
^^^
Minggu pagi Prajna sudah siap dengan setelan joging nya. Jam baru menunjukkan pukul 05.12 pagi.
"Neta! Sialan ya loh di bangunin nggak bangun-bangun. Arneta! Bangun woy!!" Prajna mengguncang tubuh sahabatnya.
Tadi malam Prajna menginap di rumah Arneta atas permintaan tante Lina. Kedua orangtua Arneta ada urusan keluar kota tiga hari. Sedangkan kakaknya Adipati baru bisa pulang hari ini. Karena itu mereka meminta Prajna untuk menemani Arneta di rumah.
Bukan apa-apa, Arneta kalo di tinggal sendirian. Penyakit straiming Naruto nya bakal kambuh lagi dan tante Lina sama om Surya nggak mau anak gadisnya berakhir di rumah sakit seperti waktu lalu.
Arneta kalo sudah ketemu animasi Naruto itu bisa lupa daratan. Karena itu Arneta butuh pengawasan.
"Neta, bangun nggak loh. Kalo nggak bangun juga, gue buang miniatur Naruto loh?!"
Arneta membuka matanya, kepalanya menoleh kearah jam dinding.
"Udah pagi, ya?" Suaranya serak. Tangannya menggaruk pipinya.
"Udah sore! Ya udah pagi, ******." Prajna mendorong tubuh Arneta masuk ke kamar mandi.
"Mandi sana loh, sholat. Abis itu joging." Arneta masuk kedalam kamar mandi meninggalkan Prajna yang kembali bergelung di balik selimut.
Setelah mandi dan melaksanakan kewajibannya. Lima belas menit kemudian, Arneta sudah siap dengan pakaian joging nya. Tangannya berkacak pinggang memperhatikan Prajna yang kembali tidur.
"Nih anak, nyuruh gue bangun malah dia yang lanjut molor. Bangun woy, bangun!" Di tariknya selimut dan bantal Prajna.
"Sholat sana. Nyuruh orang sholat dia sendiri nggak solat. Di sholatin baru tahu rasa loh!"
Prajna bangun dengan tatapan kesal. Di tariknya kasar bantal dalam genggaman Arneta.
"Gue Kristen ANJING!!"
"Oh iya gue lupa."
Dengan polosnya Arneta menyahut membuat Prajna geram sendiri.
Mengacuhkan Arneta, Prajna berjalan ke kamar mandi, mencuci wajahnya. Tadi sebelum membangun kan Arneta, Prajna sudah mandi dan siap dengan celana training hitam dan kaos putih joging.
"Ya udah ayok."
"Mau kemana?"
"Maraton jodoh. Ya mau joging lah!"
"Loh nggak mandi?" Tanya Arneta. Hidungnya mengendus-endus badan Prajna.
"Udah tadi. Loh aja yang ngebo! Mangkanya nggak tahu."
Prajna dan Arneta turun kelantai bawah dengan beriringan. Jam baru menunjukkan pukul setengah enam dan keduanya sudah siap untuk joging keliling komplek perumahan Arneta.
"Tunggu, tunggu! Gue lupa bawah dompet." Arneta ngacir naik kembali kelantai dua kamarnya.
"Dompet? Buat apaan!" Teriak Prajna penasaran.
__ADS_1
Arneta menyahut dari lantai dua kamarnya. "Beli bakso bakar!" Sahutnya balas berteriak.
Prajna duduk di kursi teras menunggu Arneta. Tidak lama yang di tunggu datang dan ikut duduk disampingnya.
"Udah?"
Arneta mengangguk sambil menunjukkan dompet berwarna hitam di tangannya.
Setelah memakai sepatu masing-masing keduanya berjalan keluar pagar rumah.
"Tunggu, tunggu. Kayaknya ada yang kelupaan deh?" Prajna mengerutkan keningnya ikut berpikir.
"Apalagi sih yang lupa?"
Puk.
Arneta menepuk jidatnya. "Ya Allah. Rumah belum ke konci!" Pekiknya histeris.
Prajna mendengus melihat Arneta yang kembali masuk ke dalam rumah. Dari tempatnya berdiri Prajna dapat melihat Arneta yang ke susahan mengunci pintu rumahnya.
"Yuk."
"Hmm."
Keduanya joging keliling komplek dan berhenti di taman komplek yang ramai, hari ini Minggu. Banyak orang tua, anak-anak dan pasangan muda-mudi yang sedang berolahraga atau sekedar piknik bersama pasangan, sahabat dan keluarga.
Arneta berlari jauh di depan Prajna. "Woy bule, buruan. Lelet amat kayak siput! Kejar gue kalo bisa." Arneta berteriak jauh di depan sana tangannya melambai-lambai ke arah Prajna.
Mendengar teriakan Arneta yang membahana banyak pasangan mata menarik perhatian ke arah mereka berdua, terutama kearah Arneta yang melompat-lompat dengan gerakan aneh.
Merasa di abaikan Arneta semakin menggila. Dengan nggak tahu malunya gadis itu menggoyang kan bokongnya heboh.
Prajna menepuk jidatnya. "ARNETA BIKIN MALU YA LOH!!" Teriaknya murka.
Prajna tidak peduli jika orang-orang berpikir mereka gila. Pokusnya hanya menangkap Arneta dan memberi gadis itu pelajaran.
Arneta berlari menghindari amukan Prajna dengan cekikikan. Ia suka ketika melihat wajah murka sahabatnya yang menurutnya lucu.
Begitulah Arneta, orang marah di kira ngelawak.
Arneta terus berlari mengelilingi taman, entah sudah putaran ke berapa ia lupa. Terlalu asyik berlari Arneta sampai tidak menyadari kalo Prajna tidak lagi mengejarnya.
Kemana gadis itu? Pikirannya.
"Ahh, palingan lagi di godain berondong." Monolognya pada diri sendiri.
Karena lelah berlari. Arneta memutuskan untuk duduk selonjoran di bawah pohon.
Arneta diam, melamun. Otak laknatnya sibuk memikirkan cara mendapatkan calon suami yang sebelas dua belas sama Chris Evans yang bisa memuaskan nafsu birahinya. Jujur Arneta masih suci dan polos, tapi tidak dengan otaknya yang sudah tercemar oleh novel fiksi dewasa yang sering ia beli diam-diam.
"Dimana ya gue bisa dapat laki yang siap nikahin gue." Ucapnya yang nyaris seperti gumangan.
Arneta mengedarkan pandangannya ke arah depan, siapa tahu ia bisa menemukan jodoh.
__ADS_1
Pucuk dicinta, dompet mama memang surga. Disana Arneta melihat mangsa yang pas untuk di jadikan calon suami idamannya.
Jika kalian bertanya kenapa ia pengen nikah muda? Jawaban jujur, karena Arneta pengen ngerasain pecokan dunia. Hahaha..
Nggak ah bercanda.
Arneta melakukan ini semua hanya untuk menghibur diri. Dan juga dari banyak pria yang ia lamar tidak ada satupun yang menerima lamarannya. Jadi Arneta menganggap hal yang ia lakukan tidak berdampak apa-apa. Dan orang-orang random yang ia lamar pasti berpikir mereka hanya bertemu orang aneh.
Jadi real semuanya itu menjadi permainan baginya.
Arneta berjalan kearah bangku taman, dimana ada seorang pria yang tengah duduk sambil memainkan ponselnya. Ya kali ponsel tetangga Arneta.
Dengan senyum empat lima, ia berjalan mendekat kearah sang mangsa. Sampai di depan lelaki tersebut Arneta memindai apakah targetnya cocok untuk di jadikan mantu mamanya.
Tampan? Jangan ditanya.
Mapan? Ponsel dengan lambang apel di gigit itu sudah cukup menunjukkan.
Status? Arneta yakin laki-laki di hadapannya lajang. Karena ke sepuluh jarinya bersi dari cicin
Jadi, sikat..
"Ekhem." Arneta berdehem. Tapi laki-laki di depannya tak sedikit pun melihat kearahnya.
"Abang, nikah sama saya yuk." Unjar Arneta dengan senyum manisnya.
Lelaki yang sejak tadi pokus melihat telepon genggamnya mendongak menatapnya.
Arneta tambah melebarkan senyumnya. Ia yakin pria itu akan menolaknya dan menganggapnya gila seperti mangsanya yang lalu-lalu.
Lama pria itu melihat, akhirnya kata-kata yang tidak pernah Arneta bayangkan sebelumnya keluar dari bibir pria itu.
"Oke. Kita ke KUA besok."
Senyum Arneta luntur. Wajahnya melongo bingung dengan mata melotot.
"Bapak terima lamaran saya?" Tanyanya bingung. Tangannya kembali menunjuk dirinya sendiri.
Lelaki dihadapannya mengangguk santai.
"WHAT! TAPI SAYA CUMA BERCANDA. BYE!!"
Secepat kilat Arneta berlari pontang-panting menjauhi pria yang baru saja menerima lamarannya.
"Prajna sembunyiin gue. Gue di kejar cogan!!"
Prajna yang sedang meminum es kelapa di salah satu tenda terbatuk-batuk oleh teriakan Arneta yang datang-datang langsung bersembunyi di belakangnya.
"Loh kenapa?"
"Lamaran gila gue di terima orang!!" Teriaknya heboh.
*
__ADS_1
*
BERSAMBUNG