TENTANG JODOH

TENTANG JODOH
18 | ADA YANG NGGAK SUKA.


__ADS_3

^^^


Mairah POV.


Saat ini aku sedang duduk di kursi taman yang berhadapan langsung dengan danau buatan milik keluarga Satria. Kediaman keluarga Satria tidak seperti kebanyakan rumah pada umumnya, dimana terdapat rumah dua tingkat dengan halaman sederhana berdekatan dengan tetangga atau sebaliknya mansion besar dengan halaman puluhan hektar dengan jarak yang jauh dengan tetangga.


Tapi tidak, kediaman keluarga Satria di Bandung ini sangat unik. Rumah yang saat ini Mairah tempati seperti berada di plosok, karena rute yang dituju untuk sampai di kediaman ini harus melewati pepohonan yang rapi dengan jalan mulus seperti tol. Awal memasuki gerbang kawasan rumah Satria, Mairah pikir kediaman keluarga Satria berada di plosok namun tidak setelah melewati beberapa rumah Mairah sadar. Bahwa kediaman keluarga Satria ini sangat unik.


Rumah dua tingkat minimalis modern dengan halaman sekelilingnya luas seluas lapangan stadion sepakbola ini nampak asri dan khas, seperti villa di daerah pegunungan. Mairah jatuh cinta pada tempat ini. Pemandangan belakang rumah keluarga Satria sangat indah, ada air terjun dan danau buatan dengan luas puluhan meter yang dapat memanjakan mata.


Mairah suka tempat ini, asri sejuk dan menenangkan.


"Kamu suka?"


Suara itu membuyarkan rasa kekaguman ku.


Aku tersenyum, pria yang saat ini mengisi hatiku tengah duduk di sampingku. Tadi, setelah bercengkrama sebentar dengan sepupunya mas Satria mengajakku untuk menyisi dari para sepupunya dan mengajakku ke tempat ini.


Seulas senyum tipis menghias bibirnya. Dia meraih telapak tanganku ke pangkuan, menepuk-nepuknya lembut.


"Kalau ada apa-apa, bilang sama saya."


Keningku berkerut bingung. "Emangnya kenapa.?"


Mas Satria menggeleng. "Nggak papa saya cuma mau kamu jujur dan terbuka sama saya."


Sikap mas Satria aneh, aku semakin bingung dengan ucapannya. Apa ada yang dia sembunyikan.


"Mas kenapa sih, kok aneh. Aku jadi penasaran tahu..."


Mas Satria menggeleng, di kecupnya kedua punggung tanganku bergantian. "Nggak kenapa-kenapa. Mas Satria cuma mau kamu terbuka tentang hal apapun." Jawabnya tersenyum lembut.


Aku masih tidak yakin, ini pasti ada hal apa-apa kayaknya.


"Mas Satria kenapa sih, ada apa cerita sama aku!"


"Nggak kenapa-kenapa, Mairah."


"Mas Satria. Ih jangan gitu ah, aku kan jadinya mikir seuzon." Desak ku menuntut jawaban.


"Mairah, dengar." Mas Satria mengangkat daguku untuk menatapnya. Matanya menyorot lembut dan hangat. "Mas cuma mau kamu terbuka dan percaya untuk ceritain semua hal yang kamu rasain, dengar atau lihat. Karena selama di sini kamu tanggung jawab saya. Kamu ngerti!?"


Mataku seakan terhipnotis oleh tatapannya. Tanpa komando kepalaku mengangguk tanpa bantahan.

__ADS_1


"Insyaallah Mairah akan jujur, mas."


"Itu yang mas mau dari kamu." Tangannya naik menepuk puncak kepalaku yang tertutup hijab.


Pandangan kami beradu, mataku terasa terhipnotis oleh tatapan bola mata hitam milik mas Satria. Bibirnya tersenyum, kepalanya maju perlahan mengikis jarak dikit demi sedikit.


"Woy mas. Pagi-pagi udah mesum aja loh! Ingat dosa mas, ingat!!" Teriakan cempreng itu mengagetkan ku dan mas Satria secara bersamaan.


Disana. Jauh beberapa meter di belakang kami Sisil berteriak sambil berkacak pinggang. Gadis remaja itu berjalan menghampiri kursi yang kami duduki.


"Ganggu aja loh dek." Sebal mas Satria pada Sisil yang berdiri di hadapan kami.


Sisil mendengus sinis kearah kakak tertuanya. "Pagi-pagi berduaan. Awas yang ketiganya setan!" Ceramahnya.


Mas Satria bersedekap dada. "Mas sama Mairah dari tadi berduaan, kamu datang jadi yang ketiga. Berarti kamu se- "


"Tan." Dengan polosnya Sisil menyahut.


Aku dan mas Satria tergelak mendengar sahutan Sisil yang kelewat polos.


Seakan tersadar oleh ucapannya sendiri yang secara tidak langsung mengakui bahwa ia setannya, Sisil spontan memaki dengan kata-kata kasar.


"******! Sialan! Bangsaatt!!"


Sisil yang mendapat teguran dengan intonasi suara tegas dari abangnya hanya cengengesan dengan kaki melangkah mundur dengan perlahan.


"Hehehehe,, peace bang. Kelepasan." Cengirnya sebelum berlalu ngacir masuk kedalam rumah.


Tidak berselang lama, gadis remaja itu kembali datang dengan berlarian. "Mas, mbak. Di suruh masuk buat sarapan sama, mama. Buruan!"


"Ayok, Mai." Ajak Mas Satria menggandeng tanganku.


Kami sampai dimeja makan yang sudah ramai di isi oleh keluarga mas Satria.


"Gandengan terus, Sat. Mairah nggak bakal ilang kali." Kelakar papa Adam yang mengundang tawa para tetua dan sepupu Satria yang lainnya.


Aku berusaha melepaskan gandengan tangan kami tapi sepertinya mas Satria tidak mau, karena bukannya melepaskan tanganku dengan santainya mas Satria menarik ku untuk duduk di kursi kosong samping mbak Rena. Ada tiga kursi kosong, dua di samping mbak Rena dan satunya di depan kami.


Aku mengapsen setiap wajah anggota keluarga Satria yang hadir di meja makan. Ada mama Anin, papa Adam, mami Tita, papi Julio, bunda Mery, ayah Sean, mas Rendra, mbak Rena, Raka, Sisil, sikembar Alda, Aldo. Oh ya dan jangan lupakan sikecil tampan kebanggaan ku yang duduk di samping Sisil. Arkenzo. Semua orang hadir, lalu untuk siapa kursi kosong tersebut.


Mairah ingat, mas Rendra masih punya adik perempuan. Clara.


"Mari semuanya, kita berdoa sebelum makan. Berdoa menurut kepercayaan masing-masing, mulai." Papa Adam yang menjadi tuan rumah memimpin doa bersama.

__ADS_1


Aku baru menyadari bahwa bunda Mery sekeluarga memiliki kepercayaan berbeda dari keluarga Satria dan mami Tita.


"Selamat makan." Mas Rendra mengangkat tinggi sendok di tangannya bersiap untuk menyantap sarapan yang terhidang di atas meja makan.


"Udah rame aja. Kayaknya Clara telat, ya?" Sebuah suara dengan nada manja itu menginterupsi perhatian ku dan semua orang di meja makan. Kepalaku menoleh ke sumber suara.


Clara. Wanita cantik dalam balutan dress baby doll Fei yang ku taksir sesuai ku, itu berdiri di ambang pintu tersenyum ramah kearah semua orang. Langkahnya anggun berjalan, mengambil tempat duduk di kursi kosong yang berhadapan langsung dengan ku.


"Kau terlambat Clara." Papi Julio angkat suara sesaat setelah Clara duduk di kursinya.


"Sorry Pi. Clara ada urusan mendesak tadi."


"Ini siapa?" Matanya tidak lepas menyorot kearah ku dengan bibir yang masih tersenyum ramah.


"Ini Mairah. Calon nya Satria." Jawab mama Anin.


Raut wajah Clara yang tadinya bersahabat berubah datar. Pandangan nya padaku yang tadinya ramah berubah sinis dengan tatapan menilai.


"No bed! Sepertinya selera mas Satria belum berubah. Masih sama, alim-alim *******.! Nggak takut di kibulin lagi mas." Kalimat dengan nada sinis itu berhasil membuat semua orang meradang.


"Clara! Jaga ucapan kamu!" Tegas papi Julio menegur keras anak perempuannya.


Semua orang diam. Tidak ada yang berani bersuara saat merasakan aura meja makan yang mulai mencengkeram.


Dengan santainya Clara menyahut, seolah kalimat yang ia lontarkan bukan apa-apa.


"Lah benarkan! Selera mas Satria ya kayak gini, sebelas dua belas sama Mbak Zoya. Bedanya yang ini ketutup sama kayak hatinya yang busuk.!" Hardik Clara. Tuduhannya tidak mendasar.


"CLARA!! JAGA UCAPAN MU!!" Papi Julio berdiri sambil mengebrak meja yang menimbulkan suara dentuman nyaring. Semua orang terlonjak kaget termasuk Kenzo yang sudah menangis dan di amankan oleh Sisil untuk menjauhi dapur.


"Ups, sorry.! Sepertinya ucapan Clara kelewatan. Lanjutin aja makannya Clara nggak selera." Tanpa rasa bersalah Clara berlalu meninggalkan meja makan. Tidak peduli atas akibat dari perbuatannya.


Aku hanya diam. Bukan karena tidak mampu membantah tuduhan Clara tapi perhatianku sedari tadi tidak terfokus pada Clara melainkan sosok hitam besar di belakangnya. Sosok mengerikan itu yang tidak menyukaiku bukan Clara.


Clara memiliki kontrak dengan jin pemikat. Ini tidak benar, hal seperti itu tidak boleh di biarkan.


"Kamu nggak papa?" Mas Satria menggenggam tanganku.


Aku baru menyadari bahwa pandangan semua orang tertuju padaku.


Aku berusaha tersenyum, seolah mengatakan bahwa kalimat yang di lontarkan Clara tidak berepek apa-apa.


"Aku nggak papa. Mungkin Clara lagi pms. Makannya galak!" Kelakar ku mencoba melawak untuk mencairkan suasana.

__ADS_1


"Syukurlah. Kalo begitu mari kita lanjutkan makan. Kasihan sarapannya di anggurin."


__ADS_2