TENTANG JODOH

TENTANG JODOH
15 | APA! KENAPA? GIMANA?


__ADS_3

^^^


Rumah sakit // 13.30 WIB.


Gita sedang duduk di kursi panjang depan ruangan dokter kandungan. Di sebelah kirinya ada Mairah yang sedari tadi duduk cekikikan sambil merekam Gavin yang bermuka masam karena tidak kuasa menolak permintaan salah satu ibu-ibu yang juga ikut menunggu antrian. Gavin di minta bernyanyi oleh Mbak mawar, ibu hamil yang duduk di samping kanan Gita. Dayon yang di segani seluruh anak buahnya itu sudah tidak punya harga dirinya lagi di hadapan para ibu-ibu hamil itu.


"Yank.." suara Gavin persis tikus kejepit.


Tatapan mata calon papa muda itu memelas meminta belas kasih istrinya, tapi Gita enggan menolong sang suami, ia juga turut menikmati penderitaan yang dipancarkan raut wajah Gavin yang biasanya suka menyiksa orang.


"Aduh, sih mas nya jangan natap mbaknya terus.. cepetan nyanyi kita udah nungguin nih." Wajah Gavin masam, mulutnya menggerutu tidak jelas.


"Udan mas lakuin aja. Adeknya juga pengen liat papanya nyanyi.." unjar Gita menyemangati, beda halnya dengan Mairah yang tidak henti ngakak menertawakan nasib abangnya yang tunduk di bawah kuasa ibu-ibu hamil.


Rasahin kau bang, karma is real.


"Tak rasahin kau bang, gimana rasanya di siksa.." ejek Mairah.


Gavin mendengus namun tidak urung ia mulai menyanyikan lagu yang di minta Mbak mawar.


Gavin berdiri tegap bernyanyi dengan tampang masam.


"Bila yu ri full.. yu ri full.. yu ri full.."


"Kok mukanya kayak nggak iklas gitu sih mas, mala salah lagi liriknya.. pake senyum sama gerakan dong. Kreatif dikit napa." Sewot Mbak mawar tidak terima dengan cara Gavin bernyanyi yang tidak sesuai harapannya.


Gita dan beberapa ibu-ibu serta suami mereka yang ikut menemani menahan tawanya melihat wajah masam Gavin yang kena semprot Mbak Mawar.


Gavin mengubah posisi tubuhnya menjadi sedikit membungkuk dengan pantat menungging dan kedua tangan menyilang dengan masing-masing jari telunjuknya menempel di pipi dengan senyum yang dipaksakan Gavin mulai bernyanyi dan bergoyang ria.


"Bela yuri full.. yu ri full.. yu ri full.." pantat sang komandan batalyon raider itu bergoyang heboh persis mbak Inul Daratista.


"Hahahahahahah...." Di antara semua orang Mairah lah yang paling heboh tertawa. Gadis itu tidak sedikitpun takut dengan tatapan tajam setajam silet penuh permusuhan yang dipancarkan abangnya itu.


Gita yang tahu suaminya sedang merasa sebal, dan murka karena merasa di permalukan adeknya sendiri mencoba menghentikan tawa Mairah.


Gita mencubit paha Mairah yang duduk disampingnya, membuat sang adik ipar mengeluh dengan bibir mengerucut.


"Kok aku di cubit sih mbak." Sewotnya tidak terima.


"Kamu--"


"Ibu Regita Cahyani." Panggil salah satu perawat yang memotong ucapan Gita sekaligus menyelamatkan Gavin dari siksa dunia itu.

__ADS_1


"Ya saya sus." Gita berdiri dari duduknya di ikuti oleh Mairah dan Gavin yang mendekat.


"Silahkan masuk.."


Mairah memilih menunggu diluar tidak ikut abangnya dan kakak iparnya, yang masuk keruang dokter kandungan untuk cek up rutin.


Hampir setengah jam Mairah menunggu diluar akhirnya Gita dan Gavin keluar juga dengan senyum sumbringan.


"Gimana bang, mbak?" Tanya Mairah antusias. Gavin mengibaskan lembar foto USG 4D di depan wajah Mairah.


"Ini anak aku Mbak." Seru Mairah tidak percaya dengan mata berbinar-binar.


Gavin menonyor kening Mairah."Enak aja anak kamu. Anak Abang itu mah, kalo mau bikin sendiri.. wlekk."


Mairah tidak menggubris Gavin yang mengejeknya, perasaannya terlalu senang jadi hari ini ia tidak mau mencari ribut.


"Sini mbak biar Mairah yang bawa. Mbak hati-hati." Dengan cekatan Mairah mengambil alih tas yang dibawa Gita dan menggandeng kakak iparnya itu, takut kesandung batu sewaktu-waktu.


Gavin menggeleng dan Gita tersenyum hangat melihat reaksi Mairah yang cuek namun perhatian.


"Usianya berapa Mbak?" Tanya Mairah saat mereka sudah berada didalam mobil, tangannya sibuk mengelus perut buncit Gita.


"Baru masuk 21 Minggu."


"Rencananya mau tujuh bulanan di mana?"


"Mau tujuh bulanan di Jakarta aja kayaknya. Biar dekat kalo papi sama mami mau kunjungan." Gavin menyahut.


Mairah mengangguk-angguk mengerti.


"Oh ya mama sama papa tiga hari lagi mau datang." Jelasnya teringat pembicaraannya dengan sang mama minggu lalu kalo mereka ada kunjungan ke salah satu Kodam di Kalimantan sekaligus mau mengunjungi Gita yang sedang hamil.


^^^


16.35 WIB.


Mobil hitam yang ditumpangi Gavin, Gita dan Mairah masuk keperkarangan rumah dinasnya.


Gavin turun lebih dulu dan membukakan pintu belakang untuk istri tercinta.


"Makasih bang." Mairah turun lebih dulu baru di susul Gita yang di pampa Gavin.


"Itu ibu komandan kenapa, Ndan?"

__ADS_1


Gavin, Gita dan Mairah menoleh ke satu tempat sumber suara. Satria berdiri di depan pintu rumah mereka.


Gita mengibaskan tangannya. "Oh nggak papa kok sat. Abang mu ini memang suka parnoan, takut mbak jatuh katanya." Jelas Gita. Satria mengangguk mengerti.


"Kamu ngapain kesini sat?"


Plak.


Gita menggaplok punggung suaminya. "Mas tuh suka kebiasaan, tamunya itu disuruh masuk dulu baru ditanyain bukan sebaliknya." Omelnya.


Gavin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sedangkan Mairah, gadis itu hilang entah kemana setelah turun dari mobil tadi. Gavin yakin Mairah tidak menyadari kehadiran Satria.


"Loh Mairah kemana?" Gita celingukan mencari sosok adek iparnya.


"Yuhu,, adek manis disini." Mairah berteriak lebay dari dalam mobil sambil melambaikan tangannya.


Kening Gavin mengerut menatap adeknya yang sedang jongkok di kolong kursi "Kamu ngapain Mai disitu."


"Nyari jarum pentul bang.. nah dapat." Mairah mengangkat tinggi-tinggi jarum pentul kuning ditangannya.


Baginya jarum pentul terlebih dahulu baru ketemu Satria.


"Mari masuk anggap aja rumah sendiri." Dengan nggak ada dosanya Mairah melenggang masuk kedalam rumah dengan di ikuti Gita yang menggeleng, Gavin yang mendumel dan Satria yang terkekeh melihat tingkah absurnya.


Gita dan Mairah berlalu kedapur meninggalkan Satria dan Gavin yang berbincang di ruang tamu.


"Ini mas diminum, mumpung masih baru. Belum laleran." Mairah meletakkan secangkir jus jeruk dihadapan Satria.


"Kok Abang nggak di buatin Mai."


"Ini khusus untuk mas Gavin seorang." Mairah terkekeh melihat wajah mumpeng Gavin yang di suguhkan coklat panas kesukaannya.


Gita duduk di sopa samping Gavin dan Mairah duduk di samping Satria tepat berhadapan dengan Gavin dan Gita.


"Nggak usah nempel-nempel kau Mai. Mau tak tonjok itu muka kau." Mairah mendengus mendengar peringatan garis keras dari Gavinta abangnya.


"Jadi kenapa alasan kau kesini sat? Bukannya kau sudah telpon izin cuti tadi."


Air wajah Satria berubah serius, ditatapnya Gavin dan Gita bergantian.


"Gini bang, mbak. Saya mau ngajak Mairah ke Bandung dua hari." Gita dan Mairah melotot mendengar maksud Satria. Bedahalnya dengan Gavin yang sudah mengetahui maksud Satria dari tadi saat Satria menelponnya.


"Ada urusan apa kau ngajak Mairah sekalian ke Bandung."

__ADS_1


"Tadi pagi saya dapat kabar Kenzo di bawah ke rumah sakit, abis di serempet motor."


"APA!!"


__ADS_2