanya tidak cocok. Sampai mengobrak-abrik lipstik mama mereka yang sekiranya cocok dengan dandanan nya, itu semua tidak luput dari pandangan Adipati.


"Kalo tahu gini, mending gue ngajak Prajna aja. Tadi!. Itu anak nggak minta banyak, dandannya juga nggak lama." Dumel Adipati yang masih dapat di dengar Arneta.


Arneta berbalik menghampiri Adipati yang berbaring di ranjangnya. "Sepertinya anda kurang beruntung, karena Prajna saat ini ada di Amerika. Jadi hanya Arneta lah pilihan satu-satunya." Tangannya menyambar tas Hermes milik Prajna yang lagi-lagi ia ambil dari apartemen gadis itu.


"Kapan ya gue punya tas kayak gini." Tangannya mengelus tas Hermes dalam genggaman nya penuh sayang.


Adipati memutar matanya melihat kelakuan adiknya. "Kalo loh udah nggak jadi maniak miniatur Naruto. Mungkin loh bisa beli tas, sepatu bahkan mobil kayak temen loh itu. Lagian ya dek nggak ada untungnya juga buat loh, ngoleksi mainan kayak gitu. Di bawah buat gaya-gayaan juga nggak bisa.." omelnya.


Siapa tahu Arneta bisa sadar bahwa mengoleksi miniatur dengan harga pantastis itu nggak ada hasilnya.


"Tapikan itu hobi kali, bang." Protes Arneta. Bibirnya cemberut jika menyangkut anak-anaknya.


"Serah loh dek. Tapi gue bilangin ya, mending loh ganti hobi sana. Kasian mama papa kalo uang hasil kerja mereka loh beliin mainan kayak gitu." Tunjuk Adipati pada ruangan dalam kamar Arneta yang ia jadikan musium miniatur Naruto miliknya.


"Iya deh. Kalo koleksi miniatur antagonis Naruto gue udah komplit. Nggak lagi-lagi deh gue beli mainan."


Adipati menepuk bahu Arneta. "Ini baru adek gue. Emang masih berapa karakter lagi?" Tanyanya.


"Masih tiga karakter lagi. Pain, Konan, sama Itachi. Bulan lalu mau beli tapi kehabisan."


Adipati mengangguk-angguk mengerti. "Emang berapa duit itu?"


Arneta mengancung kan dua jarinya. "Dua ratus."


"Ribu?"


"No, no, no. Bukan!" Arneta menggeleng. "Dua ratus juta." Ucapnya kalem.


Adipati membulatkan matanya. "Dua ratus juta? WHAT!! Mati ae loh sana." Teriaknya frustasi.


Arneta ngakak sejadi-jadinya.


"Hahahaha. Abang udah janji beliin satu tadi." Ucapnya tengil. Alisnya naik turun minta di gaplok.


"Nggak jadi pergi. Batal, batal!"


"Ya. Abang kok gitu sih. Terus sogokan Neta gimana?"

__ADS_1


"BODOH AMAT!"


**


"Em, aku permisi ke toilet bentar." Arneta melepaskan rangkulan Adipati pada pinggangnya.


Adipati mengelus rambut Arneta dengan tatapan cinta yang begitu besar.


"Mau aku temenin?" Arneta menggeleng.


"Aku bisa sendiri. Nggak lama kok." Ucapnya sebelum berlalu ke arah toilet.


"Gila cewek loh cantik banget."


Sayup-sayup Arneta masih dapat mendengar pujian yang dilontarkan teman-teman abangnya yang tidak mengetahui kalo Arneta adalah adik kandung Adipati.


Hanya Galang dan Zidan sahabat abangnya yang tahu kalo Adipati memiliki adik perempuan.


Sekembalinya dari toilet Arneta tidak langsung menemui abangnya. Kakinya berbelok ke kanan tempat hidangan konsumsi para tamu.


Matanya berbinar, bibirnya tersenyum senang menatap hidangan di hadapannya. Ini yang ia suka saat menghadiri resepsi pernikahan. Banyak makanan gratis..


Setelah tadi Arneta harus bersikap ramah tamah dengan senyum manisnya saat di kenalkan pada teman-teman abangnya Arneta akhirnya bisa meloloskan diri dengan pergi ke toilet padahal itu hanya kedok agar ia bisa langsung menyerbu hidangan yang sedari tadi melambai-lambai minta di cicipi olehnya.


"Ya Allah. Ini yang namanya surga dunia." Dengan cekatan tangannya menyambar piring dan mengisi segala macam menu ke dalam piring hingga penuh.


Arneta berdiri di dekat meja konsumsi menikmati segala macam jamuan yang ada. Mulutnya sibuk mengunyah makanan, tangan kanannya bersiap mencomot eskrim yang berada di atas meja saat suara seseorang mengintruksi kegiatannya.


"Akhirnya saya menemukan kamu."


Ya Tuhan... Nikmat mana lagi yang kau dustakan.


Iris mata hitam yang di lapisi lensa kontak abu-abu itu bertemu dengan iris hitam pekat milik pria di hadapannya. Terjadi adegan pandangan-pandangan selama 3 detik sebelum Arneta memutuskan pandangannya.


Arneta hendak beranjak berjalan kembali kemeja tempat Adipati dan teman-temannya berkumpul. Namun sebuah tangan menjegat langkahnya.


"Mau kemana kamu? Mau pergi tanpa tanggung jawab lagi."


Keningnya berkerut. Tanggung jawab. Tanggung jawab apa? Emang Arneta sudah memperkosa lelaki ini. Astaga! Arneta masih waras kali..


"Heh, tanggung jawab apa maksud loh? Emang gue udah melecehkan loh! Enggak kan. Lagian, kalo gue perkosa loh yang ada gue yang rugi, pecah perawan. Jadi, tanggung jawab apa maksud loh.?"


Cara bicaranya angkuh, bahkan Arneta berani menatap mata lelaki tampan di depannya.


Di pandangannya dekat-dekat wajah orang di hadapannya. Sepertinya ia pernah melihat laki-laki ini. Tapi dimana?


Puk!


Arneta memukul jidatnya. Bukankah ini pria yang ia lamar di taman beberapa hari lalu.


"Sudah ingat saya.?!"


Wajahnya nyengir. Secepat kilat ia berbalik hendak berlari menjauhi pria berbahaya ini.

__ADS_1


"Mau lari kemana, Hem."


Arneta meringis saat keningnya membentur dada bidang pria di hadapannya. Tangannya di sentak kuat membuat tubuhnya berbalik dan langsung membentur tubuh pria itu yang sudah berdiri sangat dekat dibelakangnya.


Gila aja nih cowok. Kalo ia hilang ingatan bisa berabe.


Arneta mendongak keatas. Matanya langsung terfokus pada satu titik di mana bibir pria itu berada. Arneta meneguk ludahnya. Otaknya seketika kotor membayangkan bibir itu ******* bibirnya dan menjamah setiap lekuk tubuhnya.


Stop Arneta.


Dasar mesum.


Di gelengkan nya kepalanya kuat mengusir setan yang membisikan untuk menyosor bibir ranum itu.


"Pantasi kamu boleh juga."


Arneta memutar bola matanya, lantas menatap pria di hadapannya dengan tajam.


"Tadi maksud loh tanggung jawab apaan?"


"Tanggung jawab karena kamu sudah melamar saya."


Arneta tertawa meremehkan. "Kan saya sudah bilang. Itu cuma bercanda. Gue kasi tahu ya- siapa sih nama loh?"


"Rangga."


"Rangga! Gue ingetin ya kita itu nggak ada urusan apa-apa dan gue nggak perlu tanggung jawab sama loh. Loh hamil juga enggak."


Rangga maju selangkah, mengikis jarak antara dirinya dan Arneta. Saat Arneta hendak mundur, langsung saja Rangga menahan punggungnya.


Hampir tidak ada jarak antara mereka. Arneta mejam melek mencoba agar tidak khilap mencium bibir Rangga yang menggoya iman.


"Kamu harus tanggung jawab!"


Arneta memberontak. "Gue nggak mau."


"Saya tidak menerima penolakan."


Arneta semakin kelabakan saat Rangga menariknya menuju meja tempat Adipati dan sahabatnya berkumpul.


Keduanya berhenti tepat di depan kerumunan itu. Arneta menunduk tidak berani mengangkat wajahnya.


"Hay guys. Kenalin ini tunangan gue."


Jderr.


Rasanya Arneta ingin menghilang sekarang juga.


Mamaa!! sembunyiin Neta.


*


*

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2