TENTANG JODOH

TENTANG JODOH
11 | JEMBONG KALIMANTAN.


__ADS_3

^^^


Pangkalan gerobak pinggir jalan // 09.00 WIB.


Satria tercengang, masih tidak percaya dengan keajaiban dunia yang disuguhkan dihadapannya. Matanya mengedip dengan mulut menganga sampai sesuap bakso masuk kedalam mulutnya.


Satria mengunyah bakso daging dalam mulutnya. Enak..


"Itu ilernya ngalir." Dengan polosnya Satria mengusap ujung bibirnya yang nggak ada iler sama sekali.


Satria di kibulin dengan tersangka yang tertawa lepas.


Mairah meminum teh hangat di tangannya.


Satria masih tidak percaya, otaknya bekerja lambat menyaring satu persatu kebenaran akan keadaan dihadapannya.


Dari awal mengenal Mairah ia tahu kalo Mairah suka makan dilangsir dari bocoran Gavin yang katanya adeknya itu paling tidak tahan dengan godaan berjenis makanan, lain halnya dengan Gita sang istri yang sogokannya adalah barang brendet.


Maklum wanita tulen. Bukan kayak Mairah yang dipertanyakan..


Saat ini di hadapan Satria dan Mairah tepatnya diatas meja yang menjadi sekat antara mereka berjejer segala jenis makanan, mulai dari bakso, soto, sate, mie ayam, nasi goreng, model, gado-gado, ketoprak, martabak dan kawan-kawannya belum lagi segala jenis es yang menjadi pasangan makanan tersebut. Percaya atau tidak meja persegi panjang dengan ukuran 1X2 m itu santak, sesak oleh banyak makanan.


Satria tidak yakin Mairah dapat menghabiskan semuanya.


"Mai, emang muat itu perut?" Tanya Satria.


"Muat kok mas, tenang ini karet." Kekeh Mairah dengan tangan mengusap perutnya.


Satria memperhatikan seksama Mairah yang makan dengan kerupuk di tangan kirinya dan sendok di tangan kanannya yang mulai menyendok soto, satu mangkuk bakso dan mie ayam sudah di singkirkan tinggal menghabiskan sisanya.


Itu makanan buat satu kampung apa gimana.?


Satria bergidik membayangkan semua jenis makanan itu nyangkut di perutnya, bisa lober perut kotak-kotaknya.


Secepat kedipan mata segala jenis makanan dan minuman buncas tidak bersisa bagai di jilat anjing buta. Dan gadis yang menghabiskan semua makanan itu sekarang teler bersandar di sandaran kursi plastik yang ia duduki dengan perut kembung, bahkan untuk bergerak saja Mairah kesulitan sangking kenyangnya.


"Ah kenyangnya. Grekkk.." tanpa tahu malu Mairah bersendawa dengan keras membuat beberapa pengunjung mendengus jijik.

__ADS_1


Peduli amat ku makan nggak dari duit kau, pikirnya.


Satria hanya menggeleng, menginggalkan gadis yang sedang kekenyangan itu untuk membayar para abang-abang jualan yang dagangannya di todong Mairah. Setelah membayar Satria kembali kemeja tempat mereka duduk namun tidak mendapati sesosok mahluk Tuhan paling langka itu.


Lah ngilang kemana lagi kau mai.


"Lah Mairah kemana?" Tanyanya bingung, Satria bertanya pada Abang pemilik tenda tempat mereka makan atau lebih tepatnya Mairah yang makan dan Satria menemani.


"Oh mbak yang makan banyak tadi mas." Satria mengangguk. "Itu mas kesebrang." Tunjuk Abang itu ke emperen ruko sebrang jalan.


Satria berlari menyebrangi jalan, penasaran dengan apa yang dilakukan Mairah di depan ruko yang tutup.


"Tingkah ajaib apa lagi yang akan kau tunjukkan." Ucap Satria, langkahnya terhenti tepat dua meter dari wanita berhijab yang sedang menggendong balita berusia delapan bulan. Menilik dari punggungnya Satria hapal siapa wanita itu.


"Kamu ngapain, Mai?"


"Aku lagi gendong jembong Kalimantan. Liat nih enak banget." Celoteh Mairah asal, tangannya sibuk mengunyel-unyel pipi chubby anak kecil dalam gendongannya.


Kedua orangtua bocah perempuan itu hanya tersenyum saat anaknya di juluki jembong Kalimantan oleh mbak baik hati yang mau memberi mereka makanan.


Di depan ruko tempat Mairah berdiri ada sebuah keluarga dengan orang tua yang lengkap, anak laki-laki 10 tahun dan balita delapan bulan.


"Mai, nikah yuk."


**


Mobil sedan hitam itu melaju dengan kecepatan sedang, suasana didalam mobil hening, hanya terdengar suara deru mesin mobil. Satria pokus pada kemudi dan Mairah sibuk menatap keluar menikmati pemandangan kota Kalimantan.


Setelah ajakan menikah Satria yang lebih seperti ajakan main anak kecil seusia Kenzo, baik Mairah dan Satria asik diam-diaman canggung satu sama lain.


"Loh kok, ini kan bukan jalan balik ke batalyon." Ucap Mairah saat mobil melaju berbelok arah.


"Kita mampir ke rumah mas dulu."


Memang Mairah sudah tahu kalo Satria tidak tinggal di asrama tetapi rumah pribadi miliknya sendiri.


Mobil berbelok ke kawasan perumahan elit di daerah Rawa Indah, Kalimantan timur.

__ADS_1


"Ini rumah mas Satria?" Mairah berjalan beriringan dengan Satria menuju sebuah rumah.


"Iya. Mari masuk yang lain udah pada nunggu."


"Hah? Yang lain gimana maksudnya, Mas." Mairah berhenti melangkah.


"Orang tua saya lagi berkunjung. Tenang mereka nggak gigit kok." Satria menarik tangan Mairah untuk berjalan.


Mairah yang dasarnya ngendeso, ternganganganga tidak percaya saat sampai di perkarangan rumah Satria. Rumah modern satu tingkat model minimalis dengan infrastruktur yang dinding bagian depannya hampir semua di kelilingi kaca, dengan kolam renang besar di depannya.


Kalo nyemplung enak nih siang-siang.


Di liriknya Satria yang berjalan disampingnya. "Gila nih duda tajir juga." Gumang Mairah dengan mata berbinar.


"Gaji kapten berapa ya. Kalo nikah bisa bikin tentram lahir batin kayaknya." Mairah masih bergumang tidak sadar kalo mereka sudah berada di muka pintu.


"Assalamualaikum.." Satria menggeser pintu utama. Bhew,, di geser dikit langsung buka sendiri ini pintu.


Gini nih kalo rumah holang kaya..


"Wa'alaikumussalam salam.. sudah datang?" Seorang ibu-ibu paru baya yang kira-kira seumuran mamanya datang menyambut kedatangan mereka.


Satria menyalami ibu itu, kemudian di susul dengan Mairah.


"Oh alah sat, ini yang namanya Mairah." Mama Satria langsung memeluk Mairah yang masih kebingungan.


"Ayo loh, mas Satria cerita apa tentang aku?"


Mama Satria tergeletak melihat anaknya yang kicep saat ditodong dengan tatapan bengis oleh Mairah.


"Gak cerita apa-apa kok." Tangannya mengibas heboh.


"Udah biarin aja dia Mai. Ayok masuk kita kenalan di dalam." Satria menghela nafas lega saat Mairah ditarik masuk oleh mamanya.


Penyelamatan yang baik sekali mama. Aku mencintaimu.


Mairah yang ditarik masih sempat-sempatnya menengok kebelakang dengan kedua jari telunjuk dan tengahnya yang menunjuk matanya bergantian menunjuk Satria.

__ADS_1


Aku mengawasi mu. Mungkin itulah arti tatapan memicing yang Mairah berikan.


__ADS_2